Monday, 23 February 2015

23 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Amsal 17:14, “Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” Setiap kita pasti pernah mengalami konflik, baik dengan anggota keluarga, rekan sekerja maupun rekan sepelayanan, dll. Firman Tuhan mengingatkan kita “undurlah sebelum perbantahan dimulai” sebelum ia menjadi besar. Mengalah bukan berarti kalah, mengalah demi kepentingan yang lebih besar (kelanggengan persahabatan). Jadikan firman Tuhan ini menjadi Rhema J. Roma 12:18, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Berdamai itu prioritas, itu refleksi dari penyembahan kita. Amin J.

Respon 1
SAAT TEDUH. Senin, 23 Februari 2015. Kerupuk Melempem. Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus (Kisah Para Rasul 15:39b). Kerupuk-kerupuk itu melempem karena saya kurang rapat menutup wadahnya. Mau saya buang, kok masih banyak. Masakan berkat Tuhan disia-siakan? Mendadak saya teringat soto Sokaraja yang ditaburi kerupuk kecil-kecil warna-warni itu. Akhirnya, saya tiru: saya cemplungkan kerupuk melempem itu ke dalam soto yang tengah saya makan. Eh, ternyata enak juga! Bagi Rasul Paulus, kinerja Yohanes (yang disebut Markus) saat itu mungkin bagai kerupuk melempem di atas, bahkan bisa jadi lebih parah. Ia dikatakan “meninggalkan Paulus dan Barnabas di Pamfilia” dan “tidak mau turut bekerja bersama-sama” (ay. 38). Namun, bagi Barnabas yang bijaksana itu, Markus masih belum “habis”. Karenanya, ia bersikeras mempertahankannya sebagai rekan pelayanan mereka. Ternyata, perbedaan pendapat ini "”menimbulkan perselisihan yang tajam [antara Paulus dan Barnabas] sehingga mereka berpisah” (ay. 39). Barnabas membawa Markus ke Siprus, sedangkan Paulus bersama Silas ke Siria dan Kilikia (ay. 39-41). Belakangan, mereka berbaikan lagi, dan Paulus memanggil Markus kembali karena “pelayanannya penting baginya” (2 Timotius 4:11b). Ternyata tiada yang sia-sia bagi Tuhan!Adakah rekan Anda yang saat ini bagaikan kerupuk melempem? Ingatlah yang dilakukan Barnabas. Beri dia kesempatan kedua. Doakan dan bimbing dia. Jelas ini bukan perkara mudah, tapi bersama Tuhan tiada yang mustahil, bukan? Siapa tahu, si kerupukmelempem itu bakal menjadi kerupuk yang lezat bagi Dia! YANG DIPANDANG TAK BERGUNA OLEH MANUSIA, BELUM TENTU SIA-SIA BAGI TUHAN. Welcome Monday. Good morning. Jesus Christ bless us all. (Madam Ossy)

Respon 2
“Salah satu pelajaran yang paling sulit di dunia adalah memahami diri sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
Ya amin! Jangan puas hanya kita ada dalam rumah rohani, mengatakan sudah memiliki covenant (ikat janji) dengan bapa rohani serta sister dan brother in covenant, tapi kita harus terhubung akurat dalam rumah rohani. Perkataan ini bukan hanya teguran Yohanes pembaptis kepada orang Israel pada waktu itu, tapi juga sekarng peringatan kepada kita, tidak bisa kita merasa nyaman karena sudah punya orang tua rohani, berada dalam rumah rohani, tapi bagaimana hubungan kita dengan satu saudara yang lain, artinya hidup kebersamaan anak-anak-anak rohani dalam rumah tidak dibangun secara akurat (Matius3:9). Proses pembentukan yang terjadi pada kita membawa kita pada peningkatan pada the next level selanjutnya, kita akan bertumbuh berbeda padahal menerima firman yang sama, sumber yang sama, dan duduk dengan orang-orang yang sama, jika tidak mendorong diri alami terobosan. Kita harus terobos, dorong diri dan bangkit. Pastikan kita serius dalam menanggapi apapun yang menjadi keinginan Bapa dan mewujudkan dengan konsisten. Happy Monday. Happy day. Gbu all. (Tante Elisabeth – Maumere)

Respon 4
Ada suatu kesalahan berpikir yang cukup fatal terkait dalam menerapkan hukum-hukum rohani dalam firman Tuhan. Ada orang-orang Kristen yang memahami bekerjanya kuasa Tuhan serupa dengan menjalankan sebuah perangkat pencipta keajaiban. Jika petunjuk-petunjuknya diikuti maka hasilnya keluar sesuai yang diinginkan. Jika satu atau beberapa syarat telah dipenuhi maka apa yang diharapkan pasti terwujud. Sebenarnya inilah pengajaran Gerakan Zaman Baru yang memandang semesta sebagai suatu mesin atau sumber raksasa yang kekayaannya dapat ditarik dengan berpikir, berkata-kata & bertidak positif dsb. Lebih jauh, yang seperti ini bukan cara kerja Tuhan. Menyebutkan satu sampai tiga permintaan apa saja dapat segera terwujud adalah dongeng yang menyiratkan cara iblis bekerja atas manusia. Sebagai contoh sederhana, Amsal 3:10 memuat janji kelimpahan dalam hasil kerja kita sehari-hari yang artinya pekerjaan tangan kita diberkati sepenuhnya oleh Tuhan. Bagaimana itu terjadi? Umumnya disimpulkan itu terjadi karena dipenuhinya syarat di ayat 9 yang ditafsirkan sebagai memberikan persembahan harta kita pada Tuhan. Itu sebabnya lalu didengungkan: kunci terobosan keuangan adalah memberikan persembahan terbaik (yang biasanya ialah jumlah terbesar) dari harta kita. Ayat 9 tidak memerintahkan kita memberikan harta kita. Ayat 9 memanggil kita untuk ‘memuliakan Tuhan melalui harta kita’. Bagi Tuhan, bukan hanya tindakan yang penting. Dia yang sanggup melihat tembus jauh di relung hati terdalam dari manusia, memandang penting motif-motif manusia: apakah niat hati kita saat memberikan harta kita? Adakah niat & kerinduan di hati kita tulus semata memuliakan Tuhan? Atau hati kita terpikat janji kelimpahan yang lebih banyak untuk kepentingan-kepentingan kita sendiri? Di sinilah banyak yang telah tertipu & tersesatkan. Biarlah kita memiliki & menjaga hati kita tetap murni pada Tuhan. Tidak ikut Tuhan untuk mencari kepuasan dunia (1 Kor. 15:19). Jadi, hingga hari ini seberapa tuluskah Anda mengasihi Tuhan? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)



No comments:

Post a Comment