Thursday, 3 September 2015

3 September 2015

BILLIONAIRE




Amsal 31:10, “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” Ayat 11: “Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” Istri yang CAKAP adalah wanita yang dipenuhi Roh, mampu mengendalikan diri. Ia adalah wanita saleh, rajin, penolong bagi suaminya (suaminya tidak kekurangan keuntungan sebab Ia pandai mengatur keuangan keluarganya J). Ayat 10a menekankan bahwa “wanita” seperti ini/CAKAP: susah/jarang ditemukan :(. “Ia lebih berharga dari permata”, semua perhiasan wanita yang mahal yang menghiasi diri mereka tidak akan menandingi seorang istri yang CAKAP ini J. Jadilah wanita yang benar-benar CAKAP, berhikmat (pandai mengatur keuangan dalam keluarga & sungguh-sungguh hidup dalam takut akan Tuhan. Amin J). Adakah kita istri/wanitaNya Tuhan yang CAKAP?? Amin.

Respon 1
Amsal 31:10-11, “isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” Hehehehe... Kenapa hari ini kok fokusnya ke istri ya? Karena istri ini biasanya “mata keranjang” kalau lihat apa-apa meski nggak penting ingin dibeli, kalau sudah gitu keuangan jadi kacau, kalau keuangan kacau suasana rumah tangga juga ikut-ikutan jadi kacau. Makanya hari ini fokusnya pada istri karena biasanya istri ini adalah “menteri keuangan” di rumah tangga, harus bisa menata keuangan supaya penghasilan suami bisa cukup tanpa harus berhutang. Belajar untuk merasa cukup dengan apa yang ada. Itu yang dibilang isteri yang cakap, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.
Respon 2
Shalom Siu. Pagi... Berkati keluarga dan seluruh aspek kehidupanmu... Pakaianmu adalah kekuatan dan kemuliaan. Kau tertawa tentang hari depan. Kau membuka mulutmu dengan penuh hikmat. Pengajaran yang lemah lembut di lidahmu. Makanan kemalasan tidak dimakanmu. Anak-anak dan suamimu menyebutmu berbahagia dan memujimu. Banyak wanita telah berbuat baik. Tetapi kau melebihi mereka semua. Thank you untuk pelayananmu yang setia. TUHAN MEMBERKATIMU. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
Maz 3:4 – Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN dan IA menjawab aku dari gunung-NYA yang kudus! TUHAN pasti menjawab doaku. DIA jawaban buat semua masalahku! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 4
“Jika kita sendiri tidak percaya akan kemampuan kita, bagaimana mungkin kita meyakinkan orang bahwa kita mampu?” Xavier Quentin Pranata.

Respon 5
DAHULUKAN YANG UTAMA. Bacaan: Lukas 10:38-42. NATS: Hikmat adalah hal yang utama; karena itu perolehlah hikmat (Amsal 4:7). Selama Perang Dunia II, saya bertugas sebagai ahli bedah tulang di sebuah rumah sakit Inggris. Suatu hari, ketika kami sedang bersih-bersih setelah membalutkan gips di lengan yang retak pada seorang pasien, saya memerhatikan beberapa rekan kerja yang hanya bercanda dan tidak membantu. Tanpa ragu-ragu saya menunjukkan bahwa saya kurang menyukai hal seperti itu. Kejadian di atas menjadi alasan mengapa saya biasanya mengucapkan pembelaan terhadap Marta saat menyampaikan khotbah berdasarkan Lukas 10:38-42. Anda tentu ingat bahwa ia “sibuk sekali melayani” (ayat 40), sementara Maria, saudara perempuannya, tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan Yesus. Saya dapat dengan mudah memahami cara pandang Marta. Dalam Amsal, lebih dari satu lusin ayat menegur para pemalas. Dan, ketika beberapa orang kristiani pada abad pertama tidak mau bekerja dan mulai menumpang makan pada orang lain, Paulus menetapkan aturan ini, “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tesalonika 3:10). Namun, pendekatan kita terhadap pekerjaan harus seimbang. Amsal 4:7 mengatakan, “Hikmat adalah hal yang utama” (Alkitab versi King James). Marta sebenarnya bisa saja berkata, “Maria, makan malam bisa ditunda. Kini aku akan bergabung denganmu mendengarkan Yesus sebelum mulai bekerja di dapur.” Pekerjaan memang hal yang penting. Akan tetapi, kita jangan terlalu terobsesi sehingga menyingkirkan penyembahan dan ajaran rohani. Bekerja keraslah, tetapi dahulukan yang utama. JANGAN TERLALU SIBUK MELAKUKAN KEBAIKAN, SEHINGGA ANDA LUPA UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 6
Memperhatikan bagaimana kapal menjulang tegak lalu bergerak di atas air adalah sesuatu yang menakjubkan. Ketika batu kecil pun tenggelam di dalam air, kapal ribuan ton beratnya tetap mengapung. Ia berjalan tanpa jejak-jejak yang bisa diikuti di lautan luas dimana tiada jalan raya atau rambu-rambu yang banyak itu -hanya berdasar tuntunan bintang & arah angin. Jalan kapal diatas air membuat sang pengajar hikmat menganggapnya sebagai suatu misteri (Ams. 30:19c). Alkitab menggambarkan bahwa manusia yang begitu banyak dari berbagai bangsa itu seperti lautan (Wah. 17:15). Jadi kapal merupakan gambaran dari usaha-usaha manusia mencari jalan hidup di antara milyaran orang ini. Kapal berbicara mengenai pemikiran-pemikiran, ide-ide, teori-teori beserta usaha-usaha manusia mencari jalan menuju pada tujuan hidup yang lebih baik. Dan demikianlah adanya. Ide-ide manusia, baik untuk bertahan hidup atau memaknai kehidupan sering menarik perhatian & terkadang cukup rumit untuk dipikirkan entah darimana & bagaimana datangnya. Termasuk dalam hal ini adalah jalan-jalan hidup melalui agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, ideologi-ideologi, paham-paham, ajaran-ajaran, doktrin-doktrin atau petunjuk beragam gaya hidup tertentu. Inilah “kapal-kapal buatan” itu. Masalahnya, mengarungi samudera bukan pekerjaan mudah. Diperlukan pengetahuan, keahlian-keahlian & ketrampilan-ketrampilan khusus untuk menjadi pelaut yang handal. Bahkan meski memiliki semua itu didukung kapal terbaik, perjalanan di lautan tetaplah penuh risiko. Dari masalah sehari-hari hingga angin badai, ombak raksasa, gunung es, perubahan iklim, hingga bahaya perompak selalu membayangi perjalanan lintas samudra. Itu sebabnya murid-murid yang adalah nelayan-nelayan berpengalaman tetap kesulitan sewaktu badai menghantam. Beruntung, ada Yesus Kristus! Oleh karena Dialah mereka selamat & berhasil sampai di tujuan dengan selamat. Akan tiba waktunya setiap “kapal” di dunia ini digoncang & karam. Hanya “kapal” dimana Yesus ada yang sampai pada tujuannya yang permai. Sudahkah Anda menumpang di kapal yang benar? Dimana Yesus yang menjadi nahkoda & pengendalinya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment