Wednesday, 4 March 2015

4 Maret 2015


WHAT DO YOU THINK OF...?




2 Timotius 3:15, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada KESELAMATAN oleh IMAN kepada Kristus Yesus.” Ketika kita memberikan tempat bagi hikmat Tuhan untuk membimbing kita dalam setiap keputusan, bahkan prioritas maka DIA yang akan menuntun kita kepada KESELAMATAN kekal oleh IMAN kepada Kristus Yesus. Sudahkah kita memiliki IMAN kepada Yesus Kristus? Amin.

Respon 1
Kalau kita suka menghakimi orang maka kita tidak akan punya waktu untuk mengasihi mereka. Matius 22:39, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (GNCC)

Respon 2
“Ketergantungan yang positif adalah ketergantungan kepada Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Rabu, 4 Maret 2015. Ketaatan Kepada Kristus. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita (Roma 5:8). Ketika kita diminta mendonorkan darah, mungkinkah kita sekaligus mendonorkan ginjal? Ketika seseorang menuntut mobil kita, mungkinkah kita menyerah-kan sekaligus rumah kita? Ketika seseorang membunuh anak kita, mungkinkah kita mengampuninya dan menjadikannya anak angkat? Itu beberapa skenario yang melintas dalam benak saya saat membaca bagian dari Khotbah di Bukit ini. Dalam rangkaian khotbah tersebut, saya merasa Yesus sedang menaikkan standar hukum Allah setinggi-tingginya. Dengan harapan, orang yang sungguh-sungguh hendak taat tersadar, tidak mungkin ia menjalaninya dengan kemampuan dirinya sebagai manusia. Kabar gembiranya, Yesus datang untuk menggenapi hukum itu bagi kita (Roma 10:4). Dalam nas hari ini, misalnya, Dia seperti orang yang menyerahkan pipi kirinya pada yang menampar pipi kanannya, orang yang menyerahkan jubah pada yang mengingini bajunya, dan orang yang berjalan sejauh dua mil ketika dipaksa berjalan sejauh satu mil. Itulah karya Kristus bagi kita! Dan, melalui ketaatan-Nya itu, Kristus menjadi pokok keselamatan bagi orang yang beriman. Jadi, pertanyaan kita bukan lagi: Mampukah saya menaati hukum Allah? Pertanyaannya adalah: Maukah saya beriman kepada Kristus Yesus dan menerima pembenaran-Nya? Maukah saya berhenti mengandalkan kemampuan diri dalam menaati hukum Allah, dan belajar mengandalkan ketaatan-Nya yang sempurna? Bersediakah saya mempersilah-kan Kristus menyatakan kehidupan-Nya di dalam dan melalui diri saya? KESELAMATAN BUKANLAH BERDASARKAN KETAATAN KITA, MELAINKAN BERDASARKAN KETAATAN KRISTUS YANG SEMPURNA. Selamat pagi. Semangat!!!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Tinggal di dalam Kristus. Sebelumnya kita belajar dari rasul Yohanes bahwa “Tinggal di dalam Kristus” bisa kita lakukan dengan tindakan praktis yaitu melalui pengakuan lidah bibir kita bahwa Kristus adalah Anak Allah. Hal yang kedua yang juga disampaikan rasul yang sama adalah: 1 Yoh 2:5 “Tetapi barangsiapa MENURUTI FIRMAN-NYA, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa Kita Ada Di Dalam Dia”. Bagi Rasul Yohanes tinggal di dalam Kristus bukan hanya pada perkataan atau pengakuan namun juga pada “tindakan” ketaatan kita atas firman dan perintah Tuhan ya bahkan setiap Firman Tuhan! Setiap Firman harus kita respon dengan sikap hati dan mindset yang tunduk serta tindakan nyata untuk mentaatinya, entah sulit atau mudah. Mungkin beberapa Firman mudah dan sudah kita lakukan, namun beberapa belum dan sulit untuk kita lakukan. Jangan menyerah! Ada janji Allah: Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus” termasuk keperluan kita untuk mentaati setiap FirmanNya. Kita bisa taat pada Firman dan tinggal di dalam Kristus bukan karena kekuatan diri kita. Tetapi karena Allah yang akan memenuhi kebutuhan kita untuk taat itu. Tugas kita hanya memohon dengan iman berdasar janjiNya dalam Filipi 4:19. Allah yang akan memampukan kita untuk taat pada Firman. Maukah kita memohon agar di mampukan untuk taat kepada setiap Firman Tuhan? Dengan demikian kita hidup dan tinggal didalam Kristus. Amin. (Taswin Taruna – PT. SMU)

Respon 5
Berlawanan dari yang sering diperkirakan sekelompok orang yang berpikir bahwa hidup beribadah dilakukan demi memperoleh berkat, rasul Paulus menekankan bahwa berkat itu akan diberikan justru pada saat pelaku-pelaku ibadah itu tidak menghauskannya: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1 Tim 6:6). Ini tampaknya selaras dengan yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 6:33. Jadi, hati yang merasa cukup ialah syarat keberkatan dalam ibadah. Bukan hati yang tamak & dipenuhi rasa kurang dari apa yang sebenarnya telah cukup Tuhan berikan untuk sehari-hari. Keinginan besar atas berkat-berkat jasmaniah dari ibadah-ibadah kita justru merendahkan nilai ibadah kita yang semestinya semata-mata tertuju pada Kristus, tujuan tertinggi penyembahan kita. Mengapa hati yang dipenuhi kepuasan dalam Tuhan mendatangkan berkat yang besar? 1-Tuhan berkenan dengan orang-orang yang tulus mencari Dia. Saat Tuhan berkenan maka Dia akan menganugerahkan berkat-berkatNya lebih lagi. Salomo yang tidak menginginkan kekayaan & kemuliaan justru beroleh semuanya saat ia meminta hikmat (berkat rohani) pada Tuhan. Bila hati Tuhan disukakan, Dia bahkan memberikan lebih banyak dari yang kita harapkan! 2-Tanpa keinginan-keinginan yang muluk-muluk, hidup kita dijauhkan dari stress. Kehidupan tanpa stress ialah kehidupan yang bahagia & sehat: suatu kualitas hidup yang dicari semua orang di dunia & tak ternilai harganya. 3-Rasa cukup atas hal-hal duniawi membuat kita melihat lebih jernih akan hal-hal yang terpenting & paling berharga dalam hidup: kemuliaan yang fana atau yang kekal?  Ada harga penyesalan yang harus dibayar dalam pengejaran tanpa henti akan pencapaian duniawi saat hidup sampai di batas akhir. Sewaktu semua harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemilik Kehidupan, adakah Anda tergolong orang yang menggunakan hari-hari dalam hidup kita untuk mewarisi harta kekal ataukah Anda termasuk yang berharap mendapat kesempatan kedua untuk mengulangi hidup demi memperoleh harta abadi? Keputusan ada di tangan Anda. Jangan terlambat memutuskannya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment