Tuesday, 26 April 2016

26 April 2016



THE END




Mulai dari Mana?? Roma 1:16, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Amin. Setelah kita diselamatkan tentunya kita memiliki kerinduan agar banyak orang juga diselamatkan & dapat mengalami kasih Kristus sebagaimana kita alami. Oleh karena itu kita harus bersaksi tentang bagaimana Tuhan menjamah & mengubah hidup kita . Kuasa Perubahan Hidup membawa banyak orang datang kepada Yesus. 3 poin yang dapat kita gunakan untuk memulai bersaksi:
1.  Kehidupan SEBELUM menerima Kristus.
2.  Peristiwa SAAT menerima Kristus.
3.  Perubahan SETELAH menerima Kristus.
Percayalah bahwa Injil harus diberitakan agar banyak orang diselamatkan, tanpa injil tidak seorangpun dapat diselamatkan! Ada 3 poin tentang kebenaran tentang Injil)  semua manusia berdosa, semua usaha manusia sia-sia, hanya dengan PERCAYA Yesus sebagai Tuhan & Juruselamat kita dapat diselamatkan. Amin . Bagaimana dengan kita sudahkah kita membagikan kesaksian pertobatan hidup kita?? Apakah kita rindu menjangkau sebanyak mungkin jiwa-jiwa agar mereka juga diselamatkan??

Xavier Quentin Pranata
“Orang yang suka merendahkan sesama biasanya tidak siap jika diperlakukan yang sama.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 26 April 2016. Pak Karyo Ditinggal. Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan (Kolose 1:15). Ada seorang guru di Kendal yang memasuki masa pensiun, sebut saja namanya Pak Karyo. Sebagai penghargaan untuknya, sekolah mengadakan acara perpisahan di Yogya. Rombongan para guru beserta Pak Karyo pun berangkat ke Yogya. Seharian mereka berkunjung ke beberapa tempat wisata di kota itu dan berakhir di Jalan Malioboro. Di situ rombongan berpencar, sibuk dengan urusan dan tujuan masing-masing. Pada waktu yang ditentukan, rombongan kembali ke bus dan segera bergerak pulang ke Kendal. Sesampai di daerah Muntilan, kira-kira 20 km dari Yogya, para rekan guru yang kecapekan itu teringat akan Pak Karyo. Mereka mencarinya, dan ternyata Pak Karyo tidak ada di dalam bus! Gemparlah seluruh isi bus dan serentak mereka meminta pak sopir untuk berbalik arah ke Malioboro. Tuhan Yesus, dalam bacaan hari ini, adalah pokok dari segala sesuatu. Dia adalah yang utama dari segala yang diciptakan (ay. 15). Dialah yang semestinya menjadi pusat hidup orang percaya. Namun, yang sering terjadi, Tuhan Yesus malah ditinggalkan di belakang. Bukannya hidup untuk menyenangkan hati-Nya, kita sibuk mengejar kesenangan dan kepentingan kita masing-masing. Mungkin kita dapat membandingkannya dengan pelayanan yang kita jalani. Apakah kita benar-benar melakukannya untuk menyenangkan hati Tuhan, atau mengejar kepentingan pribadi? Tak jarang, suatu acara pelayanan malah berakhir dengan perselisihan, kekecewaan, dan kemarahan. Karena itu, penting menjadikan Dia pusat hidup kita —ESO. KETIKA KITA MENEMPATKAN YESUS SEBAGAI PUSAT KEHIDUPAN, KITA AKAN MELEPASKAN KEEGOISAN DAN MELAYANI SATU SAMA LAIN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Whatever is your best time in the day, give that to communion with God (Hudson Taylor). Apapun waktu terbaik anda dalam satu hari, gunakanlah itu untuk bersekutu dengan Tuhan (Hudson Taylor).

Bp. Gwan – CL 8
1.) 30 tahun lebih aku melupakan Tuhan Yesus, sewaktu kecil aku rajin Sekolah Minggu, tapi makin lama aku makin melupakan Tuhan Yesus, aku nggak punya pegangan sampai-sampai aku salah jalan, aku mengecewakan keluargaku. 2.) Peristiwa saat aku menerima kembali Kristus aku dipertemukan seseorang yang waktu itu mengajak aku ikutan komsel, awalnya aku menolak karena malu dan nggak ngerti apa itu komsel, tapi dia terus mengajak dan ngejelasin apa itu komsel akhirnya aku mencoba dan akhirnya ketagihan dan peristiwa penting juga, dia menyuruh aku ke gereja dan peristiwa yang paling DAHSYAT, aku akhirnya bisa menerima Tuhan seutuhnya aku di Baptis. 3.) Setelah aku bisa menerima Tuhan perubahan yang paling mencolok adalah kehidupan aku yang lebih tenang dan selalu rindu akan Kristus.

Bp. Anto – Citraland
Renungan Pagi. 26 April 2016. Berdoa dengan Tidak Jemu-Jemu. Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu —Lukas 18:1. Apakah Anda sedang mengalami masa-masa ketika setiap upaya yang Anda tempuh untuk menyelesaikan suatu masalah justru terhadang oleh kesulitan yang baru? Mungkin pada malam hari Anda bersyukur karena masalah Anda sudah tertangani, tetapi ketika bangun keesokan paginya, Anda menemukan ada hal lain yang tidak beres dan masalah itu masih ada. Suatu kali, saat mengalami masa seperti itu, saya terpana oleh kata-kata pembuka dari Lukas 18: “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1). Saya sudah sering membaca cerita tentang janda yang gigih itu tetapi saya belum pernah memahami alasan Yesus menceritakannya (ay. 2-8). Sekarang saya dapat mengaitkan kata-kata pembuka tersebut dengan perumpamaan yang diceritakan-Nya. Hikmah yang diajarkan Yesus kepada para pengikut-Nya sangatlah jelas: “Teruslah berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Doa bukanlah alat untuk memaksa Allah agar Dia melakukan apa yang kita inginkan. Doa merupakan suatu proses untuk menyadari kuasa dan rencana-Nya atas hidup kita. Melalui doa, kita menyerahkan hidup dan keadaan kita kepada Tuhan dan mempercayai-Nya untuk bertindak menurut waktu dan cara-Nya. Pada saat kita mengandalkan anugerah Allah, tidak hanya untuk jawaban dari permohonan kita tetapi juga untuk prosesnya, kita dapat selalu datang kepada Tuhan melalui doa, dengan mempercayai hikmat dan kepedulian-Nya bagi kita. Dorongan yang diberikan Tuhan untuk kita sangatlah jelas: Teruslah berdoa dengan tidak jemu-jemu! Tuhan, dalam kesulitan-kesulitan yang kuhadapi hari ini, jagalah hatiku, bimbinglah kata-kataku, dan tunjukkanlah anugerah-Mu. Kiranya aku selalu berharap kepada-Mu dalam doa. Doa mengubah segalanya.

Bp. Gunadi Cahyono
Mulai dari diri kita sendiri, (tidak dikuasai  tapi kuasailah ego daging), keluarga, negara dan dunia. Amin.

Worship Center Surabaya
Salah satu perbuatan yang dipandang kejahatan & dihukum berat ialah tindakan makar atau memberontak terhadap otoritas. Pengkhianatan dalam segala bentuknya adalah kejahatan yang besar. 2 Timotius 3:4a memberitahu kita bahwa di akhir zaman para pengkhianat akan bermunculan. Mereka menusuk dari belakang & menggunting dalam lipatan. Pribadi-pribadi serupa Yudas Iskariot tak lagi asing sebab cepat atau lambat kita dapat menjadi korbannya. Dan korban-korban yang terluka akan melahirkan lebih banyak lagi pengkhianat yang serupa. Selagi kita mungkin berpikir tidak akan pernah menjadi pengkhianat, kita perlu mengetahui tanda-tanda awal seseorang menjadi musuh dalam selimut: •Diawali oleh kemunafikan. Mereka yang berkhianat pada dasarnya adalah teman-teman palsu, rekan-rekan yang menipu, sahabat-sahabat yang tampak baik di muka namun berbeda di belakang kita. Para pengkhianat tidak pernah menunjukkan sikap keras atau menentang secara langsung tapi bermulut manis bagai pendukung yang setia padahal di balik semua itu menyimpan suatu kebencian & permusuhan. Membiasakan bermuka dua mempersiapkan jalan orang menjadi pengkhianat. •Tampak melalui sikap plin plan & tidak punya pendirian. Para pengkhianat secara lahiriahmenyatakan dukungannya namun di lubuk hatinya, mereka belum benar-benar setuju. Meski tampak setia mengikuti tetapi tak pernah ada komitmen nyata di hati mereka pada yang diikutinya. Demikian pula saat kita mengikut Kristus. Tanpa komitmen total, kita berpotensi menjadi pengkhianat-pengkhianat Tuhan -saat hidup kita hanya mencari keuntungan pribadi dari Dia. Tuhan tidak mencari simpatisan. Dia mencari murid-murid & hamba-hamba yang berjanji setia selamanya. •Sering cedera janji & tidak dapat dipercaya. Memegang perjanjian adalah sifat Tuhan yang karenanya takkan pernah berkhianat. Orang yang kerap berdusta & melaggar janji adalah ciri-ciri utama orang yang akan memotong di tikungan. Jika Tuhan berkarya dalam hidup kita, pastilah kita berkomitmen & memegang janji hingga saat-saat terakhir. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.


No comments:

Post a Comment