RICH FAMILY – POOR FAMILY
Yeremia 17:5, “Beginilah
firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan
kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!’” L Siapa yang kita
andalkan dalam hidup ini? Suami kita? Anak-anak kita? Atau owner
perusahaan dimana kita bekerja? Seringkali mereka yang kita andalkan dalam
dunia ini bisa mengecewakan kita. Sebagai anak-anak Tuhan mari belajar menaruh
pengharapan kita kepada Tuhan. Kebaikan manusia tebatas, kasih Tuhan tanpa
syarat sepanjang masa. Yeremia 17:7, “Diberkatilah orang yang mengandalkan
TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Amin J.
Jadikan Tuhan sebagai SATU-SATUNya PILIHAN (tempat kita berharap) & bukan
kepada yang lain J.
Respon 1
“Belajar mengampuni pasangan adalah langkah yang baik untuk hidup
nikah.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu, 22 Februari 2015. Gara-Gara Kita. Tetapi orang
Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu,
karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu
dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap
orang Israel (Yosua 7:1). Sebuah kendaraan menerobos sebuah kios pangkas
rambut. Kejadian di sudut kota Anchorage, Alaska, AS, itu nyaris merenggut
nyawa pemilik kios, Heng Song, dan dua pelanggannya. Heng Song terperangah
ketika hal itu terjadi saat ia sedang asyik memotong rambut seorang pelanggan.
“Baru separuh potong rambut dan bum!” katanya. Akibat kelalaian si sopir,
hampir saja ia membuat nyawa orang lain melayang. Meskipun selamat, tetap saja
si pemilik kios menderita kerugian. Peristiwa di atas adalah kecelakaan.
Alkitab mencatat kejadian yang lebih parah: kesengajaan. Suatu ketika Yosua
memerintahkan pasukannya untuk menyerang Kota Ai. Sebelumnya, mereka
menyelidiki kota itu dengan saksama. Saat mengetahui bahwa kota yang akan
diserang itu sebuah kota kecil, mereka memutuskan untuk tidak mengerahkan
terlalu banyak prajurit. Tetapi, siapa sangka, pasukan kota kecil itu justru
sanggup mengalahkan mereka. Yosua terpukul dengan kekalahan tersebut. Sampai
akhirnya Allah memberitahukan penyebabnya. Akhan dari suku Yehuda mengambil
barang yang dikhususkan untuk Allah. Itu merupakan dosa dan pelanggaran
terhadap perjanjian-Nya. Maka, Allah murka dan tidak menyertai peperangan
mereka. Lihatlah, gara-gara ulah satu orang, umat Allah yang tidak mengerti
duduk perkaranya mesti menanggung akibatnya. Kesalahan satu orang dapat
berdampak pada banyak orang lain. Kalau berupa kecelakaan, memang tak
terelakkan. Namun, kiranya kita tidak secara sengaja melakukan pelanggaran dan
mencelakakan sesama. BERTINDAK HATI-HATI DAPAT MELINDUNGI DIRI SENDIRI DAN
SESAMA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
NEKAT. “Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Sekarang cedoklah dan bawalah
kepada pemimpin pesta.’ Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu
mengecap air, yang telah menjadi anggur itu - dan ia tidak tahu dari mana
datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya - ia
memanggil mempelai laki-laki.” (Yohanes 2:8-9). Mujizat di Kana, menampilkan
beberapa tokoh. Tapi menurut saya, para pelayan itulah yang “pahlawan” iman
yang dahsyat. Tentu Yesus tetap “pusat” dari semuanya. Namun “kenekatan” dan
“kegilaan” para pelayan dalam “menuruti” perintah Tuhan, itu amat menakjubkan.
Mencedok air dalam tempayan dan membawanya ke pemimpin pesta? Tanpa berbantah
atau bertanya?? Ah... Masihkah Tuhan Yesus punya orang-orang “nekat” seperti
ini sebagai pelayan-Nya? Kita sudah terlalu pandai dan berpengalaman sehingga
“kenekatan” kita sudah lenyap atau pudar. Kepahlawanan iman seringkali sudah
menjadi sejarah masa lalu hidup kita, tanpa pernah ada lagi hari ini. Padahal
kebutuhan untuk mempunyai pelayan-pelayan yang “nekat” seperti Kana justru
makin banyak. Happy Sunday sisters... Gbu! (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 4
Berbicara lebih mendalam mengenai jawaban doa-doa pribadi kita, masih
ada satu hal penting lainnya yang perlu kita pahami. Harus diakui, banyak kali
ini merupakan bagian yang paling sukar dimengerti. Kita semestinya
menyadarinya, Kitab Suci mencatat ada permohonan yang baik, dinaikkan dalam
iman hingga berkali-kali (dalam ketekunan), oleh hamba-hamba Tuhan pilihan yang
sangat dikasihi Tuhan tetapi permohonan mereka tidak dikabulkan oleh Tuhan.
Musa beberapa kali berdoa supaya beroleh kesempatan masuk Tanah Perjanjian tapi
bahkan Tuhan tidak ingin Musa berbicara lagi-lagi tentang hal itu (Ula.
3:23-26). Rasul Paulus pun meminta tiga kali untuk dibebaskan dari apa yang
disebutnya ‘duri dalam daging’, tetapi Tuhan memilih tidak menjawabnya (2 Kor
12:7-10). Dan tidak kurang, Yesus pun berdoa tiga kali supaya ‘cawan itu lalu
daripada-Ku’ tapi adalah kehendak & keputusan Bapa untuk tidak mengabulkan
doa itu. Tidakkah permohonan mereka itu baik, wajar, tidak muluk-muluk &
dapat diterima dari sisi manapun? Bukankah -sekali lagi- permohonan untuk
mendapatkan keturunan, bertemu pasangan hidup, sembuh dari sakit &
diberikan umur panjang adalah sesuatu yang baik kita pintakan? Dari
contoh-contoh di atas, kita sedikit banyak harus tahu & sadar bahwa Tuhan
bukanlah mesin yang dengan petunjuk manual, formula-formula khusus &
pernyataan-pernyataan deklarasi iman tertentu begitu saja menghadirkan apa yang
kita doakan itu. Dia adalah pribadi sempurna yang mengetahui masa lalu, kini
& hari depan, sosok penuh hikmat pengetahuan akan segala sesuatu. Dia pun
mengenal kita & memiliki rencana atas kita, keluarga, bahkan bangsa kita.
Kita memiliki angan-angan pribadi, rencana & cara yang menurut kita
terbaik. Tetapi yang terbaik tetaplah kehendak Bapa. Biarlah kita mengambil
sikap seperti Yesus. Kita harus mengenal lebih dalam rencana-Nya, mendengarkan
isi hati-Nya, lalu berserah, “Bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu!” Yang
terbaik dari Tuhan akan menjadi bagian Anda saat Anda menyelami kehendak &
rencana-Nya dalam hidup Anda. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment