Thursday, 21 January 2016

21 Januari 2016



HIGHER & DEEPER




2 Kor 10:17-18, 17Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. 18Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.” Berikan kami kerendahan hati agar kami senantiasa melekat kepadaMu & tahan uji. Segala hormat, pujian, kemuliaan hanya bagi nama Tuhan. Amin.

Worship Center Surabaya
Kitab Amsal dipenuhi pesan & perintah untuk mendengarkan nasihat, menerima didikan, memandang tinggi teguran, tidak menyia-nyiakan ajaran, memperhatikan peringatan & mencari hikmat sejati (Ams.1:8; 8:33; 10:17; 15:5; 19:20; 23:12,23). Membaca ayat-ayat dengan nasihat-nasihat di atas adalah mudah. Tidak demikian dengan mempraktekkannya. Mendengarkan nasihat bukanlah sesuatu yang mudah bagi kita. Apalagi menerima didikan. Sewaktu masih kanak-kanak, ingatkah berapa sering kita membantah & menolak nasihat orang tua? Jika Anda telah dewasa & lupa masa-masa itu, lihatlah anak-anak Anda. Mudahkah mendidik & mengarahkan mereka? Dan jika kanak-kanak begitu sulit menerima didikan, mungkinkah lebih mudah bagi kita yang dewasa? Banyak orang dalam usia mereka, pendidikan mereka, pengalaman atau profesi & jabatan (sekuler atau rohani) telah merasa tahu banyak hal, padahal semua itu justru kerap menghalanginya mendengarkan petunjuk, nasihat atau teguran yang disampaikan pada mereka. Termasuk teguran & nasihat dari Tuhan. Jika pesan firman itu tidak sesuai dengan pendapat & pikiran kita maka kita cenderung menolak atau setidaknya berdalih-dalih dengan berkata bahwa kemungkinan pesan tsb untuk orang lain atau disampaikan dengan pengertian yang salah. Diperlukan suatu hati yang cukup rendah hati sebagai seorang murid -seseorang yang bertekad untuk belajar apapun dari gurunya, untuk mendapatkan setiap ilmu yang dimiliki sang guru bahkan menjadi sama dengan gurunya. Murid sejati menjalani dengan segala disiplin apapun yang ditetapkan & ditunjukkan pengajarnya untuk dipelajari. Kristus ialah Teladan & Guru Agung kita. Kini, melalui Roh-Nya, Dia hendak mengajar kita supaya kita menjadi berhikmat & tidak sesat. Melalui berbagai macam cara & sarana, Dia hendak menyingkirkan kebodohan kita. Jadi, bersediakah Anda merendahkan diri & menjadi murid? Dan jika itu satu-satunya cara beroleh hikmat dari Tuhan, relakah Anda menerima didikan, koreksi & teguran Tuhan melalui cara apapun yang dipilih-Nya untuk berbicara dengan Anda? Salam revival! GBU.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 121:4-5 – Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu! Luar biasa... Aman dalam lindungan YESUS! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
“Seperti obat, hal-hal yang pahit seringkali justru membuat kita bangkit, asal tidak menjadi kepahitan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy                                                                              
SAAT TEDUH. Kamis, 21 Januari 2016. Tindakan dan Resiko. Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati (Ester 4:16b). Nelson Mandela di Afrika Selatan, William Wilberforce di Inggris, Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat—mereka adalah contoh tokoh yang berani bertindak dan mengambil risiko dalam mengubah dunia. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang tidak berbuat apa-apa karena takut dengan risiko yang akan dihadapi. Ester menghadapi situasi yang pelik. Ia bisa dijatuhi hukuman mati karena langsung menghadap Raja tanpa dipanggil. Namun, Ester bersedia untuk mengambil tindakan penting ini, dan berkata, "Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati!” (ay. 16b). Ester berfokus pada tantangan dari Mordekhai untuk melindungi bangsa mereka dan mengupayakan keadilan. Kedua orang ini memiliki kepercayaan dan iman yang teguh kepada Allah saat menghadapi tantangan. Tindakan mereka pun berdampak luas. Sepanjang kisah Ester tersirat keberadaan dan kedaulatan Allah serta penyertaan-Nya yang nyata melalui tindakan yang diungkapkan oleh Ester dan Mordekhai. Bagaimana dengan kita? Dalam pekerjaan kita, pelayanan kita, hidup kita, hal ini sangat relevan. Saat ini pun kita diundang untuk mengambil tindakan dalam rencana Tuhan yang lebih luas. Meskipun bisa jadi kita mesti menanggung risiko yang fatal atas tindakan tersebut, beranikah kita tetap melangkah, dan berkata, “Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati”? Apakah kita yakin bahwa Tuhan akan memberikan kita hikmat dan keberanian ketika kita bersandar kepada-Nya?—LCM. TANTANGAN MENJADI SEBUAH KESEMPATAN ISTIMEWA UNTUK MENDEMONSTRASIKAN KEHADIRAN ALLAH. Selamat pagi. Tetap semangat berdoa dan membaca Firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
MENGASIHI TANPA KEPURA-PURAAN. Husin adalah seorang yang kaya & ia banyak menghabiskan waktunya di luar negeri dengan bersenang-senang. Suatu saat ketika ia menunggu taksi, ia melihat seorang nenek tua yang baru keluar dari gereja. Lalu nenek itu memberikan roti kepada sekitar 6 pengemis yang sedang duduk di sekitar halaman gereja & berkata, “TUHAN memberkatimu...” Kemudian, nenek itu tersenyum melihat Husin & bertanya, “Kamu sedang liburan di sini?” “Ya Nek, saya hampir setiap bulan jalan-jalan ke luar negeri.” “Wah tentu, kamu orang yang paling berbahagia?” tanya nenek itu. Sambil tertunduk Husin menjawab, “Justru sebaliknya, Nek. Saya orang paling kesepian. Saya bisa membeli kawan, tapi bukan kebahagiaan. Ketika nenek membagi roti, saya justru terenyuh, & saya yakin Neneklah paling berbahagia...” “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” (Roma 12:9). Di dalam ayat ini mengajarkan kita untuk saling mengasihi, tanpa ada rasa kepura-puraan agar dipuji orang lain. Seperti kasih YESUS yang sempurna sanggup menjauhkan kita dari perbuatan jahat. 1) Janganlah kita mengasihi dengan kepura-puraan dengan niat untuk dihormati banyak orang. 2) Kita harus seperti YESUS mengasihi dengan tulus. 3) Kita harus mengasihi tanpa imbalan sedikitpun. Di manapun kita berada, saat kita boleh datang di dunia ini, bawalah Kebahagiaan bagi sekeliling kita, serta buatlah Kebaikan di tengah mereka. Lakukan hal-hal kecil dengan Kasih yang besar, maka di situlah Kunci Kedamaian Hati kita disempurnakan. “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (2 Korintus 3:2). God bless you all.

No comments:

Post a Comment