Saturday, 28 November 2015

28 November 2015

TEMPTATION



1 Korintus 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Dengan siapa kita bergaul itu sangat menentukan bagaimana cara kita mengambil keputusan. Prinsip apa yang Firman Tuhan ajarkan dalam membangun hubungan/dalam pergaulan?? Bangunlah hubungan yang benar yaitu: dengan hati yang murni. Jadilah anak-anak Tuhan yang dapat “memberikan dampak” positif dalam pergaulan kita. Bukan kita yang terpengaruh dengan kebiasaan buruk mereka, tetapi KEBIASAAN BAIK kita harus dapat mempengaruhi hidup mereka. Amin.

Respon 1
Ada banyak yang bisa kita bicarakan mengenai kasih Tuhan pada kita. Tak habis-habis kita dapat memuliakan kasih karunia-Nya bagi kita. Hanya, berapa banyakkah yang dapat kita pikirkan & bicarakan mengenai bagaimana kita mengasihi Dia? Bukankah sejatinya, kita dipanggil bahkan diperintahkan untuk mengasihi Dia? Dengan segenap keberadaan kita (Mat. 22:37-38)? Lebih gamblang lagi, rasul Paulus menegaskan “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia!” Bagaimana bisa? -Tidak mengasihi Tuhan yang telah amat sangat mengasihi kita serupa orang-orang keji & durhaka, yang hanya tahu mengambil & menerima namun tidak pernah bersyukur atau tahu berterima kasih. Ini serupa pengkhianatan Yudas Iskariot. Diberikan padanya kesempatan menjadi salah satu murid utama Yesus, ia hanya menggunakan semua kemurahan Tuhan itu demi keuntungan pribadinya. Alih-alih memuliakan nama Tuhan seumur hidupnya & rindu membalas kebaikan-kebaikanNya, bahkan sang Guru pun dijualnya! -Jika kita tidak mengasihi Tuhan maka sebenarnya hati kita mengasihi dunia (1 Yoh. 2:15). Siapa yang mengasihi dunia akan lenyap & dikutuk bersama-sama dunia. Hanya mereka yang mengasihi Tuhan, yang melakukan kehendak Allah yang akan hidup selama-lamanya (Yoh. 14:15,21,24; 1 Yoh. 2:17). -Hanya yang mengasihi Tuhan yang akan beroleh persekutuan kekal dengan Tuhan, Sang Kekasih Jiwanya (Maz. 119:116). Bukankah perbedaan antara sorga & neraka telah jelas? Bahwa sorga penuh dengan orang-orang yang mengasihi-Nya & sebaliknya, neraka ialah tempat orang-orang yang tidak suka berada dekat dengan-Nya? Sebab, mungkinkah orang-orang yang tidak saling mengasihi akan tinggal bersama-sama & bahagia selama-lamanya? Oleh sebab itu camkanlah baik-baik. Bukan yang dikasihi Tuhan yang menjadi terkutuk, melainkan yang telah dikasihi-Nya namun tidak mengerti & memahami kasih Tuhan sehingga tidak mengasihi-Nya dalam hidup. Sesungguhnya, kasih yang ajaib itu jua yang menjadi dasar kekuatan untuk kita mengasihi-Nya. Jadi, masihkah Anda tidak mengasihi Yesus Kristus Tuhan, hai orang-orang yang begitu dicintai-Nya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Matius 5:16 (TB), “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Biarlah hidup kita boleh menjadi dampak positif bagi orang-orang di sekeliling kita. Boleh menjadi terang bagi dunia yang gelap. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
“Jika kita tidak mau mengerti perasaan orang lain, suatu kali jangan sakit hati jika dirinya sendiri tidak dimengerti.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu, 29 November 2015. Dikenal Oleh Allah. Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi (Amos 3:2). Perikop ini menggambarkan keunikan hubungan bangsa Israel dengan Allah. Di tengah-tengah ketidaksetiaan bangsa Israel, Amos mengingatkan mereka tentang kasih sayang Tuhan yang sudah menebus dan menuntun mereka keluar dari tanah Mesir menuju Kanaan. Tuhan Allah telah memberikan perhatian khusus kepada Israel dan mengakui mereka sebagai milik-Nya yang istimewa di antara semua suku bangsa lain di muka bumi. Hal ini terlihat dari penggunaan kata “kenal” (ay. 2). Kata ini dipakai untuk pertama kalinya dalam kitab Kejadian 18:17-19, yang menggambarkan tentang kedekatan Allah dengan Abraham. Sungguh suatu hubungan yang istimewa! Akan tetapi, betapa ironis jika kita melihat pembalasan bangsa Israel terhadap kasih sayang Tuhan yang besar tersebut. Mereka tidak setia! Tidak ada dosa yang lebih menyakiti hati Tuhan selain dosa berpaling dari-Nya dan beralih kepada berhala. Mengetahui bahwa Tuhan mengenal dan mengakui kita sebagai umat-Nya yang istimewa seharusnya membangkitkan rasa syukur yang besar dan sikap yang penuh hormat akan Dia. Tidak cukup sampai di situ. Kita juga perlu belajar mengenal-Nya lebih dalam karena pengenalan yang sejati menuntut relasi, interaksi, dan komunikasi dua arah secara terus-menerus. Mengenal tidak sama dengan “sekadar tahu”. Diperlukan suatu hubungan yang dibangun secara sengaja, bermutu, dan intensif dengan Allah sehingga kita menyatu dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita semakin memahami maksud panggilan Tuhan yang telah menebus dan memilih kita —NW. HAK ISTIMEWA YANG LEBIH BESAR SELALU MEMBAWA KEPADA TANGGUNG JAWAB YANG LEBIH BESAR PULA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment