THE END
Matius 28:19-20,
“19Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid- Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20Dan
ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Tuhan
Yesus mengutus murid-muridNya untuk menghasilkan murid-murid Kristus
yang baru, bagaimana caranya agar menghasilkan murid Kristus??
- Terlibat dalam membina/mementor jiwa-jiwa baru dalam “One To One”/Victorius Life
- Bergabunglah dalam Komunitas Sel, bukan hanya menjadi anggota saja tetapi punyai kerinduan untuk bertumbuh dalam komunitas & membina jiwa-jiwa yang lain.
Bagaimana dengan
kita? Apakah kita sudah tergabung dengan Komunitas Sel & menjad “Murid
Kristus yang Sejati”?? Apakah kita rindu melayani sebagai Pembina?/Mentor
dalam OneToOne??
Worship
Center Surabaya
Untuk memiliki
hati & hidup yang bijaksana, beroleh hikmat yang berguna beserta segala
berkat-berkatnya, maka kita perlu mempelajari pesan-pesan pengajaran yang
disampaikan Sang Hikmat pada kita. Supaya kita tidak menjadi salah satu yang
disebut sebagai orang bebal, nasihat ini perlu kita perhatikan: “Orang bebal
tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya” (Ams 18:2).
Sesungguhnya menyampaikan apa yang ada di hati kita bukanlah sesuatu yang
terlarang apalagi tercela. Daud menganjurkan supaya kita mencurahkan isi hati
kita pada Tuhan sebab Dialah tempat pelarian & perlindungan kita (Maz 62:9).
Setiap saleh-saleh Tuhan melakukannya (1 Sam 1:9-15; Bil 11:11-15; Yer
20:7-18). Dan Tuhan dengan segala kasih & kesabaran-Nya mendengar bahkan
menampung air mata mereka dalam kirbat-Nya (Maz 56:9). Tuhan sendiri dengan
terbuka menyatakan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka yang remuk & patah
hatinya. Begitu pula jika kita memiliki sahabat karib yang kepadanya kita
mempercayakan isi hati kita. Yang dimaksudkan dalam Amsal di atas ialah
orang-orang yang LEBIH SUKA menceritakan segala hal -khususnya tentang dirinya-
sampai-sampai meluluhkan dirinya untuk mendengarkan orang lain. Karena
keasyikan & kebiasaannya yang merasa nyaman mencurahkan isi hati kepada
orang lain, ia justru menutup diri & melewatkan kesempatan untuk menerima
nasihat & pesan-pesan yang berguna baginya dari Tuhan atau sesamanya.
Karena selagi kita terus berbicara, sangat sukar kita dapat mendengar dengan
baik. Mungkin saja beban berkurang saat kita mencurahkan isi hati namun mereka
yang menyediakan diri untuk mendengarkanlah yang akan belajar segala sesuatu.
Hanya dengan cara itu -yaitu bersikap sebagai murid yang belajar- kita akan
beroleh ilmu, pengetahuan & hikmat dalam kehidupan. Bukan yang paling
banyak bicara yang berhikmat. Yang paling banyak mendengar, merenung, meneliti
& taat bertindak sesuai petunjuk-petunjuk (lebih-lebih yang dari Allah)
yang akan disebut bijaksana. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz 17:6 – aku
berdoa kepada-MU, karena ENGKAU menjawab aku, ya ALLAH; Sendengkanlah telingaku
kepada-MU, dengarkanlah perkataanku! DIA hanya sejauh DOA. Yukkk suka berDOA!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Xavier
Quentin Pranata
“Perjalanan
pelayanan bisa saja melelahkan tapi menyenangkan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH. Kamis,
21 April 2016. Anugerah Kesempatan Kedua. Datanglah firman TUHAN kepada Yunus
untuk kedua kalinya… (Yunus 3:1). Tak jarang “pengenalan kanak-kanak” kita akan
Allah terus melekat di benak kita walau kita sudah dewasa secara usia. Bahwa
Allah itu bagaikan penguasa yang penuh wibawa, perkasa, yang keras dan tak
terbantahkan. Segala perintah-Nya pantang untuk ditawar, ditunda, atau
diabaikan. Sekali saja kita berani tidak menaati perintah-Nya, pasti kita akan
disikat habis! Namun, jika kita mendalami kitab Yunus, kita akan tercengang.
Ternyata Allah itu panjang sabar dan besar kasih setia-Nya (bdk. Yun. 3:10;
4:2, 11)! Bayangkan, Yunus, seorang nabi, seharusnya memiliki kedekatan dan
ketaatan lebih dari orang kebanyakan. Nyatanya, ia gagal. Dengan sadar ia melarikan
diri menjauhi Allah. Yunus mengabaikan tugas panggilan-Nya untuk memberitakan
maksud Allah kepada bangsa Niniwe. Dengan penuh kesabaran, Allah menyelamatkan
Yunus. Melalui seekor ikan besar Allah membawa Yunus kembali pada panggilan
hidupnya, yakni ke Niniwe, bukan ke Tarsis (2:10). Dan, “datanglah firman Tuhan
kepada Yunus untuk kedua kalinya”, menunjukkan bahwa kemurahan Tuhan sungguh
tiada habisnya. Tuhan memberi kesempatan baru. Seperti ungkapan Yeremia:
“Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu” (Rat 3:23). Sebagai hamba dan anak
Tuhan, kita bisa gagal dalam mengiring dan menaati perintah-Nya. Namun, selalu
tersedia anugerah kesempatan kedua dari Dia, agar kita bangkit dan kembali pada
jalan ketaatan. Ke Niniwe, itu yang Tuhan mau. Bukan ke Tarsis, seperti yang
kita mau. Bersediakah kita menerima kesempatan yang kedua?—SST SELALU TERSEDIA
ANUGERAH KESEMPATAN KEDUA, NAMUN JANGANLAH MENYIA-NYIAKAN KEMURAHAN-NYA.
Selamat pagi. Selamat Hari Kartini. Semangat terus Wanita Indonesia. Tuhan
Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Jangan Mengutuki
Diri... Sering kita dengar orang berkata, “Mati dech aku,” atau “Sial banget
gue”... Tadinya saya pikir ini hanya cara kita berbicara saja. Tetapi setelah
mempelajari lebih lanjut, ternyata kata-kata yang kita ucapkan bukan hal kosong
melainkan ada kuasanya. Tidak heran kalau orang tua berkata kepada anaknya,
“Kamu bodoh!” dan tidak lama anak ini benar menjadi anak yang lambat berpikir
karena apa yang diucapkan menjadi gambaran mental anak itu. Mengutuki adalah
mengharapkan hal yang buruk terjadi dan sebaliknya memberkati adalah
mengharapkan hal baik terjadi. Kutukan bentuk lain berkata, “Diabetesku...
kankerku... dll” yang secara tidak langsung mengklaim hak milik atas penyakit
tersebut. Lebih baik berkata, “Penyakit ini...” atau “Aku menjalani terapi dan
akan lebih baik...” Tidak perlu mendeklarasikan. Ucapkan kata-kata iman yang
positif. Brian Tracy berkata, “Jangan katakan sesuatu tentang diri kita yang
kita tidak ingin hal itu terjadi.” 1 Petrus 3:10, “Siapa yang mau mencintai
hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang
jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” Terima kasih Tuhan
untuk hari yang telah Kau berkati bagi setiap kami dan keluarga kami. Pagi ini Bapa,
kami mau belajar untuk berkata kata tetap positif dalam sgala keadaan dan
berpikir positif. Kuasai pikiran dan urapi mulut setiap kami, setiap perkataan
positif yang kami perkatakan akan menjadikan kami hidup berkemenangan. Mampukan
kami hidup dalam ketetapanMu dan tidak menyimpang dr jalan-jalanMu. Mampukan
setiap kami: Siu Siang dan Liching, untuk melakukan setiap langkah hidup kami
dengan setia sehingga Kau bisa melakukan bagianMu Bapa sehingga kami bisa
menuju sempurna. Kau yang kami tinggikan, kami puji dan kami sembah. Segala
kemuliaan hanya bagiMu Tuhan. Thanks always Jesus for Your grace. Amin. Apapun
yang terjadi, tetaplah bertahan, jangan menyerah, jangsn keluar dari permainan
kehidupan ini sampai engkau tiba pada tujuan (finishing well)!

No comments:
Post a Comment