Friday, 27 November 2015

27 November 2015

TEMPTATION



DOA BAPA KAMI. Matius 6:9-13, 9Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.).” BERDOA adalah suatu  kebutuhan. Bila kita masih PEMULA dalam BERDOA, belajarlah dengan DOA BAPA KAMI, saya percaya melalui DOA kita menerima KEKUATAN dari Allah yang tak terbatas. Masihkah kita ragu untuk berdoa pagi ini?? Percayalah DIA selalu menjawab dengan memberi yang TERBAIK bagi kita. Amin.

Respon 1
SAAT TEDUH. Jumat, 27 November 2015. Mau Repot. Kata Agripa kepada Festus, “Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar” (Kisah Pr. Rasul 26:32). Menikmati masa pensiun dengan santai tentu menjadi pilihan sebagian besar orang. Tak perlu bekerja, tetapi tetap mendapatkan penghasilan. Apalagi anak-anak telah dewasa dan mandiri. Namun, hal ini tidak berlaku bagi pasangan suami-istri Bambang dan Retno. Mereka memilih mengadopsi seorang bayi. Tak heran jika masyarakat sekitar menyebut mereka legan golek momongan (sudah nyaman malah mencari kerepotan). Seandainya Agripa menguasai bahasa Jawa, mungkin ia pun akan menyebut Paulus legan golek momongan. Kita dapat mengetahui dari perkataannya yang disampaikannya kepada Festus, “Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar” (ay. 32). Paulus bisa saja bebas, tetapi ia memilih naik banding, yang justru membuatnya berlama-lama menjadi tawanan. Sekilas tampak bahwa Paulus memilih “repot”. Tetapi, Paulus mengajukan banding bukan demi menyelamatkan dirinya sendiri. Mungkin Paulus bisa bebas tanpa naik banding. Tetapi, kesempatan yang ia miliki untuk mewartakan kabar keselamatan Kristus akan terhenti sampai pada raja Agripa. Dengan naik banding, Paulus memiliki kesempatan untuk mengajar orang-orang yang menjadi teman seperjalanannya di atas kapal menuju Roma. Paulus memiliki visi hidup bagi kerajaan Allah. Kesadaran akan jati dirinya di hadapan Tuhan menjadikannya mau “repot” demi menjalankan visi mulia itu. Bagaimana dengan kita? Bersediakah kita menjadi “repot” demi visi hidup yang mulia, yakni menghadirkan kerajaan Allah bagi sesama? —EBL. PENGURBANAN KRISTUS ADALAH ALASAN BAGI ORANG PERCAYA UNTUK RELA MENGALAMI “KEREPOTAN” DALAM MENGASIHI SESAMA. Selamat pagi semua. Happy Friday. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
JELI MENDENGARKAN SUARA TUHAN. Pastor Li, seorang misionaris yang tewas dibunuh karena imannya, memiliki seorang anak perempuan bekerja di sebuah kamp kerja paksa di China. Anak itu mendapat tugas menekan tombol alarm untuk memperingatkan para pekerja untuk keluar dari area pertambangan ketika jam kerja telah usai atau pada keadaan darurat. Suatu hari gadis kecil itu mendengar suara, “pencet tombolnya!!!” Ia melihat ke sekelilingnya, namun tak menemukan siapapun. “Cepat, pencet tombolnya sekarang!!!” Beberapa detik kemudian suara itu terdengar lagi. Kali ini ia menyadari bahwa itu adalah Suara TUHAN. Walau ia tidak mengerti, ia sadar kalau ia harus menurutinya. Saat alarm berbunyi, semua pekerja berhamburan keluar dari pertambangan. Tiba-tiba gempa bumi meruntuhkan seluruh area pertambangan. “Nak, bagaimana kau tahu kalau harus menekan tombol itu?” tanya Kepala Kamp. “TUHAN YESUS-lah yang menyuruh saya. 3 kali DIA menyuruh saya melakukannya, & DIA baru saja menunjukkan Kasih-NYA. Kalian harus bertobat & menyerahkan hidup kalian kepada-NYA!!” Saat itu juga, 3000 pekerja & Kepala Kamp berlutut berdoa meminta TUHAN YESUS mengampuni mereka. KARAKTER SUARA TUHAN berbeda dengan SUARA manusia. Ketika seseorang BERKATA-KATA, & orang lain tidak mau MENDENGAR, maka orang itu akan BERSUARA LEBIH KERAS. Ketika seseorang tak mau MENDENGARKAN SUARA TUHAN, SUARA-NYA akan semakin terdengar semakin PELAN, bahkan akan HILANG sama sekali. Jika seseorang memiliki KETAJAMAN untuk selalu MENDENGAR SUARA TUHAN, ia akan TUMBUH menjadi seorang yang BERKARAKTER KUAT & selalu tampil sebagai PEMENANG. Caranya dengan membiasakan diri untuk MENDENGAR, MERENUNGKAN & TAAT melakukan FIRMAN-NYA. “Ya Tuhan, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala” (1 Tawarikh 29:11). SELAMAT PAGI. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 3
Yesus bukannya bersikap kejam dengan melarang salah seorang yang dipanggil mengikuti-Nya untuk menguburkan orang tuanya (Luk. 9:59-60). Yang terjadi ialah sesungguhnya orang itu minta ijin menunggu bapaknya meninggal, supaya ia dapat melakukan kewajibannya sebagai seorang anak pada orang tuanya, baru kemudian ia akan mengikut Yesus. Dengan kata lain, panggilan Yesus bukan prioritasnya untuk saat ini. Ia punya prioritas-prioritas sendiri yang ingin dicapai & diselesaikannya lebih daripada menaati kehendak Tuhan. Jawab Yesus tegas. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati mereka. Tapi engkau, pergilah & beritakanlah Kerajaan Allah dimana-mana.” Hendaknya kita tidak bingung atau meleset memahaminya. Yesus sedang mengatakan, ada urusan-urusan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah (yang mati rohaninya). Biarkanlah mereka melakukan apapun urusan-urusan mereka itu. Tapi bagi yang telah menerima hidup dari Allah, yang dijadikan warga Kerajaan-Nya, ada tugas panggilan yang lebih besar & lebih tinggi daripada mengerjakan urusan-urusan yang umumnya dikerjakan mereka yang belum mengenal Tuhan. Sekali lagi, Yesus tidak sedang melarang kita melakukan kewajiban kita atas keluarga kita. Yesus sedang menunjukkan apakah yang seharusnya kita utamakan jika kita ingin menjadi pengikut-pengikutNya. Yesus menginginkan komitmen penuh dari orang-orang yang ingin mengiring-Nya. Tidak lagi mengarahkan diri pada urusan-urusan & kepentingan-kepentingan pribadi sebagai tujuan hidup namun memberikan hidupnya bagi Kerajaan Allah yaitu membawa berita pertobatan & keselamatan dalam Kristus. Itu sebabnya Dia memerintahkan untuk kita pergi, menjadikan segala bangsa murid-muridNya & supaya kita menjadi saksi-saksi-Nya hingga ke ujung-ujung bumi. Dan untuk itu, Allah menjamin hidup orang-orang yang bersedia hidup mengutamakan Kerajaan Allah (Mat. 6:33). Yesus telah memberikan teladan kesetiaan hidup bagi kehendak Bapa yang empunya Kerajaan itu. Paulus & hamba-hambaNya dari segala zaman pun demikian. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment