TEMPTATION
Matius 6:14-15, “14Karena
jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni
kamu juga. 15Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga
tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Ketika kita menerima Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita menerima Kasih Allah & pengampunan
total, sehingga Juru Selamat yaitu Allah sendiri tinggal didalam hati &
kehidupan kita. Jika Kristus tinggal di dalam hati & kehidupan kita, PASTI
kita mau & bisa mengampuni orang-orang lain yang mungkin pernah bersalah
atau bahkan menyakiti kita. Jangan pernah terjebak dengan ‘godaan’ untuk tidak
bisa mengampuni, sebab Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni kita. Amin.
Respon 1
Jadilah terang
supaya terangmu dapat menuntun orang lain yang ada dalam kegelapan melihat
terang. Matius 5:16, ‘Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di
sorga.’ (GNCC)
Respon 2
Amin. Sering kita
menganggap tergoda itu harus hal-hal yang ekstrim, misalnya tergoda selingkuh,
korupsi, penipuan, obat-obat terlarang, judi, tindak kejahatan dll, padahal
tergoda itu setiap detik ada di dalam kehidupan kita sehari-hari contohnya yang
dibahas di Mazmur hari ini tergoda untuk tidak bisa mengampuni. Iblis paling
suka kalau kita tidak bisa mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita;
marah, membenci merupakan godaan iman yang terberat yang tidak kita sadari
mengotori kehidupan kita. Jbu Cik. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa,
10 November 2015. Penemuan Terbesar. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi,
karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.
Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,
supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia (Filipi 3:8, 9). Pada 1847,
Dr. James Simpson, dokter Skotlandia, memelopori ilmu pembiusan dengan
kloroform untuk menidurkan pasien yang dibedah. Pada masa tuanya, ada mahasiswa
bertanya, “Penemuan apakah yang dokter anggap paling berguna selama hidup
dokter?” Mahasiswa mengira ia akan menyebutkan kloroform. Ternyata, ia
menjawab, “Penemuan saya yang paling berharga ialah menemukan bahwa saya orang
berdosa dan Yesus Kristus adalah Juruselamat saya.” Pandangan dokter itu
selaras dengan sikap Paulus, yang menganggap penemuan paling berharga selama
hidupnya adalah pengenalan akan Kristus Yesus. Paulus mengacu pada hubungan
seumur hidup dengan Kristus. Penekanannya di sini bukan pada pengenalan akan
fakta-fakta tentang Yesus, melainkan mengalami hubungan yang erat dengan
Kristus dan berada di dalam Dia. Paulus membedakan antara mereka yang “bermegah
dalam Kristus” dan yang "menaruh kepercayaan pada hal-hal yang lahiriah”.
Berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menyadari betapa sia-sia menaruh
kepercayaan pada hal-hal yang lahiriah. Sebagai orang Yahudi yang bersunat dan
orang Farisi, dengan sangat teliti ia mematuhi setiap detail hukum Taurat.
Bahkan ia mengaku, “Tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat, aku tidak
bercacat.” Tetapi, setelah bertemu dengan Kristus, ia menganggap segala
pencapaian dan prestasi masa lalunya sebagai “sampah” karena Kristus lebih
mulia dari semua yang ada. Bagaimana kita menghargai pengenalan kita akan
Kristus?—DK. PRESTASI DAN PENCAPAIAN ADALAH SEBUAH SEJARAH MASA LALU,
PENGENALAN AKAN KRISTUS ADALAH PENEMUAN TERBESAR SEPANJANG MASA. Selamat pagi.
Selamat Hari Pahlawan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
“Pekerjaan yang
dihayati pasti membuat hidup diberkati.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 5
Selasa, 10 November
2015. Bacaan: 2 Timotius 4:1-8. Setahun: Kisah Para Rasul 4-6. Nats: Sekarang
telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh
Tuhan, Hakim yang adil... juga kepada semua orang yang merindukan kedatangannya
(2 Timotius 4:8). PAHLAWAN IMAN. Januari 2015, dunia terguncang. Wartawan Kenji
Goto yang berhati lembut dipenggal kaum ekstrimis di Syria. Goto telah menerima
Tuhan Yesus pada 1997. Lalu ia bertekad melayani, khususnya dengan mengunjungi
anak-anak dan orang miskin korban perang. “Aku menyaksikan tempat-tempat yang
paling mengerikan dan mempertaruhkan hidupku. Tapi entah bagaimana, Tuhan
selalu menyelamatkanku,” begitu cuitan Goto di Twitter yang menyebar luas. Di
setiap zaman, Tuhan membangkitkan pahlawan iman yang rela menyaksikan imannya
melalui tindakan nyata. Memberitakan kasih Kristus yang mengampuni,
menyelamatkan, dan mendamaikan, di tengah dunia yang dilanda kebencian.
Merekalah rasul Kristus abad modern. Yang terpenggal kepalanya, tetapi makin
bersinar imannya. Seperti Paulus, yang menjelang akhir hidupnya sebagai martir
berseru, “Darahku sudah mulai dicurahkan dan saat kematianku sudah dekat. Aku
telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan
aku telah memelihara iman” (ay. 7). Ia menantikan mahkota kebenaran, yang
dikaruniakan kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (ay. 8).
Bagaimana seseorang meninggal, sebenarnya tak jadi soal. Yang lebih serius
adalah: bagaimana dan untuk apa kita hidup? Ke mana kita pergi setelah
meninggal? Sungguhkah Kristus menjadi Juruselamat dan Tuhan atas hidup kita?
Sungguhkah hidup kita memberkati banyak orang hingga mereka memuliakan Bapa di
surga? Inilah pertanyaan-pertanyaan penting yang mesti segera ditanggapi
–Susanto. BAGAIMANA KITA MATI BUKANLAH PERSOALAN PENTING. BAGAIMANA DAN UNTUK
APA KITA HIDUP, ITU JAUH LEBIH PENTING.
(Ibu Caroline – Bandung)
Respon 6
Kita telah sering
mendengar bahwa bangsa yang besar menghargai jasa-jasa pahlawan-pahlawannya.
Pahlawan bangsa adalah sebutan bagi mereka yang telah berjuang segenap raga
& jiwa demi tercapainya suatu keadaan yang bebas dari berbagai penindasan,
penjajahan & penderitaan. Dalam konteks Indonesia, para pahlawan merelakan
diri mereka meninggalkan segala kenyamanan hidup untuk kemudian mengorbankan
apa yang mereka miliki bahkan nyawa mereka demi keadaan bangsa yang lebih baik
& mandiri, bebas dari penjajahan. Pertanyaannya, bagaimana kita yang hidup
setelah masa-masa perjuangan yang berat itu menghargai pengorbanan
pahlawan-pahlawan kita? Jawaban klasik yang sering kita dengar ialah: dengan membangun bangsa, memanfaatkan
kemerdekaan untuk menjadi bangsa yang maju, adil makmur, sejahtera &
terhormat di mata dunia. Dengan mengejar cita-cita luhur itu maka segala darah
& air mata yang tercurah menjadi memiliki makna. Sejauh manakah kita,
sebagai suatu bangsa, telah melakukannya? Pada sisi lain, kita sebagai orang
percaya memiliki pahlawan yang tiada taranya. Yesus Kristus ialah pahlawan
kita. Dengan segala kasih, penyerahan diri, keberanian & semua yang ada
pada-Nya Dia telah membebaskan, menebus, mengangkat, memberikan status baru
serta membukakan jalan bagi masa depan yang lebih baik, penuh pengharapan akan
kemuliaan sebagai ganti hidup yang gelap, kosong & menuju kematian kekal
itu. Dia telah berjuang & melakukan segalanya bagi kita! Menggunakan
analogi yang sama, orang-orang berjiwa besar menghargai dedikasi pahlawan
mereka. Yang memahami nilai suatu pengorbanan akan tahu berterima kasih. Mereka
tidak menggunakannya untuk membuat hidup mereka terbelenggu kembali. Mereka
akan merayakan kemenangan & kebebasan dengan bekerja keras memperjuangkan
masa depan itu. Masa depan Anda ialah hidup dalam rencana terbaik Allah bagi
Anda (Ef. 2:10; Kis. 9:15; Mat. 4:19). Akankah Anda menghargai jasa tak
ternilai Sang Pahlawan Agung itu dengan mengetahui & hidup dalam kehendak
serta tujuan-Nya dalam hidup. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment