Monday, 4 April 2016

4 April 2016



THE END




Memberi dengan Motivasi yang Benar. Lukas 6:38, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Amin. Kalau kita memberi dengan harapan dapat menerima kembali apa yang sudah kita berikan: itu adalah “pemberian” dengan pamrih (punya maksud-maksud tertentu = motivasi yang salah). Memberilah dengan hati yang tulus, memberilah dengan motivasi yang benar karena sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan berkat-berkatNya yang melimpah (bahkan tumpah/ meluber) keluar J atas hidup kita, jika kita memberi/menabur dengan tulus. Sudahkah setiap “pemberian” kita kepada Tuhan adalah pemberian yang tulus/tanpa pamrih??

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yos 1:9 – ...Janganlah takut dan kecewa, sebab TUHAN, ALLAHmu, menyertaimu, ke manapun kamu pergi! Kenapa masih takut? Masih kuatir? YESUS bersama kita. Pasti kita ditolong dan diberkati. Ingatlah: WAKTU YANG DIHABISKAN BERSAMA TUHAN YESUS MERUPAKAN WAKTU YANG DIHABISKAN DENGAN SANGAT BAIK dan LUAR BIASA! Samuel Sianto-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
“If everything you see is dingy and dirty, make sure to clean your glasses!” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 4 Maret 2016. Bukan Sekadar Penundaan. Ia telah dan akan menyelamatkan kami dari kematian yang begitu ngeri (2 Korintus 1:10). Betapa menegangkan detik-detik menjelang eksekusi terhadap sembilan terpidana mati kasus narkoba. Iring-iringan ambulans berisi peti jenazah menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Kesempatan kunjungan terakhir membuat keluarga terpidana histeris. Empat puluh menit sebelum pelaksanaan, eksekusi terhadap Mary Jane, salah seorang terpidana, ditunda. Mary Jane dan keluarganya merasa lega dan sangat bergembira, begitu pula dengan para pendukungnya. Mereka berlinang air mata, berpelukan, dan mengepalkan tangan ke udara sebagai ungkapan kegembiraan. Namun, sekalipun eksekusinya ditunda, suatu saat Mary Jane akan mengalami kematian juga. Kematian yang tertunda dapat membangkitkan kegembiraan. Di dalam Kristus, orang percaya mengalami sesuatu yang jauh lebih menggembirakan. Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib bukan sekadar penundaan, melainkan pembatalan atas kematian kekal di neraka, yang seharusnya kita alami akibat dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). “Upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23). Pemazmur berkata, “Dia yang menebus hidupmu dari lubang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm. 103:4). Percayalah kepada Tuhan Yesus, yang memampukan kita setia sampai mati, sehingga kita menikmati pembatalan atas kematian kekal (Yoh. 3:16; Why. 2:10) –IN. KEMATIAN DAN PENEBUSAN TUHAN YESUS MEMBEBASKAN KITA YANG PERCAYA KEPADA-NYA DARI KEMATIAN KEKAL. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Senin, 4 April 2016. Bacaan: Matius 5:33-37. Setahun: 1 Samuel 12-14:23. Nats: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat (Matius 5:37). Saya Doakan Ya. “Tolong bantu doa, ya.” Kata-kata semacam ini sering terdengar saat kita berhadapan dengan saudara seiman yang sedang mengalami musibah atau kejadian tidak menyenangkan. Reaksi paling umum yang ditemui adalah anggukan kepala atau sekadar jawaban singkat, “Iya.” Namun, yang menjadi pertanyaan, seberapa sering kita benar-benar mendoakan orang tersebut? Dari pengalaman pribadi, saya sering menemukan orang-orang--termasuk saya sendiri--yang katanya akan mendoakan, ternyata tidak melakukannya. Tentu saja, ada banyak juga yang benar-benar mendoakan. Yang menjadi masalah bukan mendoakan atau tidak, melainkan integritas kita sebagai orang Kristen. Dari sekian banyak definisi tentang integritas, salah satunya adalah “bisa dipercaya”. Dari contoh kasus sederhana di atas tentang mendoakan, kita bisa menilai diri sendiri apakah kita termasuk orang yang berintegritas atau tidak. Memang orang yang meminta bantuan doa kita tidak akan tahu dan biasanya juga tidak akan mengecek apakah kita benar-benar mendoakannya atau tidak. Tetapi, Tuhan tahu. Masalah integritas ini memang tidak akan berpengaruh pada keselamatan kita, tetapi akan berpengaruh pada kualitas hidup kita. Kualitas hidup yang baik akan menjadi kesaksian yang berbicara lebih kuat daripada perkataan belaka. Apakah kita rindu menjadi saksi yang efektif bagi Yesus? Mulailah dari hal sederhana, seperti menepati perkataan dan janji kita --Denny Pranolo. Kesaksian hidup seseorang bisa terlihat dari caranya menepati perkataannya.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! BERJALAN DAN HIDUP DALAM KUASA KEBANGKITAN KRISTUS. Tetap bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan, oleh Yesus Tuhan kita (1 Kor 15:57) karena itu saudara-saudaraku yang kekasih (1 Kor 15:58) Berdirilah teguh jangan goyah, giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia... Amin. PERWUJUDAN YANG MENAKJUKAN DARI SANG RAJA. INSPIRASI DARI KERINDUA-NYA. AKAN MENEGAKKAN KERAJAAN-NYA. Haleluya! Happy Monday. JBU All.

Worship Center Surabaya
Dalam salah satu catatan khotbahnya, pengkhotbah terkenal Inggris di abad 19, Charles Spurgeon menyebutkan ada 5 tipe orang yang meskipun mereka mendapat kasih karunia untuk mendengar firman & menjadi murid Kristus, nyatanya tidak pernah sampai kepada perubahan hidup. Orang-orang itu antara lain: 1) Mereka yang pandai berbicara (akan hal-hal rohani) tapi tetap hidup dalam dosa. Mereka penuh dengan pengetahuan rohani namun tidak memiliki kasih. Ekspresi-ekspresi mereka sempurna membicarakan hal-hal spiritual tapi praktek nyata mereka tak terbukti; 2) Para pengkritik yang suka mencatat kesalahan saudara-saudara seimannya namun tak menyadari dirinya sendiri telah tersesat; 3) Mereka yang diajar kebenaran-kebenaran yang murni tapi tetap memilih mengasihi dunia; 4) Mereka yang terkesan & tergerak hatinya (dalam hal-hal rohani) tapi tidak pernah taat melakukan kehendak Tuhan. Meski suka mendengar khotbah yang baik, mereka tak mempunyai kehidupan rohani; 5) Orang-orang yang menyukai formalitas belaka, menjalankan ibadah tanpa kerinduan di hati, hanya sekedar menjalankan hukum-hukum rohani secara mekanis seperti sebuah mesin. Kelima tipe di atas, meski terlihat baik dari luar, di hadapan Tuhan itu semua merupakan  kegagalan rohani yang menyedihkan. Sebab tujuan utama dari menjadi Kristen, yaitu menjadi pengikut-pengikut Kristus, tidak pernah benar-benar tercapai. Sebelum terangkat ke sorga, Yesus menyampaikan perintah kudus bagi setiap murid-muridNya: “Pergi, jadikan segala bangsa murid-Ku, baptislah mereka.. dan ajarkan mereka MELAKUKAN SEGALA SESUATU yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 2:18-20). Target ilahi dalam hidup rohani kita sebagai murid Kristus tidak cukup menjadi pendengar, pemirsa, penonton, atau penggemar berat ajaran-Nya melainkan menjadi pelaksana-pelaksana setiap perintah-Nya (Yak 1:22,25). Kerohanian sejati yang berkenan di hadapan Tuhan diukur dari apa yang Tuhan lihat di dasar hati & hidup kita sehari-hari kita: adakah kita telah menjadi pelaku-pelaku Firman-Nya dengan segala ketulusan di hadapan Dia. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment