Friday, 18 September 2015

18 September 2015

BILLIONAIRE




1 Tim 6:17, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” Apa yang kita miliki tidak ada hubungan dengan siapa kita. Salomo orang yang paling berhikmat & juga paling kaya disegala zaman berkata: “Siapa mencintai uang/kekayaan tidak akan puas dengan uang” (Pengkotbah 5:9). Allah telah membuatnya menjadi jelas, uang/kekayaan tidak dapat memberikan apa yang benar-benar kita butuhkan sebab hanya DIA yang sanggup memberikan segala sesuatu untuk kita nikmati. Amin. Tuhan tidak peduli seberapa banyak/seberapa sedikit uang yang dimiliki seseorang, Tuhan hanya peduli dengan HATI kita, yaitu HATI yang terpusat kepadaNya & yang bermurah hati atas segala sesuatu. “sebab hidupnya tidaklah bergantung kepada kekayaannya itu” (Lukas 12:15b). Amin.

Respon 1
Mazmur 42:6 – Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (GNCC)

Respon 2
Jumat, 18 September 2015. Bacaan: Keluaran 17:1-7. Setahun: Daniel 10-12. Nats: Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (Keluaran 17:2). KEKERINGAN ROHANI. Ketika masih kuliah saya mengalami kemarau panjang yang sangat merepotkan. Ketika itu saya tinggal di kos bersama lima orang teman. Kami harus sangat berhemat agar persediaan air cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Demi menghemat air, kami antara lain makan dengan menggunakan kertas makan, bukan piring. Sungguh tersiksa kami saat itu. Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan kita. Bahkan saat menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas ringan pun, kita membutuhkan air untuk minum. Wajar jika masalah kekurangan air yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun membuat mereka resah. Tetapi, yang membuat tidak wajar adalah ketika mereka bersungut-sungut dan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Mereka tidak hanya mengalami kekeringan secara jasmani, namun juga rohani. Mereka telah mengalami penyertaan dan pemeliharaan Tuhan di sepanjang perjalanan dari tanah Mesir. Tetapi, mereka belum juga belajar bersandar kepada Tuhan. Di balik dahaga jasmani yang mereka alami, sesungguhnya bangsa Israel mengalami dahaga rohani. Hal inilah yang menjadikan mereka merasa lebih baik tinggal di Mesir. Mereka tidak memahami arti kemerdekaan dari perbudakan. Kekeringan rohani membutakan mereka akan kehadiran Tuhan yang menyegarkan hidup, yang menjanjikan hari depan penuh harapan. Apakah kita mengalami kekeringan rohani? Jangan biarkan jiwa kita mengalami gejala kekeringan dan dahaga. Mari segarkan dahaga kita dengan meminum air hidup yang Tuhan sediakan! --Endang Lestari. MINUMLAH AIR HIDUP YANG TUHAN SEDIAKAN! NISCAYA KITA TIDAK AKAN PERNAH DAHAGA SELAMANYA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
“Semut yang diinjak bisa menggigit, bisa juga mati sebelum sempat menggigit.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat, 18 September 2015. Tak Menanggapi. Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat] (Kolose 3:5-6). Sebuah SMS masuk ke HP saya. Seolah berasal dari mahasiswi kesepian yang minta ditemani. Bukannya merasa senang, saya malah membayangkan seorang penipu sedang mengincar saya untuk dijadikan mangsa. Si pengirim tentu tidak mengenal saya. Bila direspons, penipu itu akan tahu banyak detail pribadi saya. Mungkin ia akan menggunakannya untuk memeras saya. SMS itu pun segera saya hapus. Menurut dugaan saya, SMS itu dikirim ke banyak orang, dan bisa jadi menelan korban. Godaan berdosa dapat masuk lewat banyak pintu. Sasarannya keduniawian dalam diri kita, yaitu hawa nafsu dan nafsu jahat. Selain percabulan, nafsu duniawi mencakup pula keinginan untuk memperoleh uang secara cepat tanpa perlu bekerja keras. Kenikmatan dan kepuasan yang bersifat sementara sering sangat memikat dan dapat menyebabkan kejatuhan kita. Rasul Paulus mengajarkan dua cara untuk menghadapinya. Pertama, dengan mencari dan memikirkan hal-hal surgawi. Kedua, dengan tidak lagi hidup seperti manusia lama. Di dalam Kristus, kita telah mati terhadap dosa. Ketika menghadapi godaan, kita tidak perlu menanggapinya, sama seperti orang mati tidak bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Apakah selama ini Anda berusaha menekan hawa nafsu agar tidak jatuh dalam dosa? Mungkin semakin ditekan, semakin sulit Anda mengendalikan desakan nafsu itu? Saatnya menggunakan anjuran Rasul Paulus, yaitu dengan tidak merespons rangsangan keduniawian. Sembari Anda memusatkan perhatian pada hal-hal surgawi —HEM. MARI BELAJAR UNTUK TIDAK MENANGGAPI GODAAN KEDUNIAWIAN SAMBIL TERUS MEMUSATKAN DIRI PADA PERKARA SURGAWI. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment