Sunday, 22 February 2015

22 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Yeremia 17:5, “Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!’” L Siapa yang kita andalkan dalam hidup ini? Suami kita? Anak-anak kita? Atau owner perusahaan dimana kita bekerja? Seringkali mereka yang kita andalkan dalam dunia ini bisa mengecewakan kita. Sebagai anak-anak Tuhan mari belajar menaruh pengharapan kita kepada Tuhan. Kebaikan manusia tebatas, kasih Tuhan tanpa syarat sepanjang masa. Yeremia 17:7, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Amin J. Jadikan Tuhan sebagai SATU-SATUNya PILIHAN (tempat kita berharap) & bukan kepada yang lain J.

Respon 1
“Belajar mengampuni pasangan adalah langkah yang baik untuk hidup nikah.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu, 22 Februari 2015. Gara-Gara Kita. Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel (Yosua 7:1). Sebuah kendaraan menerobos sebuah kios pangkas rambut. Kejadian di sudut kota Anchorage, Alaska, AS, itu nyaris merenggut nyawa pemilik kios, Heng Song, dan dua pelanggannya. Heng Song terperangah ketika hal itu terjadi saat ia sedang asyik memotong rambut seorang pelanggan. “Baru separuh potong rambut dan bum!” katanya. Akibat kelalaian si sopir, hampir saja ia membuat nyawa orang lain melayang. Meskipun selamat, tetap saja si pemilik kios menderita kerugian. Peristiwa di atas adalah kecelakaan. Alkitab mencatat kejadian yang lebih parah: kesengajaan. Suatu ketika Yosua memerintahkan pasukannya untuk menyerang Kota Ai. Sebelumnya, mereka menyelidiki kota itu dengan saksama. Saat mengetahui bahwa kota yang akan diserang itu sebuah kota kecil, mereka memutuskan untuk tidak mengerahkan terlalu banyak prajurit. Tetapi, siapa sangka, pasukan kota kecil itu justru sanggup mengalahkan mereka. Yosua terpukul dengan kekalahan tersebut. Sampai akhirnya Allah memberitahukan penyebabnya. Akhan dari suku Yehuda mengambil barang yang dikhususkan untuk Allah. Itu merupakan dosa dan pelanggaran terhadap perjanjian-Nya. Maka, Allah murka dan tidak menyertai peperangan mereka. Lihatlah, gara-gara ulah satu orang, umat Allah yang tidak mengerti duduk perkaranya mesti menanggung akibatnya. Kesalahan satu orang dapat berdampak pada banyak orang lain. Kalau berupa kecelakaan, memang tak terelakkan. Namun, kiranya kita tidak secara sengaja melakukan pelanggaran dan mencelakakan sesama. BERTINDAK HATI-HATI DAPAT MELINDUNGI DIRI SENDIRI DAN SESAMA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
NEKAT. “Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.’ Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu - dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya - ia memanggil mempelai laki-laki.” (Yohanes 2:8-9). Mujizat di Kana, menampilkan beberapa tokoh. Tapi menurut saya, para pelayan itulah yang “pahlawan” iman yang dahsyat. Tentu Yesus tetap “pusat” dari semuanya. Namun “kenekatan” dan “kegilaan” para pelayan dalam “menuruti” perintah Tuhan, itu amat menakjubkan. Mencedok air dalam tempayan dan membawanya ke pemimpin pesta? Tanpa berbantah atau bertanya?? Ah... Masihkah Tuhan Yesus punya orang-orang “nekat” seperti ini sebagai pelayan-Nya? Kita sudah terlalu pandai dan berpengalaman sehingga “kenekatan” kita sudah lenyap atau pudar. Kepahlawanan iman seringkali sudah menjadi sejarah masa lalu hidup kita, tanpa pernah ada lagi hari ini. Padahal kebutuhan untuk mempunyai pelayan-pelayan yang “nekat” seperti Kana justru makin banyak. Happy Sunday sisters... Gbu! (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 4
Berbicara lebih mendalam mengenai jawaban doa-doa pribadi kita, masih ada satu hal penting lainnya yang perlu kita pahami. Harus diakui, banyak kali ini merupakan bagian yang paling sukar dimengerti. Kita semestinya menyadarinya, Kitab Suci mencatat ada permohonan yang baik, dinaikkan dalam iman hingga berkali-kali (dalam ketekunan), oleh hamba-hamba Tuhan pilihan yang sangat dikasihi Tuhan tetapi permohonan mereka tidak dikabulkan oleh Tuhan. Musa beberapa kali berdoa supaya beroleh kesempatan masuk Tanah Perjanjian tapi bahkan Tuhan tidak ingin Musa berbicara lagi-lagi tentang hal itu (Ula. 3:23-26). Rasul Paulus pun meminta tiga kali untuk dibebaskan dari apa yang disebutnya ‘duri dalam daging’, tetapi Tuhan memilih tidak menjawabnya (2 Kor 12:7-10). Dan tidak kurang, Yesus pun berdoa tiga kali supaya ‘cawan itu lalu daripada-Ku’ tapi adalah kehendak & keputusan Bapa untuk tidak mengabulkan doa itu. Tidakkah permohonan mereka itu baik, wajar, tidak muluk-muluk & dapat diterima dari sisi manapun? Bukankah -sekali lagi- permohonan untuk mendapatkan keturunan, bertemu pasangan hidup, sembuh dari sakit & diberikan umur panjang adalah sesuatu yang baik kita pintakan? Dari contoh-contoh di atas, kita sedikit banyak harus tahu & sadar bahwa Tuhan bukanlah mesin yang dengan petunjuk manual, formula-formula khusus & pernyataan-pernyataan deklarasi iman tertentu begitu saja menghadirkan apa yang kita doakan itu. Dia adalah pribadi sempurna yang mengetahui masa lalu, kini & hari depan, sosok penuh hikmat pengetahuan akan segala sesuatu. Dia pun mengenal kita & memiliki rencana atas kita, keluarga, bahkan bangsa kita. Kita memiliki angan-angan pribadi, rencana & cara yang menurut kita terbaik. Tetapi yang terbaik tetaplah kehendak Bapa. Biarlah kita mengambil sikap seperti Yesus. Kita harus mengenal lebih dalam rencana-Nya, mendengarkan isi hati-Nya, lalu berserah, “Bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu!” Yang terbaik dari Tuhan akan menjadi bagian Anda saat Anda menyelami kehendak & rencana-Nya dalam hidup Anda. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment