Saturday, 26 September 2015

26 September 2015

BILLIONAIRE




Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Ayat 11: “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jika kita diberi tanggung jawab pekerjaan sekecil apappun, kita harus kerjakan dengan sebaik-baiknya & dengan sejujur-jujurnya, nantinya kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar lagi. Amin. Sudahkah kita setia dalam perkara-perkara yang kecil?

Respon 1
Sabtu, 26 September 2015. Bacaan: Matius 18:6-11. Setahun: Nahum 1-Habakuk 3. Nats: Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini (Matius 18:10). MENGHARGAI ANAK. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2013 terjadi 1.620 kasus kekerasan terhadap anak, yang terdiri atas kekerasan fisik (30%), kekerasan emosional (19%), dan yang tertinggi adalah kekerasan seksual (51%). Statistik yang memprihatinkan. Anak-anak yang semestinya dirawat dan ditumbuhkembang-kan jadi pribadi unggul, malah jadi korban kekerasan. Yesus mengecam keras orang yang memperlakukan anak kecil secara jahat. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (ay. 6). Kata ‘menyesatkan’, skandalizo, berarti menjerat, membuat tersandung, menyebabkan orang meninggalkan jalan yang benar. Yesus serius memperhatikan iman anak kecil sehingga Dia serius menghukum orang yang menyesatkan anak kecil. Yesus sangat menghargai anak kecil dan menentang orang yang merendahkan mereka. Peringatan Yesus itu dalam konteks iman, namun dapat diterapkan secara lebih luas. Banyak orangtua kurang menghargai anak dengan membanding-bandingkan anak dengan anak lain, berfokus pada kesalahan anak, tidak memberi anak kesempatan berbicara atau mengemukakan pendapat, dan sebagainya. Perlakuan semacam ini dapat berdampak buruk, tak kalah dari kekerasan secara fisik. Karena itu, biarlah kasih Yesus di dalam hati kita, mengajar kita untuk mengasihi anak-anak seperti Yesus mengasihi mereka. Kiranya pula anak-anak itu boleh mengenal Tuhan mereka sejak dini --Lim Ivenina Natasya. MENGASIHI ANAK BERARTI MENGHARGAI MEREKA DAN MENOLONG MEREKA MENGALAMI KASIH TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
“Ketekunan tiba-tiba secara mengejutkan bisa menyalib kepandaian.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Sabtu, 26 September 2015. TEKANAN HIDUP. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu (Yakobus 5:8-9). Saya pernah tinggal di rumah kayu yang lapuk sehingga dapat mendengar perkataan tetangga sebelah kiri-kanan. Suatu kali nenek di rumah sebelah memarahi dan memaki cucunya cukup lama. Pencetus kemarahannya mungkin sepele bagi sebagian kita, namun tidak bagi mereka. Si cucu menumpahkan bedak nenek, padahal bedak itu terhitung barang mahal bagi keluarga yang hidup sangat pas-pasan itu. Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman. Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun. Penderitaan adalah bagian dari ujian iman. Yakobus mengingatkan bahwa Tuhan, Hakim Agung itu, sudah dekat. Kita bakal memetik hasil manis ketekunan kita sama seperti petani yang menantikan hasil tanamnya (ay. 7). Juga seperti Ayub yang memperoleh karunia berlimpah setelah melalui masa penderitaan (ay. 11). Apakah saat ini Anda sedang dihimpit oleh tekanan hidup? Anda lelah dan penat, seolah penderitaan Anda tidak pernah akan berakhir? Relasi Anda dengan keluarga, teman, dan rekan kerja pun semakin memburuk? Ingatkan diri Anda bahwa Tuhan itu penyayang dan penuh belas kasihan (ay. 11). Kesabaran Anda menghadapi tekanan pasti akan berbuah manis ketika Tuhan datang kembali dalam kemuliaan-Nya —HEM. TEKANAN HIDUP HARUS DIHADAPI DENGAN SABAR DAN TEKUN. NISCAYA KITA PUN BEROLEH KEBAHAGIAAN TAK TERKIRA BILA SAATNYA TIBA. Selamat pagi. Selamat berkahir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment