Wednesday, 11 November 2015

11 November 2015

TEMPTATION


Roma 8:31, “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Libatkan Tuhan sebagai Pemimpin kita, maka DIA akan memimpin kita & menjadi otoritas atas diri & hidup kita melalui FirmanNya. Jangan pernah ‘tergoda’ untuk tidak membaca, merenungkan (Saat Teduh), membagikan & melakukan (Komsel) FirmanNya, sebab jika keempat hal ini kita lakukan (4M) niscaya DIA ada dipihak kita, bahkan kita bukan hanya pemenang tetapi LEBIH dari PEMENANG (Roma 8:37, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”). Amin.

Respon 1
Kekuatiran akan menambah beban dalam hidup. Firman Tuhan berkata: 1 Petrus 5:7, ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.’ (GNCC)

Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu, 11 November 2015. Melihat ALLAH. Kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku (Kisah Pr. Rasul 1:8). Suatu ketika para pengguna media sosial ramai membagikan artikel dari sebuah blog tentang 12 alasan seseorang membenci Kekristenan. Sudah bisa diduga, tidak sedikit orang yang melontarkan komentar klise atas artikel itu, “Jangan lihat orangnya, lihat Tuhannya.” Pertanyaannya, bagaimana cara kita melihat Tuhan? Apakah kita bisa melihat Dia dengan mata telanjang? Atau apakah kita harus berdoa agar mata rohani kita terbuka sehingga kita bisa melihat Dia seperti melihat manusia lainnya? Allah bisa saja menyatakan diri-Nya melalui mimpi atau penglihatan kepada seseorang. Namun, setelah Kristus naik ke surga, pada umumnya Allah menyatakan diri-Nya melalui manusia, dalam hal ini melalui jemaat, tubuh Kristus yang ada di bumi ini. Ya, kita adalah “cermin” Allah bagi dunia dan sesama orang Kristen. Bagaimana orang lain bisa melihat Kristus? Antara lain dengan melihat hidup kita. Karena itu, menyatakan agar kita tidak melihat pada manusia, melainkan melihat pada Tuhan, ada tidak tepatnya juga. Kehadiran Allah justru antara lain dapat dideteksi melalui kehidupan umat-Nya. Pertanyaannya, gambaran Allah seperti apakah yang kita tampilkan? Apakah kita menampilkan sosok Allah yang memicu lebih banyak orang menulis artikel mengenai alasan mereka membenci Kekristenan? Atau sebaliknya, dengan memandang hidup kita, orang malah ingin mengenal Allah? Marilah sekali lagi kita merendahkan diri dan meminta Allah memproses kita sedemikian rupa sehingga gambar-Nya yang benar boleh tampak melalui kita —DP. KIRANYA HIDUP KITA MENJADI CERMIN YANG BAIK, YANG DAPAT MEMPERLIHATKAN SOSOK ALLAH KEPADA SESAMA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Maz 111:5 – Diberikan-NYA BERKAT kepada orang-orang yang takut akan DIA, IA genapi untuk selama-lamanya akan perjanjian-NYA! Yuk jadi orang BENAR, pasti diberkati! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 4
Yesus pernah berkata bahwa dunia (yang tidak mengenal Allah yang benar) dipenuhi dengan orang yang hidup untuk mengatasi kekuatiran-kekuatirannya saja (Mat. 6:31-32). Tahun demi tahun mereka diisi dengan bersusah payah mencari kemapanan hidup. Supaya mereka tidak lagi dihantui kekuatiran. Tapi, benarkah suatu taraf sosial tertentu dapat melenyapkan kekuatiran hidup? Nyatanya, dari yang miskin hingga kaya, kekuatiran tetap ada. Ada yang kuatir tak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Ada pula yang ketakutan kehilangan hartanya yang banyak itu. Meski banyak yang berlatih berfikir & hidup secara positif, ketidaktahuan akan apa yang terjadi selanjutnya ditambah ketidakpastian dalam hidup  tetap menggelisahkan hati orang. Oleh sebab itu, Yesus mengajar setiap kita, murid-muridNya, untuk hidup secara berbeda: hidup tanpa kekuatiran. Tetapi, mungkinkah itu? Pengajaran Yesus yang indah memberitahu kita mengapa kita tidak perlu kuatir apapun dalam hidup: 1- Jika Tuhan mengaruniakan hidup (yang lebih besar dari segala kebutuhan didalamnya) yakinlah Dia akan mencukupi apa yang kita perlu untuk menjalani hidup itu (Mat. 6:25c). 2- Jika burung-burung & bunga-bunga diberikan-Nya makanan & pakaian, kita yang diciptakan jauh lebih berharga dari semua ciptaan yang lain (bahkan ditebus pula dengan darah-Nya) sudah pasti dikasihi & dipelihara-Nya (6:26,28-29). 3- Hidup dalam kekuatiran tidak menambahkan umur atau kebaikan apapun bagi kita (6:27), malah itu bisa melemahkan & menambah beban hidup kita (Mat. 6:34; Ams. 12:25). 4- Mereka yang mengenal Allah tidak layak untuk kuatir (6:32) sebab Dia Bapa yang baik yang (pasti selalu) tahu tiap keadaan & kebutuhan anak-anakNya! 5- Pada kita diberikan janji, jika kita mengasihi & mengutamakan Dia, kita tentu dicukupi-Nya (6:33). Tuhan mengaruniakan hidup pada kita untuk dijalani bersama Dia, melakukan kehendak-Nya, supaya kita menggenapi rencana-Nya atas kita. Itu jauh lebih baik & berharga ketimbang hidup dalam bayang-bayang ketakutan sampai akhir hayat. Bagaimana menurut Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 5
“Alangkah malangnya hidup kaya materi tapi miskin harmoni dan komunikasi.” Xavier Quentin Pranata.


No comments:

Post a Comment