Tuesday, 12 April 2016

12 April 2016



THE END




Manfaat Melayani. Matius 20:26, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Tidaklah demikian bagi kamu... Di dunia ini orang yang memerintah atau ‘menjalankan kekuasaan‘ dipandang sebagai ‘orang besar‘. Sedangkan dalam Kerajaan Allah, ‘kebesaran‘ tidak diukur dengan kekuasaan kita atas “orang lain” tetapi dengan memberikan diri kita untuk ‘melayani‘ orang lain. Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita “memberi” diri untuk saling menolong/melayani khususnya untuk hal-hal yang membangun kehidupan rohani kita. Amin. Bagaimana dengan kita? Apakah kita rela ‘menjadi pelayan‘/menjadi yang “terbesar” dengan melayani/‘membangun kehidupan rohani‘’ sesama kita menjadi lebih baik??

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 20:9 – Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak! Kita pasti menang menghadapi semua masalah kehidupan ini sebab berjalan bersama YESUS. Pastikan YESUS ada dalam hidup kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
“Hati yang luar biasa adalah yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain tetapi tidak gampang terluka saat disakiti.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 12 April 2016. Kemarahan Kain. Maka berkatalah TUHAN kepada Kain, “Mengapa engkau marah? Mengapa mukamu geram?” (Kejadian 4:6—BIS). Akhir November 1984, Jakarta heboh oleh kematian tragis Arie Hanggara. Bocah berusia delapan tahun itu meninggal di tangan ayahnya sendiri. Sang ayah pemarah dan memiliki persoalan rumah tangga yang kompleks. Ia menganiaya Arie sampai anak itu mati. Alkitab juga mengisahkan kematian tragis akibat kemarahan. Kain memendam kemarahan terhadap Tuhan, yang tidak mengindahkan persembahannya (ay. 5). Akan tetapi, ia tidak bisa membalas langsung kepada Tuhan; ia pun mengincar sasaran yang lebih lemah untuk melampiaskan amarahnya: Kain membunuh adiknya, Habel (ay. 8). Kemarahan Kain tidak hanya melukai hati Tuhan, tetapi ternyata juga membawa kerugian besar untuk dirinya sendiri. Apa hasil dari kemarahan Kain? Matinya hubungan persaudaraan (ay. 8). Kemarahan juga membuat Kain menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi (ay. 12). Sungguh menyedihkan, kemarahan seperti kemarahan Kain ini mencederai banyak hubungan. Hubungan suami dan istri atau hubungan orangtua dan anak bisa hancur lantaran kemarahan. Kemarahan seperti yang dialami Kain ini juga bisa membuat seseorang menjadi seperti seorang pelarian: ia tidak akan betah tinggal di mana pun. Di mana ia berada seolah di situ pula musuhnya berada. Ia tidak lagi mengalami ketenteraman, senantiasa was-was dan cemas. Akibatnya, ia lebih memilih untuk selalu pergi menghindar. Kita semua ingin hidup tenteram. Untuk itu, kita perlu memadamkan kemarahan, dan menyalakan kasih sayang bagi sesama —GIE. JIKA KITA INGIN HIDUP TENTERAM, KENDALIKANLAH KEMARAHAN DALAM DIRI KITA. Selamat pagi. Selalu bersukacita. Tuhan Yesus memberkati.

Tante Elisabeth – NTT
Kristus Hidup Dalam Kita. Kita harus mempersembahkan tubuh kita pada Tuhan. Roma 12:1, “karena itu saudara-saudaraku kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu, sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati.” Ibadah kita yang sejati adalah yang kudus dan yang berkenan kepada Allah kita tidak bisa datang pada Tuhan dalam kenanisan kita. Dan karena Allah kita adalah Allah yang kudus maka kekudusan menjadi suatu nilai mutlak dalam setiap aspek kehidupan kita. Kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi senantiasa bergerak dalam kegerakan Tuhan. Marilah kita bangkit dengan semangat yang baru dalam Tuhan dan menjadi manusia-manusia rohani terkini yang selalu menyelaraskan kehidupan kita dengan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. JBU All.

Bp. Anto – Citraland
“19 EKOR KERBAU”. Ada seorang kaya yang mempunyai 3 orang anak dengan harta sebanyak 19 ekor kerbau. Ketika mendekati ajalnya, dia membagikan warisan kepada ke 3 anaknya dengan pesan: 1/2 untuk anak pertama, 1/4 untuk anak kedua, 1/5 untuk anak ketiga. Setelah sang ayah meninggal, ketiga anaknya membagikan kerbau sesuai pesan ayah mereka. Tetapi mereka menemukan kesulitan dan keganjilan bahwa masing-masing mereka akan mendapatkan bagian kerbau yang tidak utuh dan masing-masing anak tidak mau mengalah dan berusaha mendapatkan bagian utuh. Kabar tentang pertengkaran mereka terdengar oleh seorang bapak miskin yang hanya mempunyai 1 ekor kerbau. Karena prihatin dengan hal tersebut, akhirnya sang bapak menemui mereka, dan bersedia dengan ikhlas memberikan kerbaunya supaya masing-masing anak mendapat bagian yang utuh. Anak-anak itu setuju dan mereka mulai membagi: Anak pertama mendapat: 1/2 dari 20 = 10 ekor; Anak kedua mendapat: 1/4 dari 20 = 5 ekor; Anak ketiga mendapat: 1/5 dari 20 = 4 ekor. Demikianlah masing-masing anak mendapatkan bagian yang utuh. Dan totalnya ternyata 10 + 5 + 4 =19. Ajaib bukan? Akhirnya tersisa 1 ekor yang diberikan kembali pada bapak miskin yang bijak tadi. Percayalah jika kita memberi dengan ikhlas untuk menjadi bagian dari solusi, ternyata kita TIDAK KEHILANGAN sesuatu apapun, hanyalah memberi manfaat pada sesama dan TUHAN-lah yang akan menggantinya. Seperti dalam kasus ini walaupun sebenarnya sang bapak yang miskin tidak mengharap kerbaunya kembali, karena ia sebenarnya telah ikhlas menjadi bagian dari solusi!!! Cobalah dan buktikan!!! SIAPA MEMBERI KASIH, PERHATIAN,SENYUM, SEMANGAT, KATA-KATA  YANG MEMBANGKITKAN, PERBUATAN BAIK BAHKAN TABURAN HARTANYA - MAKA akan menerima Kembali apa yang telah diberikan. Dan sebaliknya siapa yang memberi kejudesan, gosip, fitnahan, perbuatan jahat - dia juga akan menerimanya kembali. Mari kita saling berbagi Kebaikan dimanapun dan kapanpun. God bless us...

Worship Center Surabaya
Salah satu tanda utama yang disebutkan oleh Yesus bahwa dunia sedang menuju kesudahannya adalah bertambahnya kedurhakaan (yaitu pelipatgandaan kejahatan & dosa) sehingga kasih pun memudar dari hati manusia di bumi (Mat 24:12). Dampak selanjutnya benar-benar fatal. Bermula dengan kasih pada diri sendiri yang semakin kuat menjadikan manusia semakin tak peduli dengan apapun yang lain. Kekerasan menjadi sesuatu yang makin biasa sebab tanpa disadari orang berubah menjadi ‘garang‘; sebagaimana yang disebutkan Paulus sebagai salah satu ciri orang-orang yang tiada mengenal Kristus di akhir zaman (2 Tim 3:3). Sebutan lain dari ‘garang‘ adalah kasar, ganas, brutal, kejam, biadab, siap untuk bertengkar atau berkelahi bahkan membunuh yang lain. Dengan kata lain, ada pertambahan besar bilangan orang-orang yang menyukai kekerasan & kekejaman di akhir zaman ini. Itu melanda semua kelompok orang, tidak memandang status, golongan, agama dsb. Perbedaan yang menyolok terlihat di antara anak-anak Tuhan sejati, yaitu mereka yang mengenal Tuhan & hidup bergaul dengan Dia. Tidaklah mengherankan jika kemudian kita mendengar kabar-kabar tentang aksi brutal & biadab bahkan yang dilakukan orang-orang yang mengaku beragama & bertuhan, atau apa yang dilakukan pemegang otoritas maupun yang seharusnya mengemban tugas sebagai pelindung & pengayom masyarakat yang justru berlaku semena-mena pada yang lain termasuk pada keluarganya sendiri. Dan ini masih akan berlanjut menuju puncak-puncak kengeriannya. Walaupun dunia akan dipenuhi perbuatan-perbuatan keji dari orang-orang yang ganas ini & ketakutan akan menguasai hati banyak orang, ini semestinya membuat kita makin mendekat pada Tuhan. Sebab hanya Dia saja yang sanggup menjaga & melindungi kita dari sentuhan tangan-tangan yang jahat itu. Lebih dari itu, kasih Tuhan sendirilah yang akan bekerja dalam kita mencegah kita melakukan kekejaman namun mengubah kita menjadi pribadi-pribadi yang dimampukan mengasihi & menyatakan kelemahlembutan pada dunia. Bukankah di luar kasih-Nya kita pasti hanyut & menjadi sama dengan dunia? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment