RICH FAMILY – POOR FAMILY
Bilangan 16:13-14, “Belum
cukupkah engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah
susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih
juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? Sungguh, engkau tidak membawa
kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ataupun memberikan
kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan
engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang.”
Jangan pernah memfitnah pemimpin rohani yang diurapi Tuhan, sebab akan
mendatangkan hukuman dari Tuhan. Sebab IA setia & adil. Bersikap bijaksana
dalam menyikapi setiap informasi yang kita terima, baik dari media maupun
secara langsung akan membentuk kwalitas karakter kita. Miliki karakter yang
berkwalitas agar pantas disebut Pemimpin Teratas. Amin.
Respon 1
“Kanker komunikasi adalah asumsi, vaksinnya adalah klarifikasi.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Sabtu, 28 Februari 2015. Tak Seperti Aladin. “Berfirmanlah
Allah: ‘Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.’” (1 Raja-raja 3:5b).
Dalam Kisah 1001 Malam ada dongeng tentang Aladin, orang miskin yang terpenjara
dalam gua. Tanpa sengaja, ia menemukan lampu tua dan membersihkannya. Tiba-tiba
dari lampu itu keluarlah jin yang selama ini terjebak di sana. Karena telah
dibebaskan, jin itu memberi upah kepada Aladin. Tiga permintaannya akan
dikabulkan. Ia pun meminta kekayaan dan kekuasaan agar dapat mengawini putri
raja. Salomo adalah raja muda yang memerintah Israel menggantikan Daud, ayahnya
dengan segala kejayaannya. Menyadari beratnya tanggung jawab yang dipikul anaknya,
Daud berpesan sebelum kematiannya agar Salomo setia dan taat kepada Allah (1
Raj. 2:3). Itulah kunci kesuksesan yang Daud wariskan. Di awal pemerintahannya,
Salomo menaatinya. Ia beribadah dengan sungguh kepada Allah. Ketika ia
mempersembahkan pengurbanan yang sangat besar atas nama umat Allah (ay. 4),
Tuhan mengindahkannya. Melalui mimpi, Allah berjanji mengabulkan apa saja
permintaannya. Salomo hanya meminta satu hal: diberi hikmat untuk memimpin umat
Allah yang besar itu (ay. 9). Ya, tak seperti Aladin, Salomo meminta karunia
bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kesejahteraan orang
banyak. Tak heran Allah bersukacita mengabulkannya, bahkan melimpahinya dengan
hal baik yang tidak dimintanya (ay. 13). Pengalaman Salomo ini hendaknya mengajari
kita untuk tidak hanya peduli dengan diri sendiri. Ketika kita memperhatikan
kepentingan orang lain, Tuhan juga memperhatikan kepentingan kita. TIDAK
MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI ADALAH BUKTI KASIH SEJATI. Selamat pagi. Happy
weekend. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Bil 16:13-14. Sekarang memang lagi musim fitnah menfitnah melalui media
massa, banyak berita-berita yang mengejutkan tentang kejelekan
seseorang/kelompok, dimana orang-orang yang membaca/ mendengar tidak tahu
kebenarannya, tetapi menjadi berita yang hangat. Sering kali berita itu dibuat
untuk menjatuhkan seseorang/kelompok atau untuk mencapai kekuasaan atau
menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Kita sebagai anak-anak
TUHAN harus bijaksana dan tidak mudah termakan oleh berita-berita yang belum
tentu benar apalagi kita sendiri sebagai pelaku pemfitnahan. TUHAN kita adalah
TUHAN yang adil,akan menghukum orang-orang yang suka menfitnah sesamanya.
Berkompetisilah secara jujur dengan mengandalkan TUHAN maka TUHAN akan
memberkati segala tujuan kita asal tujuan itu benar dihadapanNYA. Happy weekend
and Jbu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 4
Momentum Tuhan. Dalam hidup kita seringkali once in a life time, atau
sekali seumur hidup. Jarang datang yang namanya second chance, atau kesempatan
kedua. Jika itu halnya, hiduplah dengan waspada dan berjaga-jaga. Karena
sewaktu-waktu air itu akan bergoncang. Ini adalah saat-saat kairos-Nya.
Sewaktu-waktu akan terjadi sesuatu yang akan mengubah nasib dan masa depan.
Jangan letih, malas dan lengah. Tetap berpaut dengan Roh Kudus, sebab hanya Roh
Kudus yang bisa memberi signal yang sangat jelas. Ini Kairos kita. Be Ready...
Haleluyah! Morning, sister.. GBU. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 5
Kasih Tuhan tak terduga seberapa batasnya. Rasul Paulus berdoa supaya
kita sebagai umat Tuhan beroleh pengertian “betapa lebarnya dan panjangnya dan
tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun
ia melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18-19). Kasih Tuhan dikatakan sebagai
kasih yang hebat atas kita (Maz. 117:2) yang berarti kasih itu sedemikian kuat,
kokoh, teguh, tak tergoyahkan oleh apapun juga atas kita. Itulah kasih yang
sempurna, lengkap, tak ada kurangnya sama sekali. Bahkan setiap teguran,
hajaran, atau mungkin keputusan penghukuman-Nya atas kita -semuanya
dilakukan-Nya karena kasih kepada kita, demi kebaikan & keselamatan bagi
jiwa kita. Kasih manusiawi, yang ada pada kita, sangat jauh dibandingkan kasih
Tuhan. Sebelum mengenal Sang Kasih itu, manusia bahkan hanya mengasihi dirinya
sendiri dengan berjuang & mengutamakan kepentingannya sendiri (meski acap
dibalut alasan-alasan untuk kepentingan yang lain). Setelah Tuhan menjamah
kita, mulailah kita mengenal bahwa ada kasih yang tak mementingkan diri seperti
kasih Tuhan itu, yang membangkitkan kasih yang murni dalam hati. Itulah kasih
mula-mula yang terbit sehingga kita mulai mengasihi Tuhan & orang-orang di
sekitar kita, jauh atau tanpa motif-motif egois lagi. Kasih mula-mula sangat
penting. Itu tingkat kasih yang paling mendasar dalam hubungan kita dengan
Tuhan. Tanpanya kita telah terjerumus dalam kejatuhan rohani yang dalam &
mustahil mengasihi Tuhan lebih lagi. Hanya, meskipun memiliki &
mempertahankan kasih mula-mula itu sangat baik, itu bukan tujuan akhir perjalanan.
Kasih kita harus bertumbuh semakin kuat, teguh, tak mudah lemah & lelah.
Itu ditandai dengan hati yang tidak lagi mudah terluka namun penuh roh yang
manis sebagai kebalikan dari hati yang pahit. Bahkan lebih dari itu, hidup kita
diserahkan sebagai suatu korban persembahan menjadi saluran berkat & berita
keselamatan dalam Kristus. Dari kasih mula-mula kita dipanggil beranjak pada
kasih yang termulia. Seperti kasihnya Tuhan. Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment