WHAT DO YOU THINK OF...?
Refleksi IMAN
(Part 2). Adakah dengan keberadaan kita orang lain merasakan refleksi
iman kita? J Tuhan ingin kita punya: 1)Kesetiaan,
baik kepada pasangan hidup, pekerjaan, pelayanan juga kesetiaan kepada iman
kita (Wahyu 2:10b, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan
mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”). 2) Jadikan kebiasaan
untuk memberi yang terbaik / spirit of excellent dalam segala hal
yang kita lakukan (Yak 1:17, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah
yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang;
pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”). 3) Kasih.
Sudahkah kita merefleksikan kasihNya? (Matius 22:37-39, “Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum
yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu,
ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’”).
Respon 1
“Di tengah
kesibukan, kita justru perlu Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu,
15 Maret 2015. Ada Maunya. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang
jahat dan lakukanlah yang baik (Roma 12:9). Seorang teman mengeluhkan sikap
rekannya yang menawarinya bergabung di sebuah bisnis Multi Level Marketing. Awalnya
ia diperlakukan sangat spesial, ditelepon dengan rajin, dan ditraktir makan.
Tetapi ketika ia memutuskan tidak bergabung menjadi anggota program bisnis itu,
sikap rekannya berubah drastis: dingin setiap bertemu, tidak bersahabat, dan
terkesan bermusuhan. Banyak orang yang hidup secara munafik dan mengenakan
topeng, tidak terkecuali orang yang mengaku percaya Kristus. Mereka berbuat
baik sebagai umpan; mereka sebenarnya memiliki tujuan tertentu untuk
kepentingan pribadi. Kasih mereka tidak tulus. Dan biasanya, orang seperti ini
memiliki batas waktu dan kesabaran. Ketika tujuan mereka tidak tercapai,
karakter mereka yang sebenarnya akan terkuak. Sikap yang demikian dapat
memecah-belah jemaat, menjadi sandungan bagi banyak orang, dan tentu saja tidak
menghormati Tuhan. Rasul Paulus mendorong orang Kristen di Roma agar tidak
berpura-pura dalam mengasihi. Itu sebuah kejahatan. Sebaliknya, hendaknya
mengasihi dengan tulus, tanpa pamrih, bukan karena ada agenda terselubung untuk
menguntungkan diri. Tindakan ini tidak hanya ditujukan pada sesama orang
percaya (ay. 10), tetapi pada semua orang (ay. 17). Tentu saja ini bukan hal
yang mudah. Karenanya, kita perlu mengenal kasih Allah, yang terbukti melalui
karya Kristus di kayu salib. Ketika kita terhubung dengan sumber kasih itu,
kita akan dapat menyalurkannya kepada orang lain tanpa berpura-pura. TIDAK ADA
KATA “PURA-PURA” DI DALAM KAMUS KASIH SEJATI. Selamat pagi. Selamat beribadah.
Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:
Post a Comment