Tuesday, 10 November 2015

10 November 2015

TEMPTATION



Matius 6:14-15, 14Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita menerima Kasih Allah & pengampunan total, sehingga Juru Selamat yaitu Allah sendiri tinggal didalam hati & kehidupan kita. Jika Kristus tinggal di dalam hati & kehidupan kita, PASTI kita mau & bisa mengampuni orang-orang lain yang mungkin pernah bersalah atau bahkan menyakiti kita. Jangan pernah terjebak dengan ‘godaan’ untuk tidak bisa mengampuni, sebab Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni kita. Amin.

Respon 1
Jadilah terang supaya terangmu dapat menuntun orang lain yang ada dalam kegelapan melihat terang. Matius 5:16, ‘Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’ (GNCC)

Respon 2
Amin. Sering kita menganggap tergoda itu harus hal-hal yang ekstrim, misalnya tergoda selingkuh, korupsi, penipuan, obat-obat terlarang, judi, tindak kejahatan dll, padahal tergoda itu setiap detik ada di dalam kehidupan kita sehari-hari contohnya yang dibahas di Mazmur hari ini tergoda untuk tidak bisa mengampuni. Iblis paling suka kalau kita tidak bisa mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita; marah, membenci merupakan godaan iman yang terberat yang tidak kita sadari mengotori kehidupan kita. Jbu Cik. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa, 10 November 2015. Penemuan Terbesar. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia (Filipi 3:8, 9). Pada 1847, Dr. James Simpson, dokter Skotlandia, memelopori ilmu pembiusan dengan kloroform untuk menidurkan pasien yang dibedah. Pada masa tuanya, ada mahasiswa bertanya, “Penemuan apakah yang dokter anggap paling berguna selama hidup dokter?” Mahasiswa mengira ia akan menyebutkan kloroform. Ternyata, ia menjawab, “Penemuan saya yang paling berharga ialah menemukan bahwa saya orang berdosa dan Yesus Kristus adalah Juruselamat saya.” Pandangan dokter itu selaras dengan sikap Paulus, yang menganggap penemuan paling berharga selama hidupnya adalah pengenalan akan Kristus Yesus. Paulus mengacu pada hubungan seumur hidup dengan Kristus. Penekanannya di sini bukan pada pengenalan akan fakta-fakta tentang Yesus, melainkan mengalami hubungan yang erat dengan Kristus dan berada di dalam Dia. Paulus membedakan antara mereka yang “bermegah dalam Kristus” dan yang "menaruh kepercayaan pada hal-hal yang lahiriah”. Berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menyadari betapa sia-sia menaruh kepercayaan pada hal-hal yang lahiriah. Sebagai orang Yahudi yang bersunat dan orang Farisi, dengan sangat teliti ia mematuhi setiap detail hukum Taurat. Bahkan ia mengaku, “Tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat, aku tidak bercacat.” Tetapi, setelah bertemu dengan Kristus, ia menganggap segala pencapaian dan prestasi masa lalunya sebagai “sampah” karena Kristus lebih mulia dari semua yang ada. Bagaimana kita menghargai pengenalan kita akan Kristus?—DK. PRESTASI DAN PENCAPAIAN ADALAH SEBUAH SEJARAH MASA LALU, PENGENALAN AKAN KRISTUS ADALAH PENEMUAN TERBESAR SEPANJANG MASA. Selamat pagi. Selamat Hari Pahlawan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
“Pekerjaan yang dihayati pasti membuat hidup diberkati.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 5
Selasa, 10 November 2015. Bacaan: 2 Timotius 4:1-8. Setahun: Kisah Para Rasul 4-6. Nats: Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil... juga kepada semua orang yang merindukan kedatangannya (2 Timotius 4:8). PAHLAWAN IMAN. Januari 2015, dunia terguncang. Wartawan Kenji Goto yang berhati lembut dipenggal kaum ekstrimis di Syria. Goto telah menerima Tuhan Yesus pada 1997. Lalu ia bertekad melayani, khususnya dengan mengunjungi anak-anak dan orang miskin korban perang. “Aku menyaksikan tempat-tempat yang paling mengerikan dan mempertaruhkan hidupku. Tapi entah bagaimana, Tuhan selalu menyelamatkanku,” begitu cuitan Goto di Twitter yang menyebar luas. Di setiap zaman, Tuhan membangkitkan pahlawan iman yang rela menyaksikan imannya melalui tindakan nyata. Memberitakan kasih Kristus yang mengampuni, menyelamatkan, dan mendamaikan, di tengah dunia yang dilanda kebencian. Merekalah rasul Kristus abad modern. Yang terpenggal kepalanya, tetapi makin bersinar imannya. Seperti Paulus, yang menjelang akhir hidupnya sebagai martir berseru, “Darahku sudah mulai dicurahkan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman” (ay. 7). Ia menantikan mahkota kebenaran, yang dikaruniakan kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (ay. 8). Bagaimana seseorang meninggal, sebenarnya tak jadi soal. Yang lebih serius adalah: bagaimana dan untuk apa kita hidup? Ke mana kita pergi setelah meninggal? Sungguhkah Kristus menjadi Juruselamat dan Tuhan atas hidup kita? Sungguhkah hidup kita memberkati banyak orang hingga mereka memuliakan Bapa di surga? Inilah pertanyaan-pertanyaan penting yang mesti segera ditanggapi –Susanto. BAGAIMANA KITA MATI BUKANLAH PERSOALAN PENTING. BAGAIMANA DAN UNTUK APA KITA HIDUP,  ITU JAUH LEBIH PENTING. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 6
Kita telah sering mendengar bahwa bangsa yang besar menghargai jasa-jasa pahlawan-pahlawannya. Pahlawan bangsa adalah sebutan bagi mereka yang telah berjuang segenap raga & jiwa demi tercapainya suatu keadaan yang bebas dari berbagai penindasan, penjajahan & penderitaan. Dalam konteks Indonesia, para pahlawan merelakan diri mereka meninggalkan segala kenyamanan hidup untuk kemudian mengorbankan apa yang mereka miliki bahkan nyawa mereka demi keadaan bangsa yang lebih baik & mandiri, bebas dari penjajahan. Pertanyaannya, bagaimana kita yang hidup setelah masa-masa perjuangan yang berat itu menghargai pengorbanan pahlawan-pahlawan kita? Jawaban klasik yang sering kita dengar ialah:  dengan membangun bangsa, memanfaatkan kemerdekaan untuk menjadi bangsa yang maju, adil makmur, sejahtera & terhormat di mata dunia. Dengan mengejar cita-cita luhur itu maka segala darah & air mata yang tercurah menjadi memiliki makna. Sejauh manakah kita, sebagai suatu bangsa, telah melakukannya? Pada sisi lain, kita sebagai orang percaya memiliki pahlawan yang tiada taranya. Yesus Kristus ialah pahlawan kita. Dengan segala kasih, penyerahan diri, keberanian & semua yang ada pada-Nya Dia telah membebaskan, menebus, mengangkat, memberikan status baru serta membukakan jalan bagi masa depan yang lebih baik, penuh pengharapan akan kemuliaan sebagai ganti hidup yang gelap, kosong & menuju kematian kekal itu. Dia telah berjuang & melakukan segalanya bagi kita! Menggunakan analogi yang sama, orang-orang berjiwa besar menghargai dedikasi pahlawan mereka. Yang memahami nilai suatu pengorbanan akan tahu berterima kasih. Mereka tidak menggunakannya untuk membuat hidup mereka terbelenggu kembali. Mereka akan merayakan kemenangan & kebebasan dengan bekerja keras memperjuangkan masa depan itu. Masa depan Anda ialah hidup dalam rencana terbaik Allah bagi Anda (Ef. 2:10; Kis. 9:15; Mat. 4:19). Akankah Anda menghargai jasa tak ternilai Sang Pahlawan Agung itu dengan mengetahui & hidup dalam kehendak serta tujuan-Nya dalam hidup. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment