Sunday, 29 March 2015

29 Maret 2015



WHAT DO YOU THINK OF...?



Amsal 1:8, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Sebagai anak-anak Tuhan siapapun kita, kita pernah menjadi anak-anak J. Sifat anak-anak adalah: lugu, polos, dan belum mengetahui banyak hal. Dimasa kanak-kanak, orang tua perlu membimbing, mendidik & mengarahkan anak-anaknya agar kelak bila anak-anak dewasa, mereka pun bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak / keturunan mereka! Apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai J. Didiklah sesuai dengan kebenaran firman Tuhan selagi mereka masih anak-anak J. Amin.

Respon 1
“Dengan mengarahkan mata ke tempat tinggi, kita mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa kita memang mengarah ke sana.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu, 29 Maret 2015. From Zero To Hero. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa (Hakim-Hakim 11:11). Namanya Edson Arantes do Nascimento, atau lebih dikenal sebagai Pele. Pada Piala Dunia Swedia 1958, pada usia 17 tahun, debutan Brasil itu membuat dunia terperangah. Ia mencetak gol pertama dalam laga perempat final melawan Swedia, lalu hattrick dalam laga semifinal melawan Perancis. Penampilannya bak pemain senior yang terampil. Seorang pahlawan bola telah lahir! Yefta juga pahlawan bagi bangsanya. Kalau Pele lahir dari keluarga miskin, masa lalu Yefta lebih runyam lagi. Anak Gilead ini diusir saudara tirinya dan tak berhak mendapat warisan, sebab ibunya pelacur. Ia menyingkir ke tanah Nob, berkumpul dengan para petualang dan merampok bersama mereka. Nah, saat orang Israel melawan bani Amon, para tua-tua mencari Yefta dan memintanya memimpin mereka. Kenapa? Yefta, biarpun penjahat, adalah “pahlawan yang gagah perkasa” (ay. 1). Para tetua itu tahu, selain pemberani, Yefta piawai memimpin dan berperang. Yefta ternyata tak gila kekuasaan. Ia tak begitu saja menerima tawaran menggiurkan itu. Ia malah mempertanyakan kesungguhan mereka sebab ia tak mau diperlakukan “habis manis sepah dibuang”. Menariknya, Yefta masih ingat Tuhan, dan membawa pergumulannya kepada-Nya. Karena penyerahannya ini, Tuhan membuatnya berhasil memerangi bani Amon. Anda punya masa lalu yang gawat? Bagi Dia, Anda tetap punya potensi yang hebat. Dia dapat memakainya demi kemuliaan-Nya. Percayakan pada-Nya! YANG DIPANDANG SEBELAH MATA DAPAT DIUBAH-NYA MENJADI BERHARGA! Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Minggu, 29 Maret 2015. Bacaan: 1 Petrus 2:11-17. Setahun: Hakim-Hakim 18-19. Nats: Milikilah cara hidup yang baik... supaya... mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatan-mu yang baik dan memuliakan Allah (1 Petrus 2:12). MENARIK PERHATIAN. Dua kali usai tim sepakbola Jepang bermain dalam Piala Dunia 2014, para suporternya mendemonstrasikan sesuatu yang menarik: bersih-bersih stadion. Bahkan ketika timnya kalah. Ketika datang, mereka membawa plastik biru yang ditiup sampai menggelembung seperti balon untuk mendukung perjuangan Keisuke Honda dan kawan-kawan. Sebelum pulang, mereka memakai plastik itu untuk memungut botol plastik, wadah makanan, kertas, dan sebagainya di tribun stadion selama 30 menit. Ketika beberapa suporter diwawancarai, mereka mengaku sudah biasa melakukannya. Tradisi ini menarik perhatian begitu banyak media yang meliput aksi mereka. Dan, banyak orang memuji mereka. Ya, sebuah aksi baik menarik reaksi baik pula. Rasul Petrus menuliskan bahwa hidup anak Tuhan juga harus ‘menarik perhatian’. Caranya? Dengan tidak mengikuti cara atau gaya hidup warga dunia ini. Petrus meminta mereka bermental sebagai pendatang atau perantau (ay. 11) sebab anak-anak Tuhan hanyalah ‘tamu sementara’ di dunia ini. Sejatinya, mereka adalah warga Kerajaan Surga. Hidup mereka harus berbeda--mereka harus memiliki cara hidup yang baik (ay. 12). Hidup dalam ketaatan pada otoritas dan memberkati lingkungan (ay. 13-14, 17). Bila dunia sudah tertarik, dunia akan rindu mengenal Tuhan yang berkuasa mengubahkan hidup mereka. Sebagaimana aksi para suporter Jepang menarik perhatian orang, mari kita tunjukkan karakter Kristus yang bertumbuh dalam diri kita. Biarkan dunia melihat dan bertanya tentang-Nya --Agustina Wijayani. KETIKA KRISTUS MENGUBAHKAN HIDUP KITA, KARAKTER KITA AKAN MENJADI MAGNET YANG MENARIK DUNIA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 4
Dalam ajaran agama-agama, ibadah identik dengan membawa persembahan atau korban. Di zaman Perjanjian Lama, hewan atau hasil bumi menjadi sesuatu yang dibawa sebagai persembahan di hadapan Tuhan. Pada masa Kristus, persembahan mulai diberikan dalam bentuk uang & masih berlangsung hingga kini. Namun, tidak hanya itu. Dalam ibadah di gereja masa kini ada korban-korban yang lain seperti puji-pujian, korban waktu & tenaga untuk melayani dalam berbagai bentuk wadah pelayanan. Berbagai korban pun dipersembahkan demi pembangunan rumah ibadah & program-program yang diadakan. Semua korban yang diberikan adalah baik. Tapi ada yang lebih baik. “Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban” ~Ams. 21:3. Dengan kata lain, melampaui apa yang telah kita korbankan di hadapan Tuhan, Dia mencari yang lebih utama & yang terbaik dari kita: kehidupan yang memuliakan nama-Nya; yang selaras dengan apa yang di hati & pikiran-Nya. Kehidupan yang memperagakan kualitas-kualitas karakter yang mencerminkan kebenaran & keadilan. Dialah Tuhan yang tidak hanya melihat kehidupan kita & bertemu kita beberapa jam dalam seminggu. Dia Tuhan yang mengamat-amati hidup kita & yang melihat jauh ke dalam lubuk hati kita terdalam. Berusaha menyenangkan Tuhan dalam hari-hari atau jam-jam tertentu terasa menggelikan jika kita sungguh-sungguh sadar bahwa Dialah Allah yang mahatahu & mahahadir, yang sangat tahu benar siapa diri kita apa adanya. Ibadah terbaik & persembahan yang sangat berharga di mata Tuhan ialah kehidupan yang menyatakan pribadi Tuhan kepada dunia. Itulah bukti nyata atas komitmen kita yang mengaku sebagai pemuja & murid-Nya. Sebab jika kita mengklaim sebagai umat dari Allah yang kudus & benar, sedangkan hidup kita tidak demikian maka dengan mulut saja kita memuji Tuhan tapi hati kita jauh dari Dia & dengan perbuatan kita, kita telah menyangkal Dia. Biarlah pikiran kita, perkataan-perkataan kita, tindak tanduk kita, sikap-sikap kita, gaya hidup kita -ditemukan benar & adil di pemandangan-Nya. Itulah korban di atas segala korban. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment