Wednesday, 11 February 2015

11 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Ditengah-tengah kesedihan dan rasa kehilangan orang tua / anak / saudara maupun kerabat kita, firman Tuhan memberikan dorongan kekuatan bagi HATI kita (Kejadian 50:1-14). Ingatkan & hiburkanlah kami bahwa ditengah-tengah dukacita, masih ada “penghiburan” / sukacita yang dari Roh Kudus. Rasa hormat kita kepada orang tua tidak hanya ditunjukkan “saat kematian”, tetapi semasa hidupnya, biarlah kita mengasihi orang tua kita masing-masing sebagai penghormatan kita kepada mereka. Amin.

Respon 1
“Kesadaran diri tertinggi seringkali justru kita peroleh saat kita merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Rabu, 11 Februari 2015. Bacaan: 2 Samuel 15:1-13. Setahun: Imamat 26-27. Nats: Lalu datanglah seseorang mengabarkan kepada Daud, katanya: ‘Hati orang Israel telah condong kepada Absalom’ (2 Samuel 15:13). SANG PENCURI HATI. Absalom mencuri hati orang Israel! Bagaimana Absalom memikat bangsa Israel untuk memihak kepadanya? Ia memberikan perlakuan khusus pada rakyat yang mengadukan kasus padanya. Perlakuan yang berbeda dari perlakuan raja yang dianggap tidak adil. Ini membuka kesempatan bagi Absalom untuk menghimpun massa dan kemudian berupaya merebut kekuasaan dari tangan Daud. Kelicikan Absalom tidak berhenti di situ. Ia juga berusaha mengelabui Raja Daud dengan alasan membayar nazar. Ia mengutarakan niatnya kepada Daud, “Izinkanlah aku pergi supaya di Hebron aku bayar nazarku, yang telah kuikrarkan kepada Tuhan” (2 Sam 15:7). Niat yang baik, bukan? Dan raja pun memandang baik tanpa mengetahui maksud jahat di balik niat itu. Untunglah kelicikan Absalom tercium oleh para pengikut Raja Daud sehingga rencana buruknya dapat dicegah dan digagalkan. Bila ambisi tidak benar dan hati sudah gelap, segala cara akan dihalalkan untuk mencapai keinginan. Absalom bahkan berusaha mencuri hati Allah dengan alasan hendak beribadah kepada Tuhan (ay. 8). Kedengarannya sangat rohani, namun sesungguhnya ia hanya memperalat ibadah dan mencoba mengelabui Tuhan. Apa motivasi kita beribadah kepada Tuhan? Tidak sedikit orang berusaha tampak setia dalam beribadah untuk ‘mencuri’ hati Tuhan. Mereka berpikir dengan cara itu mereka bisa mengambil hati Tuhan dan akan menerima berkat-Nya. Kita semestinya setia karena mensyukuri kebaikan-Nya, bukan karena mengejar berkat-Nya. --Samuel Yudi. KETULUSAN HATI KITA AKAN TERBUKTI KETIKA KITA TIDAK MEMPEROLEH APA YANG KITA KEHENDAK.

Respon 3
Syalom. Amin... “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” (Yakobus 4:10). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN YESUS memberkati. (Bp. Oktovianus – Nabire)

Respon 4
Semangat orang yang patah kecenderungannya selalu berpikir negatif dan berbicara negatif. Amsal 18:14, “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (GNCC)

Respon 5
1 Tes 4:13-14, ‘Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal. Supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa YESUS telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam YESUS akan dikumpulkan ALLAH bersama-sama dengan DIA.” Firman TUHAN mengingatkan kita bahwa hidup dan mati kita ada di tangan TUHAN, yang penting kita hidup untuk kemuliaan TUHAN dan mengasihi sesama, melakukan yang terbaik untuk TUHAN dan sesama, memberitakan kabar keselamatan, terutama untuk anggota keluarga kita orang-orang yang kita kasihi. Sehingga orang-orang yang kita kasihi akan meninggal di dalam KRISTUS akan diselamatkan jiwanya dan bersama-sama masuk ke surga, bersukacita bersama TUHAN di surga yang tidak ada tangis dan gertak melainkan pujian dan penyembahan “kudus, kudus” kepada TUHAN yang empunya kehidupan. Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 6
SAAT TEDUH. Rabu, 11 Februari 2015. Raja Kok Infantile? “Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati... Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan” (1 Raja-raja 21:4). Infantile adalah istilah Bahasa Perancis yang artinya adalah kenakan-kanakan. Infantile terjadi pada orang dewasa yang bersikap seperti anak kecil, yang apabila kemauannya tidak dituruti, akan ngambek, marah, tidak mau makan, dan sebagainya. Sikap infantile ini ditunjukkan oleh seorang raja yang berkuasa di Israel, yaitu Ahab. Kala itu ia mengingini kebun anggur Nabot yang terbentang di dekat istananya. Padahal, sebagai raja, ia tentu dikelilingi kekayaan berlimpah. Sementara itu, Nabot menolak untuk menjualnya karena kebun anggur itu merupakan pusaka nenek moyangnya (ay. 3). Sifat kekanak-kanakan Ahab muncul. Ia kecewa, marah, ngambek dan tidak mau makan. Istrinya, Izebel, dengan segera mengambil tindakan. Ia mengupayakan pembunuhan atas Nabot dan merampas kebun anggurnya. Dengan senang Ahab bangun untuk mengambil kebun itu (ay. 16). Namun demikian, atas tindakan mereka berdua, ada konsekuensi yang harus mereka terima. Hukuman Tuhan yang dinyatakan melalui nabi Elia tidak main-main dan mengerikan: “Beginilah firman Tuhan: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu” (ay. 19). Sifat infantile ini sebenarnya ada dalam diri semua orang dewasa, entah ia orang berpangkat dan terkenal, entah ia orang biasa. Kita perlu waspada, terlebih dengan kedudukan yang memungkinkan kita bertindak sewenang-wenang. Jangan sampai muncul sikap kekanak-kanakan. Kiranya Tuhan mendewasakan kita, dari hari ke hari. SYUKURILAH SEMUA YANG KITA PUNYA TANPA RASA IRI DAN DENGKI PADA SESAMA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 7
Dalam pelayanannya, salah satu pergumulan sukar yang dihadapi rasul Paulus adalah apa yang disebutnya ‘duri dalam daging’ (2 Kor. 12:7). Sementara, kita tidak akan membahas apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan itu, kita tahu bahwa hal itu menimbulkan pertanyaan & kebingungan yang besar bagi sang rasul: mengapa ada utusan iblis yang dibiarkan membuatnya lemah padahal hidupnya telah dipersembahkan bagi Tuhan sepenuhnya? Ini memang bukan sesuatu yang mudah dipahami. Luar biasanya, Paulus tidak berdiam diri begitu saja. Menghadapi suatu pergumulan besar, Paulus datang & berseru-seru pada Tuhan (2 Kor. 12:8). Yang ia alami selanjutnya adalah poin penting bagi kita. Paulus berkata, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku...” (ayat 9). Ya, Paulus mencari-cari & beroleh jawaban. Ia mengarahkan pandangan pada Tuhan mencari tanggapan & ia mendapatkannya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak hanya mendengar, peduli & memperhatikan seru doa kita tapi Dia juga Allah yang memberikan jawaban. Ia tidak pernah membisu, acuh, atau berpangku tangan mengetahui ada anak-anakNya yang menujukan diri menghampiri tahta-Nya mencari jawaban. Dialah yang telah berfirman, “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati”~Yer. 29:13. Jika kita sungguh-sungguh mencari Dia, dengan segenap keberadaan kita, maka Dia pasti akan menyatakan diri & menjawab kita. Persoalannya, saat terhimpit beban & pertanyaan-pertanyaan kehidupan, kita rupanya masih lebih tertarik memburu hal-hal yang lain -bukan Tuhan. Kita lebih tekun mencari saran dari sumber-sumber lain seperti orang-orang yang berpengalaman, ahli-ahli, para profesional di bidangnya. Lebih parahnya, saat terdesak masih ada yang lari mencari masukan, nasihat atau terawangan dari kuasa-kuasa kegelapan yang sebenarnya makin menyesatkan! Bawa pergumulan-pergumulan Anda hari ini pada Tuhan. Datang pada Dia dengan segenap hati Anda. Asal Anda membayar harga hubungan pribadi dengan Tuhan Anda akan tahu Dia tak akan pernah jauh untuk bercakap-cakap dengan Anda. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment