Tuesday, 24 February 2015

24 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Amsal 13:24, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” Amsal 29:17, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Sebagai orang tua apakah kita bertindak kasih & juga tegas kepada anak-anak kita?? Apakah kita sudah menabur yang baik kepada mereka?? Apkah kita sudah mendidik mereka berdasarkan kasih & firman Nya? Mari sebagai orang tua yang baik kita mau mengasihi anak-anak kita berdasarkan kasih & firmanNya agar karakter mereka pun bertumbuh dengan baik J. Amin.

Respon 1
Kita tidak bisa mengubah masa lalu tetapi kita mempunyai masa depan yang kokoh bersama Yesus. Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (GNCC)

Respon 2
“Keberuntungan berpihak kepada orang yang mencangkul lebih lama dan lebih dalam.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa, 24 Februari 2015. Jika Tak Mengenal Allah. “...bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN...” (Hakim-Hakim 2:10). Pada zaman kepemimpinan Yosua, bangsa Israel beribadah dan melayani Tuhan dengan setia. Namun, setelah Yosua mati, dan “seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal Tuhan ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan mereka beribadah kepada para Baal” (ay. 10-11). Selama zaman para hakim sampai masa raja-raja, bangsa Israel berulangulang jatuh-bangun dalam hal yang sama, yakni penyembahan berhala. Akar persoalannya, mereka tidak lagi mengenal Tuhan. Generasi setelah Yosua tidak memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan. Bisa jadi, para orangtua tidak lagi mengajarkan firman kepada anak-anak mereka. Kelalaian ini memunculkan generasi yang tidak lagi mengenal Tuhan dan firman-Nya. Anak yang tidak lagi menghormati orangtua, anak yang tidak lagi menghargai agama, tak lagi menghormati Tuhan, dan apa yang dilakukannya semata-mata membuahkan kejahatan, bukankah kenyataan seperti ini sungguh menyesakkan dada? Apa yang pernah terjadi di Israel ini dapat terulang kapan saja dan di mana saja. Kita, terutama para orangtua, patut merenungkannya dan berintrospeksi. Apakah kita telah memperkenalkan Allah kepada mereka sejak masa kecil dan dengan tekun mengajari mereka berulang-ulang? Apakah kita sungguh-sungguh berupaya untuk mewariskan nilai-nilai kerohanian bagi anak-cucu kita?—SYS. PENGENALAN AKAN TUHAN ADALAH WARISAN TERBAIK YANG DAPAT KITA BERIKAN KEPADA ANAK-CUCU KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Amsal 13:24 – siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya, tetapi siapa mengasihi anaknya, mengajar dia pada waktunya. Amsal 29:17 – didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu. Dan mendatangkan sukacita kepadamu. Menuruti semua kemauan anak, tidak pernah memarahinya itu berarti kita tidak mengasihinya. Karena anak itu tidak tahu apa yang dilakukan itu benar atau tidak. Jadi tugas kita sebagai orang tua yaitu memberi tahu mereka mana yang benar, mana yang salah. Mana yang boleh, mana yang tidak. Kalau anak tidak bisa diomongi... kita boleh memukulnya tapi ingat!! Bukan karena emosi. Marah itu boleh tapi bukan marah yang dengan emosi. Marah yang mendidik yang membuat anak tahu bahwa tindakannya salah. Pasti ada yang tanya, “gimana marah yang mendidik? Marah ya pasti sambil emosi”. Ya itu yang tak lakukan dulu, aku kalau marah selalu emosi, mukul dengan emosi, ngomong nggak terkontrol dan itu menyakiti hati anak-anakku. Jadinya apa? Anak-anakku cuma takut sama aku bukan mengerti, jadinya mereka jadi pembohong supaya tidak dimarahi. Yang ku lakukan ini salah, jangan ditiru! Marah yang nggak pakai emosi itu anak diajak omong tentang kesalahannya, dikasih tahu yang benar itu gimana, bukan malah diolok-olok dan dijelek-jelekkan. Kalau dilanggar lagi perlu dihukum. Tapi sekali lagi hukuman itu bukan untuk menyakiti hati anak tapi hukuman yang membuat dia sadar dan mengerti bahwa itu tidak boleh dia lakukan. Ya memang susah jadi orang tua, tapi kalau kita selalu minta hikmat dari Tuhan, pasti bisa. Didiklah anak-anak kita sebelum terlambat. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 5
Ya amin! Anak yang dikashi dihajar, menerima didikan dari orang tua, dibentuk ulang dalam rumah rohani yang melahirkan kita melalui disiplin dan pengajaran yang benar oleh firman Tuhan. Tuhan pakai orang lain, situasi, bagaimana kita diuji melewati tahap-tahap yang sulit sehingga kita benar-benar lulus ujian menjadikan kita bukan anak-anak gampangan, kesetian kita diuji. Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibrani 12:5-6). Kita ikut Tuhan bukan untuk berkat materi, akan tetapi dalam segala keadaan kita tetap teguh ikut Tuhan, jangan iri terhadap orang fasik yang hidup mereka penuh dengan segala kejahatan. Sudahkah kita mendidik anak-anak kita? Artinya menjadi anak yang mengikuti jejak Bapa (Ibrani12:8). Selamat pagi. Semangat berkarya dalam Tuhan. Jbu all. (Tante Elisabeth – Maumere)

No comments:

Post a Comment