Saturday, 28 February 2015

SIAPA YANG ME-REMOTE ANDA



RICH FAMILY – POOR FAMILY




SIAPA YANG ME-REMOTE ANDA
-RICH FAMILY POOR FAMILY #3-
(Diambil dari Khotbah Alfa Omega Church,
15 Februari 2015)

Intro:
Bayangkan Anda sedang menjalani hari yang biasa, dan sebenarnya kita mengalami hari yang baik. Lagi good mood, the birds are singing, the flowers are blooming, you feel great. Tiba-tiba ada orang-orang ini lewat dan dalam 1,2 detik, kita langsung frustasi, marah jengkel! Ada saja yang bisa mereka lakukan, yang membuat kita langsung jadi marah! Mereka seolah-olah bisa menekan sebuah tombol untuk membuat kita marah, tersinggung. Seperti mereka me-remote kita! 

Amarah bukan selalu dosa. Amarah tidak selalu salah. Tapi kemarahan yang tidak bisa dikendalikan (uncontrolled anger) itu pasti selalu salah. Amarah bisa merupakan wujud orang mengasihi. Contoh: ada orang yang menyakiti suami/istri/anak/orangtua/pasangan kita, kita marah. Itu wajar. Karena kita mengasihi mereka. Kalau mereka disakiti tapi kita tidak marah berarti kita tidak mengasihi mereka.

Efesus 4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa…” – Berarti, ADA cara untuk menjadi marah tapi tidak berdosa. Kemarahan yang tidak terkontrol itu berdosa.

Amsal 25:28
Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.
Sadarkah kita saat kita berkata “Orang ini bikin aku marah!!!!” Anda sedang mengakui bahwa pada saat itu, orang itu sedang mengontrol kehidupan kita, emosi kita, keseluruhan diri kita.

4 BENTUK KEMARAHAN:
1. The Machine Guns (Senapan Mesin)
Contoh Alkitab: KAIN. Orang yang punya jenis kemarahan ini, biasanya langsung menyesal. Mereka menyesal dengan kata-kata yang mereka keluarkan, mereka malu, dan ingin minta maaf.

2. Si “Pendiam”
Setiap kali kita mendiamkan kemarahan, kita ibarat menelannya. Dan tubuh kita yang menderita. Contoh Alkitab: Yeremia.

3. The Martyrs (Martir)
Mengasihani diri sendiri. Contoh Alkitab: Kakak dari anak yang terhilang.

4. The Manipulators (Manipulasi) 
Mereka tidak meledak-ledak, mereka BALAS DENDAM. Contoh Alkitab: Orang Farisi.

BAGAIMANA MENGATASI KEMARAHAN DENGAN BAIK?

1. LIHAT LUKA DI BALIK KATA-KATA MEREKA
Coba kita lihat lebih jauh. Bukan hanya lihat kata-kata mereka, tapi lihat mengapa mereka mengatakan apa yang mereka katakan.

Amsal 19:11
Hurt people hurt people. Loved people love people.
Saat seseorang itu jahat, mudah marah, mereka sedang berusaha mengkomunikasikan bahwa yang mereka butuhkan bukanlah kejahatan balik yang nampaknya harus mereka terima. Mereka butuh dikasihi.

Saat Anda menyerang seseorang, itu menempatkan Anda di bawah mereka.
Saat Anda membalas seseorang, itu menempatkan Anda di level yang sama dengan mereka.
Saat Anda merespon dengan kasih & kebaikan, itu menempatkan Anda di atas mereka.

When you attack somebody, it puts you below them.
When you get even with somebody, it puts you on the same level.
When you respond with love and kindness, it puts you above them.

Ini seperti kebiasaan yang Anda bentuk. Semakin kita biasakan kemarahan itu meluap-luap, semakin kita di-training untuk melakukannya. Meluapkan kemarahan bukanlah jawabannya. Karena itu hanya akan men-training diri kita untuk refill dan refill lagi kemarahan kita.

2. BERHITUNG
BERPIKIRLAH SEBELUM BEREAKSI.

Amsal 29:11
Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakanya.

“Meredakan” dalam bahasa Ibrani: cools it down, cools his anger. Mendinginkannya. Mendinginkan kemarahannya. Jadi orang yang “cool” itu sebenarnya Alkitabiah.

Saat Anda berpikir & berhitung, mungkin 3 pertanyaan ini bisa membantu kita:
1. Mengapa saya marah?
2. Apa yang sebenarnya saya inginkan?
3. Bagaimana saya bisa mendapatkannya?

Biasanya kemarahan disebabkan antara 3 hal:
(1) Hurt (Sakit hati); (2) Frustasi; (3) Ketakutan

Kemarahan itu menular. Saat kita menjawab keras, orang lain jawab makin keras. Orang lain jawab makin keras, kita ngomong makin keras. Seseorang harus menghentikan semua kekerasan ini!

Amsal 15:1
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

Hanya dengan menjawab lebih kalem, berbicara lebih pelan, Anda bisa meredakan kemarahan-kemarahan dalam hubungan-hubungan Anda. Kemarahan siapa yang kita redakan? Kemarahan kita! J Akhirnya kemarahan mereka juga. Tapi saat kita berbicara dengan intonasi lebih tenang, kemarahan kita jadi berkurang.

“Do not get upset with people or situations. Both are powerless without your reaction.” (Jangan marah terhadap orang atau situasi. Keduanya tidak berarti tanpa reaksi Anda.)

Amsal 4:23 – Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

3. PERTANYAAN MEMBANTU
Mazmur 141:3 – Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku.

Di AOC kita memegang: “Keterbukaan adalah awal dari pemulihan.”

1 Yohanes 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Yehezkiel 36:26-27
Kamu akan kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya.


No comments:

Post a Comment