Saturday, 21 November 2015

21 November 2015

TEMPTATION



Ibrani 4:12, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Firman Allah itu HIDUP, artinya memiliki KUASA untuk “menghakimi” kita (seperti pedang bermata dua) atau berkuasa untuk menyelidiki hati dan pikiran kita, dengan kata lain mereka yang mengabaikan Firman Allah pada suatu hari akan ‘mengalami perjumpaan Firman’ secara pribadi. Jangan tergoda untuk tidak 4M (Menerima, Merenenungkan, Membagikan & Melakukan) Firman setiap hari agar kita dimampukan menghadapi “semua godaan”. Manusia bukan hidup dari roti’ saja tetapi hidup dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Amin.

Respon 1
“Hidup memang mengalir, tetapi tetap ada jalurnya.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Sabtu, 21 November 2015. Bacaan: 2 Raja-Raja 7:3-20. Setahun: Roma 8-10. Nats: Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4). SOSIS UNTUK ADIK. Sore itu Liana membawa dua anaknya mencari kupu-kupu di lahan kosong dekat rumah. Datanglah dua anak laki-laki kurus membantu mereka. Sesudahnya, Liana mengajak dua anak kurus itu ke rumahnya dan memberi mereka nasi goreng dengan sosis dan telur. Dengan lahap mereka menyantapnya. Namun, salah seorang di antara mereka meninggalkan sosisnya di piring. “Kok sosisnya tidak kamu makan? Tidak suka ya?” tanya Liana. “Suka, Bu,” jawab anak itu, “Tapi saya mau membawa pulang sosis ini untuk adik saya. Ia tidak pernah makan sosis.” Peristiwa itu menginspirasi Liana Christanty untuk mendirikan Yayasan Kasih Pengharapan dan sekolah gratis Pelita Permai di Simpang Darmo, Surabaya. Ketika terjadi kelaparan hebat di Samaria, sementara tentara Aram mengepung mereka, empat orang kusta memberanikan diri masuk ke perkemahan tentara Aram. Ternyata tidak ada satu tentara pun karena Tuhan telah membuat mereka lari lintang-pukang sebelumnya. Mereka makan dan minum dengan lahap, lalu mengangkut emas, perak, dan pakaian yang ada. Namun, akhirnya mereka menyadari, tidak patut mereka menikmati sendiri rezeki nomplok tersebut, dan tidak mengabarkannya kepada yang lain. Mereka pun menghadap kepada raja untuk memberitahukan hal tersebut. Setiap orang memiliki kepentingan. Tidak salah jika kita memenuhi kepentingan pribadi. Tetapi menjadi sangat salah apabila kita hanya memperhatikan kepentingan kita sendiri, sedangkan kita mampu (tetapi tidak mau) berbuat sesuatu untuk memenuhi kepentingan sesama --Herodion Pitrakarya. BERKAT BILA DIBAGIKAN TIDAK AKAN BERKURANG, JUSTRU YANG DIBERKATI JADI BERTAMBAH. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
Ya amin!  KETAATAN DAN IMAN. Lukas 17:5. Tambahkanlah Iman Kami. Sebagai orang beriman, seharusnya kita membanggakan Yesus sebagai Tuhan kita dan menjunjung sabdaNya dengan sikap taat dan tunduk. Tentu bukan keinginan kita untuk melakukan pelanggaran, tapi mengabaikan dan menunda dan menolak untuk melakukan, dinilai sebagai pemberontakan dihadapan Tuhan. Kerajaan Surga memberi jaminan keselamatan bagi setiap orang percaya. Bahkan tidak pernah membatalkan ikatan janjiNya, apapun kondisi kita. Bahkan siapun yang berada dibawah naungan kuasa Kerajaan Surga, pasti dia hidup dan melangkah dengan kuasa untuk bergerak dan bertindak. Bagaimana sikap kita terhadap perintah dan pesan-pesan Tuhan? Pastikan kita semua memilih taat dan tunduk, itulah gairah kita semua. Amin. Happy Saturday, happy day. Jbu all. (Tante Elisabet – Maumere)

Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu, 21 November 2015. Menyelidiki Kebenaran. Orang-orang Yahudi di kota itu lebih terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian (Kisah Pr. Rasul 17:11). Ada orang yang cenderung malas, menerima begitu saja khotbah dari mimbar tanpa pernah menyelidiki Kitab Suci secara pribadi. Sebaliknya, ada pula pemimpin gereja yang malah berusaha mematikan sikap kritis: “Sudah, percaya saja, dengar dan lakukan. Ketaatan yang tertunda itu sama saja dengan ketidaktaatan.” Keduanya sama-sama ekstrem dan tidak sehat. Bagaimana sepatutnya kita merespons pemberitaan firman? Kasus di Berea merupakan sebuah contoh menarik. Pelayanan Paulus saat itu sudah lumayan termasyhur, dan orang Berea menyambut pelayanannya. Mereka menerima pemberitaan Paulus dengan segala kerelaan hati—tetapi apakah mereka menelannya begitu saja? Tidak! Mereka menyelidiki Kitab Suci untuk melihat apakah pengajaran Paulus selaras dengan ajaran kebenaran. Apakah Paulus jengkel, menganggap mereka lancang, dan mencela mereka? Justru sebaliknya! Mereka dipuji sebagai “lebih terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika”! Tuhan Yesus berjanji bahwa Roh Kudus menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Marilah kita mengandalkan pertolongan-Nya dalam memahami firman-Nya, baik ketika mendalami Kitab Suci secara pribadi maupun ketika menyimak khotbah atau pengajaran seseorang. Selanjutnya, mintalah Roh Kudus untuk memberikan hikmat untuk merespons firman tersebut dalam keseharian kita. Dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh bertumbuh dalam kebenaran dan pengenalan akan Tuhan —ARS. KITA TIDAK DAPAT MEMAHAMI KEBENARAN DENGAN “POKOKNYA PERCAYA”, MELAINKAN DENGAN MENGANDALKAN PERTOLONGAN ROH KUDUS-NYA. Selamat pagi. Selamat berakhirpekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 5
Salah satu hal yang disoroti rasul Paulus dari jemaat Korintus, yang disebutnya sebagai “menyia-nyiakan kasih karunia Allah” (2 Kor. 6:1) ialah apa yang kemudian diuraikannya dalam ayat ke-14 sampai ke-18 dalam pasal tersebut. Ayat 14 telah cukup populer sebagai ayat yang paling sering dikutip untuk membahas mengenai bagaimana ukuran menentukan pasangan hidup dari Tuhan. “Jangan kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya”. Maksudnya, ketika orang percaya berpasangan dengan orang tidak percaya maka sesungguhnya mereka bukan pasangan yang cocok, serasi & tepat. Sebagaimana terang tidak mungkin bersatu dengan gelap, kebenaran bersanding dengan kedurhakaan atau Kristus bekerja sama dengan Belial (iblis) -demikianlah sukar menemukan persamaan yang menghubungkan antara pengikut Kristus dengan penyembah berhala. Yang tidak banyak diketahui, peringatan & perintah ini sesungguhnya tidak khusus merujuk mengenai pasangan hidup (suami istri). Ini berbicara mengenai sesuatu yang lebih luas daripada itu: tentang suatu kebersamaan & kesehatian; tentang hubungan yang karib; tentang pergaulan; tentang persahabatan dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Harus ditegaskan disini bahwa ini bukan merupakan pembatasan atau larangan sama sekali untuk bergaul dengan orang tak seiman di muka bumi -sebab itu mustahil. Paulus justru telah mengemukakan itu sejak di suratnya yang pertama: yaitu supaya mereka yang telah mengikut Kristus tidak bergaul dengan orang yang mengaku percaya tapi tetap hidup dalam keduniawian & dosa-dosa lama (1 Kor. 5:9-11). Sebab yang hidup secara demikian tidak dihitung sebagai orang-orang percaya (5:13b). Mereka menghina & melecehkan kasih karunia itu sendiri. Kita harus tahu dengan jelas mana standar hidup dalam kebenaran & mana hidup dalam dosa & keduniawian. Bukankah pengaruh pergaulan yang buruk, yang tidak secara tegas kita batasi dapat membuat kita kembali pada tarikan-tarikan jahat dunia -lalu menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment