TEMPTATION
1 Korintus 15:33, “Janganlah
kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Dengan
siapa kita bergaul itu sangat menentukan bagaimana cara kita mengambil
keputusan. Prinsip apa yang Firman Tuhan ajarkan dalam membangun hubungan/dalam
pergaulan?? Bangunlah hubungan yang benar yaitu: dengan hati yang murni.
Jadilah anak-anak Tuhan yang dapat “memberikan dampak” positif dalam pergaulan
kita. Bukan kita yang terpengaruh dengan kebiasaan buruk mereka, tetapi
KEBIASAAN BAIK kita harus dapat mempengaruhi hidup mereka. Amin.
Respon 1
Ada banyak yang
bisa kita bicarakan mengenai kasih Tuhan pada kita. Tak habis-habis kita dapat
memuliakan kasih karunia-Nya bagi kita. Hanya, berapa banyakkah yang dapat kita
pikirkan & bicarakan mengenai bagaimana kita mengasihi Dia? Bukankah
sejatinya, kita dipanggil bahkan diperintahkan untuk mengasihi Dia? Dengan
segenap keberadaan kita (Mat. 22:37-38)? Lebih gamblang lagi, rasul Paulus
menegaskan “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia!” Bagaimana bisa?
-Tidak mengasihi Tuhan yang telah amat sangat mengasihi kita serupa orang-orang
keji & durhaka, yang hanya tahu mengambil & menerima namun tidak pernah
bersyukur atau tahu berterima kasih. Ini serupa pengkhianatan Yudas Iskariot.
Diberikan padanya kesempatan menjadi salah satu murid utama Yesus, ia hanya
menggunakan semua kemurahan Tuhan itu demi keuntungan pribadinya. Alih-alih
memuliakan nama Tuhan seumur hidupnya & rindu membalas
kebaikan-kebaikanNya, bahkan sang Guru pun dijualnya! -Jika kita tidak
mengasihi Tuhan maka sebenarnya hati kita mengasihi dunia (1 Yoh. 2:15). Siapa
yang mengasihi dunia akan lenyap & dikutuk bersama-sama dunia. Hanya mereka
yang mengasihi Tuhan, yang melakukan kehendak Allah yang akan hidup selama-lamanya
(Yoh. 14:15,21,24; 1 Yoh. 2:17). -Hanya yang mengasihi Tuhan yang akan beroleh
persekutuan kekal dengan Tuhan, Sang Kekasih Jiwanya (Maz. 119:116). Bukankah
perbedaan antara sorga & neraka telah jelas? Bahwa sorga penuh dengan
orang-orang yang mengasihi-Nya & sebaliknya, neraka ialah tempat
orang-orang yang tidak suka berada dekat dengan-Nya? Sebab, mungkinkah
orang-orang yang tidak saling mengasihi akan tinggal bersama-sama & bahagia
selama-lamanya? Oleh sebab itu camkanlah baik-baik. Bukan yang dikasihi Tuhan
yang menjadi terkutuk, melainkan yang telah dikasihi-Nya namun tidak mengerti
& memahami kasih Tuhan sehingga tidak mengasihi-Nya dalam hidup.
Sesungguhnya, kasih yang ajaib itu jua yang menjadi dasar kekuatan untuk kita
mengasihi-Nya. Jadi, masihkah Anda tidak mengasihi Yesus Kristus Tuhan, hai
orang-orang yang begitu dicintai-Nya? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Respon 2
Matius 5:16 (TB),
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Biarlah hidup kita
boleh menjadi dampak positif bagi orang-orang di sekeliling kita. Boleh menjadi
terang bagi dunia yang gelap. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 3
“Jika kita tidak
mau mengerti perasaan orang lain, suatu kali jangan sakit hati jika dirinya
sendiri tidak dimengerti.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu,
29 November 2015. Dikenal Oleh Allah. Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum
di muka bumi (Amos 3:2). Perikop ini menggambarkan keunikan hubungan bangsa
Israel dengan Allah. Di tengah-tengah ketidaksetiaan bangsa Israel, Amos
mengingatkan mereka tentang kasih sayang Tuhan yang sudah menebus dan menuntun
mereka keluar dari tanah Mesir menuju Kanaan. Tuhan Allah telah memberikan
perhatian khusus kepada Israel dan mengakui mereka sebagai milik-Nya yang
istimewa di antara semua suku bangsa lain di muka bumi. Hal ini terlihat dari
penggunaan kata “kenal” (ay. 2). Kata ini dipakai untuk pertama kalinya dalam
kitab Kejadian 18:17-19, yang menggambarkan tentang kedekatan Allah dengan
Abraham. Sungguh suatu hubungan yang istimewa! Akan tetapi, betapa ironis jika
kita melihat pembalasan bangsa Israel terhadap kasih sayang Tuhan yang besar
tersebut. Mereka tidak setia! Tidak ada dosa yang lebih menyakiti hati Tuhan
selain dosa berpaling dari-Nya dan beralih kepada berhala. Mengetahui bahwa
Tuhan mengenal dan mengakui kita sebagai umat-Nya yang istimewa seharusnya
membangkitkan rasa syukur yang besar dan sikap yang penuh hormat akan Dia.
Tidak cukup sampai di situ. Kita juga perlu belajar mengenal-Nya lebih dalam
karena pengenalan yang sejati menuntut relasi, interaksi, dan komunikasi dua
arah secara terus-menerus. Mengenal tidak sama dengan “sekadar tahu”.
Diperlukan suatu hubungan yang dibangun secara sengaja, bermutu, dan intensif
dengan Allah sehingga kita menyatu dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita
semakin memahami maksud panggilan Tuhan yang telah menebus dan memilih kita
—NW. HAK ISTIMEWA YANG LEBIH BESAR SELALU MEMBAWA KEPADA TANGGUNG JAWAB YANG
LEBIH BESAR PULA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.
(Madam Ossy)

No comments:
Post a Comment