THE END
Manfaat
Melayani. Matius 20:26, “Tidaklah demikian di
antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia
menjadi pelayanmu.” Tidaklah demikian bagi kamu... Di dunia ini orang yang
memerintah atau ‘menjalankan kekuasaan‘ dipandang sebagai ‘orang besar‘.
Sedangkan dalam Kerajaan Allah, ‘kebesaran‘ tidak diukur dengan
kekuasaan kita atas “orang lain” tetapi dengan memberikan diri kita untuk
‘melayani‘ orang lain. Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita “memberi” diri
untuk saling menolong/melayani khususnya untuk hal-hal yang membangun kehidupan
rohani kita. Amin. Bagaimana dengan kita? Apakah kita rela ‘menjadi
pelayan‘/menjadi yang “terbesar” dengan melayani/‘membangun kehidupan rohani‘’
sesama kita menjadi lebih baik??
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz 20:9 –
Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak! Kita pasti
menang menghadapi semua masalah kehidupan ini sebab berjalan bersama YESUS.
Pastikan YESUS ada dalam hidup kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Xavier
Quentin Pranata
“Hati yang luar
biasa adalah yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain tetapi tidak
gampang terluka saat disakiti.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Selasa, 12 April 2016. Kemarahan Kain. Maka berkatalah TUHAN kepada Kain,
“Mengapa engkau marah? Mengapa mukamu geram?” (Kejadian 4:6—BIS). Akhir
November 1984, Jakarta heboh oleh kematian tragis Arie Hanggara. Bocah berusia
delapan tahun itu meninggal di tangan ayahnya sendiri. Sang ayah pemarah dan
memiliki persoalan rumah tangga yang kompleks. Ia menganiaya Arie sampai anak
itu mati. Alkitab juga mengisahkan kematian tragis akibat kemarahan. Kain
memendam kemarahan terhadap Tuhan, yang tidak mengindahkan persembahannya (ay.
5). Akan tetapi, ia tidak bisa membalas langsung kepada Tuhan; ia pun mengincar
sasaran yang lebih lemah untuk melampiaskan amarahnya: Kain membunuh adiknya,
Habel (ay. 8). Kemarahan Kain tidak hanya melukai hati Tuhan, tetapi ternyata
juga membawa kerugian besar untuk dirinya sendiri. Apa hasil dari kemarahan
Kain? Matinya hubungan persaudaraan (ay. 8). Kemarahan juga membuat Kain
menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi (ay. 12). Sungguh menyedihkan,
kemarahan seperti kemarahan Kain ini mencederai banyak hubungan. Hubungan suami
dan istri atau hubungan orangtua dan anak bisa hancur lantaran kemarahan.
Kemarahan seperti yang dialami Kain ini juga bisa membuat seseorang menjadi
seperti seorang pelarian: ia tidak akan betah tinggal di mana pun. Di mana ia
berada seolah di situ pula musuhnya berada. Ia tidak lagi mengalami
ketenteraman, senantiasa was-was dan cemas. Akibatnya, ia lebih memilih untuk
selalu pergi menghindar. Kita semua ingin hidup tenteram. Untuk itu, kita perlu
memadamkan kemarahan, dan menyalakan kasih sayang bagi sesama —GIE. JIKA KITA
INGIN HIDUP TENTERAM, KENDALIKANLAH KEMARAHAN DALAM DIRI KITA. Selamat pagi.
Selalu bersukacita. Tuhan Yesus memberkati.
Tante
Elisabeth – NTT
Kristus Hidup
Dalam Kita. Kita harus mempersembahkan tubuh kita pada Tuhan. Roma 12:1,
“karena itu saudara-saudaraku kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu, sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati.” Ibadah kita yang
sejati adalah yang kudus dan yang berkenan kepada Allah kita tidak bisa datang
pada Tuhan dalam kenanisan kita. Dan karena Allah kita adalah Allah yang kudus
maka kekudusan menjadi suatu nilai mutlak dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi senantiasa bergerak dalam
kegerakan Tuhan. Marilah kita bangkit dengan semangat yang baru dalam Tuhan dan
menjadi manusia-manusia rohani terkini yang selalu menyelaraskan kehidupan kita
dengan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. JBU All.
Bp.
Anto – Citraland
“19 EKOR
KERBAU”. Ada seorang kaya yang mempunyai 3 orang anak dengan harta sebanyak 19
ekor kerbau. Ketika mendekati ajalnya, dia membagikan warisan kepada ke 3 anaknya
dengan pesan: 1/2 untuk anak pertama, 1/4 untuk anak kedua, 1/5 untuk anak
ketiga. Setelah sang ayah meninggal, ketiga anaknya membagikan kerbau sesuai
pesan ayah mereka. Tetapi mereka menemukan kesulitan dan keganjilan bahwa
masing-masing mereka akan mendapatkan bagian kerbau yang tidak utuh dan
masing-masing anak tidak mau mengalah dan berusaha mendapatkan bagian utuh.
Kabar tentang pertengkaran mereka terdengar oleh seorang bapak miskin yang
hanya mempunyai 1 ekor kerbau. Karena prihatin dengan hal tersebut, akhirnya
sang bapak menemui mereka, dan bersedia dengan ikhlas memberikan kerbaunya
supaya masing-masing anak mendapat bagian yang utuh. Anak-anak itu setuju dan
mereka mulai membagi: Anak pertama mendapat: 1/2 dari 20 = 10 ekor; Anak kedua mendapat:
1/4 dari 20 = 5 ekor; Anak ketiga mendapat: 1/5 dari 20 = 4 ekor. Demikianlah
masing-masing anak mendapatkan bagian yang utuh. Dan totalnya ternyata 10 + 5 +
4 =19. Ajaib bukan? Akhirnya tersisa 1 ekor yang diberikan kembali pada bapak
miskin yang bijak tadi. Percayalah jika kita memberi dengan ikhlas untuk
menjadi bagian dari solusi, ternyata kita TIDAK KEHILANGAN sesuatu apapun,
hanyalah memberi manfaat pada sesama dan TUHAN-lah yang akan menggantinya.
Seperti dalam kasus ini walaupun sebenarnya sang bapak yang miskin tidak
mengharap kerbaunya kembali, karena ia sebenarnya telah ikhlas menjadi bagian
dari solusi!!! Cobalah dan buktikan!!! SIAPA MEMBERI KASIH, PERHATIAN,SENYUM,
SEMANGAT, KATA-KATA YANG MEMBANGKITKAN,
PERBUATAN BAIK BAHKAN TABURAN HARTANYA - MAKA akan menerima Kembali apa yang
telah diberikan. Dan sebaliknya siapa yang memberi kejudesan, gosip, fitnahan,
perbuatan jahat - dia juga akan menerimanya kembali. Mari kita saling berbagi
Kebaikan dimanapun dan kapanpun. God bless us...
Worship
Center Surabaya
Salah satu tanda
utama yang disebutkan oleh Yesus bahwa dunia sedang menuju kesudahannya adalah
bertambahnya kedurhakaan (yaitu pelipatgandaan kejahatan & dosa) sehingga
kasih pun memudar dari hati manusia di bumi (Mat 24:12). Dampak selanjutnya
benar-benar fatal. Bermula dengan kasih pada diri sendiri yang semakin kuat
menjadikan manusia semakin tak peduli dengan apapun yang lain. Kekerasan
menjadi sesuatu yang makin biasa sebab tanpa disadari orang berubah menjadi
‘garang‘; sebagaimana yang disebutkan Paulus sebagai salah satu ciri
orang-orang yang tiada mengenal Kristus di akhir zaman (2 Tim 3:3). Sebutan
lain dari ‘garang‘ adalah kasar, ganas, brutal, kejam, biadab, siap untuk
bertengkar atau berkelahi bahkan membunuh yang lain. Dengan kata lain, ada
pertambahan besar bilangan orang-orang yang menyukai kekerasan & kekejaman
di akhir zaman ini. Itu melanda semua kelompok orang, tidak memandang status,
golongan, agama dsb. Perbedaan yang menyolok terlihat di antara anak-anak Tuhan
sejati, yaitu mereka yang mengenal Tuhan & hidup bergaul dengan Dia.
Tidaklah mengherankan jika kemudian kita mendengar kabar-kabar tentang aksi
brutal & biadab bahkan yang dilakukan orang-orang yang mengaku beragama
& bertuhan, atau apa yang dilakukan pemegang otoritas maupun yang
seharusnya mengemban tugas sebagai pelindung & pengayom masyarakat yang
justru berlaku semena-mena pada yang lain termasuk pada keluarganya sendiri.
Dan ini masih akan berlanjut menuju puncak-puncak kengeriannya. Walaupun dunia akan
dipenuhi perbuatan-perbuatan keji dari orang-orang yang ganas ini &
ketakutan akan menguasai hati banyak orang, ini semestinya membuat kita makin
mendekat pada Tuhan. Sebab hanya Dia saja yang sanggup menjaga & melindungi
kita dari sentuhan tangan-tangan yang jahat itu. Lebih dari itu, kasih Tuhan
sendirilah yang akan bekerja dalam kita mencegah kita melakukan kekejaman namun
mengubah kita menjadi pribadi-pribadi yang dimampukan mengasihi &
menyatakan kelemahlembutan pada dunia. Bukankah di luar kasih-Nya kita pasti
hanyut & menjadi sama dengan dunia? Salam revival! GBU.

No comments:
Post a Comment