Monday, 23 March 2015

23 Maret 2015



WHAT DO YOU THINK OF...?




Yesus Gembala yang Baik (Baca: Yoh 10:1-16). Sudahkah kita meresponi panggilanNya? Sebagai “gembala yang baik”? Bukan sebagai “gembala upahan”? Di marketplace kita? Sudahkah kita menjadi berkat / saksi di marketplace kita? Melalui pekerjaan kita Tuhan ingin kita juga menjadi “gembala yang baik” bukan hanya “gembala upahan” yang tidak bertanggung jawab atas lingkungan kita. Mari melalui pekerjaan kita, kita mau berperan untuk menjadi saksi / pemimpin (gembala yang baik) di marketplace kita. Amin.

Respon 1
SAAT TEDUH. Senin, 23 Maret 2015. Jika Tuhan Berkenan. Apa yang akan terjadi dengan kehidupanmu besok, kalian sendiri pun tidak mengetahuinya! (Yakobus 4:14a, BIS) Masih ingat pesawat Malaysia Airlines MH-370 yang hilang beberapa pekan dan diperkirakan “berakhir” di Samudera Hindia itu? Tewaskah 239 orang di dalamnya? Entah. Terpikirkah oleh mereka bahwa hidup mereka akan berakhir setragis itu? Entah juga. Hidup ini memang rentan dan tak terduga. Namun, kita sering menganggap esok tak akan terjadi apa-apa pada kita dan semuanya akan lancar-lancar saja. Pernahkah kita berpikir, kalau-kalau hari ini adalah hari terakhir kita? Sikap yang kelewat percaya diri inilah yang dikecam Rasul Yakobus pada orang Yahudi yang disuratinya, yang memang pandai berdagang dan banyak yang sukses (ay. 13-14). Sayangnya, keberhasilan itu mereka anggap sebagai keberhasilan mereka sendiri tanpa pimpinan Tuhan. Mereka juga terkesan tak peduli atas kefanaan hidup ini, yang digambarkan seperti “uap”. Mereka itu orang “sombong” yang suka “membual” (ay. 16 BIS; kata bahasa aslinya, alazoneia, acap dipakai untuk menggambarkan tukang obat jalanan yang suka mengobral janji). Semestinya mereka berserah pada-Nya karena Dia tahu yang terbaik bagi kita (ay. 15, bdk. Yes. 55:8-9 dan Yer. 29:11). Meskipun demikian, ini bukan berarti kita dapat lepas tangan begitu saja terhadap rencana kita. Sebaliknya, kita harus tetap menjalankannya dengan kesadaran bahwa, jika Dia tidak berkenan, kita mesti siap berganti haluan menuju sesuatu yang baru. Mungkin hal itu lebih sulit atau tak menyenangkan, tapi nantinya akan terbukti yang terbaik walau kini belum kita ketahui. TUHAN BERKENAN PADA SETIAP RENCANA YANG DISERAHKAN SEPENUHNYA PADA-NYA, TERMASUK HASILNYA. Happy Monday. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Di mata seluruh bangsa, Hofni & Pinehas, anak-anak imam Eli memang layak menjadi pelayan-pelayan Tuhan. Mereka suku Lewi, juga dari garis keturunan hamba-hamba Tuhan yang melayani. Hidup sebagai anak-anak imam besar, mereka sidah dipersiapkan menggantikan ayahnya. Tapi menurut standar Tuhan, Samuellah yang layak untuk melayani seluruh bangsa (1 Sam. 2:11-17; 27-36). Dinilai dari penampilan, pembawaan, ketegasan, karisma seorang raja, Saul memenuhi segala persyaratan. Sayangnya, di hadapan Tuhan semuanya tidak cukup untuk menjadi raja pilihan-Nya. Rakyat mungkin masih menghormatinya, Tuhan telah menolaknya (1 Sam. 15:17-23). Eliab, Abinadab, Syama ialah anak-anak Isai yang berperawakan tegap & gagah. Sangat cocok di mata Samuel ketika Tuhan hendak menunjukkan pengganti Saul. Dari ukuran-ukuran manusia, mereka cocok. Tidak dengan ukuran Tuhan. Daud yang kecil perawakannya, berparas kemerahan, sangat belia & belum berpengalaman justru memenuhi ukuran Tuhan untuk dijadikan raja (1 Sam. 16:6-13). Sungguh menggelisahkan hati merenungkan ini semua. Standar Tuhan seringkali begitu berbeda dengan yang kita pikirkan. Apa yang kita pandang tepat bisa melenceng jauh dari pilihan Tuhan. Yang kita pandang pemimpin pilihan Tuhan, mungkin sudah ditolak-Nya. Yang kita percayai sebagai hamba-hamba Tuhan, bisa jadi sebaliknya. Yang kita pikir anak-anak Tuhan sejati, di luar perkiraan kita, justru tidak diperhitungkan Tuhan! Itu sebabnya kita perlu mengenal benar standar-standar rohani & illahi yang sejati. Tanpa pengenalan akan pribadi & karakter Tuhan; akan pikiran & isi hati-Nya yang yang dituangkan dalam firman tertulis; akan hikmat & jalan-jalanNya yang murni & sejati -sudah pasti kita akan tertipu & tersesatkan. Sampai sedemikian jauhnya, hampir-hampir tanpa kita sadari. Pada akhirnya, mereka yang memperoleh pengertian akan jalan-jalan Tuhan ialah mereka yang menjaga hatinya tetap rendah hati, rela diajar & mendengar pengajaran, menguji segala sesuatu dengan hati yang tertuju semata-mata pada Tuhan. Maukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
“Jalan Tuhan tidak selalu rata tapi pasti nyata.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Yer 33:6 – Sesungguhnya, TUHAN akan mendatangkan kepada kita KESEHATAN dan KESEMBUHAN... Memberi KESEJAHTERAAN dan KEAMANAN yang berlimpah-limpah! Hebat ya YESUS kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.


No comments:

Post a Comment