WHAT DO YOU THINK OF...?
Baca: Matius
5:13-16. Bagaimana gaya hidup kita sebagai murid-murid Kristus? Gaya hidup
murid Kristus itu sederhana J. Harus
bisa seperti garam, yang punya rasa menjadikan makanan menjadi lezat
& nikmat, tanpa garam makanan akan hambar J. Sudahkah kita “punya RASA seperti GARAM” / BISA dirasakan
kehadirannya oleh orang-orang disekitar kita?? Menjadi berkat &
berdampak bagi marketplace-nya? Ayat 14: “Kamu adalah terang dunia
kota yang terletak diatas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Artinya
kitalah terang dunia / rumah Tuhan / gereja yang memancarkan terang, bahkan
menjadi jawaban bagi dunia yang gelap. Amin. Semangat bergaya hidup “Garam
& Terang”. Semangat bagai “Bintang-Bintang-Nya / Selebritis-Nya” Tuhan. It's
time to shine J. Amin.
Respon 1
Aku bangun pagi ini
dan aku diberkati. Saudara bangun pagi ini dan saudara juga diberkati. Have a
blessed day! Ratapan 3:22-23, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak
habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (GNCC)
Respon 2
“Salah satu tugas
yang paling berat namun sekaligus paling bermartabat adalah mengajar.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH.
Kamis,12 Maret 2015. Tidak Adil!!! Ia memang mengetahui bahwa mereka telah
menyerahkan Yesus karena dengki (Matius 27:18). Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan
17-20. Kapan kita berteriak, “Ini tidak adil!”? Ketika kita dirugikan, bukan?
Sebaliknya, kapan kita diam saja? Saat kita diuntungkan, bukan? Jadi, tampaknya
ada ketidakadilan yang berguna ya? Saat dirugikan kita juga cenderung
menyalahkan orang lain, situasi, lingkungan, bahkan Allah sebagai sumber
ketidakadilan itu. Kenapa kita tidak mawas diri: bisa jadi kita sendiri biang
keladinya? Selain itu, kecenderungan kita membandingkan diri dengan mereka
“yang di atas” (yang lebih kaya atau yang lebih pandai, misalnya) bisa
mencuatkan perasaan bahwa hidup ini tidak adil. Padahal, kalau kita
membandingkan diri dengan mereka “yang di bawah”, bisa jadi kitalah yang bakal
mereka anggap tidak adil! Ya, kita cenderung bersungut-sungut sampai lalai
mensyukuri berkat yang sudah kita miliki. Lalu, bagaimana dengan tuduhan bahwa
Allah tidak adil? Jelas salah alamat. Dia selalu adil (Ul. 32:4, Dan. 9:14).
Sebenarnya, justru Dialah yang sering kita perlakukan secara tidak adil. Ingat
Yudas Iskariot yang mengkhianati dan menjual Yesus (Mat. 26:14-16)? Juga fitnah
Mahkamah Agama karena mereka dengki pada-Nya (ay. 18; juga Mat. 26:59)?
Barangkali hanya dalam hal menghukum Putra Tunggal-Nya saja Allah bisa
dikatakan “tidak adil”. Kenapa? Karena kitalah yang seharusnya tergantung di
kayu salib! Dengan berbuat “tidak adil” pada Anak-Nya, ia telah menunjukkan
keadilan-Nya: bahwa hukuman atas dosa telah dijatuhkan. Jadi, dalam
“ketidakadilan-Nya” Allah tetap adil, bukan?—HIS. KEADILAN ALLAH DINYATAKAN
DALAM “KETIDAK-ADILAN-NYA”. TERHADAP PUTRA TUNGGAL-NYA DEMI KESELAMATAN KITA.
Pagi... Semangat!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
Amsal 17:17,
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam
kesukaran.” Ayat ini adalah ayat emas kami... Saya mempunyai seorang sahabat pena
di Surabaya. Saya sudah bersahabat sejak tahun 1978. Dia yang berdoa untuk saya. Ketika
saya belum kenal TUHAN. Sekarang dia adalah kakak rohani saya, yang banyak
membimbing saya. Kami saling mendukung, saling berbagi, saling menolong, saling
mendoakan, saling curhat waktu ada masalah... Dia sahabat sejati yang
menguatkan saya. Thank you Siu sudah menjadi sahabat dan sister dalam hidupku.
Gbu. Karena hari ini pembahasan Amsal 17, aku teringat dengan ayat 17:17 yang
pernah kau bagikan. Ini kesaksianku hari ini di group senada Home Ladies of
Light... (Ibu Caroline – Bandung)
Tanggapan Saya
Shalom Cie, pagi.
Thank you so much ya, kau adalah kakak rohaniku juga J yang sudah berdoa bagi aku dan keluargaku. Kalau aku bisa seperti hari
ini, itu karena ada doa-doamu yang mensupport aku selama ini. So much to be
thankful Cie... Sudah menjadi pendoa syafaat yang luar biasa, motivator dalam
hidupku, mengajariku arti ketaatan & hidup dalam perkenanan Tuhan J.
Respon 5
Jika direnungkan, hampir
segala sesuatu di dunia ini -ketika melewati rentang waktu- selalu mengalami
penurunan dalam kualitasnya dari waktu ke waktu. Jangankan ada peningkatan,
untuk tinggal tetap seperti sedia kala saja sukar untuk terjadi. Hubungan
keluarga yang makin renggang; kasih dalam rumah tangga yang kian tawar hari
demi hari; persahabatan yang telah kehilangan rasa -dimana kenangan-kenangan
indah sekalipun tak sanggup memulihkannya. Kesetiaan pun menjadi suatu kualitas
yang sangat langka di peradaban manusia (Ams. 19:22;20:6). Tidak demikian
dengan Tuhan kita & kasih-Nya. Di tengah-tengah kesedihan yang demikian
besar, Yeremia meratap tapi merenung & mengingat kasih Tuhan: “Tak pernah
berkurang kasih Tuhan, tak pernah berakhir kemurahan-Nya. Selalu baru setiap
pagi, berlimpah kesetiaan-Nya” (Rat. 3:22-23; Alkitab dalam banyak versi). Ya,
ada yang tidak pernah berkurang tetapi senantiasa penuh & berlimpah. Itulah
kasih Tuhan & kesetiaan-Nya bagi kita. Kalau bukan karena kasih-Nya hari
ini kita semua telah berakhir & dibinasakan-Nya sebab dosa-dosa pelanggaran
kita yang begitu banyak itu. Setiap tarikan & hembusan nafas adalah bukti
kemurahan-Nya bagi kita. Setiap sel-sel tubuh kita yang berfungsi dengan baik
& mampu memperbarui dirinya sendiri ialah karena Dia masih memberikan kasih
karunia baru setiap harinya pada kita. Dia senantiasa menopang & setia
mengasihi kita (2 Tim. 2:13). Ketika semua mengecewakan kita, bahkan terhadap
diri kita sekalipun -kita dapat bersandar pada kasih yang tak pernah berakhir
itu. Bagai aliran sungai yang jernih yang tak pernah mengalirkan air yang sama
tapi selalu membawa air yang baru dari sumbernya, demikian kasih Tuhan akan
dialirkan dalam hidup kita. Saat Anda datang pada Yesus Kristus, sumber
kehidupan itu, Anda akan selalu diperbarui dengan kekuatan & kesegaran yang
baru. Anda dijadikan kuat sebab dikasihi untuk terus mengasihi. Tak pernah
kering. Takkan pernah lelah. Disegarkan-Nya jiwa Anda di sepanjang usia (2
Korintus 4:16). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment