Thursday, 19 November 2015

19 November 2015

TEMPTATION



Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Hidup Berkelimpahan bukan hanya  materi atau kehendak Tuhan, bukan itu! Kehendak Tuhan adalah DATANG kepada Tuhan / God wisdom / haus akan firmanNya. Kehendak Tuhan  itu BAIK, BERKENAN & SEMPURNA. Amin.

Respon 1
Amsal 25:21-22, “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.” (GNCC)

Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis, 19 November 2015. Kesukaran adalah Kebanggaan. Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan (Mazmur 90:10). Ada yang berkata kehidupan ini berupa untaian penderitaan. Masalah demi masalah datang silih berganti. Yang satu belum selesai, yang lain sudah datang. Bahkan tak jarang lebih dari satu, berurutan, atau serentak. Kehidupan terasa lebih banyak berisi dukacita daripada sukacita. Kegembiraan yang terjadi pun sering semu belaka, dibuat-buat, sehingga terkesan mengejek dan menyebalkan. Wah, begitu pesimistis ya? Akan tetapi, nada muram seperti ini ternyata muncul juga dalam doa Musa. Setelah mengakui perlindungan Allah, kekekalan-Nya, dan kedaulatan-Nya atas waktu (ay. 1-2, 4), ia mengakui pula kefanaan dan kerentanan hidup manusia (ay. 3, 5-10). Bahkan, Musa menyimpulkan bahwa kehidupan ini sebagian besar berupa “kesukaran dan penderitaan” (ay. 10). Uniknya, ia justru menyebutnya sebagai “kebanggaan”. Bagaimana bisa? Ya, karena pengalaman hidup seperti itu dapat menjadikan manusia kuat (“kebanggaan” di sini terjemahan dari kata rohib, yang juga berarti “kekuatan”). Jadi, menurut Musa, kita bisa bangga karena kita kuat menahan kesukaran dan penderitaan. Bukankah ia sendiri membuktikannya dalam 40 tahun kepemimpinannya atas umat Israel yang keras kepala itu? Jadi, kesukaran dan penderitaan ternyata bisa menjadi kebanggaan dan kekuatan kita, ya? Tentu saja, hal itu mestinya terjadi karena kita memilih mengikuti jalan Tuhan, bukan menyimpang dan mengikuti jalan dosa (ay. 7-9, 11, dan 15). Kesukaran dan penderitaan karena hidup dalam kebenaran, itulah yang menguatkan kita —HIS. KESUKARAN DAN PENDERITAAN ADALAH SARANA PELATIHAN UNTUK MEMPERKUAT KEHIDUPAN ORANG-ORANG BENAR. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment