TEMPTATION
Ibrani 4:12, “Sebab
firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua
manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan
sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Firman
Allah itu HIDUP, artinya memiliki KUASA untuk “menghakimi” kita (seperti pedang
bermata dua) atau berkuasa untuk menyelidiki hati dan pikiran kita,
dengan kata lain mereka yang mengabaikan Firman Allah pada suatu hari akan ‘mengalami
perjumpaan Firman’ secara pribadi. Jangan tergoda untuk tidak 4M (Menerima,
Merenenungkan, Membagikan & Melakukan) Firman setiap hari agar kita
dimampukan menghadapi “semua godaan”. Manusia bukan hidup dari roti’ saja
tetapi hidup dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).
Amin.
Respon 1
“Hidup memang
mengalir, tetapi tetap ada jalurnya.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
Sabtu, 21 November
2015. Bacaan: 2 Raja-Raja 7:3-20. Setahun: Roma 8-10. Nats: Dan janganlah
tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan
orang lain juga (Filipi 2:4). SOSIS UNTUK ADIK. Sore itu Liana membawa dua
anaknya mencari kupu-kupu di lahan kosong dekat rumah. Datanglah dua anak
laki-laki kurus membantu mereka. Sesudahnya, Liana mengajak dua anak kurus itu
ke rumahnya dan memberi mereka nasi goreng dengan sosis dan telur. Dengan lahap
mereka menyantapnya. Namun, salah seorang di antara mereka meninggalkan
sosisnya di piring. “Kok sosisnya tidak kamu makan? Tidak suka ya?” tanya
Liana. “Suka, Bu,” jawab anak itu, “Tapi saya mau membawa pulang sosis ini
untuk adik saya. Ia tidak pernah makan sosis.” Peristiwa itu menginspirasi
Liana Christanty untuk mendirikan Yayasan Kasih Pengharapan dan sekolah gratis
Pelita Permai di Simpang Darmo, Surabaya. Ketika terjadi kelaparan hebat di
Samaria, sementara tentara Aram mengepung mereka, empat orang kusta memberanikan
diri masuk ke perkemahan tentara Aram. Ternyata tidak ada satu tentara pun
karena Tuhan telah membuat mereka lari lintang-pukang sebelumnya. Mereka makan
dan minum dengan lahap, lalu mengangkut emas, perak, dan pakaian yang ada.
Namun, akhirnya mereka menyadari, tidak patut mereka menikmati sendiri rezeki
nomplok tersebut, dan tidak mengabarkannya kepada yang lain. Mereka pun
menghadap kepada raja untuk memberitahukan hal tersebut. Setiap orang memiliki
kepentingan. Tidak salah jika kita memenuhi kepentingan pribadi. Tetapi menjadi
sangat salah apabila kita hanya memperhatikan kepentingan kita sendiri,
sedangkan kita mampu (tetapi tidak mau) berbuat sesuatu untuk memenuhi
kepentingan sesama --Herodion Pitrakarya. BERKAT BILA DIBAGIKAN TIDAK AKAN
BERKURANG, JUSTRU YANG DIBERKATI JADI BERTAMBAH. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 3
Ya amin! KETAATAN DAN IMAN. Lukas 17:5. Tambahkanlah
Iman Kami. Sebagai orang beriman, seharusnya kita membanggakan Yesus sebagai
Tuhan kita dan menjunjung sabdaNya dengan sikap taat dan tunduk. Tentu bukan
keinginan kita untuk melakukan pelanggaran, tapi mengabaikan dan menunda dan
menolak untuk melakukan, dinilai sebagai pemberontakan dihadapan Tuhan.
Kerajaan Surga memberi jaminan keselamatan bagi setiap orang percaya. Bahkan tidak
pernah membatalkan ikatan janjiNya, apapun kondisi kita. Bahkan siapun yang
berada dibawah naungan kuasa Kerajaan Surga, pasti dia hidup dan melangkah
dengan kuasa untuk bergerak dan bertindak. Bagaimana sikap kita terhadap
perintah dan pesan-pesan Tuhan? Pastikan kita semua memilih taat dan tunduk,
itulah gairah kita semua. Amin. Happy Saturday, happy day. Jbu all. (Tante
Elisabet – Maumere)
Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu,
21 November 2015. Menyelidiki Kebenaran. Orang-orang Yahudi di kota itu lebih
terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka
menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka
menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian
(Kisah Pr. Rasul 17:11). Ada orang yang cenderung malas, menerima begitu saja
khotbah dari mimbar tanpa pernah menyelidiki Kitab Suci secara pribadi.
Sebaliknya, ada pula pemimpin gereja yang malah berusaha mematikan sikap
kritis: “Sudah, percaya saja, dengar dan lakukan. Ketaatan yang tertunda itu
sama saja dengan ketidaktaatan.” Keduanya sama-sama ekstrem dan tidak sehat.
Bagaimana sepatutnya kita merespons pemberitaan firman? Kasus di Berea
merupakan sebuah contoh menarik. Pelayanan Paulus saat itu sudah lumayan
termasyhur, dan orang Berea menyambut pelayanannya. Mereka menerima pemberitaan
Paulus dengan segala kerelaan hati—tetapi apakah mereka menelannya begitu saja?
Tidak! Mereka menyelidiki Kitab Suci untuk melihat apakah pengajaran Paulus
selaras dengan ajaran kebenaran. Apakah Paulus jengkel, menganggap mereka
lancang, dan mencela mereka? Justru sebaliknya! Mereka dipuji sebagai “lebih
terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika”! Tuhan Yesus
berjanji bahwa Roh Kudus menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13).
Marilah kita mengandalkan pertolongan-Nya dalam memahami firman-Nya, baik
ketika mendalami Kitab Suci secara pribadi maupun ketika menyimak khotbah atau
pengajaran seseorang. Selanjutnya, mintalah Roh Kudus untuk memberikan hikmat
untuk merespons firman tersebut dalam keseharian kita. Dengan demikian, kita
akan sungguh-sungguh bertumbuh dalam kebenaran dan pengenalan akan Tuhan —ARS.
KITA TIDAK DAPAT MEMAHAMI KEBENARAN DENGAN “POKOKNYA PERCAYA”, MELAINKAN DENGAN
MENGANDALKAN PERTOLONGAN ROH KUDUS-NYA. Selamat pagi. Selamat berakhirpekan.
Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
Salah satu hal yang
disoroti rasul Paulus dari jemaat Korintus, yang disebutnya sebagai
“menyia-nyiakan kasih karunia Allah” (2 Kor. 6:1) ialah apa yang kemudian
diuraikannya dalam ayat ke-14 sampai ke-18 dalam pasal tersebut. Ayat 14 telah
cukup populer sebagai ayat yang paling sering dikutip untuk membahas mengenai
bagaimana ukuran menentukan pasangan hidup dari Tuhan. “Jangan kamu menjadi
pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya”. Maksudnya,
ketika orang percaya berpasangan dengan orang tidak percaya maka sesungguhnya
mereka bukan pasangan yang cocok, serasi & tepat. Sebagaimana terang tidak
mungkin bersatu dengan gelap, kebenaran bersanding dengan kedurhakaan atau
Kristus bekerja sama dengan Belial (iblis) -demikianlah sukar menemukan
persamaan yang menghubungkan antara pengikut Kristus dengan penyembah berhala.
Yang tidak banyak diketahui, peringatan & perintah ini sesungguhnya tidak
khusus merujuk mengenai pasangan hidup (suami istri). Ini berbicara mengenai
sesuatu yang lebih luas daripada itu: tentang suatu kebersamaan &
kesehatian; tentang hubungan yang karib; tentang pergaulan; tentang
persahabatan dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Harus ditegaskan
disini bahwa ini bukan merupakan pembatasan atau larangan sama sekali untuk
bergaul dengan orang tak seiman di muka bumi -sebab itu mustahil. Paulus justru
telah mengemukakan itu sejak di suratnya yang pertama: yaitu supaya mereka yang
telah mengikut Kristus tidak bergaul dengan orang yang mengaku percaya tapi
tetap hidup dalam keduniawian & dosa-dosa lama (1 Kor. 5:9-11). Sebab yang
hidup secara demikian tidak dihitung sebagai orang-orang percaya (5:13b).
Mereka menghina & melecehkan kasih karunia itu sendiri. Kita harus tahu
dengan jelas mana standar hidup dalam kebenaran & mana hidup dalam dosa
& keduniawian. Bukankah pengaruh pergaulan yang buruk, yang tidak secara
tegas kita batasi dapat membuat kita kembali pada tarikan-tarikan jahat dunia
-lalu menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)

No comments:
Post a Comment