Thursday, 21 April 2016

21 April 2016



THE END




Matius 28:19-20, 19Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid- Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya untuk menghasilkan murid-murid Kristus yang baru, bagaimana caranya agar menghasilkan murid Kristus??
  1. Terlibat dalam membina/mementor jiwa-jiwa baru dalam “One To One”/Victorius Life
  2. Bergabunglah dalam Komunitas Sel, bukan hanya menjadi anggota saja tetapi punyai kerinduan untuk bertumbuh dalam komunitas & membina jiwa-jiwa yang lain.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah tergabung dengan Komunitas Sel & menjad “Murid Kristus yang Sejati”?? Apakah kita rindu melayani sebagai Pembina?/Mentor dalam OneToOne??

Worship Center Surabaya
Untuk memiliki hati & hidup yang bijaksana, beroleh hikmat yang berguna beserta segala berkat-berkatnya, maka kita perlu mempelajari pesan-pesan pengajaran yang disampaikan Sang Hikmat pada kita. Supaya kita tidak menjadi salah satu yang disebut sebagai orang bebal, nasihat ini perlu kita perhatikan: “Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya” (Ams 18:2). Sesungguhnya menyampaikan apa yang ada di hati kita bukanlah sesuatu yang terlarang apalagi tercela. Daud menganjurkan supaya kita mencurahkan isi hati kita pada Tuhan sebab Dialah tempat pelarian & perlindungan kita (Maz 62:9). Setiap saleh-saleh Tuhan melakukannya (1 Sam 1:9-15; Bil 11:11-15; Yer 20:7-18). Dan Tuhan dengan segala kasih & kesabaran-Nya mendengar bahkan menampung air mata mereka dalam kirbat-Nya (Maz 56:9). Tuhan sendiri dengan terbuka menyatakan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka yang remuk & patah hatinya. Begitu pula jika kita memiliki sahabat karib yang kepadanya kita mempercayakan isi hati kita. Yang dimaksudkan dalam Amsal di atas ialah orang-orang yang LEBIH SUKA menceritakan segala hal -khususnya tentang dirinya- sampai-sampai meluluhkan dirinya untuk mendengarkan orang lain. Karena keasyikan & kebiasaannya yang merasa nyaman mencurahkan isi hati kepada orang lain, ia justru menutup diri & melewatkan kesempatan untuk menerima nasihat & pesan-pesan yang berguna baginya dari Tuhan atau sesamanya. Karena selagi kita terus berbicara, sangat sukar kita dapat mendengar dengan baik. Mungkin saja beban berkurang saat kita mencurahkan isi hati namun mereka yang menyediakan diri untuk mendengarkanlah yang akan belajar segala sesuatu. Hanya dengan cara itu -yaitu bersikap sebagai murid yang belajar- kita akan beroleh ilmu, pengetahuan & hikmat dalam kehidupan. Bukan yang paling banyak bicara yang berhikmat. Yang paling banyak mendengar, merenung, meneliti & taat bertindak sesuai petunjuk-petunjuk (lebih-lebih yang dari Allah) yang akan disebut bijaksana. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 17:6 – aku berdoa kepada-MU, karena ENGKAU menjawab aku, ya ALLAH; Sendengkanlah telingaku kepada-MU, dengarkanlah perkataanku! DIA hanya sejauh DOA. Yukkk suka berDOA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
“Perjalanan pelayanan bisa saja melelahkan tapi menyenangkan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 21 April 2016. Anugerah Kesempatan Kedua. Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya… (Yunus 3:1). Tak jarang “pengenalan kanak-kanak” kita akan Allah terus melekat di benak kita walau kita sudah dewasa secara usia. Bahwa Allah itu bagaikan penguasa yang penuh wibawa, perkasa, yang keras dan tak terbantahkan. Segala perintah-Nya pantang untuk ditawar, ditunda, atau diabaikan. Sekali saja kita berani tidak menaati perintah-Nya, pasti kita akan disikat habis! Namun, jika kita mendalami kitab Yunus, kita akan tercengang. Ternyata Allah itu panjang sabar dan besar kasih setia-Nya (bdk. Yun. 3:10; 4:2, 11)! Bayangkan, Yunus, seorang nabi, seharusnya memiliki kedekatan dan ketaatan lebih dari orang kebanyakan. Nyatanya, ia gagal. Dengan sadar ia melarikan diri menjauhi Allah. Yunus mengabaikan tugas panggilan-Nya untuk memberitakan maksud Allah kepada bangsa Niniwe. Dengan penuh kesabaran, Allah menyelamatkan Yunus. Melalui seekor ikan besar Allah membawa Yunus kembali pada panggilan hidupnya, yakni ke Niniwe, bukan ke Tarsis (2:10). Dan, “datanglah firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya”, menunjukkan bahwa kemurahan Tuhan sungguh tiada habisnya. Tuhan memberi kesempatan baru. Seperti ungkapan Yeremia: “Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu” (Rat 3:23). Sebagai hamba dan anak Tuhan, kita bisa gagal dalam mengiring dan menaati perintah-Nya. Namun, selalu tersedia anugerah kesempatan kedua dari Dia, agar kita bangkit dan kembali pada jalan ketaatan. Ke Niniwe, itu yang Tuhan mau. Bukan ke Tarsis, seperti yang kita mau. Bersediakah kita menerima kesempatan yang kedua?—SST SELALU TERSEDIA ANUGERAH KESEMPATAN KEDUA, NAMUN JANGANLAH MENYIA-NYIAKAN KEMURAHAN-NYA. Selamat pagi. Selamat Hari Kartini. Semangat terus Wanita Indonesia. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Jangan Mengutuki Diri... Sering kita dengar orang berkata, “Mati dech aku,” atau “Sial banget gue”... Tadinya saya pikir ini hanya cara kita berbicara saja. Tetapi setelah mempelajari lebih lanjut, ternyata kata-kata yang kita ucapkan bukan hal kosong melainkan ada kuasanya. Tidak heran kalau orang tua berkata kepada anaknya, “Kamu bodoh!” dan tidak lama anak ini benar menjadi anak yang lambat berpikir karena apa yang diucapkan menjadi gambaran mental anak itu. Mengutuki adalah mengharapkan hal yang buruk terjadi dan sebaliknya memberkati adalah mengharapkan hal baik terjadi. Kutukan bentuk lain berkata, “Diabetesku... kankerku... dll” yang secara tidak langsung mengklaim hak milik atas penyakit tersebut. Lebih baik berkata, “Penyakit ini...” atau “Aku menjalani terapi dan akan lebih baik...” Tidak perlu mendeklarasikan. Ucapkan kata-kata iman yang positif. Brian Tracy berkata, “Jangan katakan sesuatu tentang diri kita yang kita tidak ingin hal itu terjadi.” 1 Petrus 3:10, “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” Terima kasih Tuhan untuk hari yang telah Kau berkati bagi setiap kami dan keluarga kami. Pagi ini Bapa, kami mau belajar untuk berkata kata tetap positif dalam sgala keadaan dan berpikir positif. Kuasai pikiran dan urapi mulut setiap kami, setiap perkataan positif yang kami perkatakan akan menjadikan kami hidup berkemenangan. Mampukan kami hidup dalam ketetapanMu dan tidak menyimpang dr jalan-jalanMu. Mampukan setiap kami: Siu Siang dan Liching, untuk melakukan setiap langkah hidup kami dengan setia sehingga Kau bisa melakukan bagianMu Bapa sehingga kami bisa menuju sempurna. Kau yang kami tinggikan, kami puji dan kami sembah. Segala kemuliaan hanya bagiMu Tuhan. Thanks always Jesus for Your grace. Amin. Apapun yang terjadi, tetaplah bertahan, jangan menyerah, jangsn keluar dari permainan kehidupan ini sampai engkau tiba pada tujuan (finishing well)!

No comments:

Post a Comment