RICH FAMILY – POOR FAMILY
1 Korintus 13:4-6, “Kasih
itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan
tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan
diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia
tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” Apa yang
kita BERIKAN kepada sesama itu adalah cerminan KASIH kita kepada-Nya (Waktu?
Talenta? Harta?). Apapun yang kita berikan dari HATI yang MENGASIHI adalah
sesuatu yang INDAH bagi DIA. Kita mengasihi sesama karena ada KASIH KRISTUS
yang mengasihi kita, hati yang sehat akan berlimpah dengan kasihNya.
Amin.
Respon 1
“Tanpa memberi sesuatu kita disebut benalu.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Sabtu, 21 Februari 2015. Pujian untuk Ibuku. Anak-anaknya
bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita
telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua (Amsal 31:28-29). Saya
tertarik membaca ungkapan hati Dena Dyer tentang ibunya. Ia menulis, “Ibu belum
pernah ikut lari maraton, namun tengah malam ia bisa lari ke toko membeli obat
ketika aku sakit. Ibu belum pernah bekerja di luar rumah, namun ia menjadikan
rumah kami seperti oasis. Ibu adalah panutanku. Ibu menyeka begitu banyak air
mata ketika aku menghadapi masalah dengan anak laki-laki, menenangkanku ketika
aku bermimpi buruk, dan melantunkan ribuan doa untukku. Aku sudah berkali-kali
memberi tahu ibu: dialah pahlawanku. Aku tersenyum senang jika orang berkata
aku mirip ibuku karena aku tidak ingin mirip siapa pun di dunia ini selain
ibuku.” Berapa sering anak kita
memberikan pernyataan yang tulus dengan menyebut ibunya sebagai orang yang
berbahagia? Bukan pernyataan yang dibuat-buat, melainkan lahir dari pengalaman
anak dalam kehidupan rumah tangga, dalam melihat sikap dan perilaku seorang ibu
di tengah keluarga. Penulis kitab Amsal menyebutkan bahwa istri yang takut akan
Tuhan merupakan modal penting dalam rumah tangga yang berbahagia. Ia menjadi
kebanggaan dan membangkitkan sukacita bagi suami dan anak-anaknya. Sungguh
besar peran seorang ibu di tengah-tengah keluarga kita. Mereka dipanggil Tuhan
menjadi penolong bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka. Ketika badai menerpa
perahu kehidupan rumah tangga, para ibu diharapkan tetap berdiri dengan iman
yang teguh, mendukung sang suami dan menenangkan anak-anak. Mari kita
meluangkan waktu untuk berdoa bagi para ibu. PEREMPUAN YANG CAKAP DAN TAKUT
AKAN TUHAN MENDATANGKAN BERKAT BAGI SUAMI DAN ANAK-ANAKNYA. Selamat pagi.
Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Terima kasih Tante Siu siang, ayat favorit saya itu J.
(Billy Darmawan – Komsel U)
Respon 4
Mat 21:22, ‘Dan apa saja yang kamu MINTA dalam DOA dengan penuh
KEPERCAYAAN, kamu akan MENERIMAnya!’ YESUS pasti menjawab doamu. Uenakk Tenan.
Yukk DOA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 5
Tinggal di dalam Kristus. (1) Perintah Tuhan yang pertama adalah:
“ikutlah Aku” (Mat 4:19) kepada calon murid-muridNya. Ini juga perintah bagi
kita yang dahulu berada di luar Kristus. Sebagai orang berdosa, kita perlu
datang kepada Kristus dengan iman untuk memperoleh pengampunan dosa (Roma
3:28). Setelah kita menjadi orang percaya dan murid Kristus, Dia memberikan perintah
sesaat sebelum penyalibanNya: “Tinggallah di dalam Aku” (Yoh 15:4). Bukan
‘tinggallah didekat-Ku’ atau ‘tinggallah disampingKu’, namun ‘tinggallah di
dalam Aku’ (Kristus Yesus). Ini pararel dengan kebenaran: bahwa orang benar
akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Ternyata kebenaran kedua ini banyak
dilalaikan oleh orang percaya/murid Tuhan. Pola hidup seperti apa yang kita
terapkan setelah kita datang dan mengikuti Kristus sebagai dan menjadi
anak-anak Allah/murid Kristus? Tuhan memberikan perintah yang jelas:
“Tinggallah di dalam Aku, sama seperti ranting yang tidak dapat berbuah dari
dirinya sendiri.kalau ia tidak TINGGAL pada pokok anggur” (Yoh 15:4).
Keberhasilan kita melakukan kehendak Tuhan bukan berdasarkan usaha keras kita
di luar Dia karena kita sebagai ranting tidak bisa berbuah / menghasilkan buah
kalau tidak melekat/tinggal dalam pokok anggur yaitu Kristus sendiri sebagai
sumbernya. Sekalipun banyak yang bisa kita perbuat, tapi bila kita tidak hidup
didalam Dia, kita hanya mengeluarkan hasil perbuatan yang tidak ada artinya di
mata Allah / pengusaha kebun anggur. Karena diluar Kristus sebenarnya kita
tidak dapat berbuat apa apa. Sudahkah kita menerapkan pola hidup tinggal di
dalam Kristus dalam kehidupan kita sehari hari setelah menjadi orang percaya?
Apakah dan bagaimanakah pola hidup tinggal didalam Kristus itu? Kita akan
pelajari dalam renungan berikutnya. Tuhan memberkati. Amin. (Taswin Taruna –
PT. SMU)
Respon 6
Syalom. Amin... “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ‘Pergilah
dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu.” (Amsal
3:28). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN selalu memberkati.
(Bp. Oktovianus – Nabire)
Respon 7
Ada kalanya terasa begitu lama datangnya jawaban Tuhan. Dia yang
disebut peduli & tidak akan menunda menolong anak-anakNya tampak tidak
kunjung melakukan sesuatu. Kita mulai lelah menunggu & mulai bertanya-ranya
masihkah perlu berharap pada-Nya? Mengapa Allah sepertinya membisu? Mengenai
ini, ada 2 orang wanita yang dicatat oleh Alkitab pernah menghadapi pergumulan
yang sama. Dalam 1 Samuel 1, Hana harus menghadapi kesedihan & sakit hati
yang semakin menyiksa tahun demi tahun. Anak yang diharapkannya tidak juga
diberikan oleh Tuhan sedangkan istri kedua suaminya terus merendahkannya.
Mengapa tahun-rahun berlalu seolah Tuhan tidak peduli pada penderitaan Hana?
Dalam Matius 15:21-28, ada kisah perempuan Kanaan yang minta kesembuhan pada
Yesus untuk anaknya yang kerasukan setan. Yesus semula malah tidak
menggubrisnya sama sekali! Reaksi Yesus selanjutnya adalah penolakan dengan
kata-kata bernada merendahkan. Mengapa Yesus tidak langsung menolong perempuan
ini seperti yang banyak kali dilakukan-Nya pada yang lain? Kisah yang berbeda
tapi menyiratkan pesan yang sama. Seperti yang diungkapkan dalam Lukas 18:1-8,
Tuhan mencari pertama-tama iman, lalu ketekunan dalam doa sebagai bukti
keteguhan iman itu. Kita harus mengetahui tidak semua iman itu sama & tidak
setiap kepercayaan pada Tuhan melahirkan mujizat. Seperti Hana yang sampai pada
titik kebulatan iman dimana ia tidak lagi setengah-setengah menaruh
pengharapannya pada Tuhan, pula perempuan Kanaan yang tidak goyah keyakinannya
semata-mata pada Yesus meski yang diharapkannya ta memberi dia harapan
-demikianlah Tuhan menanti iman yang sedemikian untuk mengadakan sesuatu yang
mustahil dalam hidup Anda. Jadi, jika Anda memohon, mintalah dengan segala
iman. Iman yang dangkal berhenti & berpindah saat belum tampak jawaban.
Iman yang sungguh-sungguh justru semakin kuat tak tergoyahkan saat menaikkan
doa dalam ketekunan waktu demi waktu. Bagaimana dengan iman & ketekunan
Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment