Saturday, 21 February 2015

21 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




1 Korintus 13:4-6, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” Apa yang kita BERIKAN kepada sesama itu adalah cerminan KASIH kita kepada-Nya (Waktu? Talenta? Harta?). Apapun yang kita berikan dari HATI yang MENGASIHI adalah sesuatu yang INDAH bagi DIA. Kita mengasihi sesama karena ada KASIH KRISTUS yang mengasihi kita, hati yang sehat akan berlimpah dengan kasihNya. Amin.

Respon 1
“Tanpa memberi sesuatu kita disebut benalu.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Sabtu, 21 Februari 2015. Pujian untuk Ibuku. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua (Amsal 31:28-29). Saya tertarik membaca ungkapan hati Dena Dyer tentang ibunya. Ia menulis, “Ibu belum pernah ikut lari maraton, namun tengah malam ia bisa lari ke toko membeli obat ketika aku sakit. Ibu belum pernah bekerja di luar rumah, namun ia menjadikan rumah kami seperti oasis. Ibu adalah panutanku. Ibu menyeka begitu banyak air mata ketika aku menghadapi masalah dengan anak laki-laki, menenangkanku ketika aku bermimpi buruk, dan melantunkan ribuan doa untukku. Aku sudah berkali-kali memberi tahu ibu: dialah pahlawanku. Aku tersenyum senang jika orang berkata aku mirip ibuku karena aku tidak ingin mirip siapa pun di dunia ini selain ibuku.”  Berapa sering anak kita memberikan pernyataan yang tulus dengan menyebut ibunya sebagai orang yang berbahagia? Bukan pernyataan yang dibuat-buat, melainkan lahir dari pengalaman anak dalam kehidupan rumah tangga, dalam melihat sikap dan perilaku seorang ibu di tengah keluarga. Penulis kitab Amsal menyebutkan bahwa istri yang takut akan Tuhan merupakan modal penting dalam rumah tangga yang berbahagia. Ia menjadi kebanggaan dan membangkitkan sukacita bagi suami dan anak-anaknya. Sungguh besar peran seorang ibu di tengah-tengah keluarga kita. Mereka dipanggil Tuhan menjadi penolong bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka. Ketika badai menerpa perahu kehidupan rumah tangga, para ibu diharapkan tetap berdiri dengan iman yang teguh, mendukung sang suami dan menenangkan anak-anak. Mari kita meluangkan waktu untuk berdoa bagi para ibu. PEREMPUAN YANG CAKAP DAN TAKUT AKAN TUHAN MENDATANGKAN BERKAT BAGI SUAMI DAN ANAK-ANAKNYA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Terima kasih Tante Siu siang, ayat favorit saya itu J. (Billy Darmawan – Komsel U)

Respon 4
Mat 21:22, ‘Dan apa saja yang kamu MINTA dalam DOA dengan penuh KEPERCAYAAN, kamu akan MENERIMAnya!’ YESUS pasti menjawab doamu. Uenakk Tenan. Yukk DOA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.



Respon 5
Tinggal di dalam Kristus. (1) Perintah Tuhan yang pertama adalah: “ikutlah Aku” (Mat 4:19) kepada calon murid-muridNya. Ini juga perintah bagi kita yang dahulu berada di luar Kristus. Sebagai orang berdosa, kita perlu datang kepada Kristus dengan iman untuk memperoleh pengampunan dosa (Roma 3:28). Setelah kita menjadi orang percaya dan murid Kristus, Dia memberikan perintah sesaat sebelum penyalibanNya: “Tinggallah di dalam Aku” (Yoh 15:4). Bukan ‘tinggallah didekat-Ku’ atau ‘tinggallah disampingKu’, namun ‘tinggallah di dalam Aku’ (Kristus Yesus). Ini pararel dengan kebenaran: bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Ternyata kebenaran kedua ini banyak dilalaikan oleh orang percaya/murid Tuhan. Pola hidup seperti apa yang kita terapkan setelah kita datang dan mengikuti Kristus sebagai dan menjadi anak-anak Allah/murid Kristus? Tuhan memberikan perintah yang jelas: “Tinggallah di dalam Aku, sama seperti ranting yang tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri.kalau ia tidak TINGGAL pada pokok anggur” (Yoh 15:4). Keberhasilan kita melakukan kehendak Tuhan bukan berdasarkan usaha keras kita di luar Dia karena kita sebagai ranting tidak bisa berbuah / menghasilkan buah kalau tidak melekat/tinggal dalam pokok anggur yaitu Kristus sendiri sebagai sumbernya. Sekalipun banyak yang bisa kita perbuat, tapi bila kita tidak hidup didalam Dia, kita hanya mengeluarkan hasil perbuatan yang tidak ada artinya di mata Allah / pengusaha kebun anggur. Karena diluar Kristus sebenarnya kita tidak dapat berbuat apa apa. Sudahkah kita menerapkan pola hidup tinggal di dalam Kristus dalam kehidupan kita sehari hari setelah menjadi orang percaya? Apakah dan bagaimanakah pola hidup tinggal didalam Kristus itu? Kita akan pelajari dalam renungan berikutnya. Tuhan memberkati. Amin. (Taswin Taruna – PT. SMU)

Respon 6
Syalom. Amin... “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ‘Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu.” (Amsal 3:28). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN selalu memberkati. (Bp. Oktovianus – Nabire)

Respon 7
Ada kalanya terasa begitu lama datangnya jawaban Tuhan. Dia yang disebut peduli & tidak akan menunda menolong anak-anakNya tampak tidak kunjung melakukan sesuatu. Kita mulai lelah menunggu & mulai bertanya-ranya masihkah perlu berharap pada-Nya? Mengapa Allah sepertinya membisu? Mengenai ini, ada 2 orang wanita yang dicatat oleh Alkitab pernah menghadapi pergumulan yang sama. Dalam 1 Samuel 1, Hana harus menghadapi kesedihan & sakit hati yang semakin menyiksa tahun demi tahun. Anak yang diharapkannya tidak juga diberikan oleh Tuhan sedangkan istri kedua suaminya terus merendahkannya. Mengapa tahun-rahun berlalu seolah Tuhan tidak peduli pada penderitaan Hana? Dalam Matius 15:21-28, ada kisah perempuan Kanaan yang minta kesembuhan pada Yesus untuk anaknya yang kerasukan setan. Yesus semula malah tidak menggubrisnya sama sekali! Reaksi Yesus selanjutnya adalah penolakan dengan kata-kata bernada merendahkan. Mengapa Yesus tidak langsung menolong perempuan ini seperti yang banyak kali dilakukan-Nya pada yang lain? Kisah yang berbeda tapi menyiratkan pesan yang sama. Seperti yang diungkapkan dalam Lukas 18:1-8, Tuhan mencari pertama-tama iman, lalu ketekunan dalam doa sebagai bukti keteguhan iman itu. Kita harus mengetahui tidak semua iman itu sama & tidak setiap kepercayaan pada Tuhan melahirkan mujizat. Seperti Hana yang sampai pada titik kebulatan iman dimana ia tidak lagi setengah-setengah menaruh pengharapannya pada Tuhan, pula perempuan Kanaan yang tidak goyah keyakinannya semata-mata pada Yesus meski yang diharapkannya ta memberi dia harapan -demikianlah Tuhan menanti iman yang sedemikian untuk mengadakan sesuatu yang mustahil dalam hidup Anda. Jadi, jika Anda memohon, mintalah dengan segala iman. Iman yang dangkal berhenti & berpindah saat belum tampak jawaban. Iman yang sungguh-sungguh justru semakin kuat tak tergoyahkan saat menaikkan doa dalam ketekunan waktu demi waktu. Bagaimana dengan iman & ketekunan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment