Tuesday, 3 November 2015

3 November 2015

TEMPTATION



Efesus 4:26-27, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Kemarahan adalah emosi yang dibangkitkan karena hal-hal yang tidak menyenangkan hati kita. ‘Marah’ itu sendiri bukanlah dosa. Bila api kemarahan tidak dapat dipadamkan dengan kasih & pengampunan, api itu akan membakar kehidupan kita & pekerjaan Allah. Melalui kemarahan yang tidak dapat segera dipadamkan ini. Iblis memberi jalan bagi dosa-dosa yang lain. Masihkah kita tergoda untuk Suka Marah??

Respon 1
SAAT TEDUH. Selasa, 3 November 2015. Totalitas Elisa. Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya (1 Raja-raja 19:21). Ketika nabi Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa yang sedang membajak, Elisa tahu nabi itu sedang memanggilnya untuk suatu tugas pelayanan khusus. Ia pun melakukan tindakan yang radikal: pamit kepada keluarga, menyembelih sepasang lembu, dan memasaknya dengan kayu bajaknya. Ia pun mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. Ia sedang dipersiapkan menjadi nabi Allah bagi Israel. Tindakan Elisa ini menunjukkan sebuah totalitas. Ia tidak berencana untuk kembali kepada profesi lamanya suatu hari nanti. Ia mengikut nabi Elia sepenuhnya. Kerendahan hatinya juga nyata melalui kesediaan dan kesetiaannya menjadi seorang pelayan bagi Elia. Setelah Elia terangkat ke surga, Elisa pun menjadi penyampai firman Allah yang setia kepada umat-Nya di sepanjang hidupnya, hingga ia mati (2 Raj. 13:20). Panggilan untuk mengikuti dan melayani Tuhan sebenarnya berlaku untuk semua orang, sekalipun tidak semua orang dipanggil-Nya menjadi pelayan sepenuh waktu. Namun, kita semua dapat meneladani totalitas Elisa dalam mengikuti dan melayani Tuhan. Sesungguhnya, kita semua dipanggil untuk memuliakan Tuhan melalui berbagai profesi yang kita jalani. Kiranya totalitas kita dapat menginspirasi orang-orang lain sehingga mereka juga semakin termotivasi untuk mengikut dan melayani Tuhan dengan setia —HT. ALLAH TIDAK MENGINGINKAN SEPARUH ATAU SEBAGIAN BESAR HIDUP KITA, DIA MENGINGINKAN SELURUH DIRI KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Dulu lebih gampang marah. Puji Tuhan sekarang sudah jauh berkurang. Thanks Cik. Tuhan Yesus menyertai. Amen. (Bp. Paulus – PKS CL 8)

Respon 3
Pagi Cik, sampai saat ini saya masih sakit hati dan tidak bisa mengampuni teman saya. Dia bohongi saya, dengan pinjam uang buat client-nya dan tidak mau mengembalikan. Malah dia maki-maki saya. Tolong bantu doa supaya saya bisa mengampuni dia. Terima kasih. GBU. (Sarah - AOC)

Respon 4
Kegelapan tidak dapat mengusir kegelapan, hanya Terang tang dapat. Kebencian tidak dapat mengusir kebencian, hanya Kasih yang dapat. Yohanes 8:12, “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.’” (GNCC)

Respon 5
Puji Tuhan renungan firman hari ini. “Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.” (Mazmur 37:6). Gbu. (Ibu Tatik – Bank Ekonomi)

Respon 6
Behind every event God has a purpose, at times, what we consider a trial is simply His permission to rearrange our lives to be more meaningful »Anonymous«. Dibalik setiap kejadian Tuhan mempunyai rencana, seringkali, apa yang kita pikir suatu ujian hanyalah mengijinkan Dia untuk mengatur kehidupan kita untuk lebih berarti »Anonim«. Roma 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Kita bisa saja kehilangan pekerjaan, kesehatan, reputasi, pasangan dan pikiran, tapi ada satu yang pasti, kita tidak akan pernah bisa kehilangan hubungan dengan Kristus. Bila kita berlindung pada jaminan pekerjaan atau pasangan atau uang, namun ketika semuanya itu hilang, ketenangan pikiran juga ikut hilang, sebab ada banyak hal yang bisa membuat semuanya itu hilang. Jangan pernah menempatkan jaminan keamanan apa pun, yang sewaktu-waktu bisa diambil dari kita, tapi tempatkan jaminan keamanan kita dalam janji-Nya, percayakan Dia untuk memenuhi semua kebutuhan kita. Allah begitu mengasihi kita dengan mengirimkan Yesus Kristus untuk mati di kayu salib, maka Dia juga pasti mengasihi kita untuk memenuhi segala kebutuhan dalam hidup kita. Setiap kali kita mulai stres, kita perlu berhenti sejenak dan berkata, TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1). Ujian memang ada tetapi berat atau ringannya tergantung dari pola pikir kita, bila kita mengandalkan kekuatan sendiri beratlah ujian itu, jika kita mengandalkan Tuhan ringanlah ujian itu. Percayakan seluruh aspek hidup kita kepadaNya, Tuhan yang menyediakan akan mengurus kita, daripada stres, berharaplah pada-Nya untuk memenuhi semua kebutuhan kita. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 7
“Ketimbang mendirikan pagar pemisah lebih baik membangun jembatan persaudaraan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 8
Puji Tuhan pagi. Marah tidak menyelesaikan masalah. Tuhan tidak pernah marah tapi prihatin melihat ulah-ulah manusia. (Bp. Gunadi – PT. MPU)

Respon 9
Mungkin karena kerap diabaikan, sering kita tidak menyadari sikap kita yang suka meremehkan pentingnya hubungan kita dengan Tuhan. Banyak yang baru mencari Tuhan setelah kesusahan hidup menghadang. Ini tidak sepenuhnya keliru. Tuhan yang penuh kasih karunia selalu siap turun tangan saat kita mengangkat tangan. Hanya saja, di saat segala sesuatunya terasa lancar, kita cenderung terbiasa melangkah sendiri, mengandalkan kemampuan diri atau apapun yang lain, tanpa mengikutsertakan Tuhan. Tuhan menjadi ban cadangan dalam perjalanan hidup kita: sesuatu yang hanya kita perlukan saat sudah tidak memiliki apapun lagi yang diandalkan. Bukannya membina suatu hubungan yang karib dengan Tuhan dimana kita selalu menanti-nantikan & siap melangkah dalam pimpinan-Nya setiap hari, hanya di saat-saat terdesak & semua jalan terlihat buntu, kita baru mencari Tuhan. Ada yang menjalani hari-harinya bagai anak hilang. Tapi bukan kembali untuk selamanya setelah krisis menimpa. Mereka kembali pada Bapa, dipulihkan lalu terhilang lagi. Kembali lagi di saat krisis, lalu menghilang ketika keadan membaik. Seperti Simson yang terus menerus ditolong Tuhan setiap kali kondisinya tertekan hanya untuk kembali melupakan Tuhan & masuk lagi ke jalan yang salah. Meski berulang kali Tuhan menolongnya, ada titik dimana Simson harus menanggung akibat-akibat perbuatannya karena meremehkan hubungannya dengan Tuhan (Hak. 16:20-22). Jika kita memiliki kerabat atau teman yang hanya mencari kita pada saat-saat ia mengalami masalah atau kesusahan, bagaimana tanggapan kita? Kita sebut apakah orang-orang demikian? Akankah kita melakukan yang sama - mendatangi teman atau saudara kita hanya pada waktu² membutuhkan saja? Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Adakah Dia tidak mengetahui hati kita yang hanya ingin memanfaatkan-Nya membereskan kekacauan yang terus kita buat? Cari Dia dengan sepenuh hati. Setiap hari. Saat senang atau susah. Bukankah kualitas hubungan Anda dengan Tuhan menentukan kemenangan Anda di setiap krisis kehidupan (Maz. 91:14-16)? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)




No comments:

Post a Comment