THE END
Mengapa Harus
Memberi?? Amsal 11:24-25, “24Ada yang menyebar harta, tetapi
bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu
berkekurangan. 25Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,
siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Amin. Apakh Saudara
ingin terbebas dari persoalan keuangan?? Tuhan mau kita hidup dalam “Keuangan
yang Merdeka”. Prinsip apa yang harus kita miliki agar kita memiliki
keuangan yang merdeka?? Salah satu prinsip keuangan yang merdeka adalah SETIA
memberi (2 Kor 9:6 & Maleakhi 3:10). Pertama: 2 Kor 9:6, “Camkanlah
ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang
menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Kedua: Maleakhi
3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah
perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-”Ku dan ujilah Aku,
firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap
langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Jadi jika
kita SETIA dalam hal MEMBERI (Persembahan Perpuluhan &
Persembahan Khusus) maka kita akan melihat bagaimana Tuhan mencurahkan
berkat-berkatNya dengan melimpah dalam hidup kita. Amin?? Bagaimana dengan
kita? Sudahkah kita SETIA dalam MEMBERI?? J J
Ibu
Rita – PKS CL 8
Yes Cik... Saya
selalu terinspirasi sama Cik Siu siang. Setiap pagi selalu mengirimkan renungan
pada semua orang tanpa berpikir nanti dibaca nggak ya? Kok nggak ada respon ya?
Apa nanti orangnya nggak merasa risih saya kirimi Firman setiap hari? Itu yang
saya belum bisa Cik. Saya masih bingung respon dari orang lain, saya masih
bingung takut tertolak dll. Thanks Cik... Terus menginspirasi hidup saya. Cik
Siu Siang ini kalau saya ibaratkan seperti matahari, ada sebagian orang yang
senang karena matahari bersinar terik, ada sebagian orang yang bersungut-sungut
karena matahari bersinar sangat terik sehingga membuat gerah dll, respon orang
tentang matahari. Tp matahari tetap terbit dan bersinar setiap hari, nggak
peduli respon orang yang ada di dunia ini. Thank you Cik... Aku pengen jadi
kayak Cik Siu Siang.
Xavier
Quentin Pranata
“Kesukaran bisa
menimpa kita bukan karena kita melakukan kesalahan, melainkan melakukan hal
yang benar di lingkungan yang salah.” Xavier Quentin Pranata.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya amin, amin,
amin. Mazmur 37:23, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.” Di
manakah Tuhan ketika kita berada di tengah-tengah kesulitan? Di mana kita bisa
menemukan kekuatan untuk mengatasi ketakutan, tragedi, bencana dan kesedihan?
Untuk apa sesungguhnya kita bergantung kepada Tuhan? KEKUATAN dari dalam
melalui Anak Allah, saudara bisa menerima Yesus ke dalam hidupmu sekekarang
juga. “Tetapi semua orang yang menerimanya diberi Nya kuasa untuk menjadi
anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” Hanya melalui Yesus
kita bisa kembali kepada Allah. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Yesus menawarkan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk, jikalau ada
orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk
mendapatkannya.” Sekarang juga saudara bisa meminta Tuhan untuk memasuki
hidupmu, saudara bisa memintanya melalui doa. Doa berarti berbicara dengan
jujur kepada Tuhan. Pada kesempatan ini, saudara bisa memanggil Tuhan dengan
berkata seperti ini dengan penuh kesungguhan: Tuhan, di dalam hatiku aku telah
berpaling dariMu, tetapi aku mau mengubahnya, aku ingin menerima Yesus Kristus
dan pengampunanNya kedalam hatiku. Aku tidak mau terpisah dariMu lagi, jadilah
Tuhan dalam hatiku dari hari ini sampai selama-lamanya. Terima kasih Tuhan.
Setelah itu Tuhan berjanji untuk membuat hidupmu yang sekarang menjadi luar
biasa melalui pengenalan akan Tuhan. Dimanakah Tuhan? Dia berjanji untuk
tinggal di dalam hatimu. Dan dia memberikan hidupmu yang kekal kepadamu. Tidak
peduli apa yang terjadi disekitarmu, Tuhan selalu ada untukmu. Amin. Happy
Friday. Happy day. JBU All.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Jumat, 1 April 2016. Barabas Bebas. Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka,
tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan (Matius 27:26).
Namanya Yesus Barabas. Ia terkenal karena kejahatannya sehingga harus
dipenjara. Pilatus sedang berusaha melepaskan Yesus Kristus melalui tradisi
pembebasan seorang hukuman pada hari raya itu. Ia menghadapkan mereka kepada
massa yang sedang marah, dengan harapan mereka memilih membebaskan Yesus
Kristus. Tetapi ia salah. Orang banyak memilih Barabas. Pada Jumat itu, Kristus
menjalani hukuman-Nya: dicambuk, dihina, diolok-olok, dimahkotai duri, dipukul,
diludahi, ditelanjangi, dan disalibkan. Dia dijadikan tontonan. Jika Barabas
yang telah bebas menyaksikan semuanya itu, ia patut bersyukur. Kristus telah
menggantikannya dan mengambil alih tempatnya. Jika saja orang banyak tidak
memilihnya, ialah yang sedang menjalani hukuman pada Jumat yang kelam itu. Kita
mungkin berpikir alangkah beruntungnya Barabas itu. Begitulah kenyataannya.
Namun kita harus menyadari bahwa kita jauh lebih beruntung darinya. Sebenarnya,
sama seperti Barabas, kita harus menjalani semua siksaan dan penderitaan yang
Yesus tanggung. Bukan prajurit Roma, bukan hasutan para imam dan pemimpin agama
Yahudi, dan bukan pengkhianatan Yudas yang membawa Yesus ke tiang gantungan,
melainkan dosa kita. Dia dihukum supaya kita dapat dibebaskan. Dia mati supaya
kita dapat hidup. Kasih-Nya yang menjadi alasan Dia memilih jalan itu. Barabas
hanya terlepas dari penjara dan hukuman gantung di tiang salib, tetapi kita,
oleh iman kepada Kristus, dilepaskan dari hukuman kekal, dan mewarisi kehidupan
abadi di surga bersama Dia —HT. KRISTUS MATI BAGI KITA, SUPAYA KITA HIDUP BAGI
DIA. Selamat pagi. Thank YOU God, its Friday. Tuhan Yesus memberkati.
Bp.
Anto – Citraland
Syalom! Pagi
saudaraku. Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus
lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29). Kita
bisa taat kepada Allah dimulai saat kita mau belajar taat kepada otoritas kita.
Tetap semangat.
Worship
Center Surabaya
Kasih percaya segala sesuatu, tulis Paulus dalam 1 Kor
13:7. Itu berarti di dalam kasih ada iman, menghasilkan iman & memperagakan
iman dalam hidupnya. Kasih sejati percaya pada siapa yang dikasihinya itu.
Seperti Tuhan yang percaya bahwa bersama-sama Dia kita mampu melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang besar bahkan lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh
14:12), begitu pula orang yang mengasihi Tuhan tak pernah bimbang akan Tuhan
yang telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar baginya. Yesus menegur
mereka yang kuatir akan hidup mereka sebab kekuatiran adalah bentuk penghinaan
secara tidak langsung bahwa Bapa sorgawi tak cukup peduli akan kebutuhan
anak-anakNya. Meragukan kasih-Nya sama dengan merendahkan-Nya yang jelas
merupakan sikap tidak mengasihi-Nya. Yang mengasihi Tuhan itu: •Percaya akan
pribadi Tuhan & segala sesuatu yang berhubungan dengan Dia. Ini termasuk
percaya akan perkataan-Nya, hukum-hukumNya, petunjuk-petunjukNya, bimbingan
tangan-Nya, rencana-rencanaNya & janji-janjiNya. Orang-orang yang mengasihi
Tuhan mengenal siapa yang mereka kasihi itu MEMBUKTIKANNYA dengan MENYANDARKAN
SELURUH HIDUPNYA, dalam suatu rasa aman yang besar, pada Tuhan mereka. Mereka
hidup dalam kasih-Nya sehingga percaya “tiada satu apapun di dunia ini yang
dapat memisahkan mereka dari kasih Tuhan” seburuk apapun yang mungkin mereka
alami (Roma 8:32,37-39). •Percaya akan pekerjaan atau karya Tuhan di sepanjang
keberadaannya di dunia. Orang-orang yang mengasihi Tuhan tidak ragu bahwa Tuhan
bekerja dalam segala sesuatu di hidup mereka. Di masa yang lampau, di masa kini
& di masa depan mereka. Jika kita terkadang begitu percaya akan kemampuan
orang lain menolong kita namun bila kita tak bersedia percaya akan kemampuan
Tuhan berkarya di dalam kita -bukankah kita telah menyakiti hati-Nya melalui
ketidakpercayaan kita itu? Mereka yang dipenuhi kasih Tuhan yang sempurna akan
mengasihi Tuhan dengan cara membuang segala ketakutan di hatinya. Kasih
sempurna bebas dari rasa takut (1 Yoh 4:17-18) tapi penuh dengan percaya.
Demikiankah kasih Anda? Salam revival! GBU.

No comments:
Post a Comment