Sunday, 6 September 2015

6 September 2015

BILLIONAIRE




Yesaya 55:2, “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.”  Amin. Belajar untuk mengelola uang kita secara bertanggung jawab baik dalam pekerjaan, keluarga/milik kita sendiri maupun milik sesama kita, bagaimana caranya? Miliki PRIORITAS yang benar dalam hidup kita, harus bijak & dapat mengelola berkat-berkat yang Tuhan sudah berikan. 1 Tim 6:8, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Mari minta/berdoa kepada Tuhan agar kita dapat menguasai diri, diberi kemampuan & hikmat agar dapat mengelola berkat-berkat yang sudah Tuhan percayakan dengan sebaik-baiknya. Amin J.

Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 6 September 2015. DITEMUKAN KEMBALI. Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya (2 Raja-raja 22:11). Jalan Al Mutanabbi di kota Baghdad, Irak, meninggalkan kesan istimewa di hati Mohsen. Pada 2003 pemuda ini menemukan sebuah Alkitab di situ. Ia mempelajari kitab itu dengan tekun hingga berlangsunglah penyerahan dirinya kepada Yesus. Kisah penemuan itu–berikut perjumpaannya dengan Yesus–masih kerap mengudara hingga kini melalui siaran radio Kristen tempat Mohsen bekerja. Dalam sejarah iman Kristen tak jarang pertobatan seseorang terjadi akibat “pertemuan langsung” dengan Alkitab. Seakan-akan Alkitab “berjalan sendiri” menjumpainya untuk disapa. Alkitab seperti “membiarkan dirinya ditemukan” oleh jiwa yang sedang haus akan kebenaran. Ada yang tersapa olehnya di dalam penjara. Ada yang tersentuh waktu membaca ayat yang tertera pada sobekan kertas bekas pembungkus petasan. Ada yang sujud menangis saat membacanya kembali setelah kitab itu tersimpan dalam kopor selama masa tiga belas tahun ia meninggalkan Tuhan. Masih banyak lagi. Kebangunan iman berlangsung seiring dengan “ditemukannya kembali” Kitab Suci yang telah lama tergeser dan tercecer. Pada masa pemerintahan Yosia, kerajaan Yehuda mengalaminya. Pembaruan besar-besaran dalam kehidupan iman umat dimulai dari penemuan kembali kitab Taurat ketika Bait Suci sedang diperbaiki. Taurat ditemukan, pintu tobat dibukakan. Alkitab adalah sumber inspirasi dan motivasi yang membangkitkan iman. Jika Alkitab ada di tangan Anda–tanpa perlu susah-susah ditemukan –jangan disiasiakan! Bacalah. Renungilah. Tekunilah. Hidupilah — PAD. SAAT ALKITAB DITEMUKAN KEMBALI, MAKA IMAN PUN DIBANGUNKAN KEMBALI. Selamat hari Minggu. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Maz 119:18 – Bukakanlah mataku supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari firman-MU! YESUS sumber KEAJAIBANku. Hal-hal yang luar biasa sekarang aku alami. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 3
“Mengakhiri hidup bersama Tuhan merupakan pencapaian yang tak dapat dilupakan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
“DI SITULAH SURGA”. Bacaan: Wahyu 22:1-5. NATS: Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka (Wahyu 22:5). Ketika Bree berumur 3 tahun, kakeknya menderita gagal jantung. Kakek Bree dibawa ke rumah sakit setempat dan di situlah ia meninggal. Beberapa minggu setelah pemakaman, ketika Bree dan keluarganya melewati rumah sakit tersebut, Bree menunjuk dan mengungkap pemahamannya, “Di situlah surga”. Ia tahu kakeknya sudah ke surga. Jadi sejak kakeknya meninggal di rumah sakit, Bree berpikir bahwa di sanalah surga itu. Ibu Bree menulis, “Kita, orang-orang dewasa, memiliki konsep abstrak mengenai surga yang ada di balik bintang-bintang yang bahkan tidak dapat kita lihat.” Akan tetapi, pandangan kanak-kanak Bree tentang surga membuat sang ibu berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyata, dan itu membuatnya terhibur. Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberi kita gambaran sekilas seperti apa surga itu. Setelah diangkat ke surga, ia melihat “sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal” dan “pohon kehidupan” (Wahyu 22:1,2). Dan, tempat itu tidak membutuhkan “cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka” (ayat 5). Surga tidak cukup digambarkan dengan kata-kata, namun kita meyakini bahwa surga adalah tempat yang nyata bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Yesus meyakinkan kita, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yohanes 14:2). Suatu hari nanti, kita akan berada di sana dan tidak perlu membayangkan tempat itu lagi. SURGA ADALAH TEMPAT YANG DISIAPKAN BAGI ORANG YANG SIAP. (Bp. Budi – PT. MPU)



Respon 5
Minggu, 6 September 2015. Bacaan: Mazmur 127. Setahun: Yehezkiel 20-21. Nats: Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga (Mazmur 127:1). KALAU BUKAN TUHAN. Apakah Anda pernah berpikir, “Kalau bukan saya yang bekerja, mana bisa keluarga saya hidup?” atau “Kalau bukan saya yang mengatur semuanya, mana ada kerjaan di kantor yang beres?” Hati-hati dengan pikiran seperti itu karena hal itu adalah suatu bentuk kesombongan tersembunyi. Saat kita berpikir atau berkata seperti itu sebenarnya kita sedang mengagungkan diri sendiri melebihi Allah. Kita berpikir, kitalah yang menjadikan keluarga atau perusahaan kita mampu bertahan. Padahal, tidak begitu kebenarannya. Salomo memperingatkan kita akan hal tersebut dalam nyanyian ziarahnya yang kemudian dicatat sebagai Mazmur 127. Frasa kunci dalam Mazmur Salomo ini adalah “Jikalau bukan Tuhan yang...” Ya, jika bukan Tuhan yang memberkati kita, seberapa keras pun usaha kita tidak akan membuat keluarga kita bertahan hidup. Jika bukan Tuhan yang memberkati pekerjaan kita, mungkin kantor atau toko atau bisnis yang kita kelola sudah gulung tikar dari dulu. Hari ini marilah kita merenungkan kata-kata Salomo ini, “Jikalau bukan TUHAN yang..., sia-sialah...” Kita dapat melengkapi sendiri titik-titiknya. Kebenaran ini dapat diberlakukan dalam berbagai sisi kehidupan kita, seperti dalam kehidupan pernikahan, membesarkan anak, membangun relasi, dan pelayanan di gereja. Jikalau bukan Tuhan yang campur tangan, sia-sialah semua usaha kita, sekeras apa pun itu. Biarlah kebenaran ini mendorong kita untuk terus mengandalkan pemeliharaan dan kedaulatan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita --Denny Pranolo. JIKA TUHAN TIDAK IKUT CAMPUR DALAM HIDUP KITA, TIDAK ADA HAL BAIK YANG DAPAT KITA HASILKAN. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:

Post a Comment