WHAT DO YOU THINK OF...?
Amsal 1:7, “Takut
akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan
didikan.” Takut akan Tuhan berarti memandang DIA dengan kekaguman
& penghormatan kudus serta menghormatiNya sebagai Allah karena kemuliaan, kekudusan, keagungan &
kuasaNya yang besar. Allah berjanji memberi-kan pahala kepada semua orang yang
takut akan DIA. Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN
adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Luar biasa ya janjiNya: ganjaran
takut akan Tuhan = kekayaan, kehormatan & kehidupan. Maukah Saudara takut
akan Tuhan? Amin.
Respon 1
“Jangan sampai
percikan kesalahpahaman meledakkan jembatan kebersamaan.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat,
27 Maret 2015. Pancaran Kebaikan-NYA. Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah
dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! (Markus 1:15). Bayangkan
seseorang menodongkan pistol ke pelipis kita dan berkata, “Ikut aku atau kau
kutembak mati!” Bagaimana kira-kira respons kita? Kita mungkin ketakutan dan
terpaksa mengikutinya. Atau, karena kita membenci orang itu, kita berpikir
lebih baik mati daripada mengikutinya. Dua respons yang sama-sama tidak
menguntungkan. Syukurlah, Yesus tidak menggunakan gaya itu ketika mewartakan
Injil. Dia tidak mengundang orang untuk bertobat karena Kerajaan Maut sudah
mengancam di ambang pintu, siap menelan kita jika kita tidak percaya.
Sebaliknya, Dia mengundang orang untuk bertobat karena Kerajaan Allah sudah
dekat. Orang yang percaya pada berita Injil mendapatkan jaminan dan bagian
dalam kerajaan yang oleh Paulus digambarkan sebagai penuh dengan kebenaran,
damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Dengan kata lain,
Allah mengundang kita untuk datang kepada-Nya bukan dengan ancaman hukuman,
melainkan dengan pancaran kebaikan-Nya. Benarlah, maksud kemurahan Allah ialah
menuntun kita kepada pertobatan (Rm. 2:4). Madeleine L’Engle, seorang penulis
novel fantasi, menggarisbawahi hal itu. Suatu cara efektif untuk menarik orang
datang kepada Kristus, menurutnya, “bukanlah dengan mencela kepercayaan mereka,
atau menuding kesalahan mereka, dan menunjukkan bahwa kita lebih benar dari
mereka, melainkan dengan memancarkan cahaya yang begitu indah sehingga mereka
dengan segenap hati ingin mengetahui sumber cahaya itu.” Marilah kita
memancarkan kebaikan-Nya! ALLAH MENGUNDANG KITA UNTUK DATANG KEPADA-NYA BUKAN
DENGAN ANCAMAN HUKUMAN, MELAINKAN DENGAN PANCARAN KEBAIKAN-NYA. TGIF. Selamat
pagi. Tetap semangat. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Jumat, 27 Maret
2015. Bacaan: Wahyu 3:14-22. Setahun: Hakim-Hakim 12-14. Nats: ...dan karena
engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang
(Wahyu 3:17). FILM DETEKTIF. Sebagai penggemar serial film detektif, saya
mencermati perbedaan mencolok antara film-film sejenis pada masa lampau dengan
yang ditayangkan saat ini. Salah satunya, pada cara tampil si pemeran utama.
Dulu, tokoh utama lebih banyak tampil sendirian. Menjadi jagoan sendirian.
Sekarang, yang menonjol adalah kerjasama tim. Keberhasilan menggulung sindikat
penjahat adalah hasil kerja bersama. Setiap individu bahu membahu saling
membutuhkan dan menolong. Kaya. Bergengsi. Penghasil mantel wol. Produsen salep
mata mujarab. Itulah kota Laodikia pada masa itu. Satu yang tak dimilikinya:
air. Untuk kebutuhan air, harus dipasok (membeli) dari luar. Sayangnya,
mentalitas penduduk Laodikia terlanjur sombong. Merasa kaya dan bisa
mencukupkan diri sendiri. Merasa tidak butuh bantuan dari luar. Jemaat Kristen
di kota itu pun terjangkit keangkuhan serupa. Merasa sanggup mandiri dan tidak
butuh siapa pun. Hanya memandang kehebatan, tetapi luput melihat kekurangan.
Itu sebabnya mereka menerima teguran keras dari Tuhan (ay. 17-19). Kehidupan
masa kini menuntut orang saling bekerja sama dan berjejaring. Anggota keluarga
harus kompak saling topang. Dalam hal bekerja, kerja sama tim harus diutamakan.
Dalam pelayanan, semua harus saling bergandengan tangan untuk kemuliaan-Nya.
Tuhan menghendaki jangan ada seorang pun beranggapan dirinya mampu tanpa
dukungan siapa-siapa. Sebab, yang seperti itu tidak ada! MENOLONG ORANG LAIN
YANG BERMASALAH DAPAT MEMPERKUAT IMAN DAN BISA JADI IKUT MENGATASI MASALAH YANG
KITA HADAPI. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:
Post a Comment