BILLIONAIRE
Lukas 16:10, “Barangsiapa
setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar.” Ayat 11: “Jadi, jikalau kamu tidak setia
dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu
harta yang sesungguhnya?” Jika kita diberi tanggung jawab pekerjaan sekecil
apappun, kita harus kerjakan dengan sebaik-baiknya & dengan
sejujur-jujurnya, nantinya kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar
lagi. Amin. Sudahkah kita setia dalam perkara-perkara yang kecil?
Respon 1
Sabtu, 26 September
2015. Bacaan: Matius 18:6-11. Setahun: Nahum 1-Habakuk 3. Nats: Ingatlah,
jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini (Matius 18:10).
MENGHARGAI ANAK. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, sepanjang
tahun 2013 terjadi 1.620 kasus kekerasan terhadap anak, yang terdiri atas
kekerasan fisik (30%), kekerasan emosional (19%), dan yang tertinggi adalah
kekerasan seksual (51%). Statistik yang memprihatinkan. Anak-anak yang
semestinya dirawat dan ditumbuhkembang-kan jadi pribadi unggul, malah jadi
korban kekerasan. Yesus mengecam keras orang yang memperlakukan anak kecil
secara jahat. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini
yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan
pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (ay. 6). Kata ‘menyesatkan’,
skandalizo, berarti menjerat, membuat tersandung, menyebabkan orang
meninggalkan jalan yang benar. Yesus serius memperhatikan iman anak kecil
sehingga Dia serius menghukum orang yang menyesatkan anak kecil. Yesus sangat
menghargai anak kecil dan menentang orang yang merendahkan mereka. Peringatan
Yesus itu dalam konteks iman, namun dapat diterapkan secara lebih luas. Banyak
orangtua kurang menghargai anak dengan membanding-bandingkan anak dengan anak
lain, berfokus pada kesalahan anak, tidak memberi anak kesempatan berbicara
atau mengemukakan pendapat, dan sebagainya. Perlakuan semacam ini dapat berdampak
buruk, tak kalah dari kekerasan secara fisik. Karena itu, biarlah kasih Yesus
di dalam hati kita, mengajar kita untuk mengasihi anak-anak seperti Yesus
mengasihi mereka. Kiranya pula anak-anak itu boleh mengenal Tuhan mereka sejak
dini --Lim Ivenina Natasya. MENGASIHI ANAK BERARTI MENGHARGAI MEREKA DAN
MENOLONG MEREKA MENGALAMI KASIH TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
“Ketekunan
tiba-tiba secara mengejutkan bisa menyalib kepandaian.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Sabtu,
26 September 2015. TEKANAN HIDUP. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan
hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu
bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum.
Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu (Yakobus 5:8-9). Saya pernah
tinggal di rumah kayu yang lapuk sehingga dapat mendengar perkataan tetangga
sebelah kiri-kanan. Suatu kali nenek di rumah sebelah memarahi dan memaki
cucunya cukup lama. Pencetus kemarahannya mungkin sepele bagi sebagian kita,
namun tidak bagi mereka. Si cucu menumpahkan bedak nenek, padahal bedak itu
terhitung barang mahal bagi keluarga yang hidup sangat pas-pasan itu. Tekanan
hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak
terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan
menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang
hukuman. Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit
meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun.
Penderitaan adalah bagian dari ujian iman. Yakobus mengingatkan bahwa Tuhan,
Hakim Agung itu, sudah dekat. Kita bakal memetik hasil manis ketekunan kita
sama seperti petani yang menantikan hasil tanamnya (ay. 7). Juga seperti Ayub
yang memperoleh karunia berlimpah setelah melalui masa penderitaan (ay. 11).
Apakah saat ini Anda sedang dihimpit oleh tekanan hidup? Anda lelah dan penat,
seolah penderitaan Anda tidak pernah akan berakhir? Relasi Anda dengan
keluarga, teman, dan rekan kerja pun semakin memburuk? Ingatkan diri Anda bahwa
Tuhan itu penyayang dan penuh belas kasihan (ay. 11). Kesabaran Anda menghadapi
tekanan pasti akan berbuah manis ketika Tuhan datang kembali dalam
kemuliaan-Nya —HEM. TEKANAN HIDUP HARUS DIHADAPI DENGAN SABAR DAN TEKUN.
NISCAYA KITA PUN BEROLEH KEBAHAGIAAN TAK TERKIRA BILA SAATNYA TIBA. Selamat
pagi. Selamat berkahir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:
Post a Comment