WHAT DO YOU THINK OF...?
2 Timotius 3:15, “Ingatlah
juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi
hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada KESELAMATAN oleh IMAN kepada Kristus
Yesus.” Ketika kita memberikan tempat bagi hikmat Tuhan untuk membimbing
kita dalam setiap keputusan, bahkan prioritas maka DIA yang akan menuntun kita
kepada KESELAMATAN kekal oleh IMAN kepada Kristus Yesus. Sudahkah kita
memiliki IMAN kepada Yesus Kristus? Amin.
Respon 1
Kalau kita suka
menghakimi orang maka kita tidak akan punya waktu untuk mengasihi mereka.
Matius 22:39, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (GNCC)
Respon 2
“Ketergantungan
yang positif adalah ketergantungan kepada Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Rabu, 4
Maret 2015. Ketaatan Kepada Kristus. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya
kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk
kita (Roma 5:8). Ketika kita diminta mendonorkan darah, mungkinkah kita
sekaligus mendonorkan ginjal? Ketika seseorang menuntut mobil kita, mungkinkah
kita menyerah-kan sekaligus rumah kita? Ketika seseorang membunuh anak kita,
mungkinkah kita mengampuninya dan menjadikannya anak angkat? Itu beberapa
skenario yang melintas dalam benak saya saat membaca bagian dari Khotbah di
Bukit ini. Dalam rangkaian khotbah tersebut, saya merasa Yesus sedang menaikkan
standar hukum Allah setinggi-tingginya. Dengan harapan, orang yang
sungguh-sungguh hendak taat tersadar, tidak mungkin ia menjalaninya dengan
kemampuan dirinya sebagai manusia. Kabar gembiranya, Yesus datang untuk
menggenapi hukum itu bagi kita (Roma 10:4). Dalam nas hari ini, misalnya, Dia
seperti orang yang menyerahkan pipi kirinya pada yang menampar pipi kanannya,
orang yang menyerahkan jubah pada yang mengingini bajunya, dan orang yang
berjalan sejauh dua mil ketika dipaksa berjalan sejauh satu mil. Itulah karya
Kristus bagi kita! Dan, melalui ketaatan-Nya itu, Kristus menjadi pokok
keselamatan bagi orang yang beriman. Jadi, pertanyaan kita bukan lagi: Mampukah
saya menaati hukum Allah? Pertanyaannya adalah: Maukah saya beriman kepada
Kristus Yesus dan menerima pembenaran-Nya? Maukah saya berhenti mengandalkan kemampuan
diri dalam menaati hukum Allah, dan belajar mengandalkan ketaatan-Nya yang
sempurna? Bersediakah saya mempersilah-kan Kristus menyatakan kehidupan-Nya di
dalam dan melalui diri saya? KESELAMATAN BUKANLAH BERDASARKAN KETAATAN KITA,
MELAINKAN BERDASARKAN KETAATAN KRISTUS YANG SEMPURNA. Selamat pagi.
Semangat!!!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
Tinggal di dalam
Kristus. Sebelumnya kita belajar dari rasul Yohanes bahwa “Tinggal di dalam
Kristus” bisa kita lakukan dengan tindakan praktis yaitu melalui pengakuan
lidah bibir kita bahwa Kristus adalah Anak Allah. Hal yang kedua yang juga
disampaikan rasul yang sama adalah: 1 Yoh 2:5 “Tetapi barangsiapa MENURUTI
FIRMAN-NYA, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah
kita ketahui bahwa Kita Ada Di Dalam Dia”. Bagi Rasul Yohanes tinggal di dalam
Kristus bukan hanya pada perkataan atau pengakuan namun juga pada “tindakan”
ketaatan kita atas firman dan perintah Tuhan ya bahkan setiap Firman Tuhan!
Setiap Firman harus kita respon dengan sikap hati dan mindset yang tunduk serta
tindakan nyata untuk mentaatinya, entah sulit atau mudah. Mungkin beberapa
Firman mudah dan sudah kita lakukan, namun beberapa belum dan sulit untuk kita
lakukan. Jangan menyerah! Ada janji Allah: Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi
segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus”
termasuk keperluan kita untuk mentaati setiap FirmanNya. Kita bisa taat pada
Firman dan tinggal di dalam Kristus bukan karena kekuatan diri kita. Tetapi
karena Allah yang akan memenuhi kebutuhan kita untuk taat itu. Tugas kita hanya
memohon dengan iman berdasar janjiNya dalam Filipi 4:19. Allah yang akan
memampukan kita untuk taat pada Firman. Maukah kita memohon agar di mampukan
untuk taat kepada setiap Firman Tuhan? Dengan demikian kita hidup dan tinggal
didalam Kristus. Amin. (Taswin Taruna – PT. SMU)
Respon 5
Berlawanan dari
yang sering diperkirakan sekelompok orang yang berpikir bahwa hidup beribadah
dilakukan demi memperoleh berkat, rasul Paulus menekankan bahwa berkat itu akan
diberikan justru pada saat pelaku-pelaku ibadah itu tidak menghauskannya:
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1 Tim
6:6). Ini tampaknya selaras dengan yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 6:33.
Jadi, hati yang merasa cukup ialah syarat keberkatan dalam ibadah. Bukan hati
yang tamak & dipenuhi rasa kurang dari apa yang sebenarnya telah cukup
Tuhan berikan untuk sehari-hari. Keinginan besar atas berkat-berkat jasmaniah
dari ibadah-ibadah kita justru merendahkan nilai ibadah kita yang semestinya
semata-mata tertuju pada Kristus, tujuan tertinggi penyembahan kita. Mengapa
hati yang dipenuhi kepuasan dalam Tuhan mendatangkan berkat yang besar? 1-Tuhan
berkenan dengan orang-orang yang tulus mencari Dia. Saat Tuhan berkenan maka
Dia akan menganugerahkan berkat-berkatNya lebih lagi. Salomo yang tidak
menginginkan kekayaan & kemuliaan justru beroleh semuanya saat ia meminta
hikmat (berkat rohani) pada Tuhan. Bila hati Tuhan disukakan, Dia bahkan memberikan
lebih banyak dari yang kita harapkan! 2-Tanpa keinginan-keinginan yang
muluk-muluk, hidup kita dijauhkan dari stress. Kehidupan tanpa stress ialah
kehidupan yang bahagia & sehat: suatu kualitas hidup yang dicari semua
orang di dunia & tak ternilai harganya. 3-Rasa cukup atas hal-hal duniawi
membuat kita melihat lebih jernih akan hal-hal yang terpenting & paling
berharga dalam hidup: kemuliaan yang fana atau yang kekal? Ada harga penyesalan yang harus dibayar dalam
pengejaran tanpa henti akan pencapaian duniawi saat hidup sampai di batas
akhir. Sewaktu semua harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemilik Kehidupan,
adakah Anda tergolong orang yang menggunakan hari-hari dalam hidup kita untuk
mewarisi harta kekal ataukah Anda termasuk yang berharap mendapat kesempatan
kedua untuk mengulangi hidup demi memperoleh harta abadi? Keputusan ada di
tangan Anda. Jangan terlambat memutuskannya. Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment