HIGHER &
DEEPER
1
Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang
dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Amin. Saat kita dalam
keadaan diberkati, sehat, semua baik adalah mudah bagi kita untuk mengucap
syukur . Saat kita ada di lembah, saat dalam ‘ujian’ atau tantangan, bahkan
kesedihan yang paling mendalam, dikecewakan oleh teman/saudara bahkan mungkin
ditinggal atau kehilangan orang-orang yang kita cintai, tubuh dalam keadaan
sakit, pekerjaan tidak menguntungkan? Masihkah kita bisa ‘mengucap syukur’??
Inilah yang Rasul Paulus minta kepada jemaat di Tesalonika juga kepada
kita semua: “Mengucap syukurlah” dalam SEGALA HAL... . Biarlah Firman
Tuhan pagi ini bukan hanya sekedar ‘informasi’ tapi jadikanlah mengucap
syukur dalam segala hal menjadi pengalaman pribadi kita bersama Tuhan... sebab
Itulah yang dikehendaki Allah dalam Kristus Yesus bagi kamu. Amin.
Ibu
Caroline – Bandung
Yohanes
11:41-42 (TB) – Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas
dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah
mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh
karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya,
supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” BAPA ajar kami
supaya boleh mempunyai imam seperti YESUS.
Ketika kami berdoa bukan meminta tapi kami mengucap syukur...
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin! Markus 5:24-34 menceritakan sebuah contoh kongkrit dari perubahan pola
pikir seorang perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun. Kondisi
wanita yang pendarahan menjadi semakin buruk walaupun ia berusaha menggunakan
segala informasi, semua data-data tabib atau dukun yang dimilikinya, semua data
pengobatan alternatif, sehingga dia sudah terprogram dengan apa yang ada di
sekitarnya dan apa yang terbaik bagi dirinya. Ia telah sampai pada kesimpulan
tentang dirinya dan kebutuhannya sampai barang-barangnya habis terjual tetapi
tidak ada yang memberi faedah atau kesembuhan baginya. Tetapi dalam ayat 27
dikatakan dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus dan pendengarannya
tentang Yesus mengubah segala sesuatu bagi dirinya. Apa yang didengarnya
menerobos masuk ke dalam roh dan pikirannya, akibatnya terjadi karya
supranatural yang memprogram ulang pemikirannya yang bertahun-tahun telah
dipenuhi dengan kekalahan, kegagalan, ketakutan dan keterpurukan,
pendengarannya tentang Yesus masuk kedalam hatinya yang paling dalam SEHINGGA
MEMPROGRAM ULANG pikirannya untuk tidak lagi beroperasi dibawah pengaruh masa
lalu, sehingga pola pikirnya tidak mengurung dia dalam siklus kekalahan.
Perkataan yang didengarnya menarik dia keluar dari belenggu itu, dia tidak lagi
memandang hal yang sama meskipun ia belum melihat nyata tetapi perkataan Yesus
memberikan suatu paradigma dan pola pikir baru kepadanya. Hal itu mempengaruhi
pemikirannya dan memberi kekuatan kepadanya untuk membayangkan pengharapan yang
baru dalam pikirannya. Yaitu kesembuhan yang akan terjadi sehingga dalam ayat
28 dia mampu berpikir bahwa “asal kujamah saja jubahNya maka aku akan sembuh”.
Iman yang timbul dari perubahan pola pikirannya dia mulai melihat apa yang ada
dalam pikirannya bahwa apa yang menjadi visi dan mimpinya akan tergenapi. Hal
itu membuat ia memahami proses dan tindakan yang diambilnya. Ia membuat
keputusan untuk pergi dan seketika itu juga pendarahannya berhenti. Amin.
Pemikiran yang baru membebaskan kita dari masa lalu membuat kita bangkit untuk
masa kini untuk mengambil tindakan yang sudah diilhami untuk melihat mujizat
terjadi. Selamat pagi, selamat berkarya.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
RAHASIA
KEBAHAGIAAN. Negara mana menurut anda yang Penduduknya paling bahagia di dunia?
Amerika Serikat? Bukan... China? Bukan... Uni Emirat Arab? Juga bukan...
Menurut survei yang dilakukan Adrian White dari Universitas Leicester Inggris,
negara yang penduduknya paling bahagia di dunia adalah Denmark. Nomor dua
Swiss. Setelah itu Austria. Indonesia berada di urutan ke-64. Ini masih lebih
baik di bandingkan, misalnya Thailand (76), China (82), Jepang (90), Korea
Selatan (102), & India (125). Apa kunci kebahagiaan orang Denmark? Menurut
survei itu, orang Denmark umumnya HIDUP dengan RASA CUKUP. Mereka memang tidak
sekaya orang Amerika atau orang Jepang, tapi mereka SELALU BERSYUKUR dengan apa
yang ada. Selain itu mereka cenderung punya Keinginan yang Realistis, tak
pernah berharap macam-macam. Hal ini membuat setiap kesuksesan kecil pun bisa
membuat mereka begitu gembira. Jika menemui kegagalan, biasanya mereka lebih
mudah menerima & akan berusaha lagi. Paulus juga bisa digolongkan sebagai
orang yang bahagia. Betul sekali, hidupnya tidak berkelimpahan secara materi,
bahkan tidak jarang ia harus menderita kekurangan & kelaparan (2 Korintus
11:27). Namun dari surat-suratnya kita bisa melihat, betapa ia tidak pernah
kehilangan Semangat & Sukacita. Mengapa? Karena Paulus selalu belajar
mencukupkan diri dalam segala keadaan. “Kukatakan ini bukanlah karena
kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan”
(Filipi 4:11). Kita juga bisa mengalami kebahagiaan walaupun hidup kita
biasa-biasa saja, tidak secermelang atau sehebat orang lain, asal kita mau
BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI & SELALU BERSYUKUR dengan apa yang ada pada kita.
KEBAHAGIAAN LETAKNYA TIDAK DI LUAR DIRI KITA, TAPI DI DALAM HATI KITA.
”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam
segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan
syukur” (Filipi 4:6).
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Sabtu, 30 Januari 2016. Tetap Melayani. Lalu mereka pergi ke tanah
Mesir, sebab mereka tidak mau mendengarkan suara TUHAN. Maka sampailah mereka
di Tahpanhes (Yeremia 43:7). Bekerja di tempat yang nyaman tentu lebih
membahagiakan daripada berada di tempat yang kurang kita sukai. Sayangnya, kita
tidak selalu berada di tempat yang kita inginkan dan hal itu dapat mengecewakan
kita. Kondisi ini lalu memengaruhi sikap kita dalam bekerja dan melayani.
Apakah kita tetap berbahagia dan bekerja dengan setia sekalipun tempatnya
kurang nyaman? Yeremia pernah mengalaminya. Saat itu, orang Israel yang
tertinggal di Yerusalem mengalami tekanan yang hebat. Sayangnya, mereka tidak
mencari pertolongan Tuhan dan lebih percaya kepada beberapa pemimpin yang tidak
memiliki visi dan yang tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Atas perintah Tuhan,
Yeremia tampil dan berusaha mencegah mereka untuk tidak mencari pertolongan ke
Mesir. Tapi pemberitaan itu sia-sia dan bangsa itu justru menganggap nabi itu
berbohong. Mereka marah dan menawan Yeremia untuk ikut pergi bersama mereka.
Sungguh suatu pengalaman yang menyesakkan bagi Yeremia. Karena ditawan, ia
terpaksa ikut ke Mesir sehingga nyawanya terancam. Ya, menurut nubuat firman
Tuhan, peperangan, kelaparan dan sakit-penyakit akan menyerang mereka di Mesir
(42:22). Sungguhpun demikian, ia tetap setia menyampaikan suara Tuhan kepada
orang-orang yang keras hati itu. Dalam menjalani hidup, kita tidak selalu berada
di tempat yang yang kita inginkan. Meski tampaknya berat, biarlah komitmen dan
kesetiaan kita untuk melayani-Nya tidak berubah. Allah, sumber kasih karunia
itu, akan melimpahkan kekuatan-Nya, memampukan kita —SYS. KESULITAN HIDUP
MENGUJI KESETIAAN KITA, ANUGERAH TUHAN MEMAMPUKAN KITA MENGHADAPINYA. Selamat
pagi. Selamat menikmati waktu bersama keluarga. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier
Quentin Pranata
“Hanya
doa adalah salah. Yang benar doa adalah segalanya.” Xavier Quentin Pranata.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz
28:6 – Terpujilah TUHAN, karena IA telah mendengar suara permohonanku! Wow...
Luar biasa, doa kita TUHAN bisa mendengar dan menjawab-NYA. Terima kasih
YESUSku! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
No comments:
Post a Comment