Friday, 29 January 2016

29 Januari 2016





HIGHER & DEEPER




Ibrani 10:25, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan- pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Saat kedatangan Kristus untuk ‘menjemput’ orang-orang yang setia makin mendekat, oleh karena itu kita harus tekun ‘bersekutu’/‘berkumpul’ dengan saudara-saudara seiman (baik dalam Ibadah, Komunitas Sel & pertemuan-pertemuan yang membuat kita semakin bertumbuh) secara tetap untuk saling menguatkan agar kita tetap berpegang teguh kepada Kristus. Amin. Sudahkah saat ini kita praktekkan untuk tekun dan setia datang dalam ‘pertemuan-pertemuan’ ibadah kita untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman kita baik dalam ibadah, komsel, dll??

Xavier Quentin Pranata
“Kedewasaan seseorang dapat dinilai saat dia mengalami penolakan.” Xavier Quentin Pranata.

Ibu Caroline – Bandung
Roma 8:28 (TB) – Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Di dalam kehidupan ini, kita selalu diperhadapkan dengan sebuah pilihan, kanan atau kiri, maju atau mundur, hitam atau putih, dll nya. Bahkan kalaupun kita tidak memilih diantaranya, sudah bisa dipastikan bahwa kita pun sudah memutuskan untuk memilih, yaitu memutuskan untuk tidak memilih diantaranya. Di dalam belajar, pasti ada hal salah yang pernah kita lakukan. Namun hal penting itu bukan perihal pilihan yang tepat atau tidak, tapi tentang sikap berani memutuskan untuk memilih yang disertai tanggung jawab untuk setiap resikonya. Morning Father, we love you. Kami tinggikan Engkau diatas segalanya. KerajaanMu menyinari hidup setiap kami dan hanya kehendakMulah yang jadi di bumi seperti di sorga. Mampukan kami, become a right and good representative of Your Kingdom. Kami percaya setiap kami di sini. Mengasihi Engkau lebih lagi day by day so when someone sees us, they all see You through us. In Jesus name. Amin. Morning sister. Have a very blessed day. Thank you. Gbu. (Ibu Caroline – Bandung)

Bp. Anto – MDC
Renungan pagi: SETITIK AIR. Hari itu saya belanja keperluan pribadi di swalayan. Setelah mengambil segala barang yang saya butuhkan, saya pun buru buru menuju antrian di kasir. Di depan saya ada seorang anak muda berpenampilan rada sangar dan di depan anak muda itu ada seorang ibu berpenampilan sederhana dengan 2 orang anaknya yang sedang menghitung belanjaan mereka di kasir. “Total seluruhnya 145 ribu bu,” kata si neng penjaga kasir tersenyum ramah, jumlah seluruh barang belanjaan si ibu. Ibu itu segera membuka dompetnya... uangnya sedikit  lusuh dan recehan semua,  lalu dia menghitungnya satu persatu dengan wajah tertunduk. Kedua anaknya berdiri memperhatikan ibu mereka sambil sesekali memegang tangannya, keduanya terlihat tidak sabar. Antrian pun semakin panjang, maklum tanggal muda. Saya lihat wajah si ibu pucat pasi, terlihat jelas ia kebingungan sebab ternyata uang yang ada di dompetnya kurang. Ia mulai berpikir untuk mengembalikan sebagian barang belanjaan yang diambilnya. Seketika tiba-tiba saja anak muda di depan saya yang agak sangar membungkuk sambil memungut uang 50 ribuan yang ada di lantai dan menyodorkannya ke pada ibu itu: “Hati-hati Bu kalau menghitung uang, ini ada selembar uang ibu yang jatuh.” Si ibu yang bengong seperti tak percaya, dengan tangan bergetar menerima uang itu dengan tatapan mata penuh syukur ia memandang pada si anak muda tersebut. Setelah membayar di kasir dengan gembira kedua anaknya menenteng kantong plastik belanjaan berlalu pergi. Anak muda itu membayar belanjaannya kemudian ia juga segera pergi. Belanjaan buru-buru saya bayar dan saya kejar menyusul anak muda itu. Setelah bertemu saya berkata: “Dik, saya tahu dan lihat, tadi kamu dengan sengaja menjatuhkan uang 50 ribuan untuk adik kasihkan kepada si ibu yang tadi itu, demi Tuhan saya bertanya, bagaimana kamu bisa mendapat ide itu?” Si anak muda dengan santun menjawab: “Tuhan lah yang mengilhamkan itu pada saya Pak, saya tidak ingin si ibu itu malu di hadapan kita dan anak-anaknya, karena itu Tuhan menggerakkan hati saya untuk spontan mengerjakan apa yang bapak lihat.” Ternyata bila hati menginginkan kebaikan, Tuhan akan membantu hambaNya melakukan kebaikan itu dan kebaikan itu hanya mudah dilakukan bagi orang yang memang menginginkannya. “Nikmat dari Allah bukan harta semata, itu juga bekal kita kalau kita dipanggil.” Selamat pagi. Salam damai sejahtera. GBU. (Pak Anto – MDC)

Worship Center Surabaya
Salah satu kepribadian dari Allah yang kita sembah sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab suci kita, yang kerap kali membedakan-Nya dengan ilah lain yang disembah manusia, ialah bahwa dibalik kedahsyatan & keagungan-Nya yang mengatasi seluruh bumi & alam semesta, Dia adalah Allah yang rendah hati. Demi menjangkau kita, Kristus mengosongkan diri-Nya, merendahkan diri dalam rupa manusia sama seperti kita bahkan menanggung hukuman dosa kita, mati di kayu salib dengan sangat hina. Kerendahan hati Tuhan bersumber dari sifat-Nya yang adalah kasih. Sebagaimana yang dituliskan rasul Paulus dalam 1 Kor. 13:4, “Kasih itu... tidak sombong”. Kasih sejati tidak pernah memandang dirinya lebih penting, lebih tinggi & lebih layak dari yang lain. Kasih seperti itulah yang membuat Tuhan tidak segan-segan memikul salib, diolok & dianiaya oleh manusia-manusia berdosa. Jauh dari menuntut penghormatan & penyembahan dengan paksa atau yang tidak semestinya, Kristus Tuhan justru memilih jalan kesengsaraan demi memenangkan cinta kita. Kita dapat melihat apakah kita kurang dalam kasih jika kita mau jujur mengakui apakah kita masih sering memandang diri kita lebih tinggi orang lain. Jika Anda masih belum merasa memandang diri seperti itu, ingat-ingatlah seberapa sering Anda memandang rendah orang lain: bahwa mereka tidak sepintar, sekaya, sebaik, setampan atau secantik Anda dan seterusnya. Jika kita begitu bangga kepada kelebihan-kelebihan kita tanpa dibarengi kesadaran akan kelemahan-kelemahan kita, lalu menyangkal kenyataan bahwa masih banyak yang melebihi kita, termasuk pribadi Tuhan yang dalam keberadaan-Nya layak menerima segala pujian & kemuliaan -maka diakui atau tidak, sesungguhnya kesombongan telah menyelinap bahkan mungkin menguasai hati kita. Kasih kita lebih kepada diri kita sendiri yang sangat kita kagumi & banggakan. Dan itu bukan kasih sejati. Mereka yang dalam hidupnya menerima & menyalurkan kasih Tuhan, hidupnya makin hari makin rendah hati karena mempraktekkan kasih sejati itu. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment