Saturday, 23 April 2016

23 April 2016



THE END




Orang Kaya & Lazarus (Lukas 16:19-31). Kehidupan “orang kaya” dihabiskan dengan gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri, Ia membuat pilihan yang salah & menderita selama-lamanya. Sedangkan seumur hidupnya Lazarus hidup dalam kemiskinan. Namun hatinya benar dihadapan Allah. Nama Lazarus berarti “Allah adalah Pertolonganku”. Dan Ia tidak pernah melepaskan imannya kepada Allah. Ia mati & segera diangkat ke Firdaus bersama-sama Abraham. Bagaimana dengan kita, apakah kita anak-anak Tuhan yang hidup berpusat pada diri sendiri? Atau kita anak-anak Tuhan yang tetap mempertahankan IMAN kita sampai akhir sekalipun kita harus “menderita” sementara didunia ini? 

Worship Center Surabaya
Sebagai pengikut-pengikut Kristus, kita seharusnya bertumbuh secara rohani. Bukan sekedar menjadi Kristen atau rajin mengunjungi tempat & acara ibadah. Sang rasul dalam surat 2 Petrus 1:9 menyebutkan 3 dampak yang sangat fatal jika kurang atau tidak ada pertumbuhan dalam hidup rohani atau: 1) Orang-orang percaya yang LUPA “karena ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan...” Mereka yang tidak pernah menjadi pelaku-pelaku firman melainkan hanya menjadi pendengar saja sangat rawan melupakan semua hal tentang Tuhan. Ajaran-ajaran Tuhan sering diabaikan, lupa teladan hidup pahlawan-pahlawan iman & hamba-hamba Tuhan yang setia mengabdi kepada Tuhan, bahkan tak ingat lagi bahwa dirinya dipanggil menjalani suatu hidup yang baru; yang telah ditebus dari maut & diampuni segala dosa-dosanya. Kondisi ini sangat rentan dipengaruhi lebih lanjut oleh godaan & daya tarik dunia dimana hati mereka makin diam akan Tuhan. 2) Kekristenan yang PICIK “...ia menjadi...picik”. Makna kata aslinya ialah ‘rabun‘, ‘melihat dalam jarak pandang yang pendek‘. Sudah seharusnya pandangan kita makin hari makin jelas akan masa depan kekekalan di sorga, namun mereka yang tak mengalami pertumbuhan rohani hanya memandang Kristus & segala hukum-hukum rohani yang ada dalam kaitan dengan apa yang di depan mata, bukan yang jauh melampaui hidup di dunia ini. Inilah mereka yang beribadah hanya mengharapkan berkat-berkat, kelancaran, kemudahan & keberhasilan di dunia ini semata. Sedangkan visi tentang sorga tak pernah menggerakkan hati mereka. 3) Orang-orang yang BUTA rohani “... ia menjadi buta...” Inilah yang paling parah. Suatu keadaan yang tak mengenal sama sekali apa yang ilahi. Ajaran-ajaran Tuhan dijadikan komoditi demi keuntungan politik, ekonomi & tujuan-tujuan lain yang amat duniawi. Yang benar bisa menjadi salah & sebaliknya sambil diatasnamakan Tuhan & hukum-hukum agama. Rohani yang tak bertumbuh akan berujung kerohanian yang mati, sesat, berbahaya & merusak. Jauh menyimpang dari yang Tuhan kehendaki. Jadi, sudah bertumbuhkah iman, pengharapan & kasih Anda dalam Kristus? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Prioritas hidup yang benar adalah menikmatinya dengan tenang karena melakukan apa yang benar di mata Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 23 April 2016. Awas Keliru Menilai. Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil (Yohanes 7:24). Sore itu suasana hening di sebuah kereta api bawah tanah tiba-tiba terganggu oleh ulah dua bocah. Mereka mengganggu penumpang lain. Si kecil menarik-narik koran yang sedang dibaca seorang penumpang, kadang merebut pena penumpang lain. Kakaknya berlari dan menabrak kaki penumpang yang berdiri karena gerbong itu penuh. Beberapa penumpang mulai terganggu dan menegur bapak kedua anak. Bapak itu menenangkan kedua anaknya. Suasana kembali hening. Namun, tak lama, keduanya mulai bertingkah lagi. Malah semakin nakal. Si bapak kembali menenangkan mereka. Kejadian itu berulang beberapa kali sampai beberapa penumpang marah, mem bentak bapak itu. Akhirnya bapak itu memohon maaf dan menjelaskan. “Tidak biasanya mereka bertingkah nakal seperti itu. Tadi pagi, kedua anak ini baru saja ditinggal oleh ibu yang sangat mereka cintai. Ia meninggal karena penyakit leukimia.” Para penumpang di gerbong itu pun terdiam. Kita sering menghakimi orang berdasarkan apa yang tampak menurut ukuran manusia sehingga penghakiman kita keliru (ay. 24). Tuhan Yesus mengajarkan agar kita menghakimi dengan adil. Salah satunya, dengan berhati-hati tidak langsung menjatuhkan penghakiman, namun berusaha memahami terlebih dahulu latar belakang perbuatan seseorang. Kita bukan hanya melihat buah atau perbuatannya, melainkan memahami pula akar atau motivasinya. Dengan begitu, kita dapat merespons persoalan itu dengan tepat. Bukannya menghakimi, kemungkinan besar kita malah akan berbelaskasihan —IN. KENALI TERLEBIH DAHULU HAL YANG MELATARBELAKANGI TINDAKAN SESEORANG, AGAR KITA TIDAK KELIRU MENILAI DAN MENANGGAPINYA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
1 Yoh 3:22 – Apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari TUHAN, sebab kita menuruti segala perintah-NYA dan berbuat apa yang berkenan kepada-NYA. Wow keren... Doa kita pasti dijawab asal hidup kita berkenan pada-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.


No comments:

Post a Comment