Wednesday, 18 February 2015

18 Februari 2015



RICH FAMILY – POOR FAMILY




Kolose 3:18-21, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Tempat tinggal yang nyaman akan tercipta bila setiap anggotanya saling MERENDAHKAN HATI-nya & RELA untuk mengesampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan dan kebahagiaan orang-orang seiisi rumah tangganya J. Jadikan rumah kita masing-masing menjadi tempat yang nyaman / hommy, tempat yang nyaman untuk berbagi & tempat yang selalu dirindukan oleh setiap anggotanya J yaitu dengan saling “MERENDAHKAN HATI”.

Respon 1
Kolose 3:18-21 istri tunduk pada suami, suami mengasihi istri, anak hormat kepada orang tua, orang tua tidak menyakiti hati anak. Seandainya, masing-masing anggota keluarga bisa melakukannya, pasti keluarga ini keluarga yang harmonis, manis, penuh kasih mesra. Tapi dikenyataannya... Istri kadang tunduk (kalau pas ingat), kadang punya tanduk, suami kadang mengasihi istri (kalau istri nurut), anak kadang nurut orang tua (kalau keinginan terpenuhi), orang tua sering ngomong seenaknya yang menyakiti hati anak. Jauuuuh... dari standartnya Tuhan. Tapi memang tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini. Bersyukurlah kalau kita terus diingatkan untuk terus belajar maju menuju standartnya Tuhan. (Ibu Rita – PKS CL 8)



Respon 2
Amin!!! Di dalam nama Tuhan Yesus, keluargaku adalah surgaku J. (Fenny – Belanda)

Respon 3
Simon menjawab: ‘Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga’ (Lukas 5:5). Seringkali dalam hidup kita sudah melakukan sesuatu dengan segenap kemampuan, tapi usaha kita sia-sia dan tidak menghasilkan apapun. Kita sudah bekerja keras tapi tetap tidak berhasil. Semua itu membuat kita patah semangat dan putus asa. Ada cara lain yang bisa kita andalkan: “PERKATAAN TUHAN”. Lakukan apa yang Tuhan suruh dan perintahkan. Jalani hidup dengan percaya penuh pada kekuatan perkataan firman Tuhan. Hiduplah bukan hanya dari apa yang kita lihat dan rasakan, tapi hiduplah dari setiap perkataan Tuhan. (GNCC)

Respon 4
SAAT TEDUH. Rabu, 18 Februari 2015. Meraih Mimpi. Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Matius 10:1). Putra kelahiran Surabaya yang satu ini sungguh istimewa. Welin Kusuma memang “gila sekolah”. Bayangkan, 23 gelar akademis berhasil ia raih dalam waktu empat belas tahun. Alhasil, berbagai disiplin ilmu ia kuasai. Menempuh kuliah dan bekerja siang malam di berbagai universitas ia jalani dengan tekun. Menariknya, ketika menjelaskan apa yang mendorongnya untuk tekun meraih cita-cita, ia menyinggung tiga hal yang akan kita simak dalam bacaan hari ini. Peristiwa penting pemanggilan kedua belas murid oleh Tuhan Yesus tidak berlangsung serta merta, tanpa awalan. Ada hal-hal yang mendahuluinya. Pertama, “Ia melihat orang banyak itu...” (ay. 9:36). Dia melihat mereka sebagai “tuaian”, ladang garapan dan tantangan (ay. 9:37). Ada visi. Kedua, “...tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka” (ay. 9:36). Hati-Nya lekat di situ. Ada getaran hati, keterpautan emosional karena perasaan kasih dan kepedulian. Baru yang ketiga. Dia mengajak para pengikut-Nya berdoa (ay. 9:38) lalu memanggil dan memberi mereka kuasa untuk melayani (ay. 10:1). Ada aksi. Tak semua orang sehebat dan “segila” Welin Kusuma. Tapi setiap kita boleh bermimpi; menggumuli, menangkap dan menekuni sebuah visi pribadi yang sudah Tuhan letakkan dalam hati kita. Di tangan Tuhan yang penuh kuasa, “resep” menjalani hidup di atas akan menjadikan hidup kita sebagai alat guna menggenapi rencana-Nya di tengah-tengah dunia yang Dia kasihi. Inilah “prestasi” yang memuliakan nama-Nya. MATA MEMANDANG, HATI BERKOBAR, KAKI MELANGKAH—KIAN DEKATLAH KITA PADA TUJUAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 5
Renungan kita pagi ini “From House Into A Home” (Kol 3:18-21). Dapatkah kita secara pribadi membuat rumah kita menjadi nyaman, sehingga semua anggota keluarga merasa nyaman, sukacita, penuh ucapan syukur, ketika berkumpul dengan keluarga di dalam rumah semua merasa seperti di Surga ataukah ada yang merasa tersiksa seperti di neraka. Jika semua anggota keluarga satu sama lain memiliki kerendahaan hati, yang satu lebih mengutamakan yang lain,maka rumah kita menjadi rumah yang nyaman bukan sekedar House tetapi akan menjadi “Home Sweet Home”. Jesus Bless our family J. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 6
Halleluyah, kami diberkati lewat firman hari ini, ini yang menjadi dorongan kami sprit yang luar biasa, dan keputusan kami menjadi misionaris semakin dikuatkan. Terima kasih, jangan lelah membagikan kami firman-NYA. Amin. (Manasye – Malinau)

Respon 7
Kalau kita renungkan apa yang ada dalam Kolose 3:18-21, betapa damai tentram hati kita bila kita (anggota keluarga) bisa seperti itu, sehingga kita tidak lagi mementingkan ego kita. Tentu kita semua inginkan “home sweet home”. Amin... Thank you Cik, selamat siang, selamat beraktivitas and Jbu all too... J. (Ibu Sintawati – CL 3)

Respon 8
Syalom. Amin... “Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.” (Galatia 3:22). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN YESUS memberkati. (Bp. Oktovianus – Nabire)

Respon 9
Bertentangan dengan apa yang sering dipikirkan orang banyak mengenai hidup dalam ketaatan pada Tuhan, rasul Yohanes dengan singkat namun tegas membuat pernyataan ini: “Perintah-perintahNya tidak berat!”~1 Yoh. 5:3. Yang artinya bahwa apa yang Tuhan taruhkan sebagai suatu kewajiban bagi kita sebagai anak-anakNya -pada kenyataannya- bukan merupakan sesuatu yang membebani, menekan atau menyulitkan kita. Jika kita mau jujur, berat tidaknya suatu tanggung jawab atau tugas sebagian bergantung pada faktor-faktor dari diri kita sendiri. Kitalah yang menggunakan timbangan kita sendiri dengan ukuran-ukuran yang kita tetapkan sendiri -yang penyusunan satuan ukurannya didasarkan pada motif-motif terdalam, sudut pandang kita, untung rugi, hingga kerelaan kita mengerjakan semua itu. Mari kita gunakan kembali tiga modal rohani yang menjadi dasar kita membangun kerohanian kita: iman, pengharapan & kasih. Dengan mata iman, ketaatan pada ketetapan-ketetapan Allah tidak lagi menjadi suatu impian kosong. Kita harus selalu percaya Tuhan akan memberikan kekuatan, penyertaan, pimpinan & segala yang perlu untuk kita dapat hidup seturut kehendak-Nya (2 Pet. 1:3-4). Melalui pikiran yang dipenuhi pengharapan kekal, kita mendapatkan kekuatan tambahan berlipat ganda. Sebab jika demi pengharapan beroleh nafkah kehidupan kita kuatkan diri menghadapi berbagai kesukaran & susah payah, betapa gigihnya ketekunan orang yang mampu melihat lalu mengejar upah abadi! Akhirnya, dari hati yang dikuasai oleh kasih, semuanya terasa ringan. Seperti Yakub yang menjalani 14 tahun bekerja tanpa gaji bagai hari-hari yang singkat saja demi cintanya pada Rahel (Kej. 29:20,30), betapa tiada berarti salib yang harus kita pikul demi mengiring Juruselamat tercinta! Mereka yang tetap berpikir bahwa hidup bagi Tuhan itu berat pastilah mereka yang tidak mau bertumbuh dalam Tuhan atau yang sama sekali hanya mau menerima berkat-berkat Tuhan namun tidak rela berkorban sedikit saja pada Tuhan yang telah mengorbankan segalanya bagi mereka. Bagaimana dengan Anda?  Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment