Monday, 11 April 2016

11 April 2016



THE END




Melakukan KehendakNya. Matius 7:21-23, 21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama- Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Amin. Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa melaksanakan kehendak BAPA-Nya yang di surga merupakan suatu syarat untuk masuk kerajaan surga. Kehendak BAPA itu adalah: apa yang BAIK, yang BERKENAN kepada Allah dan yang SEMPURNA (Roma 12:2b). Yesus juga dengan tegas menyatakan bahwa keberhasilan dalam pelayanan (bernubuat, mengusir setan, bahkan mengadakan mujizat) bukan merupakan standard untuk menilai hubungan mereka dengan Kristus, bisa jadi  sesungguhnya Kristus tidak pernah mengenal mereka L. Bagaimana dengan kita?? Apakah kita sudah melakukan kehendak BAPA?? Sehingga DIA MENGENAL kita??

Xavier Quentin Pranata
“Boss menyuruh kita bekerja, sedangkan atasan mengajak kita melakukan pekerjaan bersama-sama.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 11 April 2016. Saya Doakan Ya. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat (Matius 5:37). “Tolong bantu doa, ya.” Kata-kata semacam ini sering terdengar saat kita berhadapan dengan saudara seiman yang sedang mengalami musibah atau kejadian tidak menyenangkan. Reaksi paling umum yang ditemui adalah anggukan kepala atau sekadar jawaban singkat, “Iya.” Namun, yang menjadi pertanyaan, seberapa sering kita benar-benar mendoakan orang tersebut? Dari pengalaman pribadi, saya sering menemukan orang-orang—termasuk saya sendiri—yang katanya akan mendoakan, ternyata tidak melakukannya. Tentu saja, ada banyak juga yang benar-benar mendoakan. Yang menjadi masalah bukan mendoakan atau tidak, melainkan integritas kita sebagai orang Kristen. Dari sekian banyak definisi tentang integritas, salah satunya adalah “bisa dipercaya”. Dari contoh kasus sederhana di atas tentang mendoakan, kita bisa menilai diri sendiri apakah kita termasuk orang yang berintegritas atau tidak. Memang orang yang meminta bantuan doa kita tidak akan tahu dan biasanya juga tidak akan mengecek apakah kita benar-benar mendoakannya atau tidak. Tetapi, Tuhan tahu. Masalah integritas ini memang tidak akan berpengaruh pada keselamatan kita, tetapi akan berpengaruh pada kualitas hidup kita. Kualitas hidup yang baik akan menjadi kesaksian yang berbicara lebih kuat daripada perkataan belaka. Apakah kita rindu menjadi saksi yang efektif bagi Yesus? Mulailah dari hal sederhana, seperti menepati perkataan dan janji kita —DP. KESAKSIAN HIDUP SESEORANG BISA TERLIHAT DARI CARANYA MENEPATI PERKATAANNYA. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
SELAMAT KARENA MENOLONG ORANG LAIN. Filipi 4:5, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Seorang pejalan kaki yang mengadakan perjalanan di malam bersalju yang tebal & dingin dibawah 0 derajat di New England. Ia begitu lelah & kakinya sudah beku, Ia merasa tidak dapat bergerak lebih jauh lagi. Hatinya mulai tergoda untuk menyerah & ingin berbaring di atas salju, tapi ia sadar itu berarti kematian. Sementara ia terus berjuang & berjalan di atas salju, kakinya terantuk pada sebuah gundukan. Ternyata gundukan itu adalah tubuh seseorang. Hatinya bergumul antara ditinggal atau ditolong, tapi tiba-tiba rasa belas kasihan mulai berkobar dalam dirinya. Ia mulai berjalan berjuang menempuh jalan bersalju sambil membopong orang itu. Di kejauhan ia melihat cahaya & ia maju terus mendekati cahaya itu. Akhirnya jatuh rebah tepat di depan pintu rumah orang. Rumah itu adalah milik seorang petani bersama istrinya & mereka menyeret dua tubuh laki-laki setengah kaku itu, membawanya ke tempat perapian & menghangatkannya, memberikan makanan, minuman hangat & tempat tidur. Orang yang ditolong mengucapkan terima kasih kepada penolongnya karena telah menyelamatkan jiwanya. Pejalan kaki dari New England ini berkata, “Saat menolong hidup anda sebenarnya saya juga menyelamatkan hidup saya sendiri, karena tadinya saya juga sebenarnya mau menyerah.” Pesan moral, setiap usaha & tugas yang dibuat untuk orang lain sebenarnya justru juga untuk mendatangkan keuntungan bagi diri kita sendiri. Kalau kita melukai orang lain, maka sebenarnya kita juga melukai diri kita sendiri. Setiap kita memberkati orang lain, maka kita juga memberkati diri kita sendiri. Setiap kata simpati yang diucapkan pada orang yang berduka, sering juga melepaskan simpati pada diri kita sendiri. “Marilah Kita Belajar Berhikmat & Bijaksana, Agar Kita Dapat Menjadi Saluran Berkat Bagi Orang Lain!!”

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
2 Kor 13:3 – TUHAN tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu! YESUS sumber KEKUATANku, DIA hebat, kita pun pasti dibuat-NYA kuat dan hebat. Lebih dari pemenang! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Ibu Rita – PKS CL 8
Bukan kebetulan kalau firman yang Cik Siu Siang share dan firman yang saya dengar di Sangkakala bisa sama: Tuhan bukan terkagum-kagum karena melihat pencapaian kita, tapi Tuhan akan terkagum-kagum melihat iman kita #Pdt.SudiDarma. Jangan terlena oleh pujian manusia kalau pada akhirnya Tuhan akan menolak kita #Pdt.SudiDarma. Tuhan Yesus ajaib...

Worship Center Surabaya
Renungan-renungan pemazmur adalah contoh & panduan yang mengajar & membentuk kita memiliki sikap hati yang benar untuk hidup seturut firman Tuhan. Salah satunya yang dituliskan dalam Mazmur 119:36: “Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.” Yang dimaksud ‘laba‘, dalam bahasa aslinya, merujuk kepada keuntungan-keuntungan yang tidak jujur tetapi makna di dalamnya juga termasuk “segala bentuk keuntungan yang memuaskan keinginan-keinginan pribadi yang mengutamakan & mementingkan diri.” Mengapa pemazmur memohonkan yang demikian? •Sebab hidup menjadi pelaku firman & berbakti kepada Tuhan lebih berguna daripada usaha-usaha pengumpulan keuntungan-keuntungan di dunia ini. Paulus mengingatkan anak rohaninya, Timotius, supaya melatih (mendisiplin) diri untuk hidup beribadah pada Tuhan sebab hal itu mendatangkan manfaat yang besar baik di hidup yang sekarang maupun yang akan datang (1 Tim.4:7-10). Mencari Kerajaan Allah & kebenaran-Nya ialah LEBIH UTAMA daripada pengejaran-pengejaran (yang didorong kekuatiran) akan kebutuhan hidup sehari-hari (Mat.6:33). •Sebab hidup kita tidak ditentukan untuk selesai di dunia ini saja. Jika kekekalan & Allah tidak ada, mengejar laba adalah keniscayaan kelangsungan hidup di dunia & demi anak cucu. Bagi yang sungguh-sungguh percaya & menyadari benar bahwa Tuhan ada & ada suatu tempat tujuan yang kekal di luar dunia yang sekarang -inilah perspektif kekekalan- maka yang perlu adalah bagaimana sikap kita pada Tuhan yang menjadi tujuan akhir berlabuhnya jiwa manusia. Itu sebabnya kita diajar mengikut & mengasihi Kristus sepenuh hati & jiwa sebab bersama Dialah kita menjalani keabadian. •Sebab ada harta rohani yang perlu menjadi sasaran pengejaran kita selama hidup di dunia ini. Untuk apakah orang menimbun kekayaan materi itu sedangkan ia tidak tahu & tak kuasa memperpanjangkan usianya sendiri? Tidakkah lebih perlu kita hidup seturut kehendak firman-Nya sehingga mengumpulkan harta sorgawi yang tak dapat dirusakkan atau hilang itu? (Mat.6:19-21). Rindu dicondongkan kemanakah hati Anda? Salam revival! GBU.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Yohanes 15:9-17. Kita harus memiliki Roh yang Unggul. Unggul dalam segala hal karena Tuhan sudah memberikn bagi kita kemampuan untuk memiliki Roh yang unggul itu. Ayat 10: Unggul dalam kerendahan hati. Ayat 16: Unggul dalam Integritas. Ayat 9-12: Unggul dalam mengasihi. Ayat 12-16: Unggul dalam keberanian. Unggul adalah kualits terbaik untuk memberi lebih atau lebih banyak dari yang biasanya atau melebihi standar. Mengapa kita perlu Unggul: 1) Kita perlu memiliki sifat dan sikap yang unggul artinya sifat atau sikp yang menyenangkan hati Tuhan, karena Tuhan sudah memberkan kita kemampuan untuk bersikap unggul (kita adalah benih yang unggul). 2) Kita harus melakukan hal-hal yang unggul artinya apa yang kita kerjakan itu harus menghasilkan buah dan buah itu tetap (ayat 12). Kita melakukan hal-hal yang unggul agar kita dapat menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang berkuasa karena orang akan melihat Allah melalui kehidupan kita. 3) Karena kitalah saksi Kristus maka kita harus mempresentasikan Tuhan dimana saja. Saat kita berhubungan dengan orang lain kita harus menunjukkan Tuhan yang ada didalam kita sehingga mereka dapat melihat dan mengalami karakter Kristus dalam kita. Amin! Selamat malam. JBU All.


No comments:

Post a Comment