RICH FAMILY – POOR FAMILY
Setiap kita pasti
pernah mengalami KONFLIK, baik di tempat kerja, dengan pasangan, anak-anak,
teman / sahabat dll. Tapi satu hal yang harus dimiliki oleh semua orang adalah
bagaimana mengatasi konflik?? Firman Tuhan mengingatkan kita semua: Roma
12:17-18 (Ayat 17: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Ayat 18: “Sedapat-dapatnya,
kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”).
Sudahkah kita berani menghadapi & menyelesaikan konflik?? Hanya orang KUAT
yang berani membereskan konflik J. Ambil keputusan untuk segera
membereskan hati kita J. Bangun kembali hubungan yang rusak J.
Percayalah: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,
melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2
Timotius 1:7). Amin.
Respon 1
SAAT TEDUH. Senin,
2 Februari 2015. Penyesalan Terbesar. Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia,
melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia
mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan
tua-tua (Matius 27:3). Di Belgia pernah dilakukan survey terhadap warga berusia
60 tahun tentang penyesalan terbesar yang mereka rasakan. Hasilnya? Ternyata
72% menyesal karena mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik pada masa muda;
67% karena merasa salah memilih pekerjaan; 63% karena tidak mendidik anak
dengan benar; 58% karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan; dan 11%
karena tidak memiliki cukup banyak uang. Ketika kita sadar telah mengambil
langkah yang keliru, kita menyesal. Ketika kita sadar telah melakukan hal yang
salah, kita menyesal. Ketika kita harus menerima konsekuensi atas suatu
perbuatan dosa, kita menyesal. Setiap orang pernah melakukan hal yang keliru
dan membuatnya menyesal. Tetapi, tidak semua orang mampu belajar dari kesalahan
dan penyesalannya. Banyak orang menyesali perbuatannya, tetapi mereka tidak
segera memperbaiki pola hidupnya yang salah. Akibatnya, seperti kata pepatah,
penyesalan selalu datang terlambat. Yudas juga menyesali kekeliruannya. Sayang,
ia memilih jalan bunuh diri untuk membayar kesalahannya. Tidak sedikit orang
menunjukkan penyesalannya dengan cara yang salah. Sesungguhnya, penyesalan
adalah sebuah kesempatan dan anugerah Allah! Masing-masing kita tentu pernah
membuat kesalahan dan hal itu menimbulkan rasa bersalah di dalam hati. Allah
menghargai penyesalan kita dan Dia sanggup memakai kesalahan itu untuk
menyatakan rencana-Nya yang besar dalam hidup kita. Anugerah-Nya tetap tersedia
untuk kita! PENYESALAN ADALAH KESEMPATAN BAGI ALLAH UNTUK MENCURAHKAN ANUGERAH
PENGAMPUNAN DAN MEMULIHKAN HIDUP KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
(Madam Ossy)
Respon 2
Senin, 2 Februari
2015. Bacaan: Keluaran 14:1-14. Setahun: Imamat 4-6. Nats: Janganlah takut,
berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya
hari ini kepadamu (Keluaran 14:13). TAK PERNAH SALAH. Ada yang berkata ketika
kita mengikuti Tuhan, jalan kita pasti lurus dan tidak menemui hambatan.
Nyatanya, yang terjadi sering kali justru sebaliknya. Perjalanan kita malah
terasa rumit. Kita tidak sabar jika harus menunggu dan berharap dan tetap
percaya di tengah persoalan pelik yang membelit kita. Mengapa jalan Tuhan
sering tidak seperti yang kita inginkan? Melalui pembebasan bangsa Israel dari
perbudakan Mesir, Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa “tuntunan-Nya tidak
pernah salah”. Sekalipun Israel dituntun Tuhan menuju Laut Teberau yang, bagi
mereka, “bukan jalan keluar”, tapi itulah jalan yang Tuhan kehendaki. “Mereka
harus menyeberangi-nya!” kata Tuhan. Bayangkan, apa yang ada dalam benak mereka ketika
melihat laut itu di depan mata, sedangkan tentara Mesir mengejar di belakang
mereka? Mereka sangat ketakutan dan mempersalahkan Musa (ay. 10-12). Perlu
waktu sebelum mereka sadar bahwa Tuhan ingin menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya,
yang lebih dahsyat daripada kemegahan dan kekuatan tentara Mesir (ay. 18). Ya,
jalan Tuhan itu indah pada waktu-Nya. Untuk menguji hati kita, kadang Tuhan
menghadirkan tantangan di dalam perjalanan hidup kita. Itulah salah satu maksud
Tuhan membawa umat-Nya hingga Laut Teberau dan terdesak! Pada saat badai
masalah menghadang kita, apakah kita tetap percaya bahwa Dia selalu menyertai
hidup kita? Kita mungkin tidak memahami jalan-Nya, tetapi kita dapat percaya
bahwa jalan-jalan-Nya tidak pernah salah. --Samuel Yudi. TUHAN SELALU MENUNTUN
KITA DI JALAN YANG BENAR SEKALIPUN KITA MUNGKIN MENGANGGAPNYA SALAH.
Respon 3
“Satu ons aksi
lebih bermanfaat dan bermartabat ketimbang satu ton janji.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 4
Bersifat Emosional.
1 Sam 26:8, 2 Sam 16:9. Sudahkah kita belajar dari pengalaman, apakah hidup
kita berubah menjadi lebih baik ketika setiap kali kita bertemu dengan masalah
langsung emosi?? Menyelesaikan masalah dengan emosi ternyata membuat masalah
kita semakin bertambah, mengurangi damai sejahtera dan sukacita,membuat jantung
tidak sehat karena setiap kali emosi jantung berdetak lebih kencang sehingga
mempengaruhi jalannya seluruh tubuh dan yang terpenting lagi meninggalkan
jejak-jejak sakit hati dan kemarin di gereja dibahas menghambat hubungan kita
dengan TUHAN, membuat doa kita terhalang dan mencuri kebahagiaan kita. Pokoknya
nggak ada untungnya deh!!!!! Mari kita selalu minta kepada TUHAN agar Roh Kudus
selalu memberikan “Pengendalian Diri” kepada kita dan kita juga mau “belajar” mengendalikan
emosi. Amin. Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 5
Ketika uraian di
bawah ini ditunjukkan kepada Anda, hal apa yang muncul di benak Anda? Itu harus
disimpan seperti layaknya harta terpendam; dilindungi seperti menjaga biji
mata; diikatkan di tangan kita sehingga tak terpisahkan & selalu dapat kita
amat-amati; dituliskan di hati kita, dikasihi seperti layaknya saudara kandung;
diperhitungkan sebagai sanak saudara atau sahabat. Apakah yang dimaksud oleh
pernyataan-pernyataan di atas? Apakah sesuatu yang tampaknya begitu berharga
sehingga harus diperlakukan sedemikian? Amsal 7:1-4 memberitahukan kita bahwa
itu adalah hikmat yang berasal dari Tuhan. Lebih daripada apapun yang lain di
dunia, Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa hikmat adalah satu hal yang
tergolong paling berharga di dunia. Melebihi emas, perak, permata. Melebihi
kekayaan, kehormatan, umur panjang bahkan semua yang dapat diingini di dunia
(lihat Ams. 4:13-18). Hikmat bernilai sangat tinggi di mata Tuhan. Dunia
memandang tinggi kata-kata positif, ucapan-ucapan yang bermutu, nasihat-nasihat
dari orang tua & yang berpengalaman, bahkan ajaran-ajaran nenek moyang yang
nyata dalam berbagai tradisi yang ada di masyarakat khususnya masyarakat
Indonesia yang kaya warisan budaya leluhur. Banyak dari semuanya itu masih
dipegang & dipelihara hingga kini. Tanpa bermaksud mengecilkan semuanya
itu, hikmat yang dari Tuhan jauh lebih penting menjadi pedoman bagi hidup kita.
Hikmat sejati itu murni, suci & teruji. Jika ada warisan terbesar bagi anak
cucu, itulah hikmat. Jika kita ingin mengetahui jalan-jalan Tuhan, kita perlu
hikmat. Jika sukses sejati yang ingin kita raih maka kita butuh hikmat sejati.
Kita seharusnya menjadikan hikmat sebagai pengejaran kita, milik kita yang
paling berharga, sesuatu yang kita simpan & meteraikan di hati kita, yang
kita jadikan penuntun sepanjang perjalanan hidup kita. Miliki &
kumpulkanlah hikmat Tuhan. Dengan setiap hari belajar & merendahkan diri,
meneliti & mengoreksi hidup kita di hadapan Tuhan. Kiranya yang paling
berharga di dunia menjadi milik Anda! Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Respon 6
Syalom. Amin...
“Siapa berpegang pada perintah, memelihara nyawanya, tetapi siapa menghina
firman, akan mati.” (Amsal 19:16). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas,
TUHAN memberkati. (Bp. Oktovianus – Nabire)

No comments:
Post a Comment