BILLIONAIRE
Amsal 31:10, “Isteri
yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.”
Ayat 11: “Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan
keuntungan.” Istri yang CAKAP adalah wanita yang dipenuhi Roh, mampu
mengendalikan diri. Ia adalah wanita saleh, rajin, penolong
bagi suaminya (suaminya tidak kekurangan keuntungan sebab Ia pandai mengatur
keuangan keluarganya J). Ayat 10a menekankan bahwa “wanita” seperti ini/CAKAP: susah/jarang
ditemukan :(. “Ia lebih berharga dari permata”, semua perhiasan wanita yang
mahal yang menghiasi diri mereka tidak akan menandingi seorang istri yang CAKAP
ini J.
Jadilah wanita yang benar-benar CAKAP, berhikmat (pandai mengatur keuangan
dalam keluarga & sungguh-sungguh hidup dalam takut akan Tuhan. Amin J). Adakah kita
istri/wanitaNya Tuhan yang CAKAP?? Amin.
Respon 1
Amsal 31:10-11,
“isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada
permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan
keuntungan.” Hehehehe... Kenapa hari ini kok fokusnya ke istri ya? Karena istri
ini biasanya “mata keranjang” kalau lihat apa-apa meski nggak penting ingin
dibeli, kalau sudah gitu keuangan jadi kacau, kalau keuangan kacau suasana
rumah tangga juga ikut-ikutan jadi kacau. Makanya hari ini fokusnya pada istri
karena biasanya istri ini adalah “menteri keuangan” di rumah tangga, harus bisa
menata keuangan supaya penghasilan suami bisa cukup tanpa harus berhutang.
Belajar untuk merasa cukup dengan apa yang ada. Itu yang dibilang isteri yang
cakap, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.
Respon 2
Shalom Siu. Pagi...
Berkati keluarga dan seluruh aspek kehidupanmu... Pakaianmu adalah kekuatan dan
kemuliaan. Kau tertawa tentang hari depan. Kau membuka mulutmu dengan penuh
hikmat. Pengajaran yang lemah lembut di lidahmu. Makanan kemalasan tidak
dimakanmu. Anak-anak dan suamimu menyebutmu berbahagia dan memujimu. Banyak
wanita telah berbuat baik. Tetapi kau melebihi mereka semua. Thank you untuk
pelayananmu yang setia. TUHAN MEMBERKATIMU. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 3
Maz 3:4 – Dengan
nyaring aku berseru kepada TUHAN dan IA menjawab aku dari gunung-NYA yang
kudus! TUHAN pasti menjawab doaku. DIA jawaban buat semua masalahku! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 4
“Jika kita sendiri
tidak percaya akan kemampuan kita, bagaimana mungkin kita meyakinkan orang
bahwa kita mampu?” Xavier Quentin Pranata.
Respon 5
DAHULUKAN YANG
UTAMA. Bacaan: Lukas 10:38-42. NATS: Hikmat adalah hal yang utama; karena itu
perolehlah hikmat (Amsal 4:7). Selama Perang Dunia II, saya bertugas sebagai
ahli bedah tulang di sebuah rumah sakit Inggris. Suatu hari, ketika kami sedang
bersih-bersih setelah membalutkan gips di lengan yang retak pada seorang
pasien, saya memerhatikan beberapa rekan kerja yang hanya bercanda dan tidak
membantu. Tanpa ragu-ragu saya menunjukkan bahwa saya kurang menyukai hal
seperti itu. Kejadian di atas menjadi alasan mengapa saya biasanya mengucapkan
pembelaan terhadap Marta saat menyampaikan khotbah berdasarkan Lukas 10:38-42.
Anda tentu ingat bahwa ia “sibuk sekali melayani” (ayat 40), sementara Maria,
saudara perempuannya, tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan Yesus. Saya
dapat dengan mudah memahami cara pandang Marta. Dalam Amsal, lebih dari satu
lusin ayat menegur para pemalas. Dan, ketika beberapa orang kristiani pada abad
pertama tidak mau bekerja dan mulai menumpang makan pada orang lain, Paulus
menetapkan aturan ini, “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”
(2 Tesalonika 3:10). Namun, pendekatan kita terhadap pekerjaan harus seimbang.
Amsal 4:7 mengatakan, “Hikmat adalah hal yang utama” (Alkitab versi King
James). Marta sebenarnya bisa saja berkata, “Maria, makan malam bisa ditunda.
Kini aku akan bergabung denganmu mendengarkan Yesus sebelum mulai bekerja di
dapur.” Pekerjaan memang hal yang penting. Akan tetapi, kita jangan terlalu
terobsesi sehingga menyingkirkan penyembahan dan ajaran rohani. Bekerja
keraslah, tetapi dahulukan yang utama. JANGAN TERLALU SIBUK MELAKUKAN KEBAIKAN,
SEHINGGA ANDA LUPA UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR. (Bp. Budi – PT. MPU)
Respon 6
Memperhatikan
bagaimana kapal menjulang tegak lalu bergerak di atas air adalah sesuatu yang
menakjubkan. Ketika batu kecil pun tenggelam di dalam air, kapal ribuan ton
beratnya tetap mengapung. Ia berjalan tanpa jejak-jejak yang bisa diikuti di
lautan luas dimana tiada jalan raya atau rambu-rambu yang banyak itu -hanya
berdasar tuntunan bintang & arah angin. Jalan kapal diatas air membuat sang
pengajar hikmat menganggapnya sebagai suatu misteri (Ams. 30:19c). Alkitab
menggambarkan bahwa manusia yang begitu banyak dari berbagai bangsa itu seperti
lautan (Wah. 17:15). Jadi kapal merupakan gambaran dari usaha-usaha manusia
mencari jalan hidup di antara milyaran orang ini. Kapal berbicara mengenai
pemikiran-pemikiran, ide-ide, teori-teori beserta usaha-usaha manusia mencari
jalan menuju pada tujuan hidup yang lebih baik. Dan demikianlah adanya. Ide-ide
manusia, baik untuk bertahan hidup atau memaknai kehidupan sering menarik
perhatian & terkadang cukup rumit untuk dipikirkan entah darimana &
bagaimana datangnya. Termasuk dalam hal ini adalah jalan-jalan hidup melalui
agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, ideologi-ideologi, paham-paham,
ajaran-ajaran, doktrin-doktrin atau petunjuk beragam gaya hidup tertentu. Inilah
“kapal-kapal buatan” itu. Masalahnya, mengarungi samudera bukan pekerjaan
mudah. Diperlukan pengetahuan, keahlian-keahlian & ketrampilan-ketrampilan
khusus untuk menjadi pelaut yang handal. Bahkan meski memiliki semua itu
didukung kapal terbaik, perjalanan di lautan tetaplah penuh risiko. Dari
masalah sehari-hari hingga angin badai, ombak raksasa, gunung es, perubahan
iklim, hingga bahaya perompak selalu membayangi perjalanan lintas samudra. Itu
sebabnya murid-murid yang adalah nelayan-nelayan berpengalaman tetap kesulitan
sewaktu badai menghantam. Beruntung, ada Yesus Kristus! Oleh karena Dialah
mereka selamat & berhasil sampai di tujuan dengan selamat. Akan tiba
waktunya setiap “kapal” di dunia ini digoncang & karam. Hanya “kapal”
dimana Yesus ada yang sampai pada tujuannya yang permai. Sudahkah Anda
menumpang di kapal yang benar? Dimana Yesus yang menjadi nahkoda &
pengendalinya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment