Tuesday, 3 February 2015

3 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Bertanya Sebelum Bertindak. Teladan dari sikap Abisai yang menghormati Raja Daud yaitu dia selalu meminta ijin / bertanya terlebih dahulu sebelum bertindak (Baca: 1 Samuel 26:8; 2 Samuel 3:30,16:9-11,19:21). Sebagai anak-anak Tuhan sudahkah kita bertanya kepada Tuhan sebelum kita mengambil keputusan-keputusan penting yang akan mempengaruhi jalan hidup kita?? Mintalah senantiasa tuntunanNya agar kita bertindak sesuai kehendakNya & jalan kitapun akan terarah. Amin J.

Respon 1
“Ibadah yang berkenan bagi Tuhan diawali dengan kerinduan, bukan kewajiban.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Selasa, 3 Februari 2015. Berubah Sebagai Anak. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14). Craig Barnes, pendeta National Presbyterian Church, Washington DC, bercerita bahwa ketika ia masih kecil, ayahnya mengangkat seorang anak lelaki bernama Roger. Orang tua Roger pecandu narkoba dan meninggal karena overdosis. Dalam keluarga Craig, Roger harus berjuang untuk berubah. Kerap Craig mendengar ayahnya berkata, “Roger, kita tidak bersikap begitu dalam keluarga ini... Roger, anak dalam keluarga ini tidak perlu menjerit-jerit untuk meminta sesuatu... Roger, kita biasa saling menghargai” Lama kelamaan ia berubah-ia berpikir, bersikap, bertingkah laku seperti anggota keluarga yang lain. Sebagai orang yang diangkat anak oleh Bapa surgawi (ay. 14-16), kita perlu tahu sifat dan watak keluarga baru kita, dan mengalami perubahan demi perubahan yang selaras dengan kebaruan itu. Dalam hal apa sajakah kita berubah? Dulu kita menaati “daging”, kini kita menaati Roh Tuhan (ay. 4). Dulu kita memikirkan apa yang enak buat diri sendiri, kini kita memikirkan apa yang sejalan dengan pikiran Roh Tuhan (ay. 5). Dulu kita mengingini hal-hal duniawi, kini kita mengingini apa yang berkenan kepada Tuhan (ay. 6-7). Saat Roger baru saja memasuki keluarga baru, bisa saja ia tak nyaman karena segalanya berbeda. Namun ketika ia rela menerima nasihat dan bimbingan orang tua barunya, ia dapat memiliki cara hidup yang baru. Demikian pula kita dalam memasuki keluarga Allah. Izinkan Roh Tuhan bertakhta, memimpin, dan mengubahkan kita menjadi anak-Nya yang semakin dewasa! HANYA DENGAN BERGANTUNG PADA PIMPINAN ROH TUHAN, KITA BERTUMBUH DEWASA SEBAGAI ANAK-NYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Yer 29:12, Apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada TUHAN, maka TUHAN akan mendengarkanmu! Terima kasih YESUSku, doaku pasti ENGKAU jawab. Yukkk kita berdoa! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 4
1 Sam 26:8, Abisai memohon kepada Daud untuk membunuh Saul. Yang perlu kita contoh dari Abisai, walaupun ia memiliki power,saat itu menjadi pendamping raja tetapi ia tidak gegabah dalam bertindak, memiliki kerendahan hati untuk menerima masukan/pendapat dari orang lain, tidak merasa dirinya yang paling benar. Selain hati kita harus terbuka menerima masukan dari sesama, kita juga harus selalu bertanya kepada TUHAN dan selalu melibatkan TUHAN dalam segala aspek kehidupan kita, ketika kita mau mengambil keputusan dalam hal pekerjaan, study, jodoh, atau dalam hal menyelesaikan masalah-masalah / konflik-konflik dengan sesama. Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 5
Selasa, 3 Februari 2015. Bacaan: Yohanes 15:9-17. Setahun: Imamat 7-8. Nats: Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu (Yohanes 15:12). PERTOBATAN MINCAYE. Suku Waodani (Auca) di Ekuador terkenal pemarah dan suka membalas dendam. Mereka bisa saling membunuh dalam satu keluarga. Pada 1956, lima misionaris memberitakan Injil ke sana. Mereka disalahpahami dan mati ditikam tombak. Namun, keluarga para misionaris ini tidak menyerah. Mereka datang ke Ekuador dan melanjutkan pelayanan di sana. Salah satunya adalah Rachel Saint--kakak Nate Saint, seorang korban. Lewat pelayanan Rachel, suku Waodani mulai terbuka terhadap Injil. Mincaye adalah orang Waodani yang membunuh Nate Saint. Kepada Rachel, ia menyampaikan pengakuan. Ketika melihat para misionaris datang dengan membawa senapan, ia berpikir akan dibunuh. Maka, ia membunuh lebih dulu. Rachel menjelaskan bahwa para misionaris itu membawa senapan hanya untuk menakut-nakuti. Tapi, Rachel menjamin bahwa mereka sudah berjanji pada Tuhan untuk tidak menembak suku Waodani. Bahkan, mereka rela mati buat suku Waodani--jadi tak mungkin mereka akan membunuh. Hal ini menggetarkan hati Mincaye, dan membuatnya menerima Kristus! Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi. Pertanyaannya, seberapa besar kita harus mengasihi? Perhatikan standar ini: sebesar Kristus mengasihi kita (ay. 12). Ya, sebesar kerelaan-Nya melepas segala kenyamanan, mengurbankan raga, dan menyerahkan nyawa bagi kita (ay. 13). Adakah kita kadang merasa sudah cukup berkurban, lalu berhenti mengasihi? Adakah kita rela melepas kenyamanan demi mengasihi sesama? Adakah kasih kita menggetarkan hati sesama, dan membawanya kepada Kristus? --Agustina Wijayani. BERI AKU KEBERANIAN UNTUK MENGASIHI SESAMAKU SEPERTI ENGKAU MENGASIHIKU DENGAN MENYERAHKAN NYAWA-MU. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 6
1 Sam 26:8, 2 Sam 3:30 bercerita tentang Abisai yang begitu setia mendampingi Daud, dia sangat mengasihi rajanya, sehingga kalau ada orang yang memusuhi rajanya dia nggak sabar mau menghadapinya dan membunuhnya. Tapi meski begitu Abisai selalu bertanya pada Daud sebelum bertindak supaya apa yang dilakukan tidak salah dihadapan rajanya. Sikap ini harus kita contoh, setiap kali ingin melakukan tindakan kita harusnya rundingan sama Tuhan, menyerahkan semua rencana kita di hadapan Tuhan dan berserah pada tuntunan Tuhan. Selalu ada pertanyaan “gimana tahu Tuhan bilang boleh apa nggak?”. Firman Tuhan bilang “Aku adalah Gembala, domba-dombaku mengenal suaraKu”. Gembala itu setiap hari ngemong domba-dombanya, jadi dombanya kalau dipanggil atau diarahkan pasti dengar dan kenal suara gembalanya. Jadi supaya bisa dengar suara Tuhan ya harus bergaul setiap hari dengan Tuhan supaya hafal mana suara Tuhan, mana yang bukan. Libatkan Tuhan selalu dalam mengambil setiap keputusan kita, supaya kita tidak salah langkah dan intim dengan Tuhan supaya kita bisa dengar tuntunan Tuhan. Selamat pagi... (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 7
Amin. Dengan minta tuntunanNYA, hidup kita akan terarah ke jalan yang benar/terang. Sehingga kita tidak akan tersesat pada jalan yang gelap. Selain itu kita juga perlu minta petunjuk / pendapat / saran pada orang-orang yang tepat, seperti yang aku alami selama ini, dimana aku juga pernah minta saran dari Tacik. Selamat siang, thank you and Jbu all too. (Ibu Sintawati – CL 3)

Respon 8
Ratu Ester tersentak. Kedatangan Mordekhai, pamannya, yang memberitahukan bahwa bangsa Yahudi dalam ancaman yang besar untuk dibinasakan bukan penyebabnya sedemikian tergoncang. Kata-kata Mordekhai inilah yang menusuk hatinya, “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi.”~Est 4:13. Kedudukan Ester sebenarnya sangat aman meskipun dia seorang Yahudi. Dia adalah ratu Media Persia. Mungkin yang terbaik dari yang pernah ada. Sulit memikirkan bahwa raja akan berbuat jahat padanya. Ester dapat memilih untuk diam & tak melakukan apa-apa -bahkan sebisanya dia menyembunyikan asal usulnya. Itu saja kira-kira cukup demi menjamin keamanan jiwa & nasibnya. Untuk apa dia harus membahayakan dirinya dengan membuka identitasnya atau malah memohon pada raja untuk mengubah keputusannya? Bukankah hanya orang yang tidak berakal sehat yang berpikir untuk mengambil risiko semacam itu? Perlu diakui, sebagian besar manusia di dunia mengejar rasa aman & kesejahteraannya sendiri (setidaknya bagi keluarganya). Itu sebabnya masuk akal bila keputusan-keputusan & pilihan-pilihan dengan risiko besar dihindari; bahkan jika mungkin ditiadakan. Akibatnya, usaha-usaha & pengejaran-pengejaran dalam hidup hanya berkisar mencari jaminan duniawi demi hari-hari selanjutnya. Secara terang-terangan atau tidak, sejak kecil kita telah diberitahu bahwa menjadi kaya itu enak. Masalahnya, kuasa untuk menentukan nasib manusia tidak hanya ada pada manusia. Sekuat, sehebat, serapi apapun orang merancang takdirnya, Tuhan jua yang berkuasa menentukan segalanya. Ada pribadi Tuhan yang sering dilupakan dalam hidup manusia, padahal Dialah penulis skenario agung yang menuliskan setiap bagian & hasil akhir cerita. Jadi, jangan mengira hari ini Anda telah terjamin dengan segenap keberadaan Anda. Sebab jaminan akan hidup yang baik & penuh kemuliaan, di dunia ini maupun di kekekalan, hanya ada dalam penyerahan diri pada Tuhan. Maukah Anda merisikokan diri Anda hari ini menjadi murid Kristus? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)



No comments:

Post a Comment