Saturday, 7 February 2015

7 Februari 2015




RICH FAMILY – POOR FAMILY
 

Percaya kepada seseorang itu tidak mudah, butuh proses untuk membangun hubungan lebih lagi, sehingga timbul kepercayaan. Kisah Abisai yang sangat dipercaya oleh Raja Daud karena Abisai mempunyai dedikasi yang tinggi kepada Raja (Daud): 2 Samuel 20:6 & 10. Sebagai anak-anak Tuhan, apakah kita orang yang dapat dipercaya oleh atasan kita? Oleh rekan bisnis kita? Punyailah integritas (potensi, wibawa, kejujuran) & kompetensi, konsistensi, kesetiaan & keter-bukaan, sehingga kita menjadi orang-orang yang dapat dipercaya J.

Respon 1
“Hakikat puasa yang sesungguhnya adalah membangkitkan asa dan membinaskan dosa.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Sabtu, 7 Februari 2015. KETINGGALAN. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan (Wahyu 2:5). Ada pengalaman unik di perjalanan bisnis paman saya. Mobilnya berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Setelah tangki penuh, sopir segera membawa mobil melaju. Sementara paman tertinggal karena sedang berada di kamar kecil. Setibanya di tujuan barulah sopir itu menyadari bahwa atasannya tidak berada bersamanya di dalam mobil. Jemaat di Efesus boleh diacungi jempol untuk banyak hal. Ibarat kendaraan mereka melaju cukup kencang dengan tangki bahan bakar penuh. Dalam hal kegiatan, mereka tidak mengenal lelah. Kesediaan mereka dalam berkurban tidak perlu disangsikan. Pengajaran tidak perlu ditanya: mereka demikian kokoh. Sedikit saja ada ajaran sesat, langsung dibabat. Namun, Tuhan Yesus justru mencela mereka. Mengapa? Karena “penumpang utama” yang harus ada di tengah sebuah jemaat—yaitu kasih—justru tidak turut serta. Tertinggal jauh di belakang karena “...engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (ay. 4). Apa yang dilakukan oleh sopir paman saya tadi? Betul. Ia segera memutar kemudi menuju pom bensin untuk menjemput atasannya. Di tengah lajunya aktivitas pelayanan, gereja bisa kehilangan kasih. Begitu pun pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, kasih bisa saja pudar. Jika hal itu terjadi, Anda mutlak harus “memutar arah”. Bertobat. Berbalik arah. Segera kembali melakukan apa yang semula Anda lakukan (ay. 5): bertekun saling mengasihi. Bergegas “menjemput” kembali apa yang ketinggalan itu: kasih. Bersediakah Anda? TIDAK PERLU MALU UNTUK BELAJAR KEMBALI SALING MENGASIHI DARI AWAL, DARIPADA KASIH, SEBAGAI “PENUMPANG UTAMA” INI TERTINGGAL. Its weekend again... Morning all... Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya: “Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup...?” Sang Guru: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang!” Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun...???" Gibran: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi..!” Sambil tersenyum, Sang Guru berkata: “Ya, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.” Bila tak bisa memberi, jangan mengambil. Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci. Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih. Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit/memberatkannya. Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat. Bila tak bisa menghargai, jangan menghina. “JANGAN MENCARI KESEMPURNA-AN, tapi sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita.” (Suwandi Taruna – PT. Kalbe Farma Internasional)

Respon 4
2 Taw 15:7, Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada UPAH bagi USAHAmu! Jangan pernah menyerah, kerja keras, percayai DIA pasti menolong dan memberkatimu! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 5
MENJADI TELADAN DALAM HAL MEMBERI. Malam itu Alex pergi bersama dengan ayahnya. Mereka hendak membeli sebuah mainan yang pernah di janjikan oleh ayahnya pada Alex. Ketika hendak memasuki sebuah toko, ayah Alex melihat ada 2 orang anak kecil tidak jauh dari tempatnya sedang mengantri pada kios donat. Samar-samar didengarnya percakapan dua anak itu. “Dik, kau masih ingin makan donat itu?” “Iya, kak...” Anak yang lebih besar hanya terdiam sambil menghitung beberapa koin yang memang sangat tidak cukup untuk membeli 1 buah donat. Ketika 2 anak itu sudah tiba pada antrian pertama, tiba-tiba ayah Alex mendekat. “2 donat untuk anak ini,” katanya sambil menyerahkan 2 lembar uang kertas. Terlihat anak yang paling besar menangis & memeluk ayah Alex, “Terima kasih Om, 2 buah donat ini adalah berkat terbaik yang pernah saya terima.” Tak lama kemudian Alex menghampiri ayahnya. “Maaf Alex, rupanya ayah harus bekerja lebih keras lagi untuk membelikanmu mainan...” “Alex tidak lagi mengingini mainan itu, ayah. Alex sudah mempunyai yang lebih hebat, yaitu ayah.” Apakah memberi itu hanya berlaku pada saat kita memiliki banyak harta? Apakah memberi hanya akan kita lakukan saat kita bahagia? SESUNGGUHNYA PEMBERIAN yang BERARTI ADALAH MEMBERI SAAT KITA SENDIRI SEDANG BERADA DALAM MASA SUKAR. Di situlah kasih kita yang sesungguhnya sedang diuji. Untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain, janganlah menunggu ketika kehidupan kita sudah berkelimpahan. Jadilah berkat tanpa memandang kesukaran dalam hidup kita, karena pada saat kita memberi, maka Tangan TUHAN juga akan terbuka untuk kita. “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu.” (Ulangan 28:2). “SALAM PEMENANG”. (Megawati Taruna – Ciputra Golf)

Respon 6
Emas dan perak. Keduanya adalah logam-logam yang bernilai tinggi di pemandangan manusia. Benda-benda biasa ketika memiliki kandungan atau dilapisi oleh bahan-bahan tersebut akan menjadi sangat mahal melonjak jauh harganya -keduanya mengangkat nilai setiap benda yang dilekatinya menjadi sangat berharga. Itu sebabnya keduanya disebut sebagai logam mulia. Logam-logam itu memuliakan setiap benda yang memiliki unsur-unsur mereka, juga orang-orang yang memakai benda-benda terkait dengan itu. Dalam 2 Timotius 2:20-21 digambarkan perumpamaan mengenai perabot-perabot yang dipakai manusia: ada yang dipakai untuk maksud-maksud yang mulia, ada yang untuk kurang mulia. Maksud-maksud yang mulia berarti yang membawa banyak kemuliaan bagi pemiliknya, yang kurang mulia tidak membawa kehormatan bagi pemakainya. Yang mulia dibuat dari emas & perak, yang kurang mulia dari kayu & tanah. Seperti halnya manusia yang memandang berharga menggunakan alat-alat dari emas & perak, pula Dia rindu menggunakan bahan-bahan yang sama: kualitas-kualitas emas & perak dalam hidup rohani kita. Tuhan bisa menjadikan siapa saja dari kita menjadi alat bagi kepentingan kerajaan-Nya. Tetapi Dia sungguh rindu kita memuliakan nama-Nya. Dia ingin menggunakan alat-alat dari bahan-bahan terbaik! Semakin murni emas, makin mahal harganya. Tanpa pemurnian, logam-logam itu belum bernilai begitu tingginya. Diperlukan suatu proses pemurnian, pencetakan hingga pembentukan yang panjang ditambah dengan sentuhan seni yang tinggi untuk menjadikannya sangat berharga & ribuan kali lipat lebih mahal. Setiap kita yang rindu menjadi alat kemuliaan Tuhan harus menyerahkan dirinya dengan segala kerelaan (2 Tim. 2:21), bukan paksaan: untuk diproses, dimurnikan, dijadikan layak bagi Tuan Agung itu hingga siap dipakai menyinarkan kemuliaan sang raja di atas segala raja. Kerinduan kita menentukan apakah kita akan menjalani & bagaimana kita akan menjalani proses pemurnian Tuhan. Saat hati & hidup kita dimurnikan dalam segala bidang, kita akan siap menjadi alat kemuliaan-Nya. Andakah orangnya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment