Thursday, 26 November 2015

26 November 2015

TEMPTATION



Ibrani 10:25, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Sebagai anak-anak Tuhan janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita (Ibadah Raya, Komsel, doa, dsb), justru pada saat kesukaran, kita harus saling mensupport satu dengan yang lain, DIA tidak pernah menghendaki kita berjalan sendiri, DIA mau supaya kita memperoleh dukungan & dorongan dari sesama kita. Amin. Sudahkah kita tergabung dalam sebuah komunitas? Supaya kita dapat “SALING” memperhatikan, mendoakan, dan menolong...?

Respon 1
“Saat kita direndahkan sampai posisi paling bawah, kita masih bisa bersyukur karena sudah tidak bisa lebih rendah lagi.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Jangan berkecil hati sekalipun tidak ada orang yang peduli dan menolongmu. 1 Samuel 14:6, ‘...sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.’  (GNCC)

Respon 3
Tuhan ingin kita bekerja sendiri (harus kerja sendiri) TAPI tidak sendirian. Amin, have a nice day. (Bp. Gunadi Cahyono)




Respon 4
Hal kedua yang dipandang sebagai sesuatu yang elok dipandang karena tampil dengan gagahnya dalam Amsal 30:31 ialah “ayam jantan yang angkuh” (versi Terjemahan Baru Indonesia). Bahasa asli dari istilah tersebut sebenarnya memiliki makna dasar “sesuatu terikat pinggangnya” yang kemudian beberapa menafsirkannya sebagai greyhound (anjing berpinggang ramping untuk balap anjing) atau kuda perang dengan pinggang yang kuat berotot. Ayam jantan yang dimaksud juga merujuk pada ayam jantan yang berjalan dihadapan lawannya dalam suatu aduan. Inti dari semuanya ini ialah suatu gambaran mengenai “kondisi yang siap menghadapi apapun”. Suatu sikap yakin & berani karena telah siap dalam segala keadaan. Tidak menjadi kebingungan dalam ketidakpastian. Firman Tuhan mengajar kita menjadi orang-orang yang selalu berjaga-jaga. Entah itu berkaitan dengan kehidupan jasmani, lebih-lebih rohani. Semut dipuji-puji karena bekerja keras walau sudah banyak bahan makannya (Ams. 6:8). Dan “siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu” (Ams. 10:5). Dalam hal rohani, kita diperintahkan untuk berjaga-jaga & bersikap sebagai laki-laki (1 Kor. 16:13). Lebih dari itu kita dipanggil untuk berjaga-jaga dalam doa (Luk. 21:36; Kol. 4:2), dalam kekuatan kuasa-Nya, mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah agar dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis & mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu; tetap berdiri hingga akhir segala sesuatu! (Ef. 6:10-18). Perumpamaan 5 anak dara bijak merupakan penegasan kehendak Tuhan akan hal ini. Persediaan minyak merupakan lambang persekutuan dengan Roh Kudus dimana sudah seharusnya kita memiliki hubungan yang tak pernah putus dengan Dia, tiap hari berjalan dalam pimpinan Roh-Nya. Mempersiapkan diri menyambut kedatangan Mempelai Agung itu. Sehingga kita tidak akan menjadi bingung, panik & terluput masuk dalam kemuliaan. Bukankah yang siap sedia tidak akan pernah dipermalukan di bumi, lebih-lebih di pengadilan terakhir di hadapan Hakim Agung itu? Salam revival! GBU. (Woship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment