TEMPTATION
Efesus 4:26-27, “Apabila
kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam,
sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
Kemarahan adalah emosi yang dibangkitkan karena hal-hal yang tidak menyenangkan
hati kita. ‘Marah’ itu sendiri bukanlah dosa. Bila api kemarahan tidak dapat
dipadamkan dengan kasih & pengampunan, api itu akan membakar kehidupan kita
& pekerjaan Allah. Melalui kemarahan yang tidak dapat segera dipadamkan
ini. Iblis memberi jalan bagi dosa-dosa yang lain. Masihkah kita tergoda untuk Suka
Marah??
Respon 1
SAAT TEDUH. Selasa,
3 November 2015. Totalitas Elisa. Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia
mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak
lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya,
kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan
menjadi pelayannya (1 Raja-raja 19:21). Ketika nabi Elia melemparkan jubahnya
kepada Elisa yang sedang membajak, Elisa tahu nabi itu sedang memanggilnya
untuk suatu tugas pelayanan khusus. Ia pun melakukan tindakan yang radikal:
pamit kepada keluarga, menyembelih sepasang lembu, dan memasaknya dengan kayu bajaknya.
Ia pun mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. Ia sedang dipersiapkan menjadi
nabi Allah bagi Israel. Tindakan Elisa ini menunjukkan sebuah totalitas. Ia
tidak berencana untuk kembali kepada profesi lamanya suatu hari nanti. Ia
mengikut nabi Elia sepenuhnya. Kerendahan hatinya juga nyata melalui kesediaan
dan kesetiaannya menjadi seorang pelayan bagi Elia. Setelah Elia terangkat ke
surga, Elisa pun menjadi penyampai firman Allah yang setia kepada umat-Nya di
sepanjang hidupnya, hingga ia mati (2 Raj. 13:20). Panggilan untuk mengikuti
dan melayani Tuhan sebenarnya berlaku untuk semua orang, sekalipun tidak semua
orang dipanggil-Nya menjadi pelayan sepenuh waktu. Namun, kita semua dapat
meneladani totalitas Elisa dalam mengikuti dan melayani Tuhan. Sesungguhnya,
kita semua dipanggil untuk memuliakan Tuhan melalui berbagai profesi yang kita
jalani. Kiranya totalitas kita dapat menginspirasi orang-orang lain sehingga
mereka juga semakin termotivasi untuk mengikut dan melayani Tuhan dengan setia
—HT. ALLAH TIDAK MENGINGINKAN SEPARUH ATAU SEBAGIAN BESAR HIDUP KITA, DIA
MENGINGINKAN SELURUH DIRI KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam
Ossy)
Respon 2
Dulu lebih gampang
marah. Puji Tuhan sekarang sudah jauh berkurang. Thanks Cik. Tuhan Yesus
menyertai. Amen. (Bp. Paulus – PKS CL 8)
Respon 3
Pagi Cik, sampai
saat ini saya masih sakit hati dan tidak bisa mengampuni teman saya. Dia
bohongi saya, dengan pinjam uang buat client-nya dan tidak mau mengembalikan.
Malah dia maki-maki saya. Tolong bantu doa supaya saya bisa mengampuni dia.
Terima kasih. GBU. (Sarah - AOC)
Respon 4
Kegelapan tidak
dapat mengusir kegelapan, hanya Terang tang dapat. Kebencian tidak dapat
mengusir kebencian, hanya Kasih yang dapat. Yohanes 8:12, “Maka Yesus berkata
pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut
Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang
hidup.’” (GNCC)
Respon 5
Puji Tuhan renungan
firman hari ini. “Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu
seperti siang.” (Mazmur 37:6). Gbu. (Ibu Tatik – Bank Ekonomi)
Respon 6
Behind every event
God has a purpose, at times, what we consider a trial is simply His permission
to rearrange our lives to be more meaningful »Anonymous«. Dibalik setiap kejadian
Tuhan mempunyai rencana, seringkali, apa yang kita pikir suatu ujian hanyalah
mengijinkan Dia untuk mengatur kehidupan kita untuk lebih berarti »Anonim«.
Roma 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang
menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan
segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Kita bisa saja kehilangan
pekerjaan, kesehatan, reputasi, pasangan dan pikiran, tapi ada satu yang pasti,
kita tidak akan pernah bisa kehilangan hubungan dengan Kristus. Bila kita
berlindung pada jaminan pekerjaan atau pasangan atau uang, namun ketika
semuanya itu hilang, ketenangan pikiran juga ikut hilang, sebab ada banyak hal
yang bisa membuat semuanya itu hilang. Jangan pernah menempatkan jaminan keamanan
apa pun, yang sewaktu-waktu bisa diambil dari kita, tapi tempatkan jaminan
keamanan kita dalam janji-Nya, percayakan Dia untuk memenuhi semua kebutuhan
kita. Allah begitu mengasihi kita dengan mengirimkan Yesus Kristus untuk mati
di kayu salib, maka Dia juga pasti mengasihi kita untuk memenuhi segala
kebutuhan dalam hidup kita. Setiap kali kita mulai stres, kita perlu berhenti
sejenak dan berkata, TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku (Mazmur
23:1). Ujian memang ada tetapi berat atau ringannya tergantung dari pola pikir
kita, bila kita mengandalkan kekuatan sendiri beratlah ujian itu, jika kita
mengandalkan Tuhan ringanlah ujian itu. Percayakan seluruh aspek hidup kita
kepadaNya, Tuhan yang menyediakan akan mengurus kita, daripada stres, berharaplah
pada-Nya untuk memenuhi semua kebutuhan kita. (Bp. Budi – PT. MPU)
Respon 7
“Ketimbang
mendirikan pagar pemisah lebih baik membangun jembatan persaudaraan.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 8
Puji Tuhan pagi.
Marah tidak menyelesaikan masalah. Tuhan tidak pernah marah tapi prihatin
melihat ulah-ulah manusia. (Bp. Gunadi – PT. MPU)
Respon 9
Mungkin karena
kerap diabaikan, sering kita tidak menyadari sikap kita yang suka meremehkan
pentingnya hubungan kita dengan Tuhan. Banyak yang baru mencari Tuhan setelah
kesusahan hidup menghadang. Ini tidak sepenuhnya keliru. Tuhan yang penuh kasih
karunia selalu siap turun tangan saat kita mengangkat tangan. Hanya saja, di
saat segala sesuatunya terasa lancar, kita cenderung terbiasa melangkah
sendiri, mengandalkan kemampuan diri atau apapun yang lain, tanpa
mengikutsertakan Tuhan. Tuhan menjadi ban cadangan dalam perjalanan hidup kita:
sesuatu yang hanya kita perlukan saat sudah tidak memiliki apapun lagi yang
diandalkan. Bukannya membina suatu hubungan yang karib dengan Tuhan dimana kita
selalu menanti-nantikan & siap melangkah dalam pimpinan-Nya setiap hari,
hanya di saat-saat terdesak & semua jalan terlihat buntu, kita baru mencari
Tuhan. Ada yang menjalani hari-harinya bagai anak hilang. Tapi bukan kembali
untuk selamanya setelah krisis menimpa. Mereka kembali pada Bapa, dipulihkan
lalu terhilang lagi. Kembali lagi di saat krisis, lalu menghilang ketika keadan
membaik. Seperti Simson yang terus menerus ditolong Tuhan setiap kali
kondisinya tertekan hanya untuk kembali melupakan Tuhan & masuk lagi ke
jalan yang salah. Meski berulang kali Tuhan menolongnya, ada titik dimana
Simson harus menanggung akibat-akibat perbuatannya karena meremehkan
hubungannya dengan Tuhan (Hak. 16:20-22). Jika kita memiliki kerabat atau teman
yang hanya mencari kita pada saat-saat ia mengalami masalah atau kesusahan,
bagaimana tanggapan kita? Kita sebut apakah orang-orang demikian? Akankah kita
melakukan yang sama - mendatangi teman atau saudara kita hanya pada waktu²
membutuhkan saja? Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Adakah Dia tidak mengetahui
hati kita yang hanya ingin memanfaatkan-Nya membereskan kekacauan yang terus
kita buat? Cari Dia dengan sepenuh hati. Setiap hari. Saat senang atau susah.
Bukankah kualitas hubungan Anda dengan Tuhan menentukan kemenangan Anda di
setiap krisis kehidupan (Maz. 91:14-16)? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)

No comments:
Post a Comment