Saturday, 14 March 2015

14 Maret 2015



WHAT DO YOU THINK OF...?




Refleksi IMAN. Yakobus 2:7, “Demikian juga halnya dengan IMAN: Jika IMAN itu tidak disertai perbuatan, maka IMAN itu pada hakekatnya adalah mati.” IMAN yang hidup adalah bila disertai dengan PERBUATAN J. PERBUATAN yang seperti apa?? 1) Melakukan kebenaran / truth (punya integritas & kejujuran. Matius 5:37, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”). 2) Mempunyai hubungan yang intim / dekat dengan Tuhan. Ayub 29:4, “seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku.” (punya kesalehan hidup / righteousness). 3) Hidup dalam kekudusan / holiness. Ibrani 12:14, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Bagaimana refleksi IMAN kita? Sudahkah sesuai dengan standardNya Allah? J Amin.

Respon 1
Iman memang direfleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kita mendengar orang dari agama lain mengeluh: orang beriman tetapi perbuatannya nggak cocok sama sekali, berdoa sekali-kali saja, baca firman kalau di gereja, suka menipu, suka gosip, suka curiga terhadap suami / istrinya, nggak setia kepada suami / istrinya, nggak jujur ngomongnya atau memakai uang perusahaan, pelit, nggak pernah bersyukur / mengeluh terus, nggak ramah, raja tega, dst, dst, dst, dst, dst.. Oleh karena itu kita perlu hati-hati menyebut diri sebagai orang beriman karena iman tanpa perbuataan adalah sia-sia. Sikap kita dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan iman kita kepada TUHAN YESUS. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 2
Renungan hari ini tentang refleksi iman. Yakobus 2:17 – demikian juga halnya iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Contoh yang sudah sering kita baca adalah tentang kehidupan Abraham yang percaya dan melakukan perintah Tuhan. Karena itu Abraham disebut bapa orang beriman. Ketika Ishak diminta Tuhan untuk dikorbankan, Abraham dengan yakin bilang pada bujangnya “kami akan sembahyang, sesudah itu KAMI kembali kepadamu” (Kejadian 22:6). Kata kami menunjuk pada Abraham dan Ishak. Abraham percaya Tuhan tidak akan mengambil Ishak anak yang dijanjikan. Tapi Abraham melakukan perintah Tuhan meski itu berat. Ini yang disebut IMAN. Percaya sepenuh hati bahwa tidak ada rencana Tuhan yang jahat. Apa yang kita imani saat ini? Percaya bahwa kita diselamatkan? Apakah perbuatan kita mencerminkan iman kita? Percaya rencana Tuhan pasti yang terbaik? Apa yang sudah kita lakukan saat ini? Bersyukur dan terus berharap atau sibuk memperhatikan masalah kemudian mengeluh (kadang ini tidak sadar kita lakukan)? Biarkan orang lain bisa melihat iman kita melalui perbuatan dan tingkah laku kita. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 3
“Kreativitas akan muncul saat kita punya saat teduh yang berkualitas.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu,14 Maret 2015. Tua Siapa Takut. Saudara-saudaraku yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11). Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), ada sekitar 4 juta pekerja imigran Indonesia yang bekerja di luar negeri pada 2012. Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Arab Saudi adalah lima negara tujuan utama mereka. Di luar itu, orang Indonesia tersebar ke berbagai penjuru dunia sebagai perantau, baik untuk bekerja maupun untuk sekolah. Hidup sebagai perantau, khususnya bagi mereka yang berencana untuk kelak kembali ke tanah air, memiliki setidaknya dua keunikan. Yang pertama, pemahaman akan kesementaraan hidup mereka di tanah rantau. Pemahaman ini mengingatkan mereka untuk tidak terikat dengan kehidupan di tanah rantau. Yang kedua, kesadaran akan identitas mereka sebagai orang Indonesia. Kesadaran ini membuat mereka memilah-milah kebiasaan dan kebudayaan tanah rantau sesuai dengan identitas ke-Indonesia-an mereka. Sedikit-banyak inilah yang hendak Petrus sampaikan dalam suratnya. Hidup kita di dunia ini hanya sementara. Karenanya, kita tidak perlu terikat dengan dunia ini sampai lupa akan “rumah sejati” kita di langit dan bumi baru yang sedang Tuhan siapkan. Yang kedua, identitas kita adalah umat Allah dan dipanggil untuk menjadi berkat. Karenanya, kita pun harus hidup sesuai dengan identitas tersebut. Ini berarti cara hidup kita pasti akan berbeda dengan mereka yang bukan umat Allah. Mungkin akibatnya kita akan terasing dan dicela. Tetapi, tetaplah setia; ini semua sementara dan suatu hari kelak buahnya akan kita nikmati—ALS. HIDUP DI DUNIA INI SEMENTARA, JANGANLAH TERIKAT DENGAN-NYA, MELAINKAN JALANILAH SESUAI DENGAN IDENTITAS KITA SEBAGAI UMAT ALLAH. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)


Respon 5
Yoh 10:10. Hidup ini BERAT tapi coba tambahkan huruf ‘K’ pada BERAT maka jadi “hidup ini BERKAT”. Siapakah K? ‘KRISTUS’. Pasti diberkati berlimpah-limpah yang hidupnya ada KRISTUS! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 6
Menurut catatan Alkitab, orang yang benar-benar rindu mau hidup & berjalan bersama Tuhan selama hidup tidaklah banyak. Bahkan di antara orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus berapa banyak yang sungguh-sungguh memandang hubungan dengan Tuhan ialah hubungan yang terpenting & terutama dalam hidupnya sehingga mencari Tuhan & berkehendak mengenal rencana-Nya dalam hidup mereka setiap hari? Manusia kerap memandang sepi keberadaan Tuhan. Hanya mencoba berhubungan dengan-Nya jika ada keperluan-keperluan pribadi yang khusus atau terkait perayaan-perayaan agama yang mengandung kepentingan mohon berkat bagi kehidupannya. Selepas itu, Tuhan bukan bagian hidup sehari-hari manusia. Menjalani hidup dipandang sebagai hak manusia yang tidak perlu campur tangan Tuhan. Bagian Tuhan dipandang hanya untuk memberkati apapun yang direncanakan & diusahakan manusia. Tepatkah ini? Amsal 19:21 mengatakan “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” Artinya, Tuhan memiliki kuasa menentukan putusan akhir apa-apa yang terjadi dalam hidup seseorang, siapapun itu. Meski sukar dimengerti bagaimana semuanya ini bekerja, Tuhan selalu punya cara mengarahkan apa saja yang dikerjakan manusia dalam rancangan mereka sendiri untuk lalu dibelokkan mewujudkan kehendak-Nya yang tak pernah gagal di akhir setiap episode kehidupan. Tuhan bukan pribadi yang bodoh & lemah sehingga harus mengikuti setiap angan-angan & kehendak manusia yang egois. Melalui cara-Nya sendiri, Dia akan menjadikan kehendak-Nya terlaksana. Mereka yang bersikeras menjalani hidup di luar rencana Tuhan akan menelan kekecewaan saat menyadari bahwa semuanya tidak seperti yang mereka inginkan tapi seperti yang Tuhan rancangkan! Sebab itu, betapa penting hubungan kita dengan Tuhan. Hidup kita sesat, menabrak sana sini, jatuh bangun, babak belur & sia-sia tanpa Tuhan. Hanya di dalam Dia, kita tahu arah, makna & tujuan hidup kita. Hari ini undang Tuhan menjadi pemimpin & penguasa penuh hidup Anda. Selama-lamanya Anda takkan pernah kecewa. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 7
Belajar dari seorang AHOK (majalah Integrity edisi): -Pegangan utama saya menjalankan tugas adalah konstitusi namun nilai hidup saya adalah standard Firman Tuhan. -Saya selalu membawa segala pergumulan dalam doa. -Saya selalu minta Tuhan untuk selidiki hati apakah setiap keputusan untuk mengusahakan kesejahteraan orang lain atau bukan. -Saya pernah melayani sebagai guru sekolah Minggu selama 5 tahun, pernah di komisi pemuda, pernah menjadi ketua majelis. -Saya disiplin melatih jasmani/olahraga dan rohani (saat teduh setiap hari dan membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu setiap tahun). Tidak keluar kamar setiap pagi sebelum menyelesaikan baca Alkitab satu hari. -Setiap lima tahun saya ganti Alkitab karena sudah penuh dengan catatan-catatan yang menumpuk di setiap halamannya. -Pertemuan pribadi dengan Tuhan adalah hal yang terindah bagi saya. -Yang paling penting, kita memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. -Saya akan terus mengingatkan istri dan anak-anak agar bertemu secara pribadi dengan Tuhan. -Mimbar gereja harus mengajarkan agar jemaat intim dengan Tuhan, bukan hanya terus menerus mengajarkan “what benefit of knowing Christ”, tetapi “who is Christ”. Bagaimana supaya jemaat memiliki pikiran yang tajam dan peka untuk dengar suara Tuhan. Gbu... (Ibu Ester Nugroho – Tim Inti CL 3)







No comments:

Post a Comment