Friday, 1 April 2016

1 April 2016

THE END



Mengapa Harus Memberi?? Amsal 11:24-25, 24Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. 25Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Amin. Apakh Saudara ingin terbebas dari persoalan keuangan?? Tuhan mau kita hidup dalam “Keuangan yang Merdeka”. Prinsip apa yang harus kita miliki agar kita memiliki keuangan yang merdeka?? Salah satu prinsip keuangan yang merdeka adalah SETIA memberi (2 Kor 9:6 & Maleakhi 3:10). Pertama: 2 Kor 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Kedua: Maleakhi 3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-”Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Jadi jika kita SETIA dalam hal MEMBERI (Persembahan Perpuluhan & Persembahan Khusus) maka kita akan melihat bagaimana Tuhan mencurahkan berkat-berkatNya dengan melimpah dalam hidup kita. Amin?? Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita SETIA dalam MEMBERI?? J J

Ibu Rita – PKS CL 8
Yes Cik... Saya selalu terinspirasi sama Cik Siu siang. Setiap pagi selalu mengirimkan renungan pada semua orang tanpa berpikir nanti dibaca nggak ya? Kok nggak ada respon ya? Apa nanti orangnya nggak merasa risih saya kirimi Firman setiap hari? Itu yang saya belum bisa Cik. Saya masih bingung respon dari orang lain, saya masih bingung takut tertolak dll. Thanks Cik... Terus menginspirasi hidup saya. Cik Siu Siang ini kalau saya ibaratkan seperti matahari, ada sebagian orang yang senang karena matahari bersinar terik, ada sebagian orang yang bersungut-sungut karena matahari bersinar sangat terik sehingga membuat gerah dll, respon orang tentang matahari. Tp matahari tetap terbit dan bersinar setiap hari, nggak peduli respon orang yang ada di dunia ini. Thank you Cik... Aku pengen jadi kayak Cik Siu Siang.

Xavier Quentin Pranata
“Kesukaran bisa menimpa kita bukan karena kita melakukan kesalahan, melainkan melakukan hal yang benar di lingkungan yang salah.” Xavier Quentin Pranata.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin, amin, amin. Mazmur 37:23, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang  yang hidupnya berkenan kepada-Nya.” Di manakah Tuhan ketika kita berada di tengah-tengah kesulitan? Di mana kita bisa menemukan kekuatan untuk mengatasi ketakutan, tragedi, bencana dan kesedihan? Untuk apa sesungguhnya kita bergantung kepada Tuhan? KEKUATAN dari dalam melalui Anak Allah, saudara bisa menerima Yesus ke dalam hidupmu sekekarang juga. “Tetapi semua orang yang menerimanya diberi Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” Hanya melalui Yesus kita bisa kembali kepada Allah. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Yesus menawarkan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk, jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.” Sekarang juga saudara bisa meminta Tuhan untuk memasuki hidupmu, saudara bisa memintanya melalui doa. Doa berarti berbicara dengan jujur kepada Tuhan. Pada kesempatan ini, saudara bisa memanggil Tuhan dengan berkata seperti ini dengan penuh kesungguhan: Tuhan, di dalam hatiku aku telah berpaling dariMu, tetapi aku mau mengubahnya, aku ingin menerima Yesus Kristus dan pengampunanNya kedalam hatiku. Aku tidak mau terpisah dariMu lagi, jadilah Tuhan dalam hatiku dari hari ini sampai selama-lamanya. Terima kasih Tuhan. Setelah itu Tuhan berjanji untuk membuat hidupmu yang sekarang menjadi luar biasa melalui pengenalan akan Tuhan. Dimanakah Tuhan? Dia berjanji untuk tinggal di dalam hatimu. Dan dia memberikan hidupmu yang kekal kepadamu. Tidak peduli apa yang terjadi disekitarmu, Tuhan selalu ada untukmu. Amin. Happy Friday. Happy day. JBU All.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 1 April 2016. Barabas Bebas. Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan (Matius 27:26). Namanya Yesus Barabas. Ia terkenal karena kejahatannya sehingga harus dipenjara. Pilatus sedang berusaha melepaskan Yesus Kristus melalui tradisi pembebasan seorang hukuman pada hari raya itu. Ia menghadapkan mereka kepada massa yang sedang marah, dengan harapan mereka memilih membebaskan Yesus Kristus. Tetapi ia salah. Orang banyak memilih Barabas. Pada Jumat itu, Kristus menjalani hukuman-Nya: dicambuk, dihina, diolok-olok, dimahkotai duri, dipukul, diludahi, ditelanjangi, dan disalibkan. Dia dijadikan tontonan. Jika Barabas yang telah bebas menyaksikan semuanya itu, ia patut bersyukur. Kristus telah menggantikannya dan mengambil alih tempatnya. Jika saja orang banyak tidak memilihnya, ialah yang sedang menjalani hukuman pada Jumat yang kelam itu. Kita mungkin berpikir alangkah beruntungnya Barabas itu. Begitulah kenyataannya. Namun kita harus menyadari bahwa kita jauh lebih beruntung darinya. Sebenarnya, sama seperti Barabas, kita harus menjalani semua siksaan dan penderitaan yang Yesus tanggung. Bukan prajurit Roma, bukan hasutan para imam dan pemimpin agama Yahudi, dan bukan pengkhianatan Yudas yang membawa Yesus ke tiang gantungan, melainkan dosa kita. Dia dihukum supaya kita dapat dibebaskan. Dia mati supaya kita dapat hidup. Kasih-Nya yang menjadi alasan Dia memilih jalan itu. Barabas hanya terlepas dari penjara dan hukuman gantung di tiang salib, tetapi kita, oleh iman kepada Kristus, dilepaskan dari hukuman kekal, dan mewarisi kehidupan abadi di surga bersama Dia —HT. KRISTUS MATI BAGI KITA, SUPAYA KITA HIDUP BAGI DIA. Selamat pagi. Thank YOU God, its Friday. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Anto – Citraland
Syalom! Pagi saudaraku. Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29). Kita bisa taat kepada Allah dimulai saat kita mau belajar taat kepada otoritas kita. Tetap semangat.

Worship Center Surabaya
Kasih percaya segala sesuatu, tulis Paulus dalam 1 Kor 13:7. Itu berarti di dalam kasih ada iman, menghasilkan iman & memperagakan iman dalam hidupnya. Kasih sejati percaya pada siapa yang dikasihinya itu. Seperti Tuhan yang percaya bahwa bersama-sama Dia kita mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar bahkan lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12), begitu pula orang yang mengasihi Tuhan tak pernah bimbang akan Tuhan yang telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar baginya. Yesus menegur mereka yang kuatir akan hidup mereka sebab kekuatiran adalah bentuk penghinaan secara tidak langsung bahwa Bapa sorgawi tak cukup peduli akan kebutuhan anak-anakNya. Meragukan kasih-Nya sama dengan merendahkan-Nya yang jelas merupakan sikap tidak mengasihi-Nya. Yang mengasihi Tuhan itu: •Percaya akan pribadi Tuhan & segala sesuatu yang berhubungan dengan Dia. Ini termasuk percaya akan perkataan-Nya, hukum-hukumNya, petunjuk-petunjukNya, bimbingan tangan-Nya, rencana-rencanaNya & janji-janjiNya. Orang-orang yang mengasihi Tuhan mengenal siapa yang mereka kasihi itu MEMBUKTIKANNYA dengan MENYANDARKAN SELURUH HIDUPNYA, dalam suatu rasa aman yang besar, pada Tuhan mereka. Mereka hidup dalam kasih-Nya sehingga percaya “tiada satu apapun di dunia ini yang dapat memisahkan mereka dari kasih Tuhan” seburuk apapun yang mungkin mereka alami (Roma 8:32,37-39). •Percaya akan pekerjaan atau karya Tuhan di sepanjang keberadaannya di dunia. Orang-orang yang mengasihi Tuhan tidak ragu bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu di hidup mereka. Di masa yang lampau, di masa kini & di masa depan mereka. Jika kita terkadang begitu percaya akan kemampuan orang lain menolong kita namun bila kita tak bersedia percaya akan kemampuan Tuhan berkarya di dalam kita -bukankah kita telah menyakiti hati-Nya melalui ketidakpercayaan kita itu? Mereka yang dipenuhi kasih Tuhan yang sempurna akan mengasihi Tuhan dengan cara membuang segala ketakutan di hatinya. Kasih sempurna bebas dari rasa takut (1 Yoh 4:17-18) tapi penuh dengan percaya. Demikiankah kasih Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment