Tuesday, 19 January 2016

19 Januari 2016



HIGHER & DEEPER



Matius 13:20-21, 20Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 21Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” Apa yang terjadi bila ‘benih’ ditaburkan di tanah yang berbatu? Pasti tidak berakar, karena ia tidak akan pernah bertumbuh/tidak akan bertahan lama. Demikian juga hidup kita bila benih Firman yang kita baca, yang kita renungkan tentu tidak hanya sekedar membaca & merenungkan tetapi kita harus BERTEKUN untuk melakukan-Nya bahkan membagikan-Nya (4M). Ibrani 10:36, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Amin.

Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 19 Januari 2016. Bacaan: Lukas 19:1-10. Setahun: Keluaran 5-7. Nats: Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ (Lukas 19:4). BERJUMPA DENGAN TUHAN. Kisah Zakheus memang menarik. Ia memanjat pohon ara hanya untuk melihat Yesus ketika Yesus memasuki kota Yerikho. Dengan segala keterbatasannya (ay. 3), Zakheus tetap gigih untuk bertemu dengan Yesus. Ada tekad dan keinginan yang kuat dalam diri Zakheus, seorang pemungut cukai. Pemungut cukai, atau dalam bahasa Yunani publicani, adalah petugas pajak yang mengumpulkan pajak dari masyarakat Yahudi untuk diserahkan kepada pemerintahan Romawi. Pada zaman itu, profesi pemungut cukai dipandang buruk dan bahkan dibenci rakyat. Mereka dianggap pengkhianat bangsanya. Tetapi, Zakheus tidak menjadikan keadaannya sebagai penghambat untuk berjumpa dengan Yesus. Saya mencoba membayangkan betapa hati Zakheus sangat tersentuh ketika Yesus mengatakan bahwa Dia harus menumpang di rumahnya (ay. 5). Bukan hanya itu, kehadiran Yesus di rumahnya juga mendatangkan suatu perubahan besar dalam kehidupannya (ay. 8). Ia sampai memutuskan, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang sering menghambat kita untuk berjumpa dengan Yesus? Apakah sakit penyakit, rasa malas, pergumulan hidup lain, atau kita merasa tidak layak datang pada Tuhan? Apa pun alasan kita, biarlah kita belajar seperti Zakheus yang rendah hati dan tidak memandang siapa dirinya, serta memiliki kerinduan yang besar untuk berjumpa dengan Tuhan --Selly Miarani. PERJUMPAAN DENGAN TUHAN MENGUBAHKAN KITA.

Xavier Quentin Pranata
“Sahabat sejati tidak selalu sehati, tapi pasti menunjukkan empati.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 19 Januari 2016. Terang Dalam Kegelapan. Maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang (Mazmur 139:12). Seorang pilot tengah menerbangkan pesawatnya ketika badai menerjang. Langit tampak gelap sangat mencekam. Apa yang bisa dilakukannya? Karena hal itu bukan pengalaman pertama baginya, ia pun berusaha tetap tenang. Kemudian ia mengandalkan data dari alat-alat di pesawat sebagai pembimbingnya. Ia berusaha menyingkirkan perasaan takut, agar dapat tetap berpikir jernih dalam situasi gawat itu. Daud mengalami begitu banyak masa kegelapan. Beban hidup, ketakutan, dan kekhawatiran adalah sebagian masa gelap yang pernah menaungi hidupnya. Tetapi, justru pada masa-masa itulah ia semakin menyadari kehadiran Allah. Dalam kegelapan itu, kepercayaannya kepada Allah semakin kuat. Daud percaya bahwa kegelapan tidak pernah merintangi Allah untuk mengulurkan tangan-Nya dan menuntun langkahnya. Perjalanan hidup kita tak selamanya mudah. Tidak mungkin perjalanan kita terus-menerus bebas tanpa hambatan dan terangbenderang. Terkadang perjalanan itu menjadi sangat gelap, mencekam, dan menakutkan. Bagi kita, mengalami persoalan yang datang silih berganti adalah saat ketika kita berada di tempat yang gelap. Inilah rencana Allah bahwa Dia hendak menguji kepercayaan kita: apakah kita percaya bahwa di tempat sekelam apa pun tetap ada kehadiran Allah dan pertolongan-Nya? Di tempat segelap apa pun, Allah tidak akan pernah membiarkan kita terjatuh sampai tergeletak. Sebaliknya, tangan keperkasaan-Nya akan selalu menopang kita —SYS. DIBAWA-NYA KITA MASUK KE DALAM KEGELAPAN SUPAYA KITA DAPAT MELIHAT TERANG DAN TOPANGAN TANGAN-NYA. Selamat pagi. Mulailah dengan doa. Selamat beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Sejak uang dikenal menjadi salah satu sarana ekonomi manusia, maka hati manusia beralih padanya dengan segala hasrat. Sebab, memiliki uang -dalam pemikiran duniawi- sama dengan memiliki kekuasaan untuk mendapatkan segala-galanya (padahal itu tipuan iblis saja karena nyatanya tidak demikian). Maka muncullah istilah “money is power” -uang itu kekuasaan untuk mencapai apapun sehingga adalah sah jika kemudian “time is money” -waktu adalah uang dimana keberadaan & hari-hari manusia diabdikan untuk mendapatkan uang sebagai yang paling penting, vital & berharga dalam hidup. Ribuan tahun berlalu & kini seluruh dunia dikuasai oleh uang: orang dinilai berdasar jumlah uang yang ia miliki. Juga dalam mencari pasangan hidup, peluang bisnis, pilihan profesi, tujuan hidup bahkan dunia pelayanan rohani Kristen menilai pemimpin & jemaat sukses dari jumlah uang yang dipersembahkan atau diperoleh pelayanannya. Ini tak mengherankan sebab dikatakan bahwa tipe orang kedua yang muncul makin nyata di akhir zaman ialah “para hamba uang” (2 Tim. 3:1). Persoalannya, pastikah kita tidak termasuk dalam golongan ini? Sebelumnya kita harus menyadari bahwa hati kita dapat menjadi demikian sesat sehingga mudah menipu diri. Jelas tidak ada seorangpun yang suka disebut sebagai hamba uang. Sebab itu, hanya yang bersedia jujur & sungguh memperhatikan firmanlah yang akan mengaku & merendahkan diri bila sifat itu ada dalam hidupnya. Untuk mengetahuinya, kita harus jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: Pilihan manakah yang kita ambil jika Tuhan memanggil kita menjadi hamba-Nya sedangkan kita sedang di puncak karir dengan gaji yang amat tinggi? Kehidupan manakah yang kita idamkan: seperti Yesus Kristus atau hidup nyaman & mewah bak selebritis dunia? Dengan ukuran apakah kita menilai kemurnian & keberhasilan suatu pelayanan rohani atau gereja? Hidup kita ditentukan oleh Tuhan atau uang? (Luk. 12:5) Jika Anda menjawab Tuhanlah penentu hidup Anda, maukah Anda hidup “menghamba” pada Tuhan & bukannya uang? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment