BILLIONAIRE
Yesaya 55:2, “Mengapakah
kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu
untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan
yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.” Amin. Belajar untuk mengelola uang kita
secara bertanggung jawab baik dalam pekerjaan, keluarga/milik kita sendiri
maupun milik sesama kita, bagaimana caranya? Miliki PRIORITAS yang benar dalam
hidup kita, harus bijak & dapat mengelola berkat-berkat yang Tuhan sudah berikan.
1 Tim 6:8, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Mari minta/berdoa
kepada Tuhan agar kita dapat menguasai diri, diberi kemampuan & hikmat agar
dapat mengelola berkat-berkat yang sudah Tuhan percayakan dengan
sebaik-baiknya. Amin J.
Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu,
6 September 2015. DITEMUKAN KEMBALI. Segera sesudah raja mendengar perkataan
kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya (2 Raja-raja 22:11). Jalan Al
Mutanabbi di kota Baghdad, Irak, meninggalkan kesan istimewa di hati Mohsen.
Pada 2003 pemuda ini menemukan sebuah Alkitab di situ. Ia mempelajari kitab itu
dengan tekun hingga berlangsunglah penyerahan dirinya kepada Yesus. Kisah
penemuan itu–berikut perjumpaannya dengan Yesus–masih kerap mengudara hingga
kini melalui siaran radio Kristen tempat Mohsen bekerja. Dalam sejarah iman
Kristen tak jarang pertobatan seseorang terjadi akibat “pertemuan langsung”
dengan Alkitab. Seakan-akan Alkitab “berjalan sendiri” menjumpainya untuk
disapa. Alkitab seperti “membiarkan dirinya ditemukan” oleh jiwa yang sedang
haus akan kebenaran. Ada yang tersapa olehnya di dalam penjara. Ada yang
tersentuh waktu membaca ayat yang tertera pada sobekan kertas bekas pembungkus
petasan. Ada yang sujud menangis saat membacanya kembali setelah kitab itu
tersimpan dalam kopor selama masa tiga belas tahun ia meninggalkan Tuhan. Masih
banyak lagi. Kebangunan iman berlangsung seiring dengan “ditemukannya kembali”
Kitab Suci yang telah lama tergeser dan tercecer. Pada masa pemerintahan Yosia,
kerajaan Yehuda mengalaminya. Pembaruan besar-besaran dalam kehidupan iman umat
dimulai dari penemuan kembali kitab Taurat ketika Bait Suci sedang diperbaiki.
Taurat ditemukan, pintu tobat dibukakan. Alkitab adalah sumber inspirasi dan
motivasi yang membangkitkan iman. Jika Alkitab ada di tangan Anda–tanpa perlu
susah-susah ditemukan –jangan disiasiakan! Bacalah. Renungilah. Tekunilah.
Hidupilah — PAD. SAAT ALKITAB DITEMUKAN KEMBALI, MAKA IMAN PUN DIBANGUNKAN
KEMBALI. Selamat hari Minggu. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
Maz 119:18 –
Bukakanlah mataku supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari firman-MU!
YESUS sumber KEAJAIBANku. Hal-hal yang luar biasa sekarang aku alami. Selamat
ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 3
“Mengakhiri hidup
bersama Tuhan merupakan pencapaian yang tak dapat dilupakan.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 4
“DI SITULAH SURGA”.
Bacaan: Wahyu 22:1-5. NATS: Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya
matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka (Wahyu 22:5). Ketika Bree
berumur 3 tahun, kakeknya menderita gagal jantung. Kakek Bree dibawa ke rumah
sakit setempat dan di situlah ia meninggal. Beberapa minggu setelah pemakaman,
ketika Bree dan keluarganya melewati rumah sakit tersebut, Bree menunjuk dan
mengungkap pemahamannya, “Di situlah surga”. Ia tahu kakeknya sudah ke surga.
Jadi sejak kakeknya meninggal di rumah sakit, Bree berpikir bahwa di sanalah
surga itu. Ibu Bree menulis, “Kita, orang-orang dewasa, memiliki konsep abstrak
mengenai surga yang ada di balik bintang-bintang yang bahkan tidak dapat kita
lihat.” Akan tetapi, pandangan kanak-kanak Bree tentang surga membuat sang ibu
berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyata, dan itu membuatnya terhibur.
Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberi kita gambaran sekilas seperti apa surga itu.
Setelah diangkat ke surga, ia melihat “sungai air kehidupan, yang jernih
bagaikan kristal” dan “pohon kehidupan” (Wahyu 22:1,2). Dan, tempat itu tidak
membutuhkan “cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi
mereka” (ayat 5). Surga tidak cukup digambarkan dengan kata-kata, namun kita
meyakini bahwa surga adalah tempat yang nyata bagi orang-orang yang percaya
kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Yesus meyakinkan kita, “Di rumah Bapa-Ku
banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yohanes 14:2). Suatu
hari nanti, kita akan berada di sana dan tidak perlu membayangkan tempat itu
lagi. SURGA ADALAH TEMPAT YANG DISIAPKAN BAGI ORANG YANG SIAP. (Bp. Budi – PT.
MPU)
Respon 5
Minggu, 6 September
2015. Bacaan: Mazmur 127. Setahun: Yehezkiel 20-21. Nats: Jikalau bukan TUHAN
yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan
TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga (Mazmur 127:1).
KALAU BUKAN TUHAN. Apakah Anda pernah berpikir, “Kalau bukan saya yang bekerja,
mana bisa keluarga saya hidup?” atau “Kalau bukan saya yang mengatur semuanya,
mana ada kerjaan di kantor yang beres?” Hati-hati dengan pikiran seperti itu
karena hal itu adalah suatu bentuk kesombongan tersembunyi. Saat kita berpikir
atau berkata seperti itu sebenarnya kita sedang mengagungkan diri sendiri
melebihi Allah. Kita berpikir, kitalah yang menjadikan keluarga atau perusahaan
kita mampu bertahan. Padahal, tidak begitu kebenarannya. Salomo memperingatkan
kita akan hal tersebut dalam nyanyian ziarahnya yang kemudian dicatat sebagai
Mazmur 127. Frasa kunci dalam Mazmur Salomo ini adalah “Jikalau bukan Tuhan
yang...” Ya, jika bukan Tuhan yang memberkati kita, seberapa keras pun usaha
kita tidak akan membuat keluarga kita bertahan hidup. Jika bukan Tuhan yang
memberkati pekerjaan kita, mungkin kantor atau toko atau bisnis yang kita
kelola sudah gulung tikar dari dulu. Hari ini marilah kita merenungkan
kata-kata Salomo ini, “Jikalau bukan TUHAN yang..., sia-sialah...” Kita dapat
melengkapi sendiri titik-titiknya. Kebenaran ini dapat diberlakukan dalam
berbagai sisi kehidupan kita, seperti dalam kehidupan pernikahan, membesarkan
anak, membangun relasi, dan pelayanan di gereja. Jikalau bukan Tuhan yang
campur tangan, sia-sialah semua usaha kita, sekeras apa pun itu. Biarlah
kebenaran ini mendorong kita untuk terus mengandalkan pemeliharaan dan
kedaulatan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita --Denny Pranolo. JIKA TUHAN
TIDAK IKUT CAMPUR DALAM HIDUP KITA, TIDAK ADA HAL BAIK YANG DAPAT KITA
HASILKAN. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:
Post a Comment