Tuesday, 26 January 2016

26 Januari 2016



HIGHER & DEEPER




Kolose 2:7, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Berapa dalam akar sebuah pohon dan fondasi sebuah gedung menentukan berapa lama pohon atau bangunan itu teguh berdiri. Pastikan kita semua mempunyai “dasar” atau “akar yang kuat” dalam FIRMAN untuk dapat menang dalam menghadapi tantangan kehidupan ini. Bagaimana caranya agar AKAR kita KUAT? Yaitu bila secara teratur dan terus menerus kita memberi makan manusia batiniah kita dengan Firman Tuhan, doa & penyembahan/ucapan syukur pada Allah. Selain hidup dalam kebenaran & ketaatan (Ibrani 5:12-14). 1) Manusia batiniah kita harus diperbaharui hari demi hari oleh kekuatan Roh Kudus (2 Kor 4:16). 2) Kita perlu menyimpan Firman Tuhan dalam batin kita (Roma 7:22). 3) Allah berjanji untuk menanam firmanNya dalam batin kita (Yer 31:33). Amin. Sudahkah kita berakar/membangun manusia batiniah kita?

Xavier Quentin Pranata
“Saat fisik lemah, makin besar rasa bergantung kita kepada Allah.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 26 Januari 2016. Berjumpa dengan Tuhan. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ (Lukas 19:4). Kisah Zakheus memang menarik. Ia memanjat pohon ara hanya untuk melihat Yesus ketika Yesus memasuki kota Yerikho. Dengan segala keterbatasannya (ay. 3), Zakheus tetap gigih untuk bertemu dengan Yesus. Ada tekad dan keinginan yang kuat dalam diri Zakheus, seorang pemungut cukai. Pemungut cukai, atau dalam bahasa Yunani publicani, adalah petugas pajak yang mengumpulkan pajak dari masyarakat Yahudi untuk diserahkan kepada pemerintahan Romawi. Pada zaman itu, profesi pemungut cukai dipandang buruk dan bahkan dibenci rakyat. Mereka dianggap pengkhianat bangsanya. Tetapi, Zakheus tidak menjadikan keadaannya sebagai penghambat untuk berjumpa dengan Yesus. Saya mencoba membayangkan betapa hati Zakheus sangat tersentuh ketika Yesus mengatakan bahwa Dia harus menumpang di rumahnya (ay. 5). Bukan hanya itu, kehadiran Yesus di rumahnya juga mendatangkan suatu perubahan besar dalam kehidupannya (ay. 8). Ia sampai memutuskan, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang sering menghambat kita untuk berjumpa dengan Yesus? Apakah sakit penyakit, rasa malas, pergumulan hidup lain, atau kita merasa tidak layak datang pada Tuhan? Apa pun alasan kita, biarlah kita belajar seperti Zakheus yang rendah hati dan tidak memandang siapa dirinya, serta memiliki kerinduan yang besar untuk berjumpa dengan Tuhan —MIA. PERJUMPAAN DENGAN TUHAN MENGUBAHKAN KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 26 Januari 2016. Bacaan: Kejadian 50:15-21. Setahun: Keluaran 26-28. Nats: “Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya (Kejadian 50:21). PEDULI AMAT. Hudson Taylor adalah misionaris di pedalaman Tiongkok. Saat perjalanan dari Shanghai ke Ningpo tiba-tiba ia mendengar ada sesuatu tercebur ke laut. Ia berlari ke geladak dan seorang penumpang, Min, tak ada di sana. Dalam keadaan bingung, ia melihat para nelayan yang memiliki jala tarik--alat yang tepat untuk digunakan saat itu. “Datanglah kemari. Tariklah jalamu melewati tempat ini. Ada orang tenggelam di sini,” seru Taylor. “Peduli amat. Itu pekerjaan tak menyenangkan,” jawab para nelayan itu. “Jangan bicara tentang menyenangkan. Tinggalkan dulu, saya akan membayarmu.” Setelah tawar-menawar dan Taylor bersedia memberi semua uangnya, mereka menebarkan jala untuk menarik Min, namun nyawanya sudah tak tertolong. Di dunia ini banyak orang acuh tak acuh dan mementingkan diri sendiri. Mungkin kita mencela para nelayan itu. Tetapi, bagaimanakah sikap kita terhadap jutaan manusia yang berjalan menuju kebinasaan dan terbelenggu oleh penderitaan dan dosa? Mereka tenggelam dalam keputusasaan dan keterasingan. Mereka terpenjara dan terbelenggu oleh dendam, iri hati, dan kemarahan. Seperti Yusuf yang menyelamatkan keluarganya dari kematian karena kelaparan, demikianlah kita harus bersikap. Yusuf punya alasan bersikap tidak mau tahu atas apa yang menimpa saudara-saudaranya karena perlakuan mereka kepadanya, tetapi ia tak melakukannya. Yusuf tak sekadar menyelamatkan mereka dari kelaparan, tetapi juga memerdekakan mereka dari rasa takut dan rasa bersalah yang mendalam --Piter Randan Bua. SADAR AKAN KEBAIKAN ALLAH MENDORONG KITA BERBELAS KASIH PADA MEREKA YANG MENDERITA DAN TERSESAT. (Ibu Caroline – Bandung)

Worship Center Surabaya
Manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhan di akhir zaman akan dikenali dengan sifat mereka yang suka membual atau membesar-besarkan diri. Itulah yang dikatakan Paulus saat melihat jauh ke depan oleh ilham Roh mengenai kondisi di waktu-waktu yang semakin mendekati kesudahan segala sesuatu (2 Tim. 3:2). Mengapa Tuhan memberikan sorotan secara khusus mengenai dosa ini? Kamus Thayer menerjemahkan makna kata asli dari ‘pembual’ dalam nats di atas sebagai ‘seorang yang suka berpura-pura/mengaku-ngaku namun kosong adanya’. Dengan kata lain, inilah orang-orang yang menampilkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan hidupnya yang sesungguhnya; menutupi bahkan memalsukan karakter atau keadaan yang sebenarnya itu lalu menggantikannya dengan gambaran-gambaran yang tampak jauh lebih hebat & besar agar beroleh pujian, hormat & kekaguman dari orang lain. Dari definisi di atas, setidaknya kita mengetahui mengapa hal-hal itu jahat di mata Tuhan. Pertama, orang-orang ini mempraktekkan dusta & kebohongan yang merupakan kebalikan dari kejujuran & kebenaran. Kedua, maksud-maksud mereka jahat yaitu memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi dengan cara mengelabui. Ketiga, mereka meninggikan diri atas hal-hal yang sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang pantas dimuliakan di hadapan Tuhan seperti status, harta benda, gaya hidup atau prestasi-prestasi yang bahkan belum tentu benar-benar dimilikinya. Keempat, mereka melupakan Tuhan yang layak dimuliakan dalam hidup manusia. Selagi dunia dipenuhi para pembual, Tuhan mencari penyembah-penyembah sejati -orang-orang yang hidup demi merendahkan dirinya serendah-rendahnya demi meninggikan Tuhan setinggi-tingginya. Yaitu orang-orang yang menyebut nama Tuhan sebagai yang berdaulat & berkuasa menentukan segala sesuatu sehingga tak mungkin mereka tidak meninggikan-Nya. Yang sekalipun menerima segala pengakuan & penghargaan dunia tapi meletakkan semuanya di mezbah Tuhan, mengembalikan segala kemuliaan bagi Tuhan saja. Merekalah jiwa-jiwa yang menjadi kesukaan Allah. Akankah Tuhan menemukan seorang penyembah sejati dalam diri Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment