Sunday, 1 March 2015

1 Maret 2015


WHAT DO YOU THINK OF...?




1 Korintus 6:20, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Apakah kita sadar bahwa betapa mahal keselamatan yang telah dibayarNya? 1 Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah DITEBUS dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan DARAH yang MAHAL, yaitu DARAH KRISTUS yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Yesus memberikan nyawaNya, suatu tebusan yang MAHAL demi menjadikan kita sebagai “anggota keluargaNya”. Sadarilah HARGA KESELA-MATAN yang TAK TERNILAI (TETAPI SAMA SEKALI CUMA-CUMA) dengan BERSYUKUR senantiasa atas pengorbananNya. Amin J.

Respon 1
“Orang yang mau menang sendiri sebenarnya tidak pernah menang, bahkan terhadap dirinya sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu, 1 Maret 2015. “Mimpi” yang Mana. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasil-kan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami (2 Korintus 4:17). Misalkan Anda sudah di surga dan bermimpi tentang kehidupan di dunia ini. Terpapar penderitaan akibat menyan-dang nama Kristus: beroleh nilai pas-pasan karena tak ikut nyontek, tak naik pangkat karena tak ikut korupsi, terkucil dan terampas sebagian hak Anda karena iman Anda. Tapi, itu cuma mimpi buruk, dan semua sudah berlalu! Atau, Anda di neraka dan bermimpi serupa. Kali ini tentang kehidupan yang amat nyaman, bergelimang harta dan kenikmatan. Anda tak peduli pada siapa pun, bahkan Yesus. Hidup egois dan serba senang. Sekarang? Sesal kemudian tak berguna. Begitulah, dari perspektif kekekalan, kehidupan Rasul Paulus juga bagai “mimpi buruk”. Penderitaan demi penderitaan menderanya. Sejak berjumpa Yesus dan menjadi hamba-Nya, sepertinya ia tidak pernah menjalani “kehidupan normal”. Dalam suratnya ini, paling tidak empat kali ia memaparkan berbagai kesulitan yang ia alami (1:8-9, 4:8-11, 6:4-10, dan 11:23-27). Namun, apakah Paulus jadi patah arang terhadap Tuhan? Sama sekali tidak. Ia tahu bahwa ia hidup untuk memberitakan Injil (ay. 5). Lagipula, bukankah Tuhan sudah menentukan bahwa, sebagai hamba-Nya, ia akan “menanggung banyak penderitaan” (lihat Kis. 9:16)? Itulah sebabnya Paulus bisa berkata bahwa semua penderitaannya itu “ringan” saja dibandingkan dengan “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” yang bakal diterimanya kelak (ay. 17). Luar biasa, bukan? Lalu, bagaimana dengan “mimpi” Anda sekarang? Semoga bukan “mimpi indah” ya? LEBIH BAIK MENDERITA SEMENTARA DI DUNIA DARIPADA MENDERITA SELAMANYA DI NERAKA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
BERHALA dalam HATI. Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala (1 Kor 10:14). Penyembahan berhala dianggap banyak orang Kristen: sujud menyembah pada patung, berdoa pada dewa langit, sembayang didepan foto orang mati dsbnya. Sebenarnya yang menjadi ancaman bahaya bagi umat Allah, di akhir zaman ini: berhala modern, walaupun kegiatannya tidak nampak dari luar, tapi daya hancurnya dahsyat. Berhala modern yang terselubung & sulit dikenali dari luar, karena tersembunyi dalam hati & pikiran dengan apa yang dicintai lebih dari Tuhan: uang, gaya hidup mewah, anak, harta, pekerjaan, hobby, dll. Ini berhala modern yang banyak beraja dihati orang Kristen. Firman Tuhan menasehati kita, memang kita masih hidup di dunia & memakai apa yang dibutuhkan buat hidup yang fana, tetapi jangan hati kita terikat, bahkan sampai diperbudak olehnya, pakailah semua yang fana seperti tidak memakainya (1 Kor 7:31), sehingga kasih kita kepada Tuhan tidak putus oleh karena berhala modern yang terselubung ini. Apa yang sangat mendominir dihati & pikirkan saudara sekarang ini? Cinta pada Allah / berhala modern? Hanya saudara & Allah yang tahu & waktu yang akan membuktikannya. Apabila sudah lama percaya Tuhan, tapi sampai saat ini rohani saudara tidak bertumbuh (= tabiat tidak berubah, bahkan jadi batu sandungan orang yang ada disekitarnya), pasti ada berhala dalam hati yang belum dilepas. Sebelum waktu hidup ini habis, lepaskan semua berhala modern yang mengikat hati saudara, sebab semua orang Kristen yang menyembah berhala tidak boleh masuk surga (Wah 21:8). Jangan sampai tertipu oleh segala berhala modern dalam dunia ini, semua tidak bisa memuaskan jiwa manusia, hanya Allah yang dapat memuaskan jiwa & hidup dalam sukacita yang sejati. Itulah sebabnya kita perlu mengindahkan nasihat Firman Tuhan: “Saudara-saudaraku yang kukasihi, jauhilah penyembahan berhala (1 Kor 10:14). Pakai segala fasilitas hidup fana yang ada pada saudara seperti tidak memakainya = tidak terikat & untuk memuliakan namaNya, agar rohani bertumbuh semakin indah & waktu chek out dari hotel dunia ini, pindah ke surga yang indah (2 Kor 5:1). Amin. JBU. IMMANUEL. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 4
Kita, orang-orang Kristen, banyak kali memaknai kasih dengan tindakan-tindakan amal: kerja & bakti sosial, kunjungan ke penjara & panti asuhan, yang intinya berbagai aktivitas yang menunjukkan kepedulian kepada yang miskin & tersisihkan. Semuanya tidak salah & memang harus dikerjakan sebagai bukti kasih kepada sesama. Hanya, satu hal yang perlu kita terus menerus sadari adalah bahwa Tuhan yang kita layani; yang atas nama-Nya kita melakukan kegiatan di atas, melihat pertama-tama ke dalam hati kita untuk setiap perbuatan yang kita sebut sebagai ibadah. Dia mencari apakah hati kita merindukan Dia & sungguh-sungguh mengasihi Dia; dan apakah perbuatan-perbuatan baik kita memang didorong oleh motif-motif dari kasih yang tulus -bukan kepentingan diri. Satu sikap hati yang dapat menjadi ukuran apakah kasih ada di hati kita adalah saat kita menyikapi keadaan orang lain, baik atau buruk yang mereka alami. Tanpa kita sadari, kita sering merasa “senang melihat orang lain susah & susah melihat orang lain senang”. Salah satu contoh dalam Alkitab mengenai ini ialah hubungan bani Edom (yang keturunan Esau) dengan bani Israel (keturunan Yakub). Dalam Yehezkiel 35:12-15, Tuhan bermaksud menghukum Edom karena bersukacita melihat Israel dihajar oleh Tuhan. Bahkan ketika Yerusalem jatuh ke tangan bangsa asing, orang-orang Edom justru berkata, “Biar runtuh sampai ke dasar-dasarnya!” (Maz. 137:7). Jelaslah, kesusahan Yakub menjadi kesenangan bagi Edom, sedangkan keberhasilan Israel membuat mereka muram. Atas keturunan-keturunannya, Esau telah menanam-kan benih iri hati, sakit hati, kepahitan hingga pembalasan pada keturunan saudaranya, Yakub, yang dikasihi Tuhan. Yang menandakan ketiadaan kasih. Saat hati kita tak mampu bersukacita mengetahui saudara kita mengalami keberhasilan atau secara tidak langsung hati kita bersorak melihat kejatuhan rekan kita, maka semua perbuatan baik kita di depan orang minim nilainya sebab hati kita masih dicengkeram kebencian. Tuhan mencari, pertama-tama, hati yang dipenuhi kasih. Baru kemudian perbuatan-perbuatan kasih. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 5
Syalom. Amin... “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang” (1 Yohanes 2:9). Terima kasih ibu Siu, selamat berhari minggu, TUHAN YESUS selalu memberkati Ibu dan keluarga. (Bp. Oktavianus – Nabire)

No comments:

Post a Comment