Tuesday, 24 March 2015

24 Maret 2015




WHAT DO YOU THINK OF...?



Ayub 1:1, “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Takut akan Tuhan & menjauhi kejahatan menjadi landasan kesalehan & kejujuran Ayub. Saleh: Punya integritas & komitmen sepenuh hati kepada Tuhan. Jujur: Menunjukkan kebenaran dalam berkata-kata, berpikir & bertindak. Sebagai anak-anak Tuhan apakah kita sudah menunjukkan ketaatan kita melalui hal yang utama kesalehan & kejujuran baik dalam pekerjaan, pelayanan & dimanapun kita berada?? Jadikan kesalehan & kejujuran sebagai hal yang utama sehingga berkat-berkatNya tercurah dalam hidup kita. Amin J.


Respon 1
SAAT TEDUH. Selasa, 24 Maret 2015. Lukisan Di Telapak Tangan. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku (Yesaya 49:16). Seorang seniman asal Spanyol, David Cata, punya cara yang aneh untuk melahirkan sebuah karya seni. Tidak dengan melukis, tetapi ia rela menjahit telapak tangannya demi menciptakan karya seni yang menakjubkan. Dengan menggunakan jarum dan benang, David menyulam potret orang-orang terdekatnya di telapak tangannya. “Wajah mereka telah terpatri dalam hidup saya. Mereka adalah keluarga, teman, pasangan, dan guru,” kata David, seperti dilansir Design Boom. Pada masa-masa pembuangan, Bangsa Israel mengalami masa-masa yang memilukan. Mereka merasa bahwa Tuhan telah melupakan dan meninggalkan mereka (ay. 14). Akibat pemberontakan mereka, Tuhan memang telah membawa mereka ke pembuangan, tujuh puluh tahun lamanya. Tetapi benarkah Tuhan melupakan dan meninggalkan mereka? Apakah Tuhan tidak pilu mendengar rintihan kesakitan mereka? Inilah jawab-Nya: “Lihat, Aku telah melukis engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Seberapapun kerasnya penderitaan Israel, Allah tidak menegakan mereka terus mengalami kesusahan itu; Dia mengingat mereka. Saat menghadapi situasi sulit dan ketika doa-doa kita sepertinya tidak menghasilkan jawaban, kita kerap kali merasa bahwa Tuhan telah melupakan dan meninggalkan kita. Namun lihatlah bagaimana Tuhan memandang hidup kita. Kita berharga di mata-Nya! Dia tidak akan menegakan kita bergelut dengan penderitaan, asalkan sikap hati kita berbalik kembali kepada-Nya. KARYA SENI TERINDAH YANG TELAH TUHAN HASILKAN ADALAH: LUKISAN HIDUP KITA DI TELAPAK TANGAN-NYA! Puji Tuhan... Selamat pagi semua. Semangat hari yang baru!!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub, orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, ia memiliki tujuh ribu ekor kambing, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina, dan budak-budak dalam jumlah sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang disebelah timur. Wow!! Senang ya rasanya kalau kita menjadi Ayub dengan harta yang berlimpah-limpah seperti itu, tetapi seandainya kita menjadi Ayub apakah dengan harta sebanyak itu kita tetap saleh, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan? Apakah kita tetap rendah hati, menyadari bahwa semua itu berasal dari TUHAN dan ukuran iman kita tidak diukur dari banyaknya harta kita, artinya dalam sikon hidup apapun kita tetap memegang teguh iman kita kepada TUHAN YESUS? Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 3
Yess... Ayub orang yang sangat kaya dijaman itu tapi dikatakan dia adalah orang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Berarti kekayaannya itu murni datangnya dari Tuhan bukan karena dia pintar berbisnis (menggunakan trik-trik bisnis) tapi itu semua karena berkat Tuhan. Karena berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 10:22). Jadi libatkan Tuhan dalam setiap pekerjaan kita. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 4
Maz 62:6 – Hanya pada ALLAH saja kiranya aku TENANG, sebab dari pada-NYAlah HARAPANku! Woow ada kepastian ketenangan, damai sejahtera, harapan bersama YESUS! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 5
Selasa, 24 Maret 2015. Bacaan: 1 Korintus 10:1-13. Setahun: Hakim-Hakim 6-7. Nats: Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia (1 Korintus 10:13). TIDAK ADA YANG BARU. Malam itu terjadi perusakan dan penganiayaan tidak jauh dari tempat tinggal kami. Korbannya sekelompok orang yang sedang beribadah. Beberapa anggota keluarga yang tinggal di luar kota menyarankan agar kami mengungsi untuk sementara waktu. Komentar anak saya yang berusia enam tahun benar-benar meneguhkan hati. “Kejadiannya seperti yang di Alkitab ya. Mereka juga dilarang untuk beribadah kepada Tuhan! Mereka dihukum, tapi Tuhan menolong sehingga tidak takut.” Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar tetap waspada dan teguh berdiri supaya tidak jatuh pada kesalahan yang sama seperti yang dilakukan nenek moyang mereka. Alih-alih tetap teguh berdiri, mereka justru mendukakan hati Tuhan dengan berbagai tindakan mereka (ay. 7-10). Oleh karena itu, ada dua hal yang Paulus ingatkan kepada jemaat di Korintus: tidak sombong dan menganggap enteng permasalahan yang ada (ay. 12) serta tidak kecil hati karena permasalahan dan pencobaan yang mereka alami bukanlah hal yang baru. Tuhan akan memampukan mereka menanggungnya (ay. 13). Permasalahan dan pencobaan apakah yang saat ini sedang menghimpit hidup kita? Ingat, tidak ada yang baru! Sejak zaman dahulu, nenek moyang kita mengalami hal yang sama. Mintalah agar Tuhan memampukan kita untuk tetap berhati-hati seraya terus mengandalkan pertolongan-Nya. Sebagaimana Tuhan telah menguatkan mereka, kiranya Tuhan juga yang akan menguatkan kita melewati berbagai permasalahan dan pencobaan yang “biasa” ini --Silvia Wiguno. PERSOALAN YANG KITA ALAMI BERGUNA UNTUK MENGUJI IMAN KITA DAN MEMPERLIHATKAN PEMELIHARAAN TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 6
Sebagian orang berpikir hidup rohani itu rumit, banyak batasan & kekangan akan kebebasan: harus ini itu, tidak boleh ini itu. Ini bisa berakibat membawa kebingungan demi kebingungan mengenai bagaimana sebenarnya menjalani hidup di hadapan Tuhan. Dalam Ulangan 10:12, dengan hikmat-Nya yang luar biasa, Tuhan memberitahukan kepada Musa apa yang diinginkan-Nya atas umat-Nya. Sesuatu yang sangat sederhana: “Maka sekarang, ...apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” Perhatikan. Tuhan tidak meminta banyak hal. Ia tidak meminta ibadah-ibadah berbiaya mahal atau menuntut pengetahuan teologia yang tinggi maupun sumbangan bermiliar-miliar rupiah bagi pelayanan. Semuanya tidak dipandang-Nya, jika yang paling utama yang diinginkan-Nya tidak ada di hati kita. Rasa kagum, hormat & gentar akan Dia; hati & hidup yang taat pada petunjuk perintah-Nya; dipenuhi rasa cinta & mengabdikan diri dengan setia pada Tuhan -merupakan dasar kita terhubung dengan Pencipta yang kita kenal melalui Kristus Yesus. Jika itu semua bersemayam di hati kita maka cukuplah itu di hadapan Tuhan. Semua yang lain yang tidak berdasar apa yang Tuhan cari di atas, yang tidak dipandu & dikawal semangat sedemikian, yang tidak diakhiri dengan hati sedemikian di hadapan Tuhan niscaya tidak menyenangkan hati-Nya. Mereka yang belajar berbagai hukum-hukum Tuhan tapi tiada takut akan Tuhan di hati, menyiasati & memutarbalikkan pengertian-pengertian firman demi kepentingan mereka pribadi. Anak-anak Tuhan pun mencari-cari cara mendapatkan penuaian keuangan mereka melalui cara-cara sealkitabiah mungkin -sebab uanglah yang mereka dambakan, bukan cinta pada Tuhan yang dikobarkan. Hidup kita ialah bagi Tuhan. Untuk menyukakan hati-Nya, mengabdi bagi kepentingan-kepentingan Kerajaan-Nya. Begitulah seharusnya hidup umat-Nya. Yang kepada mereka dijanjikan akan beroleh segala berkat. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 7
Syalom. Amin... “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16). Terima kasih ibu Siu, motivasinya selalu luar biasa. Selamat santap siang dan lanjut aktivitas TUHAN YESUS memberkati. (Bp. Oktovianus – Nabire)




No comments:

Post a Comment