THE END
Orang Kaya &
Lazarus (Lukas 16:19-31). Kehidupan “orang kaya” dihabiskan
dengan gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri, Ia membuat pilihan yang
salah & menderita selama-lamanya. Sedangkan seumur hidupnya Lazarus hidup
dalam kemiskinan. Namun hatinya benar dihadapan Allah. Nama Lazarus berarti “Allah
adalah Pertolonganku”. Dan Ia tidak pernah melepaskan imannya kepada Allah.
Ia mati & segera diangkat ke Firdaus bersama-sama Abraham. Bagaimana dengan
kita, apakah kita anak-anak Tuhan yang hidup berpusat pada diri sendiri? Atau
kita anak-anak Tuhan yang tetap mempertahankan IMAN kita sampai akhir sekalipun
kita harus “menderita” sementara didunia ini?
Worship
Center Surabaya
Sebagai
pengikut-pengikut Kristus, kita seharusnya bertumbuh secara rohani. Bukan
sekedar menjadi Kristen atau rajin mengunjungi tempat & acara ibadah. Sang
rasul dalam surat 2 Petrus 1:9 menyebutkan 3 dampak yang sangat fatal jika
kurang atau tidak ada pertumbuhan dalam hidup rohani atau: 1) Orang-orang
percaya yang LUPA “karena ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah
dihapuskan...” Mereka yang tidak pernah menjadi pelaku-pelaku firman melainkan
hanya menjadi pendengar saja sangat rawan melupakan semua hal tentang Tuhan. Ajaran-ajaran
Tuhan sering diabaikan, lupa teladan hidup pahlawan-pahlawan iman &
hamba-hamba Tuhan yang setia mengabdi kepada Tuhan, bahkan tak ingat lagi bahwa
dirinya dipanggil menjalani suatu hidup yang baru; yang telah ditebus dari maut
& diampuni segala dosa-dosanya. Kondisi ini sangat rentan dipengaruhi lebih
lanjut oleh godaan & daya tarik dunia dimana hati mereka makin diam akan
Tuhan. 2) Kekristenan yang PICIK “...ia menjadi...picik”. Makna kata aslinya
ialah ‘rabun‘, ‘melihat dalam jarak pandang yang pendek‘. Sudah seharusnya
pandangan kita makin hari makin jelas akan masa depan kekekalan di sorga, namun
mereka yang tak mengalami pertumbuhan rohani hanya memandang Kristus &
segala hukum-hukum rohani yang ada dalam kaitan dengan apa yang di depan mata,
bukan yang jauh melampaui hidup di dunia ini. Inilah mereka yang beribadah
hanya mengharapkan berkat-berkat, kelancaran, kemudahan & keberhasilan di
dunia ini semata. Sedangkan visi tentang sorga tak pernah menggerakkan hati
mereka. 3) Orang-orang yang BUTA rohani “... ia menjadi buta...” Inilah yang
paling parah. Suatu keadaan yang tak mengenal sama sekali apa yang ilahi.
Ajaran-ajaran Tuhan dijadikan komoditi demi keuntungan politik, ekonomi &
tujuan-tujuan lain yang amat duniawi. Yang benar bisa menjadi salah &
sebaliknya sambil diatasnamakan Tuhan & hukum-hukum agama. Rohani yang tak
bertumbuh akan berujung kerohanian yang mati, sesat, berbahaya & merusak.
Jauh menyimpang dari yang Tuhan kehendaki. Jadi, sudah bertumbuhkah iman,
pengharapan & kasih Anda dalam Kristus? Salam revival! GBU.
Xavier
Quentin Pranata
“Prioritas hidup
yang benar adalah menikmatinya dengan tenang karena melakukan apa yang benar di
mata Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Sabtu, 23 April 2016. Awas Keliru Menilai. Janganlah menghakimi menurut apa
yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil (Yohanes 7:24). Sore itu suasana
hening di sebuah kereta api bawah tanah tiba-tiba terganggu oleh ulah dua
bocah. Mereka mengganggu penumpang lain. Si kecil menarik-narik koran yang
sedang dibaca seorang penumpang, kadang merebut pena penumpang lain. Kakaknya
berlari dan menabrak kaki penumpang yang berdiri karena gerbong itu penuh.
Beberapa penumpang mulai terganggu dan menegur bapak kedua anak. Bapak itu
menenangkan kedua anaknya. Suasana kembali hening. Namun, tak lama, keduanya
mulai bertingkah lagi. Malah semakin nakal. Si bapak kembali menenangkan
mereka. Kejadian itu berulang beberapa kali sampai beberapa penumpang marah,
mem bentak bapak itu. Akhirnya bapak itu memohon maaf dan menjelaskan. “Tidak
biasanya mereka bertingkah nakal seperti itu. Tadi pagi, kedua anak ini baru
saja ditinggal oleh ibu yang sangat mereka cintai. Ia meninggal karena penyakit
leukimia.” Para penumpang di gerbong itu pun terdiam. Kita sering menghakimi
orang berdasarkan apa yang tampak menurut ukuran manusia sehingga penghakiman
kita keliru (ay. 24). Tuhan Yesus mengajarkan agar kita menghakimi dengan adil.
Salah satunya, dengan berhati-hati tidak langsung menjatuhkan penghakiman,
namun berusaha memahami terlebih dahulu latar belakang perbuatan seseorang.
Kita bukan hanya melihat buah atau perbuatannya, melainkan memahami pula akar
atau motivasinya. Dengan begitu, kita dapat merespons persoalan itu dengan
tepat. Bukannya menghakimi, kemungkinan besar kita malah akan berbelaskasihan
—IN. KENALI TERLEBIH DAHULU HAL YANG MELATARBELAKANGI TINDAKAN SESEORANG, AGAR
KITA TIDAK KELIRU MENILAI DAN MENANGGAPINYA. Selamat pagi. Selamat berakhir
pekan. Tuhan Yesus memberkati.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
1 Yoh 3:22 – Apa
saja yang kita minta, kita memperolehnya dari TUHAN, sebab kita menuruti segala
perintah-NYA dan berbuat apa yang berkenan kepada-NYA. Wow keren... Doa kita
pasti dijawab asal hidup kita berkenan pada-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.

No comments:
Post a Comment