Sunday, 8 November 2015

8 November 2015

TEMPTATION



Yeremia 17:5, 5Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 6Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. 7Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.’” Mereka yang hidup berpusat pada diri sendiri & mengandalkan orang lain pasti akan kecewa, sebaliknya mereka yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan akan diberkati & memperoleh warisan Ilahi. Mereka tidak perlu takut/khawatir di dalam situasi hidup bagaimanapun karena akar mereka tertanam jauh di dalam Allah. Amin.

Respon 1
Pertumbuhan jumlah jemaat merupakan kerinduan dari setiap pemimpin rohani khususnya yang dipanggil untuk menggembalakan jemaat hari-hari ini. Untuk mewujudkannya, tidak jarang berbagai upaya dilakukan. Mulai dari berdoa agar ditambahkan jiwa baru, khotbah-khotbah yang menarik pendengar, program-program yang meningkatkan kerohanian hingga penyediaan fasilitas ibadah yang lebih lengkap, bangunan permanen & indah atau kinerja pelayanan yang lebih baik. Meneliti jemaat mula-mula di kitab Kisah Para Rasul, berulang kali disebutkan bahwa jumlah anggota terus bertambah bahkan bermultiplikasi (Kis. 2:41;4:4;5:14;6:1,7). Perbedaannya dengan gereja masa kini secara mendasar ialah bahwa jemaat mula-mula sama sekali tidak berpikir (apalagi mengusahakan dengan berbagai cara) untuk menambah bilangan orang-orang yang bergabung. Tanpa program-program rohani khusus & terencana disertai dukungan megahnya fasilitas lengkap, secara natural kelompok baru itu menarik ribuan orang yang belum mengenal Kristus. Bukannya tak perlu menargetkan jiwa-jiwa yang ingin dijangkau dengan merencanakan pelayanan yang matang, tapi apa yang menjadi ciri jemaat pertama seharusnya ada pada kita demi suatu terobosan kebangunan yang sejati. Semua terekam dalam Kisah 2:41-47. Jemaat mula-mula antusias akan perkara-perkara rohani. Setiap hari mereka beribadah dengan segala kerinduan. Kasih mereka nyata, tampak dari betapa murah hatinya mereka saling berbagi dengan saudara-saudara seiman, hamba-hamba Allah & pekerjaan Tuhan. Menjalani hidup saleh ialah sukacita -bukan suatu rutinitas yang membebani & ingin cepat-cepat disudahi. Yang terutama, mereka ialah kumpulan orang-orang yang tulus -bukan tampaknya baik, rajin beribadah dengan tampilan-tampilan rohani namun hidup sehari-harinya tak sesuai dengan semua itu. Itulah sebab Tuhan berkenan & mempercayakan lebih banyak jiwa-jiwa. Lebih dari semua strategi pertumbuhan gereja yang sudah & masih dikerjakan, adakah kita mau membayar harga seperti jemaat mula-mula demi tuaian besar yang terakhir sebelum kesudahan segala sesuatu? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Morning too Sis. Amin & thank you. Life is a test. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13). Di kehidupan kita, kita tidak mengetahui semua ujian yang akan Tuhan berikan kepada kita. Kita akan diuji melalui janji yang tertunda, masalah yang mustahil diselesaikan, doa yang tidak dijawab, kehilangan orang-orang terkasih, sakit, dll... Ketika kita mengerti bahwa hidup adalah suatu ujian, kita akan menyadari bahwa tidak ada yang tidak penting dalam kehidupan ini. Kejadian yang paling kecil sekalipun mempunyai arti penting untuk perkembangan karakter kita. Setiap hari berarti, dan setiap detik adalah kesempatan untuk bertumbuh, memperdalam dan memperbaiki karakter kita, menunjukkan kasih kepada orang lain, menjadi inspirasi positif bagi orang-orang di sekitar kita... Tuhan menginginkan kita untuk dapat melewati ujian-ujian yang kita hadapi, sehingga DIA tidak pernah membiarkan ujian yang kita hadapi melebihi kekuatan kita. Dan setiap kali kita berhasil dalam ujian, Tuhan melihatnya dan membuat rencana rencana untuk memberikan ganjaran kebaikan dalam kekekalan dan membawa kita ke level yang lebih tinggi... Ingat, kehidupan adalah ujian, life is a test, dan setiap ujian akan membentuk kita menjadi lebih baik! “Tidak ada peningkatan level tanpa melalui proses ujian...” (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
SAAT TEDUH. Minggu, 8 November 2015. Niat Jahat Dalam Doa. Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar (Mazmur 66:18). Apakah Allah mendengarkan setiap doa yang dinaikkan umat manusia? Biasanya orang akan cepat menjawab “Ya”. Namun, hari ini kita akan merenungkan kemungkinan bahwa Tuhan ternyata tidak mau mendengarkan doa kita. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh pemazmur dalam bacaan hari ini. Pemazmur memulai rangkaian mazmurnya dengan ajakan untuk memuji, meninggikan, dan memuliakan Tuhan karena kedahsyatan perbuatan-Nya. Ia kemudian melanjutkan dengan pengalaman pribadinya (ay. 9-15)—pengalaman yang melahirkan pemahaman mengenai Allah, yang menginginkan kemurnian dalam hati umat-Nya. Seandainya ada niat jahat dalam hati, tentu Tuhan tidak mau mendengar. Wow! Mungkin kita bertanya-tanya, “Mungkinkah menaikkan doa dengan kondisi ada niat jahat dalam hati?” Jawabannya: Mungkin sekali! Kondisi hati manusia yang rapuh, mudah terkoyak, dan tak jarang memendam sakit hati, iri hati, kebencian, dan kepahitan yang berakar membuat kita dapat menaikkan doa dengan niat jahat di dalamnya. Niat jahat dalam hati sering kali tidak kita sadari. Hanya Tuhanlah, lewat karya Roh Kudus, yang membantu kita dalam kelemahan kita dan berdoa untuk kita kepada Allah (Rm. 8:26). Ketika kita mempersilahkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita, segera kita akan dapat mengetahui ketika ada niat jahat dalam hati, yang perlu segera dibersihkan. Jadi, adakah masih ada niat jahat dalam hati kita? Bereskan dengan segera supaya doa kita tidak terganggu!—GHJ. KETIKA NIAT JAHAT MERUSAK DOA KITA, BUKALAH HATI BAGI ROH KUDUS UNTUK MEMBERESKANNYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
“Saat orang merasa benar sendiri, pada saat itulah kebenaran sudah tercemar.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment