Monday, 16 February 2015

16 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Amsal 3:27, “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Galatia 6:9, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Kalau kita berbuat baik, itu artinya kita sedang “menabung”, keuntungannya pasti dapat kita nikmati dikemudian hari J. Sudahkah kita melakukan kebaikan dihari ini kepada salah satu saudara kita yang membutuhkannya??

Respon 1
“Mentari selalu mengingatkan kita akan janji Tuhan bahwa sekelam-kelamnya malam, pasti datang terang benderang pagi.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Banyak kenangan indah di masa lalu yang kadang sulit untuk dilupakan. Tetapi banyak hal di masa sekarang dan masa depan yang tidak kalah indahnya yang Tuhan sudah berikan dan sediakan untuk kita nikmati. Anugrah-Nya cukup bagi kita. Yeremia 31:17, “Masi ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN...” (GNCC)

Respon 3
SAAT TEDUH. Senin, 16 Februari 2015. Membimbing dan Melepaskan. Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus (Yohanes 12:22). Kita tidak boleh acuh tak acuh apabila melihat seseorang yang bingung mencari pegangan hidup. Sebagai orang percaya, kita dapat membimbing orang itu kepada Tuhan Yesus. Bimbinglah orang itu satu-dua langkah kepada Yesus, kemudian lepaskan. Selanjutnya, biarlah Yesus sendiri yang menanganinya. Jangan sampai kita membuat seseorang terlalu bergantung kepada kita. Suatu hari beberapa orang Yunani ingin berjumpa dengan Yesus. Mereka mendatangi Filipus. Agaknya Filipus adalah pribadi yang peragu sehingga ia berunding dengan Andreas. Untunglah, Andreas memang seorang pengantara sejati. Ia pernah membawa Simon saudaranya kepada Yesus. Ia pernah pula membawa seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan. Kali ini ia dan Filipus mengantar orang Yunani itu kepada Yesus. Apa yang kita pelajari dari kisah ini? Banyak. Antara lain, perlu kerjasama tim dalam pekerjaan Tuhan. Kekurangan seseorang bisa diimbangi oleh kelebihan yang lain. Yang penting, Tuhan Yesus harus diutamakan. Pelajaran lain kita peroleh pada diri Yesus. Yesus setia mengikuti jadwal kehendak Bapa-Nya. Dia tidak mau memakai jalan pintas. Kedatangan orang Yunani itu menjanjikan keberhasilan Yesus merekrut banyak pengikut, tetapi itu bukan maksud Bapa. Yesus tahu itu, “Apabila Aku ditinggikan dari bumi [disalibkan], baru Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Ikutilah teladan Yesus. Jangan menginginkan hasil yang instan. Untuk memperoleh mahkota kita harus mau memikul salib terlebih dahulu. JADILAH ORANG KRISTEN YANG MENGIKUTI JADWAL ALLAH. Morning... Happy Monday. Semangat awal minggu. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Bahkan dalam kalimat terakhirnya, Paulus menegaskan: “...singing and making melody in your heart to the Lord...” - bernyanyilah & buatlah melodi di dalam hatimu untuk Tuhan! Dengan kata lain, Paulus menegaskan, jika engkau ingin selalu dipenuhi oleh RohNya, engkau harus terus menjagai hatimu. Pastikan terus ada aliran air hidup yang dengan leluasa dapat terus mengalir, memancar dari dalam batinmu... Disinilah ‘kehidupan doa’ memainkan peranan yang sangat penting untuk memastikan aliran air hidup dalam diri kita dapat memancar dengan leluasa... Memperkatakan firman, berdoa dalam bahasa roh, menari, menyanyi, bersorak, bermazmur, mengekspresikan apa yang ada dalam hati kita melalui berkata-kata (pastikan apa yang kita ucapkan merupakan apa yang kita yakini dr firmanNya atas suatu peristiwa/ kondisi tertentu yang sedang kita hadapi; bukan keluh kesah / kata-kata negatif lainnya....) adalah merupakan hal-hal yang kita lakukan dalam usaha kita membangun kehidupan doa... Terus bangun kehidupan doa dalam diri kita; pastikan melalui kehidupan doa tersebut, aliran air hidup dalam diri kita dengan leluasa bisa terus mengalir didalam hidup kita & menjamah kehidupan orang-orang lain yang sedang berinteraksi dengan kita... (Ps. Steven Agustinus – Maumere).

Respon 5
Ia tidak pernah membiarkan kita sendiri dalam melewati badai. Mazmur 121:3, “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.” Tuhan akan selalu menjagai kita dan memberkati kita apapun masalah dan keadaan kita asalkan kita mau hidup takut akan Tuhan. Have a nice day. Selamat pagi di hari Senin. Selamat beraktivitas. Jesus loves you... (Han Hartanto – PT. SAS, Solo)

Respon 6
Tuhan tidak menyukai sifat pemalas. Itu sebabnya manusia yang malas diperintahkan untuk belajar pada semut. Kemalasan bukan berasal dari Tuhan karena Dia bergerak & bekerja hingga kini atas anak-anak manusia. Pada sisi lain, susah payah & menghabiskan hampir seluruh waktu untuk bekerja juga bukan kehendak-Nya. Apalagi jika segala upaya membanting tulang itu didorong oleh berbagai kekuatiran atau bermacam ketamakan yang terselubung. Mazmur 127:2 mengatakan “Sia-sialah (segala susah payah itu)... — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Sia-sia. Ini berarti apapun yang kita lakukan dengan segala sudah payah di luar Tuhan sesungguhnya kurang atau bahkan tidak membawa manfaat apapun jika tiada Tuhan yang memberkati semuanya itu. Itu sebabnya ada orang yang mengumpulkan uang hanya untuk kemudian kehilangan kembali semuanya untuk biaya pengobatan. Banyak yang menyangka telah beroleh untung besar tapi apa yang akan terjadi di depan belum tentu seperti yang diharapkan. “Tuhan memberikan pada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”, ini bukan berarti dengan tidur & bermalas-malasan, berkat Tuhan mengalir. Ini memiliki 2 makna yang saling terkait satu sama lain: 1) Tuhan ingin anak-anakNya memiliki waktu tidur yang cukup, bukan menggunakan waktu untuk mencari harta dunia belaka. Ada jatah istirahat yang sehat bagi manusia & Tuhan ingin kita mengambil & menikmati saat-saat istirahat itu sebagai bagian dari kebaikan-Nya. 2) Keuntungan yang mungkin kita perkirakan bisa diperoleh dengan mengurangi waktu tidur adalah bagian Tuhan untuk menyediakannya. Bukan susah payah yang menjadikan orang sungguh-sungguh kaya, namun hidup dalam anugrah Tuhan (Ams. 10:22). Orang-orang kaya sejati adalah mereka yang menikmati hidup & membagikan apa yang dipunyainya secara bebas & dengan sukacita. Tuhan ingin hidup kita dijalani dengan suatu cara dimana kita dapat berjalan bersama Dia dalam rencana & kehendak-Nya yang sempurna di muka bumi. Seperti hidup Yesus. Hidup yang berdampak. Walau hanya singkat. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment