HIGHER &
DEEPER
Kolose
2:7, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,
hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan
hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Berapa dalam akar sebuah pohon
dan fondasi sebuah gedung menentukan berapa lama pohon atau bangunan itu teguh
berdiri. Pastikan kita semua mempunyai “dasar” atau “akar yang kuat” dalam
FIRMAN untuk dapat menang dalam menghadapi tantangan kehidupan ini. Bagaimana
caranya agar AKAR kita KUAT? Yaitu bila secara teratur dan terus menerus kita
memberi makan manusia batiniah kita dengan Firman Tuhan, doa &
penyembahan/ucapan syukur pada Allah. Selain hidup dalam kebenaran &
ketaatan (Ibrani 5:12-14). 1) Manusia batiniah kita harus diperbaharui hari
demi hari oleh kekuatan Roh Kudus (2 Kor 4:16). 2) Kita perlu menyimpan Firman
Tuhan dalam batin kita (Roma 7:22). 3) Allah berjanji untuk menanam
firmanNya dalam batin kita (Yer 31:33). Amin. Sudahkah kita berakar/membangun
manusia batiniah kita?
Xavier
Quentin Pranata
“Saat
fisik lemah, makin besar rasa bergantung kita kepada Allah.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Selasa, 26 Januari 2016. Berjumpa dengan Tuhan. Ia pun berlari
mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan
lewat di situ (Lukas 19:4). Kisah Zakheus memang menarik. Ia memanjat pohon ara
hanya untuk melihat Yesus ketika Yesus memasuki kota Yerikho. Dengan segala
keterbatasannya (ay. 3), Zakheus tetap gigih untuk bertemu dengan Yesus. Ada
tekad dan keinginan yang kuat dalam diri Zakheus, seorang pemungut cukai.
Pemungut cukai, atau dalam bahasa Yunani publicani, adalah petugas pajak yang
mengumpulkan pajak dari masyarakat Yahudi untuk diserahkan kepada pemerintahan
Romawi. Pada zaman itu, profesi pemungut cukai dipandang buruk dan bahkan
dibenci rakyat. Mereka dianggap pengkhianat bangsanya. Tetapi, Zakheus tidak
menjadikan keadaannya sebagai penghambat untuk berjumpa dengan Yesus. Saya
mencoba membayangkan betapa hati Zakheus sangat tersentuh ketika Yesus
mengatakan bahwa Dia harus menumpang di rumahnya (ay. 5). Bukan hanya itu,
kehadiran Yesus di rumahnya juga mendatangkan suatu perubahan besar dalam
kehidupannya (ay. 8). Ia sampai memutuskan, “Tuhan, setengah dari milikku akan
kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari
seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu bagaimana dengan kita? Apa
yang sering menghambat kita untuk berjumpa dengan Yesus? Apakah sakit penyakit,
rasa malas, pergumulan hidup lain, atau kita merasa tidak layak datang pada
Tuhan? Apa pun alasan kita, biarlah kita belajar seperti Zakheus yang rendah
hati dan tidak memandang siapa dirinya, serta memiliki kerinduan yang besar
untuk berjumpa dengan Tuhan —MIA. PERJUMPAAN DENGAN TUHAN MENGUBAHKAN KITA.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Selasa,
26 Januari 2016. Bacaan: Kejadian 50:15-21. Setahun: Keluaran 26-28. Nats:
“Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.”
Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan
perkataannya (Kejadian 50:21). PEDULI AMAT. Hudson Taylor adalah misionaris di
pedalaman Tiongkok. Saat perjalanan dari Shanghai ke Ningpo tiba-tiba ia
mendengar ada sesuatu tercebur ke laut. Ia berlari ke geladak dan seorang
penumpang, Min, tak ada di sana. Dalam keadaan bingung, ia melihat para nelayan
yang memiliki jala tarik--alat yang tepat untuk digunakan saat itu. “Datanglah
kemari. Tariklah jalamu melewati tempat ini. Ada orang tenggelam di sini,” seru
Taylor. “Peduli amat. Itu pekerjaan tak menyenangkan,” jawab para nelayan itu.
“Jangan bicara tentang menyenangkan. Tinggalkan dulu, saya akan membayarmu.”
Setelah tawar-menawar dan Taylor bersedia memberi semua uangnya, mereka
menebarkan jala untuk menarik Min, namun nyawanya sudah tak tertolong. Di dunia
ini banyak orang acuh tak acuh dan mementingkan diri sendiri. Mungkin kita
mencela para nelayan itu. Tetapi, bagaimanakah sikap kita terhadap jutaan
manusia yang berjalan menuju kebinasaan dan terbelenggu oleh penderitaan dan
dosa? Mereka tenggelam dalam keputusasaan dan keterasingan. Mereka terpenjara
dan terbelenggu oleh dendam, iri hati, dan kemarahan. Seperti Yusuf yang
menyelamatkan keluarganya dari kematian karena kelaparan, demikianlah kita
harus bersikap. Yusuf punya alasan bersikap tidak mau tahu atas apa yang
menimpa saudara-saudaranya karena perlakuan mereka kepadanya, tetapi ia tak
melakukannya. Yusuf tak sekadar menyelamatkan mereka dari kelaparan, tetapi
juga memerdekakan mereka dari rasa takut dan rasa bersalah yang mendalam
--Piter Randan Bua. SADAR AKAN KEBAIKAN ALLAH MENDORONG KITA BERBELAS KASIH
PADA MEREKA YANG MENDERITA DAN TERSESAT. (Ibu Caroline – Bandung)
Worship
Center Surabaya
Manusia-manusia
yang tidak mengenal Tuhan di akhir zaman akan dikenali dengan sifat mereka yang
suka membual atau membesar-besarkan diri. Itulah yang dikatakan Paulus saat
melihat jauh ke depan oleh ilham Roh mengenai kondisi di waktu-waktu yang
semakin mendekati kesudahan segala sesuatu (2 Tim. 3:2). Mengapa Tuhan
memberikan sorotan secara khusus mengenai dosa ini? Kamus Thayer menerjemahkan
makna kata asli dari ‘pembual’ dalam nats di atas sebagai ‘seorang yang suka
berpura-pura/mengaku-ngaku namun kosong adanya’. Dengan kata lain, inilah
orang-orang yang menampilkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan hidupnya
yang sesungguhnya; menutupi bahkan memalsukan karakter atau keadaan yang sebenarnya
itu lalu menggantikannya dengan gambaran-gambaran yang tampak jauh lebih hebat
& besar agar beroleh pujian, hormat & kekaguman dari orang lain. Dari
definisi di atas, setidaknya kita mengetahui mengapa hal-hal itu jahat di mata
Tuhan. Pertama, orang-orang ini mempraktekkan dusta & kebohongan yang
merupakan kebalikan dari kejujuran & kebenaran. Kedua, maksud-maksud mereka
jahat yaitu memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi dengan cara mengelabui.
Ketiga, mereka meninggikan diri atas hal-hal yang sebenarnya bukan merupakan
sesuatu yang pantas dimuliakan di hadapan Tuhan seperti status, harta benda,
gaya hidup atau prestasi-prestasi yang bahkan belum tentu benar-benar
dimilikinya. Keempat, mereka melupakan Tuhan yang layak dimuliakan dalam hidup
manusia. Selagi dunia dipenuhi para pembual, Tuhan mencari penyembah-penyembah
sejati -orang-orang yang hidup demi merendahkan dirinya serendah-rendahnya demi
meninggikan Tuhan setinggi-tingginya. Yaitu orang-orang yang menyebut nama
Tuhan sebagai yang berdaulat & berkuasa menentukan segala sesuatu sehingga
tak mungkin mereka tidak meninggikan-Nya. Yang sekalipun menerima segala
pengakuan & penghargaan dunia tapi meletakkan semuanya di mezbah Tuhan,
mengembalikan segala kemuliaan bagi Tuhan saja. Merekalah jiwa-jiwa yang
menjadi kesukaan Allah. Akankah Tuhan menemukan seorang penyembah sejati dalam
diri Anda? Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment