WHAT DO YOU THINK OF...?
Refleksi IMAN.
Yakobus 2:7, “Demikian juga halnya dengan IMAN: Jika IMAN itu tidak disertai
perbuatan, maka IMAN itu pada hakekatnya adalah mati.” IMAN yang hidup
adalah bila disertai dengan PERBUATAN J. PERBUATAN yang seperti apa?? 1) Melakukan kebenaran / truth
(punya integritas & kejujuran. Matius 5:37, “Jika ya, hendaklah kamu
katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari
pada itu berasal dari si jahat.”). 2) Mempunyai hubungan yang
intim / dekat dengan Tuhan. Ayub 29:4, “seperti ketika aku mengalami masa
remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku.” (punya
kesalehan hidup / righteousness). 3) Hidup dalam kekudusan / holiness.
Ibrani 12:14, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah
kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”
Bagaimana refleksi IMAN kita? Sudahkah sesuai dengan standardNya Allah? J Amin.
Respon 1
Iman memang
direfleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kita mendengar orang
dari agama lain mengeluh: orang beriman tetapi perbuatannya nggak cocok sama
sekali, berdoa sekali-kali saja, baca firman kalau di gereja, suka menipu, suka
gosip, suka curiga terhadap suami / istrinya, nggak setia kepada suami /
istrinya, nggak jujur ngomongnya atau memakai uang perusahaan, pelit, nggak
pernah bersyukur / mengeluh terus, nggak ramah, raja tega, dst, dst, dst, dst,
dst.. Oleh karena itu kita perlu hati-hati menyebut diri sebagai orang beriman
karena iman tanpa perbuataan adalah sia-sia. Sikap kita dalam kehidupan
sehari-hari mencerminkan iman kita kepada TUHAN YESUS. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 2
Renungan hari ini
tentang refleksi iman. Yakobus 2:17 – demikian juga halnya iman: jika iman itu
tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Contoh
yang sudah sering kita baca adalah tentang kehidupan Abraham yang percaya dan
melakukan perintah Tuhan. Karena itu Abraham disebut bapa orang beriman. Ketika
Ishak diminta Tuhan untuk dikorbankan, Abraham dengan yakin bilang pada
bujangnya “kami akan sembahyang, sesudah itu KAMI kembali kepadamu” (Kejadian
22:6). Kata kami menunjuk pada Abraham dan Ishak. Abraham percaya Tuhan tidak
akan mengambil Ishak anak yang dijanjikan. Tapi Abraham melakukan perintah
Tuhan meski itu berat. Ini yang disebut IMAN. Percaya sepenuh hati bahwa tidak
ada rencana Tuhan yang jahat. Apa yang kita imani saat ini? Percaya bahwa kita
diselamatkan? Apakah perbuatan kita mencerminkan iman kita? Percaya rencana
Tuhan pasti yang terbaik? Apa yang sudah kita lakukan saat ini? Bersyukur dan
terus berharap atau sibuk memperhatikan masalah kemudian mengeluh (kadang ini
tidak sadar kita lakukan)? Biarkan orang lain bisa melihat iman kita melalui
perbuatan dan tingkah laku kita. (Ibu Rita – PKS CL 8)
Respon 3
“Kreativitas akan
muncul saat kita punya saat teduh yang berkualitas.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH.
Sabtu,14 Maret 2015. Tua Siapa Takut. Saudara-saudaraku yang terkasih, aku
menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri
dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11).
Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI), ada sekitar 4 juta pekerja imigran Indonesia yang bekerja
di luar negeri pada 2012. Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Arab Saudi
adalah lima negara tujuan utama mereka. Di luar itu, orang Indonesia tersebar
ke berbagai penjuru dunia sebagai perantau, baik untuk bekerja maupun untuk
sekolah. Hidup sebagai perantau, khususnya bagi mereka yang berencana untuk
kelak kembali ke tanah air, memiliki setidaknya dua keunikan. Yang pertama,
pemahaman akan kesementaraan hidup mereka di tanah rantau. Pemahaman ini
mengingatkan mereka untuk tidak terikat dengan kehidupan di tanah rantau. Yang
kedua, kesadaran akan identitas mereka sebagai orang Indonesia. Kesadaran ini
membuat mereka memilah-milah kebiasaan dan kebudayaan tanah rantau sesuai
dengan identitas ke-Indonesia-an mereka. Sedikit-banyak inilah yang hendak
Petrus sampaikan dalam suratnya. Hidup kita di dunia ini hanya sementara.
Karenanya, kita tidak perlu terikat dengan dunia ini sampai lupa akan “rumah sejati”
kita di langit dan bumi baru yang sedang Tuhan siapkan. Yang kedua, identitas
kita adalah umat Allah dan dipanggil untuk menjadi berkat. Karenanya, kita pun
harus hidup sesuai dengan identitas tersebut. Ini berarti cara hidup kita pasti
akan berbeda dengan mereka yang bukan umat Allah. Mungkin akibatnya kita akan
terasing dan dicela. Tetapi, tetaplah setia; ini semua sementara dan suatu hari
kelak buahnya akan kita nikmati—ALS. HIDUP DI DUNIA INI SEMENTARA, JANGANLAH
TERIKAT DENGAN-NYA, MELAINKAN JALANILAH SESUAI DENGAN IDENTITAS KITA SEBAGAI
UMAT ALLAH. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.
(Madam Ossy)
Respon 5
Yoh 10:10. Hidup
ini BERAT tapi coba tambahkan huruf ‘K’ pada BERAT maka jadi “hidup ini
BERKAT”. Siapakah K? ‘KRISTUS’. Pasti diberkati berlimpah-limpah yang hidupnya
ada KRISTUS! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 6
Menurut catatan
Alkitab, orang yang benar-benar rindu mau hidup & berjalan bersama Tuhan
selama hidup tidaklah banyak. Bahkan di antara orang-orang yang mengaku sebagai
pengikut Kristus berapa banyak yang sungguh-sungguh memandang hubungan dengan
Tuhan ialah hubungan yang terpenting & terutama dalam hidupnya sehingga
mencari Tuhan & berkehendak mengenal rencana-Nya dalam hidup mereka setiap
hari? Manusia kerap memandang sepi keberadaan Tuhan. Hanya mencoba berhubungan
dengan-Nya jika ada keperluan-keperluan pribadi yang khusus atau terkait
perayaan-perayaan agama yang mengandung kepentingan mohon berkat bagi
kehidupannya. Selepas itu, Tuhan bukan bagian hidup sehari-hari manusia.
Menjalani hidup dipandang sebagai hak manusia yang tidak perlu campur tangan
Tuhan. Bagian Tuhan dipandang hanya untuk memberkati apapun yang direncanakan
& diusahakan manusia. Tepatkah ini? Amsal 19:21 mengatakan “Banyaklah rancangan
di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” Artinya, Tuhan
memiliki kuasa menentukan putusan akhir apa-apa yang terjadi dalam hidup
seseorang, siapapun itu. Meski sukar dimengerti bagaimana semuanya ini bekerja,
Tuhan selalu punya cara mengarahkan apa saja yang dikerjakan manusia dalam
rancangan mereka sendiri untuk lalu dibelokkan mewujudkan kehendak-Nya yang tak
pernah gagal di akhir setiap episode kehidupan. Tuhan bukan pribadi yang bodoh
& lemah sehingga harus mengikuti setiap angan-angan & kehendak manusia
yang egois. Melalui cara-Nya sendiri, Dia akan menjadikan kehendak-Nya
terlaksana. Mereka yang bersikeras menjalani hidup di luar rencana Tuhan akan
menelan kekecewaan saat menyadari bahwa semuanya tidak seperti yang mereka inginkan
tapi seperti yang Tuhan rancangkan! Sebab itu, betapa penting hubungan kita
dengan Tuhan. Hidup kita sesat, menabrak sana sini, jatuh bangun, babak belur
& sia-sia tanpa Tuhan. Hanya di dalam Dia, kita tahu arah, makna &
tujuan hidup kita. Hari ini undang Tuhan menjadi pemimpin & penguasa penuh
hidup Anda. Selama-lamanya Anda takkan pernah kecewa. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Respon 7
Belajar dari
seorang AHOK (majalah Integrity edisi): -Pegangan utama saya menjalankan tugas
adalah konstitusi namun nilai hidup saya adalah standard Firman Tuhan. -Saya
selalu membawa segala pergumulan dalam doa. -Saya selalu minta Tuhan untuk
selidiki hati apakah setiap keputusan untuk mengusahakan kesejahteraan orang
lain atau bukan. -Saya pernah melayani sebagai guru sekolah Minggu selama 5
tahun, pernah di komisi pemuda, pernah menjadi ketua majelis. -Saya disiplin
melatih jasmani/olahraga dan rohani (saat teduh setiap hari dan membaca Alkitab
dari Kejadian sampai Wahyu setiap tahun). Tidak keluar kamar setiap pagi
sebelum menyelesaikan baca Alkitab satu hari. -Setiap lima tahun saya ganti
Alkitab karena sudah penuh dengan catatan-catatan yang menumpuk di setiap
halamannya. -Pertemuan pribadi dengan Tuhan adalah hal yang terindah bagi saya.
-Yang paling penting, kita memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. -Saya akan
terus mengingatkan istri dan anak-anak agar bertemu secara pribadi dengan
Tuhan. -Mimbar gereja harus mengajarkan agar jemaat intim dengan Tuhan, bukan
hanya terus menerus mengajarkan “what benefit of knowing Christ”, tetapi “who
is Christ”. Bagaimana supaya jemaat memiliki pikiran yang tajam dan peka untuk
dengar suara Tuhan. Gbu... (Ibu Ester Nugroho – Tim Inti CL 3)

No comments:
Post a Comment