Friday, 27 March 2015

27 Maret 2015



WHAT DO YOU THINK OF...?





Amsal 1:7, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Takut akan Tuhan berarti memandang DIA dengan kekaguman & penghormatan kudus serta menghormatiNya sebagai Allah karena kemuliaan, kekudusan, keagungan & kuasaNya yang besar. Allah berjanji memberi-kan pahala kepada semua orang yang takut akan DIA. Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Luar biasa ya janjiNya: ganjaran takut akan Tuhan = kekayaan, kehormatan & kehidupan. Maukah Saudara takut akan Tuhan? Amin.

Respon 1
“Jangan sampai percikan kesalahpahaman meledakkan jembatan kebersamaan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat, 27 Maret 2015. Pancaran Kebaikan-NYA. Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! (Markus 1:15). Bayangkan seseorang menodongkan pistol ke pelipis kita dan berkata, “Ikut aku atau kau kutembak mati!” Bagaimana kira-kira respons kita? Kita mungkin ketakutan dan terpaksa mengikutinya. Atau, karena kita membenci orang itu, kita berpikir lebih baik mati daripada mengikutinya. Dua respons yang sama-sama tidak menguntungkan. Syukurlah, Yesus tidak menggunakan gaya itu ketika mewartakan Injil. Dia tidak mengundang orang untuk bertobat karena Kerajaan Maut sudah mengancam di ambang pintu, siap menelan kita jika kita tidak percaya. Sebaliknya, Dia mengundang orang untuk bertobat karena Kerajaan Allah sudah dekat. Orang yang percaya pada berita Injil mendapatkan jaminan dan bagian dalam kerajaan yang oleh Paulus digambarkan sebagai penuh dengan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Dengan kata lain, Allah mengundang kita untuk datang kepada-Nya bukan dengan ancaman hukuman, melainkan dengan pancaran kebaikan-Nya. Benarlah, maksud kemurahan Allah ialah menuntun kita kepada pertobatan (Rm. 2:4). Madeleine L’Engle, seorang penulis novel fantasi, menggarisbawahi hal itu. Suatu cara efektif untuk menarik orang datang kepada Kristus, menurutnya, “bukanlah dengan mencela kepercayaan mereka, atau menuding kesalahan mereka, dan menunjukkan bahwa kita lebih benar dari mereka, melainkan dengan memancarkan cahaya yang begitu indah sehingga mereka dengan segenap hati ingin mengetahui sumber cahaya itu.” Marilah kita memancarkan kebaikan-Nya! ALLAH MENGUNDANG KITA UNTUK DATANG KEPADA-NYA BUKAN DENGAN ANCAMAN HUKUMAN, MELAINKAN DENGAN PANCARAN KEBAIKAN-NYA. TGIF. Selamat pagi. Tetap semangat. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Jumat, 27 Maret 2015. Bacaan: Wahyu 3:14-22. Setahun: Hakim-Hakim 12-14. Nats: ...dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang (Wahyu 3:17). FILM DETEKTIF. Sebagai penggemar serial film detektif, saya mencermati perbedaan mencolok antara film-film sejenis pada masa lampau dengan yang ditayangkan saat ini. Salah satunya, pada cara tampil si pemeran utama. Dulu, tokoh utama lebih banyak tampil sendirian. Menjadi jagoan sendirian. Sekarang, yang menonjol adalah kerjasama tim. Keberhasilan menggulung sindikat penjahat adalah hasil kerja bersama. Setiap individu bahu membahu saling membutuhkan dan menolong. Kaya. Bergengsi. Penghasil mantel wol. Produsen salep mata mujarab. Itulah kota Laodikia pada masa itu. Satu yang tak dimilikinya: air. Untuk kebutuhan air, harus dipasok (membeli) dari luar. Sayangnya, mentalitas penduduk Laodikia terlanjur sombong. Merasa kaya dan bisa mencukupkan diri sendiri. Merasa tidak butuh bantuan dari luar. Jemaat Kristen di kota itu pun terjangkit keangkuhan serupa. Merasa sanggup mandiri dan tidak butuh siapa pun. Hanya memandang kehebatan, tetapi luput melihat kekurangan. Itu sebabnya mereka menerima teguran keras dari Tuhan (ay. 17-19). Kehidupan masa kini menuntut orang saling bekerja sama dan berjejaring. Anggota keluarga harus kompak saling topang. Dalam hal bekerja, kerja sama tim harus diutamakan. Dalam pelayanan, semua harus saling bergandengan tangan untuk kemuliaan-Nya. Tuhan menghendaki jangan ada seorang pun beranggapan dirinya mampu tanpa dukungan siapa-siapa. Sebab, yang seperti itu tidak ada! MENOLONG ORANG LAIN YANG BERMASALAH DAPAT MEMPERKUAT IMAN DAN BISA JADI IKUT MENGATASI MASALAH YANG KITA HADAPI. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:

Post a Comment