BILLIONAIRE
1 Tim 6:17, “Peringatkanlah
kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan
berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah
yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”
Apa yang kita miliki tidak ada hubungan dengan siapa kita. Salomo orang yang
paling berhikmat & juga paling kaya disegala zaman berkata: “Siapa
mencintai uang/kekayaan tidak akan puas dengan uang” (Pengkotbah 5:9).
Allah telah membuatnya menjadi jelas, uang/kekayaan tidak dapat memberikan apa
yang benar-benar kita butuhkan sebab hanya DIA yang sanggup memberikan segala
sesuatu untuk kita nikmati. Amin. Tuhan tidak peduli seberapa banyak/seberapa
sedikit uang yang dimiliki seseorang, Tuhan hanya peduli dengan HATI kita, yaitu
HATI yang terpusat kepadaNya & yang bermurah hati atas segala sesuatu. “sebab
hidupnya tidaklah bergantung kepada kekayaannya itu” (Lukas 12:15b). Amin.
Respon 1
Mazmur 42:6 –
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah
kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
(GNCC)
Respon 2
Jumat, 18 September
2015. Bacaan: Keluaran 17:1-7. Setahun: Daniel 10-12. Nats: Jadi mulailah
mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami
supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu
bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (Keluaran 17:2).
KEKERINGAN ROHANI. Ketika masih kuliah saya mengalami kemarau panjang yang
sangat merepotkan. Ketika itu saya tinggal di kos bersama lima orang teman.
Kami harus sangat berhemat agar persediaan air cukup untuk memenuhi kebutuhan
harian. Demi menghemat air, kami antara lain makan dengan menggunakan kertas
makan, bukan piring. Sungguh tersiksa kami saat itu. Air merupakan kebutuhan
pokok bagi kehidupan kita. Bahkan saat menghabiskan waktu untuk melakukan
aktivitas ringan pun, kita membutuhkan air untuk minum. Wajar jika masalah
kekurangan air yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun membuat mereka
resah. Tetapi, yang membuat tidak wajar adalah ketika mereka bersungut-sungut
dan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Mereka tidak hanya mengalami
kekeringan secara jasmani, namun juga rohani. Mereka telah mengalami penyertaan
dan pemeliharaan Tuhan di sepanjang perjalanan dari tanah Mesir. Tetapi, mereka
belum juga belajar bersandar kepada Tuhan. Di balik dahaga jasmani yang mereka
alami, sesungguhnya bangsa Israel mengalami dahaga rohani. Hal inilah yang
menjadikan mereka merasa lebih baik tinggal di Mesir. Mereka tidak memahami
arti kemerdekaan dari perbudakan. Kekeringan rohani membutakan mereka akan
kehadiran Tuhan yang menyegarkan hidup, yang menjanjikan hari depan penuh
harapan. Apakah kita mengalami kekeringan rohani? Jangan biarkan jiwa kita
mengalami gejala kekeringan dan dahaga. Mari segarkan dahaga kita dengan
meminum air hidup yang Tuhan sediakan! --Endang Lestari. MINUMLAH AIR HIDUP
YANG TUHAN SEDIAKAN! NISCAYA KITA TIDAK AKAN PERNAH DAHAGA SELAMANYA. (Ibu
Caroline – Bandung)
Respon 3
“Semut yang diinjak
bisa menggigit, bisa juga mati sebelum sempat menggigit.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat,
18 September 2015. Tak Menanggapi. Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala
sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan
juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu
mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat] (Kolose 3:5-6).
Sebuah SMS masuk ke HP saya. Seolah berasal dari mahasiswi kesepian yang minta ditemani.
Bukannya merasa senang, saya malah membayangkan seorang penipu sedang mengincar
saya untuk dijadikan mangsa. Si pengirim tentu tidak mengenal saya. Bila
direspons, penipu itu akan tahu banyak detail pribadi saya. Mungkin ia akan
menggunakannya untuk memeras saya. SMS itu pun segera saya hapus. Menurut
dugaan saya, SMS itu dikirim ke banyak orang, dan bisa jadi menelan korban.
Godaan berdosa dapat masuk lewat banyak pintu. Sasarannya keduniawian dalam
diri kita, yaitu hawa nafsu dan nafsu jahat. Selain percabulan, nafsu duniawi
mencakup pula keinginan untuk memperoleh uang secara cepat tanpa perlu bekerja
keras. Kenikmatan dan kepuasan yang bersifat sementara sering sangat memikat
dan dapat menyebabkan kejatuhan kita. Rasul Paulus mengajarkan dua cara untuk
menghadapinya. Pertama, dengan mencari dan memikirkan hal-hal surgawi. Kedua,
dengan tidak lagi hidup seperti manusia lama. Di dalam Kristus, kita telah mati
terhadap dosa. Ketika menghadapi godaan, kita tidak perlu menanggapinya, sama
seperti orang mati tidak bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Apakah selama
ini Anda berusaha menekan hawa nafsu agar tidak jatuh dalam dosa? Mungkin
semakin ditekan, semakin sulit Anda mengendalikan desakan nafsu itu? Saatnya
menggunakan anjuran Rasul Paulus, yaitu dengan tidak merespons rangsangan
keduniawian. Sembari Anda memusatkan perhatian pada hal-hal surgawi —HEM. MARI
BELAJAR UNTUK TIDAK MENANGGAPI GODAAN KEDUNIAWIAN SAMBIL TERUS MEMUSATKAN DIRI
PADA PERKARA SURGAWI. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:
Post a Comment