Tuesday, 19 April 2016

19 April 2016





THE END




Gunakan Waktu. Efesus 5:16, “dan pergunakanlah WAKTU yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” WAKTU adalah modal utama, bahkan lebih dari UANG. Dengan WAKTU kita bisa menghasilkan UANG, tapi dengan UANG kita tidak dapat membeli WAKTU . Jadi WAKTU bisa menjadi modal utama tetapi bisa juga menjadi kerugian kita yang terbesar, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Rasul Paulus mengatakan hal ini kepada jemaat di Efesus sebab disaat itu penyiksaan dari penguasa romawi sedang berlangsung (1 Petrus 4:12-19). Karenanya tidak banyak WAKTU lagi untuk hidup sebagai saksi Kristus & membawa jiwa-jiwa bagiNya ditengah-tengah masyarakat yang jahat. Bukankah saat ini juga demikian?? Dengan banyaknya kecemaran, kejahatan (hari-hari yang jahat). Sehingga kita perlu memanfaatkan WAKTU kita dengan bijaksana (Mazmur 90:12). Mempergunakannya untuk HIDUP bagi Tuhan & melayaniNya. Amin. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mempergunakan WAKTU kita dengan produktif? Efektif? Bahkan sesuai dengan Kehendak Tuhan/Spritualitas??

Xavier Quentin Pranata
“Tawa cinta dan tangisan sayang seorang ayah terhadap anaknya diungkapkan lewat doa dan kerja keras.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 19 April 2016. Jangan Berharap Pada Kekayaan. Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati (1 Timotius 6:17). Stres. Itulah yang dialami saudara kami yang bangkrut dalam hitungan jam. Ia baru saja menimbun stok sembako di dua kiosnya pada sore hari. Malamnya, jago merah membakar habis seluruh pasar, termasuk dua kios itu. Saudara kami ikut menjadi korban kebakaran Pasar Johar, Semarang, pada awal Mei 2015. Ia terlihat sangat letih saat menatap puing-puing kiosnya yang ludes. Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak tinggi hati dan tidak berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan. Hanya Tuhan tempat berharap yang paling aman. Ketika kita memiliki kekayaan, sepatutnya kita bersyukur, namun juga menyadari bahwa kekayaan itu bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Hanya orang bodoh yang mengejar dan berharap kepada kekayaan. Tuhan mau kita mengejar sesuatu yang jauh lebih berarti yaitu keadilan, ibadah, kesabaran, dan kelembutan (ay. 11). Kita didorong untuk terus berpegang pada hidup kekal yang diberikan Allah (ay. 12, FAYH). Kekayaan memang penting dan dapat membuat hidup lebih nyaman dan enak, tetapi kekayaan bukanlah segalanya. Saat lahir kita tak membawa apa-apa, saat mati pun sama saja. Kita diundang untuk mengumpulkan harta di surga, dengan berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan berbagi (ay. 19). Semakin banyak Tuhan memberkati kita—entah harta entah kesehatan--biarlah kita semakin rendah hati. Kita dapat belajar memakai berkat Tuhan untuk memberkati sebanyak mungkin orang dan memenangkan pertandingan iman yang benar —RTG. HANYA ORANG BODOH YANG MENGEJAR DAN BERHARAP KEPADA KEKAYAAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Anto – Citraland
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Fil 4:8). *Berpikir benar adalah Pengendalian pikiran dalam memandang segala sesuatu dari berbagai sudut untuk mendapatkan nilai-nilai yang benar berdasar KebenaranNya, sehingga mengasilkan cara pikir yang benar. *Berkata benar adalah belajar pengendalian diri melalui ucapan-ucapan yang benar, menyenangkan maupun kadang kurang menyenangkan untuk didengar orang lain, tetapi dengan tutur bahasa yang sopan dan santun. *Bertindak benar adalah bertindak sesuai kebenaran Firman Tuhan yang menjadi suluh jalan kita, dan merupakan proses pengendalian diri kita dengan Tidak melakukan tindakan  yang tidak baik, anarkis, atau melanggar perintah Tuhan. *Pengelolaan yang benar, adalah bagaimana sikap kita yang benar dalam memandang dan mengelola segala sesuatu yang Tuhan percayakan bagi kita. Hanya sekali kita hidup,dan itupun akan segera berlalu... Hanya apa yang kita buat bagi Kristus, tetap kekal tidak akan layu... Selamat melayani, Tuhan memberkati.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Kis 20:35 – TUHAN YESUS: Lebih berbahagia memberi daripada menerima! Renungno, problem kita: “Terlalu banyak meminta tapi terlalu sedikit memberi”! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Ibu Caroline – Bandung (1)
Matius 6:29, “Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.” Saat bangun dari tidur seringkali pikiran kita langsung dipenuhi kekuatiran dan kecemasan tentang apa yang hendak kita makan, minum dan pakai. Selama kita terus kuatir berarti kita belum percaya sepenuhnya kepada Tuhan. “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul”  (Ayub 3:25-26).  Berhentilah untuk kuatir dan cemas! Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir dan cemas tentang kebutuhan hidup kita karena sesungguhnya Tuhan tahu persis apa yang kita butuhkan. “Ia akan terlebih lagi mendandani kamu,”  (Matius 6:30)  merupakan janji Tuhan kepada anak-anak-Nya yang hidup di zaman yang penuh dengan problema ini; Tuhan akan bertanggung jawab penuh atas kehidupan orang-orang yang punya penyerahan diri penuh kepada-Nya. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

Ibu Caroline – Bandung (2)
Selasa, 19 April 2016. Bacaan: Kolose 1:15-23. Setahun: 2 Samuel 21-22. Nats: Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan (Kolose 1:15). Pak Karyo Ditinggal. Ada seorang guru di Kendal yang memasuki masa pensiun, sebut saja namanya Pak Karyo. Sebagai penghargaan untuknya, sekolah mengadakan acara perpisahan di Yogya. Rombongan para guru beserta Pak Karyo pun berangkat ke Yogya. Seharian mereka berkunjung ke beberapa tempat wisata di kota itu dan berakhir di Jalan Malioboro. Di situ rombongan berpencar, sibuk dengan urusan dan tujuan masing-masing. Pada waktu yang ditentukan, rombongan kembali ke bus dan segera bergerak pulang ke Kendal. Sesampai di daerah Muntilan, kira-kira 20 km dari Yogya, para rekan guru yang kecapekan itu teringat akan Pak Karyo. Mereka mencarinya, dan ternyata Pak Karyo tidak ada di dalam bus! Gemparlah seluruh isi bus dan serentak mereka meminta pak sopir untuk berbalik arah ke Malioboro. Tuhan Yesus, dalam bacaan hari ini, adalah pokok dari segala sesuatu. Dia adalah yang utama dari segala yang diciptakan (ay. 15). Dialah yang semestinya menjadi pusat hidup orang percaya. Namun, yang sering terjadi, Tuhan Yesus malah ditinggalkan di belakang. Bukannya hidup untuk menyenangkan hati-Nya, kita sibuk mengejar kesenangan dan kepentingan kita masing-masing. Mungkin kita dapat membandingkannya dengan pelayanan yang kita jalani. Apakah kita benar-benar melakukannya untuk menyenangkan hati Tuhan, atau mengejar kepentingan pribadi? Tak jarang, suatu acara pelayanan malah berakhir dengan perselisihan, kekecewaan, dan kemarahan. Karena itu, penting menjadikan Dia pusat hidup kita --Edy Santoso. Ketika kita menempatkan Yesus sebagai pusat kehidupan, kita akan melepaskan keegoisan dan melayani satu sama lain.

No comments:

Post a Comment