RICH FAMILY – POOR FAMILY
Amsal 17:14, “Memulai
pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum
perbantahan mulai.” Setiap kita pasti pernah mengalami konflik, baik dengan
anggota keluarga, rekan sekerja maupun rekan sepelayanan, dll. Firman Tuhan
mengingatkan kita “undurlah sebelum perbantahan dimulai” sebelum ia menjadi
besar. Mengalah bukan berarti kalah, mengalah demi kepentingan yang lebih besar
(kelanggengan persahabatan). Jadikan firman Tuhan ini menjadi Rhema J.
Roma 12:18, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah
dalam perdamaian dengan semua orang!” Berdamai itu prioritas, itu refleksi
dari penyembahan kita. Amin J.
Respon 1
SAAT TEDUH. Senin, 23 Februari 2015. Kerupuk Melempem. Barnabas membawa
Markus juga sertanya berlayar ke Siprus (Kisah Para Rasul 15:39b).
Kerupuk-kerupuk itu melempem karena saya kurang rapat menutup wadahnya. Mau
saya buang, kok masih banyak. Masakan berkat Tuhan disia-siakan? Mendadak saya
teringat soto Sokaraja yang ditaburi kerupuk kecil-kecil warna-warni itu.
Akhirnya, saya tiru: saya cemplungkan kerupuk melempem itu ke dalam soto yang
tengah saya makan. Eh, ternyata enak juga! Bagi Rasul Paulus, kinerja Yohanes
(yang disebut Markus) saat itu mungkin bagai kerupuk melempem di atas, bahkan
bisa jadi lebih parah. Ia dikatakan “meninggalkan Paulus dan Barnabas di
Pamfilia” dan “tidak mau turut bekerja bersama-sama” (ay. 38). Namun, bagi
Barnabas yang bijaksana itu, Markus masih belum “habis”. Karenanya, ia bersikeras
mempertahankannya sebagai rekan pelayanan mereka. Ternyata, perbedaan pendapat
ini "”menimbulkan perselisihan yang tajam [antara Paulus dan Barnabas]
sehingga mereka berpisah” (ay. 39). Barnabas membawa Markus ke Siprus,
sedangkan Paulus bersama Silas ke Siria dan Kilikia (ay. 39-41). Belakangan,
mereka berbaikan lagi, dan Paulus memanggil Markus kembali karena “pelayanannya
penting baginya” (2 Timotius 4:11b). Ternyata tiada yang sia-sia bagi
Tuhan!Adakah rekan Anda yang saat ini bagaikan kerupuk melempem? Ingatlah yang
dilakukan Barnabas. Beri dia kesempatan kedua. Doakan dan bimbing dia. Jelas
ini bukan perkara mudah, tapi bersama Tuhan tiada yang mustahil, bukan? Siapa
tahu, si kerupukmelempem itu bakal menjadi kerupuk yang lezat bagi Dia! YANG DIPANDANG
TAK BERGUNA OLEH MANUSIA, BELUM TENTU SIA-SIA BAGI TUHAN. Welcome Monday. Good
morning. Jesus Christ bless us all. (Madam Ossy)
Respon 2
“Salah satu pelajaran yang paling sulit di dunia adalah memahami diri
sendiri.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
Ya amin! Jangan puas hanya kita ada dalam rumah rohani, mengatakan
sudah memiliki covenant (ikat janji) dengan bapa rohani serta sister dan
brother in covenant, tapi kita harus terhubung akurat dalam rumah rohani.
Perkataan ini bukan hanya teguran Yohanes pembaptis kepada orang Israel pada
waktu itu, tapi juga sekarng peringatan kepada kita, tidak bisa kita merasa
nyaman karena sudah punya orang tua rohani, berada dalam rumah rohani, tapi
bagaimana hubungan kita dengan satu saudara yang lain, artinya hidup
kebersamaan anak-anak-anak rohani dalam rumah tidak dibangun secara akurat
(Matius3:9). Proses pembentukan yang terjadi pada kita membawa kita pada
peningkatan pada the next level selanjutnya, kita akan bertumbuh berbeda
padahal menerima firman yang sama, sumber yang sama, dan duduk dengan
orang-orang yang sama, jika tidak mendorong diri alami terobosan. Kita harus
terobos, dorong diri dan bangkit. Pastikan kita serius dalam menanggapi apapun
yang menjadi keinginan Bapa dan mewujudkan dengan konsisten. Happy Monday.
Happy day. Gbu all. (Tante Elisabeth – Maumere)
Respon 4
Ada suatu kesalahan berpikir yang cukup fatal terkait dalam menerapkan
hukum-hukum rohani dalam firman Tuhan. Ada orang-orang Kristen yang memahami
bekerjanya kuasa Tuhan serupa dengan menjalankan sebuah perangkat pencipta
keajaiban. Jika petunjuk-petunjuknya diikuti maka hasilnya keluar sesuai yang
diinginkan. Jika satu atau beberapa syarat telah dipenuhi maka apa yang
diharapkan pasti terwujud. Sebenarnya inilah pengajaran Gerakan Zaman Baru yang
memandang semesta sebagai suatu mesin atau sumber raksasa yang kekayaannya
dapat ditarik dengan berpikir, berkata-kata & bertidak positif dsb. Lebih
jauh, yang seperti ini bukan cara kerja Tuhan. Menyebutkan satu sampai tiga
permintaan apa saja dapat segera terwujud adalah dongeng yang menyiratkan cara
iblis bekerja atas manusia. Sebagai contoh sederhana, Amsal 3:10 memuat janji
kelimpahan dalam hasil kerja kita sehari-hari yang artinya pekerjaan tangan
kita diberkati sepenuhnya oleh Tuhan. Bagaimana itu terjadi? Umumnya
disimpulkan itu terjadi karena dipenuhinya syarat di ayat 9 yang ditafsirkan
sebagai memberikan persembahan harta kita pada Tuhan. Itu sebabnya lalu
didengungkan: kunci terobosan keuangan adalah memberikan persembahan terbaik (yang
biasanya ialah jumlah terbesar) dari harta kita. Ayat 9 tidak memerintahkan
kita memberikan harta kita. Ayat 9 memanggil kita untuk ‘memuliakan Tuhan
melalui harta kita’. Bagi Tuhan, bukan hanya tindakan yang penting. Dia yang
sanggup melihat tembus jauh di relung hati terdalam dari manusia, memandang
penting motif-motif manusia: apakah niat hati kita saat memberikan harta kita?
Adakah niat & kerinduan di hati kita tulus semata memuliakan Tuhan? Atau
hati kita terpikat janji kelimpahan yang lebih banyak untuk
kepentingan-kepentingan kita sendiri? Di sinilah banyak yang telah tertipu
& tersesatkan. Biarlah kita memiliki & menjaga hati kita tetap murni
pada Tuhan. Tidak ikut Tuhan untuk mencari kepuasan dunia (1 Kor. 15:19). Jadi,
hingga hari ini seberapa tuluskah Anda mengasihi Tuhan? Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment