WHAT DO YOU THINK OF...?
1 Korintus 6:20, “Sebab
kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah
Allah dengan tubuhmu!” Apakah kita sadar bahwa betapa mahal
keselamatan yang telah dibayarNya? 1 Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu,
bahwa kamu telah DITEBUS dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari
nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau
emas, melainkan dengan DARAH yang MAHAL, yaitu DARAH KRISTUS yang sama seperti
darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Yesus memberikan
nyawaNya, suatu tebusan yang MAHAL demi menjadikan kita sebagai “anggota
keluargaNya”. Sadarilah HARGA KESELA-MATAN yang TAK TERNILAI (TETAPI
SAMA SEKALI CUMA-CUMA) dengan BERSYUKUR senantiasa atas pengorbananNya. Amin J.
Respon 1
“Orang yang mau
menang sendiri sebenarnya tidak pernah menang, bahkan terhadap dirinya
sendiri.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu,
1 Maret 2015. “Mimpi” yang Mana. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini,
akan menghasil-kan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh
lebih besar daripada penderitaan kami (2 Korintus 4:17). Misalkan Anda sudah di
surga dan bermimpi tentang kehidupan di dunia ini. Terpapar penderitaan akibat
menyan-dang nama Kristus: beroleh nilai pas-pasan karena tak ikut nyontek, tak
naik pangkat karena tak ikut korupsi, terkucil dan terampas sebagian hak Anda
karena iman Anda. Tapi, itu cuma mimpi buruk, dan semua sudah berlalu! Atau,
Anda di neraka dan bermimpi serupa. Kali ini tentang kehidupan yang amat
nyaman, bergelimang harta dan kenikmatan. Anda tak peduli pada siapa pun,
bahkan Yesus. Hidup egois dan serba senang. Sekarang? Sesal kemudian tak
berguna. Begitulah, dari perspektif kekekalan, kehidupan Rasul Paulus juga
bagai “mimpi buruk”. Penderitaan demi penderitaan menderanya. Sejak berjumpa
Yesus dan menjadi hamba-Nya, sepertinya ia tidak pernah menjalani “kehidupan
normal”. Dalam suratnya ini, paling tidak empat kali ia memaparkan berbagai
kesulitan yang ia alami (1:8-9, 4:8-11, 6:4-10, dan 11:23-27). Namun, apakah
Paulus jadi patah arang terhadap Tuhan? Sama sekali tidak. Ia tahu bahwa ia
hidup untuk memberitakan Injil (ay. 5). Lagipula, bukankah Tuhan sudah
menentukan bahwa, sebagai hamba-Nya, ia akan “menanggung banyak penderitaan”
(lihat Kis. 9:16)? Itulah sebabnya Paulus bisa berkata bahwa semua
penderitaannya itu “ringan” saja dibandingkan dengan “kemuliaan kekal yang
melebihi segala-galanya” yang bakal diterimanya kelak (ay. 17). Luar biasa,
bukan? Lalu, bagaimana dengan “mimpi” Anda sekarang? Semoga bukan “mimpi indah”
ya? LEBIH BAIK MENDERITA SEMENTARA DI DUNIA DARIPADA MENDERITA SELAMANYA DI
NERAKA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
BERHALA dalam HATI.
Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala (1 Kor 10:14).
Penyembahan berhala dianggap banyak orang Kristen: sujud menyembah pada patung,
berdoa pada dewa langit, sembayang didepan foto orang mati dsbnya. Sebenarnya
yang menjadi ancaman bahaya bagi umat Allah, di akhir zaman ini: berhala
modern, walaupun kegiatannya tidak nampak dari luar, tapi daya hancurnya
dahsyat. Berhala modern yang terselubung & sulit dikenali dari luar, karena
tersembunyi dalam hati & pikiran dengan apa yang dicintai lebih dari Tuhan:
uang, gaya hidup mewah, anak, harta, pekerjaan, hobby, dll. Ini berhala modern
yang banyak beraja dihati orang Kristen. Firman Tuhan menasehati kita, memang
kita masih hidup di dunia & memakai apa yang dibutuhkan buat hidup yang
fana, tetapi jangan hati kita terikat, bahkan sampai diperbudak olehnya,
pakailah semua yang fana seperti tidak memakainya (1 Kor 7:31), sehingga kasih
kita kepada Tuhan tidak putus oleh karena berhala modern yang terselubung ini.
Apa yang sangat mendominir dihati & pikirkan saudara sekarang ini? Cinta
pada Allah / berhala modern? Hanya saudara & Allah yang tahu & waktu
yang akan membuktikannya. Apabila sudah lama percaya Tuhan, tapi sampai saat
ini rohani saudara tidak bertumbuh (= tabiat tidak berubah, bahkan jadi batu sandungan
orang yang ada disekitarnya), pasti ada berhala dalam hati yang belum dilepas.
Sebelum waktu hidup ini habis, lepaskan semua berhala modern yang mengikat hati
saudara, sebab semua orang Kristen yang menyembah berhala tidak boleh masuk
surga (Wah 21:8). Jangan sampai tertipu oleh segala berhala modern dalam dunia
ini, semua tidak bisa memuaskan jiwa manusia, hanya Allah yang dapat memuaskan
jiwa & hidup dalam sukacita yang sejati. Itulah sebabnya kita perlu
mengindahkan nasihat Firman Tuhan: “Saudara-saudaraku yang kukasihi, jauhilah
penyembahan berhala (1 Kor 10:14). Pakai segala fasilitas hidup fana yang ada
pada saudara seperti tidak memakainya = tidak terikat & untuk memuliakan
namaNya, agar rohani bertumbuh semakin indah & waktu chek out dari hotel
dunia ini, pindah ke surga yang indah (2 Kor 5:1). Amin. JBU. IMMANUEL. (Ibu
Inggita – PKS CL 4)
Respon 4
Kita, orang-orang
Kristen, banyak kali memaknai kasih dengan tindakan-tindakan amal: kerja &
bakti sosial, kunjungan ke penjara & panti asuhan, yang intinya berbagai
aktivitas yang menunjukkan kepedulian kepada yang miskin & tersisihkan.
Semuanya tidak salah & memang harus dikerjakan sebagai bukti kasih kepada
sesama. Hanya, satu hal yang perlu kita terus menerus sadari adalah bahwa Tuhan
yang kita layani; yang atas nama-Nya kita melakukan kegiatan di atas, melihat
pertama-tama ke dalam hati kita untuk setiap perbuatan yang kita sebut sebagai
ibadah. Dia mencari apakah hati kita merindukan Dia & sungguh-sungguh
mengasihi Dia; dan apakah perbuatan-perbuatan baik kita memang didorong oleh
motif-motif dari kasih yang tulus -bukan kepentingan diri. Satu sikap hati yang
dapat menjadi ukuran apakah kasih ada di hati kita adalah saat kita menyikapi
keadaan orang lain, baik atau buruk yang mereka alami. Tanpa kita sadari, kita
sering merasa “senang melihat orang lain susah & susah melihat orang lain
senang”. Salah satu contoh dalam Alkitab mengenai ini ialah hubungan bani Edom
(yang keturunan Esau) dengan bani Israel (keturunan Yakub). Dalam Yehezkiel
35:12-15, Tuhan bermaksud menghukum Edom karena bersukacita melihat Israel
dihajar oleh Tuhan. Bahkan ketika Yerusalem jatuh ke tangan bangsa asing,
orang-orang Edom justru berkata, “Biar runtuh sampai ke dasar-dasarnya!” (Maz.
137:7). Jelaslah, kesusahan Yakub menjadi kesenangan bagi Edom, sedangkan
keberhasilan Israel membuat mereka muram. Atas keturunan-keturunannya, Esau
telah menanam-kan benih iri hati, sakit hati, kepahitan hingga pembalasan pada
keturunan saudaranya, Yakub, yang dikasihi Tuhan. Yang menandakan ketiadaan
kasih. Saat hati kita tak mampu bersukacita mengetahui saudara kita mengalami
keberhasilan atau secara tidak langsung hati kita bersorak melihat kejatuhan
rekan kita, maka semua perbuatan baik kita di depan orang minim nilainya sebab
hati kita masih dicengkeram kebencian. Tuhan mencari, pertama-tama, hati yang
dipenuhi kasih. Baru kemudian perbuatan-perbuatan kasih. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Respon 5
Syalom. Amin...
“Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci
saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang” (1 Yohanes 2:9).
Terima kasih ibu Siu, selamat berhari minggu, TUHAN YESUS selalu memberkati Ibu
dan keluarga. (Bp. Oktavianus – Nabire)

No comments:
Post a Comment