RICH FAMILY – POOR FAMILY
Amsal 13:24, “Siapa
tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi
anaknya, menghajar dia pada waktunya.” Amsal 29:17, “Didiklah anakmu,
maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita
kepadamu.” Sebagai orang tua apakah kita bertindak kasih & juga tegas
kepada anak-anak kita?? Apakah kita sudah menabur yang baik kepada mereka??
Apkah kita sudah mendidik mereka berdasarkan kasih & firman Nya? Mari
sebagai orang tua yang baik kita mau mengasihi anak-anak kita berdasarkan kasih
& firmanNya agar karakter mereka pun bertumbuh dengan baik J.
Amin.
Respon 1
Kita tidak bisa mengubah masa lalu tetapi kita mempunyai masa depan
yang kokoh bersama Yesus. Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui
rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman
TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk
memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (GNCC)
Respon 2
“Keberuntungan berpihak kepada orang yang mencangkul lebih lama dan
lebih dalam.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa, 24 Februari 2015. Jika Tak Mengenal Allah.
“...bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal
TUHAN...” (Hakim-Hakim 2:10). Pada zaman kepemimpinan Yosua, bangsa Israel
beribadah dan melayani Tuhan dengan setia. Namun, setelah Yosua mati, dan
“seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah
mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal Tuhan ataupun perbuatan yang
dilakukan-Nya bagi orang Israel. Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di
mata Tuhan dan mereka beribadah kepada para Baal” (ay. 10-11). Selama zaman
para hakim sampai masa raja-raja, bangsa Israel berulangulang jatuh-bangun
dalam hal yang sama, yakni penyembahan berhala. Akar persoalannya, mereka tidak
lagi mengenal Tuhan. Generasi setelah Yosua tidak memiliki pengenalan yang
benar akan Tuhan. Bisa jadi, para orangtua tidak lagi mengajarkan firman kepada
anak-anak mereka. Kelalaian ini memunculkan generasi yang tidak lagi mengenal
Tuhan dan firman-Nya. Anak yang tidak lagi menghormati orangtua, anak yang
tidak lagi menghargai agama, tak lagi menghormati Tuhan, dan apa yang
dilakukannya semata-mata membuahkan kejahatan, bukankah kenyataan seperti ini
sungguh menyesakkan dada? Apa yang pernah terjadi di Israel ini dapat terulang
kapan saja dan di mana saja. Kita, terutama para orangtua, patut merenungkannya
dan berintrospeksi. Apakah kita telah memperkenalkan Allah kepada mereka sejak
masa kecil dan dengan tekun mengajari mereka berulang-ulang? Apakah kita
sungguh-sungguh berupaya untuk mewariskan nilai-nilai kerohanian bagi anak-cucu
kita?—SYS. PENGENALAN AKAN TUHAN ADALAH WARISAN TERBAIK YANG DAPAT KITA BERIKAN
KEPADA ANAK-CUCU KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
Amsal 13:24 – siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya,
tetapi siapa mengasihi anaknya, mengajar dia pada waktunya. Amsal 29:17 –
didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu. Dan mendatangkan
sukacita kepadamu. Menuruti semua kemauan anak, tidak pernah memarahinya itu
berarti kita tidak mengasihinya. Karena anak itu tidak tahu apa yang dilakukan
itu benar atau tidak. Jadi tugas kita sebagai orang tua yaitu memberi tahu
mereka mana yang benar, mana yang salah. Mana yang boleh, mana yang tidak.
Kalau anak tidak bisa diomongi... kita boleh memukulnya tapi ingat!! Bukan
karena emosi. Marah itu boleh tapi bukan marah yang dengan emosi. Marah yang
mendidik yang membuat anak tahu bahwa tindakannya salah. Pasti ada yang tanya,
“gimana marah yang mendidik? Marah ya pasti sambil emosi”. Ya itu yang tak
lakukan dulu, aku kalau marah selalu emosi, mukul dengan emosi, ngomong nggak
terkontrol dan itu menyakiti hati anak-anakku. Jadinya apa? Anak-anakku cuma
takut sama aku bukan mengerti, jadinya mereka jadi pembohong supaya tidak
dimarahi. Yang ku lakukan ini salah, jangan ditiru! Marah yang nggak pakai
emosi itu anak diajak omong tentang kesalahannya, dikasih tahu yang benar itu
gimana, bukan malah diolok-olok dan dijelek-jelekkan. Kalau dilanggar lagi
perlu dihukum. Tapi sekali lagi hukuman itu bukan untuk menyakiti hati anak
tapi hukuman yang membuat dia sadar dan mengerti bahwa itu tidak boleh dia
lakukan. Ya memang susah jadi orang tua, tapi kalau kita selalu minta hikmat
dari Tuhan, pasti bisa. Didiklah anak-anak kita sebelum terlambat. (Ibu Rita –
PKS CL 8)
Respon 5
Ya amin! Anak yang dikashi dihajar, menerima didikan dari orang tua,
dibentuk ulang dalam rumah rohani yang melahirkan kita melalui disiplin dan
pengajaran yang benar oleh firman Tuhan. Tuhan pakai orang lain, situasi,
bagaimana kita diuji melewati tahap-tahap yang sulit sehingga kita benar-benar
lulus ujian menjadikan kita bukan anak-anak gampangan, kesetian kita diuji.
Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya
sebagai anak (Ibrani 12:5-6). Kita ikut Tuhan bukan untuk berkat materi, akan
tetapi dalam segala keadaan kita tetap teguh ikut Tuhan, jangan iri terhadap
orang fasik yang hidup mereka penuh dengan segala kejahatan. Sudahkah kita
mendidik anak-anak kita? Artinya menjadi anak yang mengikuti jejak Bapa
(Ibrani12:8). Selamat pagi. Semangat berkarya dalam Tuhan. Jbu all. (Tante
Elisabeth – Maumere)

No comments:
Post a Comment