HIGHER &
DEEPER
Matius
13:20-21, “20Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu
ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 21Tetapi
ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau
penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” Apa yang
terjadi bila ‘benih’ ditaburkan di tanah yang berbatu? Pasti tidak berakar,
karena ia tidak akan pernah bertumbuh/tidak akan bertahan lama. Demikian juga
hidup kita bila benih Firman yang kita baca, yang kita renungkan tentu tidak
hanya sekedar membaca & merenungkan tetapi kita harus BERTEKUN untuk
melakukan-Nya bahkan membagikan-Nya (4M). Ibrani 10:36, “Sebab kamu
memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu
memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Amin.
Ibu
Caroline – Bandung
Selasa,
19 Januari 2016. Bacaan: Lukas 19:1-10. Setahun: Keluaran 5-7. Nats: Ia pun
berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus,
yang akan lewat di situ (Lukas 19:4). BERJUMPA DENGAN TUHAN. Kisah Zakheus
memang menarik. Ia memanjat pohon ara hanya untuk melihat Yesus ketika Yesus
memasuki kota Yerikho. Dengan segala keterbatasannya (ay. 3), Zakheus tetap
gigih untuk bertemu dengan Yesus. Ada tekad dan keinginan yang kuat dalam diri
Zakheus, seorang pemungut cukai. Pemungut cukai, atau dalam bahasa Yunani
publicani, adalah petugas pajak yang mengumpulkan pajak dari masyarakat Yahudi
untuk diserahkan kepada pemerintahan Romawi. Pada zaman itu, profesi pemungut
cukai dipandang buruk dan bahkan dibenci rakyat. Mereka dianggap pengkhianat
bangsanya. Tetapi, Zakheus tidak menjadikan keadaannya sebagai penghambat untuk
berjumpa dengan Yesus. Saya mencoba membayangkan betapa hati Zakheus sangat
tersentuh ketika Yesus mengatakan bahwa Dia harus menumpang di rumahnya (ay.
5). Bukan hanya itu, kehadiran Yesus di rumahnya juga mendatangkan suatu
perubahan besar dalam kehidupannya (ay. 8). Ia sampai memutuskan, “Tuhan,
setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada
sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu
bagaimana dengan kita? Apa yang sering menghambat kita untuk berjumpa dengan
Yesus? Apakah sakit penyakit, rasa malas, pergumulan hidup lain, atau kita merasa
tidak layak datang pada Tuhan? Apa pun alasan kita, biarlah kita belajar
seperti Zakheus yang rendah hati dan tidak memandang siapa dirinya, serta
memiliki kerinduan yang besar untuk berjumpa dengan Tuhan --Selly Miarani.
PERJUMPAAN DENGAN TUHAN MENGUBAHKAN KITA.
Xavier
Quentin Pranata
“Sahabat
sejati tidak selalu sehati, tapi pasti menunjukkan empati.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Selasa, 19 Januari 2016. Terang Dalam Kegelapan. Maka kegelapan pun
tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan
sama seperti terang (Mazmur 139:12). Seorang pilot tengah menerbangkan
pesawatnya ketika badai menerjang. Langit tampak gelap sangat mencekam. Apa
yang bisa dilakukannya? Karena hal itu bukan pengalaman pertama baginya, ia pun
berusaha tetap tenang. Kemudian ia mengandalkan data dari alat-alat di pesawat
sebagai pembimbingnya. Ia berusaha menyingkirkan perasaan takut, agar dapat
tetap berpikir jernih dalam situasi gawat itu. Daud mengalami begitu banyak
masa kegelapan. Beban hidup, ketakutan, dan kekhawatiran adalah sebagian masa
gelap yang pernah menaungi hidupnya. Tetapi, justru pada masa-masa itulah ia
semakin menyadari kehadiran Allah. Dalam kegelapan itu, kepercayaannya kepada
Allah semakin kuat. Daud percaya bahwa kegelapan tidak pernah merintangi Allah
untuk mengulurkan tangan-Nya dan menuntun langkahnya. Perjalanan hidup kita tak
selamanya mudah. Tidak mungkin perjalanan kita terus-menerus bebas tanpa
hambatan dan terangbenderang. Terkadang perjalanan itu menjadi sangat gelap,
mencekam, dan menakutkan. Bagi kita, mengalami persoalan yang datang silih
berganti adalah saat ketika kita berada di tempat yang gelap. Inilah rencana
Allah bahwa Dia hendak menguji kepercayaan kita: apakah kita percaya bahwa di
tempat sekelam apa pun tetap ada kehadiran Allah dan pertolongan-Nya? Di tempat
segelap apa pun, Allah tidak akan pernah membiarkan kita terjatuh sampai
tergeletak. Sebaliknya, tangan keperkasaan-Nya akan selalu menopang kita —SYS.
DIBAWA-NYA KITA MASUK KE DALAM KEGELAPAN SUPAYA KITA DAPAT MELIHAT TERANG DAN
TOPANGAN TANGAN-NYA. Selamat pagi. Mulailah dengan doa. Selamat beraktivitas.
Tuhan Yesus memberkati.
Worship
Center Surabaya
Sejak
uang dikenal menjadi salah satu sarana ekonomi manusia, maka hati manusia
beralih padanya dengan segala hasrat. Sebab, memiliki uang -dalam pemikiran
duniawi- sama dengan memiliki kekuasaan untuk mendapatkan segala-galanya
(padahal itu tipuan iblis saja karena nyatanya tidak demikian). Maka muncullah
istilah “money is power” -uang itu kekuasaan untuk mencapai apapun sehingga
adalah sah jika kemudian “time is money” -waktu adalah uang dimana keberadaan
& hari-hari manusia diabdikan untuk mendapatkan uang sebagai yang paling
penting, vital & berharga dalam hidup. Ribuan tahun berlalu & kini
seluruh dunia dikuasai oleh uang: orang dinilai berdasar jumlah uang yang ia
miliki. Juga dalam mencari pasangan hidup, peluang bisnis, pilihan profesi,
tujuan hidup bahkan dunia pelayanan rohani Kristen menilai pemimpin &
jemaat sukses dari jumlah uang yang dipersembahkan atau diperoleh pelayanannya.
Ini tak mengherankan sebab dikatakan bahwa tipe orang kedua yang muncul makin
nyata di akhir zaman ialah “para hamba uang” (2 Tim. 3:1). Persoalannya,
pastikah kita tidak termasuk dalam golongan ini? Sebelumnya kita harus
menyadari bahwa hati kita dapat menjadi demikian sesat sehingga mudah menipu
diri. Jelas tidak ada seorangpun yang suka disebut sebagai hamba uang. Sebab
itu, hanya yang bersedia jujur & sungguh memperhatikan firmanlah yang akan
mengaku & merendahkan diri bila sifat itu ada dalam hidupnya. Untuk
mengetahuinya, kita harus jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: Pilihan
manakah yang kita ambil jika Tuhan memanggil kita menjadi hamba-Nya sedangkan
kita sedang di puncak karir dengan gaji yang amat tinggi? Kehidupan manakah
yang kita idamkan: seperti Yesus Kristus atau hidup nyaman & mewah bak
selebritis dunia? Dengan ukuran apakah kita menilai kemurnian &
keberhasilan suatu pelayanan rohani atau gereja? Hidup kita ditentukan oleh
Tuhan atau uang? (Luk. 12:5) Jika Anda menjawab Tuhanlah penentu hidup Anda,
maukah Anda hidup “menghamba” pada Tuhan & bukannya uang? Salam revival!
GBU.

No comments:
Post a Comment