Thursday, 19 March 2015

19 Maret 2015




WHAT DO YOU THINK OF...?



Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” 1) Sebagai orang tua kita harus mendidik anak-anak kita sedari kecil (muda) dengan disiplin rohani / memberikan dorongan dalam anak-anak untuk  lebih dekat / mencari Tuhan. Sehingga mereka mengalami perjumpaan secara pribadi. 2) Anak-anak yang sudah dididik dengan benar pada umumnya tidak akan menyimpang dari “jalan” / ajaran firman Tuhan. (Bukan jaminan mutlak) oleh karenanya: 3) Sertai dengan DOA-DOA kita (orang tua) yang terus menerus agar ada KUASA yang dapat MEGUBAH anak-anak kita, agar sesuai dengan kehendakNya. Amin J.


Respon 1
Jangan pernah ijinkan rasa takut dan kuatir ikut memutuskan untuk masa depanmu. Yesus berkata: “Jangan takut dan Aku besertamu senantiasa.” (GNCC)

Respon 2
Amsal 22:6 – Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpan daripada jalan itu. Aku punya 2 anak remaja. Mendidik anak remaja nggak sama dengan mendidik waktu mereka kecil. Sekarang kalau dimarahi mereka bisa membantah. Tapi aku punya pengalaman yang bisa aku jadikan guru dan aku terus belajar untuk menjadi ortu yang bisa memberi contoh buat mereka bukan cuma bisa ngomel dan marah. Dulu ketika mereka berbuat salah aku bakalan marah-marah, ternyata dengan marah-marah itu membuat mereka lihat aku seperti monster, mereka jadi pembohong karena takut dimarahi. Aku belajar dari kejadian-kejadian yang lalu. Anak akan menjadi pembohong ketika dia merasa nggak nyaman. Jadi sekarang aku benar-benar harus belajar bisa menahan emosi supaya anak-anakku bisa merasa nyaman dengan aku dan tidak menjadi pembohong lagi. Dan sekarang juga belajar untuk bisa ngobrol dengan mereka, mendengarkan cerita-cerita mereka. Dari situ aku juga bisa ngomong tentang firman Tuhan disela-selanya. Aku harus belajar supaya anak-anakku bisa nyaman berada di rumah, karena kalau mereka merasa nyaman di luar rumah bisa bahaya, karena sebagai orang tua aku nggak bisa memantau mereka 100% dan 24 jam. Jadi ya cuma bisa berdoa supaya Tuhan yang menuntun hidup mereka. Gaya hidup orang tua itu yang dilihat anak dan dicontoh. Jadi didiklah mereka dengan sikap hidup kita yang percaya dan taat pada Tuhan. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 3
2 Taw 15:7 – Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada UPAH bagi usahamu! Ayoo SEMANGAT. Kerja yang baik, pasti diberkati-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 4
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu. Kembali kita diingatkan untuk membimbing, mengarahkan orang-orang muda untuk mengenal jalan yang benar, kudus dan berkenan dihadapan TUHAN. Tidak ada jalan lain selain melalui pengenalan akan firman TUHAN. Terutama orang tua harus mengarahkan anak pengenalan akan pribadi YESUS yang sempurna, bukan menunjukkan sebagai orang tua yang sempurna dan terus mendoakan mereka untuk meminta TUHAN campur tangan di dalam mendidik anak-anak kita. Memberi kesempatan kepada anak untuk memiliki komunitas yang baik terutama komunitas orang-orang percaya akan TUHAN YESUS. Amin, Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 5
SAAT TEDUH. Kamis,19 Maret 2015. Mengelola Sakit Hati. Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati (Ayub 5:2). Adolf Hitler terlahir sebagai orang yang berpotensi menjadi pemimpin besar. Namun, ia dibesarkan oleh ayah yang menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya. Ayahnya suka memerintah dan menuntut anaknya patuh. Hitler kerap bertengkar dengan sang ayah, yang tidak menyetujui keinginannya menekuni seni murni. Perlakuan sang ayah ini membuatnya sakit hati dan dendam, yang berpengaruh pada pilihan hidupnya kelak. Sebuah pilihan hidup yang pahit dan membuahkan kehancuran banyak orang. Di Alkitab, juga ada tokoh yang sakit hati, dengan respons yang berbeda-beda. Pertama, Haman dalam bacaan hari ini. Ia benci kepada Mordekhai karena tidak mau bangkit dan menghormatinya. Kemudian kebencian itu berkembang menjadi rencana pembunuhan massal terhadap bangsa Yahudi. Yang kedua, Hana, direndahkan oleh Penina karena mandul (1 Sam. 1:6-7). Ia sakit hati, namun tidak berpikir untuk menghancurkan Penina. Dengan hati yang pilu, ia memohon kepada Allah supaya diberi anak. Oleh kemurahan-Nya, Allah mengabulkan doa itu. Anaknya, Samuel, kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Israel. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu bersosialisasi dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, atau tetangga. Dalam pergaulan itu, kita tidak dapat menghindar dari kemungkinan timbulnya gesekan yang bisa menyebabkan sakit hati. Kabar baiknya, kita bisa memilih cara meresponsnya. Daripada membalas perilaku orang lain yang telah menyakiti kita, mari kita berdoa dan mengoreksi diri. SAKIT HATI BISA DATANG KAPAN SAJA, TETAPI YANG TERPENTING IALAH BAGAIMANA RESPONS KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 6
Terima kasih atas firman Tuhan-nya tiap hari, saya baca terus lho. Rajin ya Ce nggak pernah absen. (Housaku – Rumah Makan Jepang, Citraland)

Respon 7
Sangat banyak pesan dari ayat-ayat kitab suci kita yang mendorong, menghimbau, mengajak bahkan memerintahkan kita untuk mencari Tuhan selama kita hidup. Amos 5:4,6; Maz. 27:8; 34:11; 119:2; 1 Taw. 22:19; 2 Taw. 14:4; Mat. 6:33 hanyalah sebagian kecil dari ribuan ayat yang menyampaikan pesan tersurat atau tersirat untuk mencari Tuhan lebih dari apapun di dunia ini. Sayangnya, bagi manusia, Tuhanlah yang paling sering diabaikan dalam pencarian-pencarian hidup mereka. Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa manusia memang sedikit yang mencari Tuhan sehingga Tuhan mencari-carinya di antara anak-anak manusia apakah ada yang sungguh-sungguh mencari, mempedulikan & memikirkan akan Dia (Maz. 14:2). Faktanya sangat menyedihkan hati. Manusia mengejar apa pun dalam hidupnya selain Tuhan. Ada yang tidak peduli sama sekali sehingga menganggap Tuhan tidak ada. Ada yang mencari Tuhan secara sambil lalu, khususnya jika saat-saat didesak oleh masalah & kebutuhan. Ada pula yang merasa sudah mencari Tuhan bahkan menyerahkan diri sebagai pelayan Tuhan -padahal mereka mengenal pengetahuan agama saja & tidak ada perubahan karakter yang menunjukkan mereka bergaul dengan Tuhan. Ada juga yang berapi-api mencari & melayani Tuhan tapi hanya beberapa saat lamanya & kini tidak lagi. Berapa banyakkah yang tekun mencari Tuhan seumur hidupnya? Hal yang berbeda Tuhan lihat dalam diri Paulus. Sebelum dia menjadi hamba Kristus, dia telah membuktikan diri sebagai seorang murid & pengikut Kristus yang mengabdi secara total. Dia mencari Tuhan lebih daripada apapun di dunia ini. Inilah kesaksian & kerinduannya: “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu & menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”; “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia...” ~ Fil. 3:8,10a. Paulus telah berkomitmen menjalani hidup yang dicari & dikehendaki Tuhan yaitu seumur hidup mencari Allahnya. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment