BILLIONAIRE
Roma 11:36, “Sebab
segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah
kemuliaan sampai selama-lamanya!” Allah merupakan sumber dari SEGALA
SESUATU yang BAIK bahwa dalam manusia yang berdosa tidak ada kebaikan
ataupun kesanggupan. Demikian juga dengan apa yang kita miliki ‘semuanya’
adalah DARI DIA! Sudahkah kita memberikan apa yang kita wajib berikan
KEPADA DIA melalui Berkat Keuangan/Persepuluhan KEPADA DIA? Sudahkah kita mengembalikannya
dengan setia?? Lakukan bagian kita/persepuluhan niscaya tingkap-tingkap langit
dibukakan bagi kita. Amin J. Malaekhi 3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke
dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan
ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu
tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
J
Respon 1
Roma 11:36, “Sebab
segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia, bagi Dialah
kemuliaan sampai selama lamanya.” Aku ingat Firman yang dibawakan Pak Wahyu
Hanafi beberapa waktu yang lalu yang sangat menjadi rhema dalam hidupku. Kita
ini seperti mesin ATM-nya Tuhan. Tuhan invest di hidup kita untuk dipergunakan
sesuai dengan kehendakNya. Jadi sebenarnya kita ini kalau bisa menikmati berkat
Tuhan itu adalah karuniaNya, tapi kalau Tuhan mau pakai berkatNya itu untuk
“kepentinganNya”, ya kita nggak punya hak untuk menahannya. Kita cuma pengelola
keuangan bukan pemilik karena segalanya dari Dia, oleh Dia, untuk Dia. (Ibu
Rita – PKS CL 8)
Respon 2
GAGAL BERBUAT
BENAR. Bacaan: Yakobus 4:13-17. NATS: Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia
harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yakobus 4:17).
Dalam buku yang berjudul Eight Men Out, Eliot Asinof menuliskan berbagai
peristiwa yang terjadi di skandal “Black Sox” yang terkenal pada tahun 1919.
Delapan anggota klub bisbol Chicago White Sox dituduh telah menerima suap dari
para penjudi sebagai kompensasi agar mengalah dalam pertandingan di tingkat
dunia. Walaupun tidak pernah terbukti bersalah di pengadilan, mereka berdelapan
dilarang bermain bisbol seumur hidup. Namun salah seorang di antara mereka,
Buck Weaver, menyatakan bahwa ia telah bermain agar klubnya menang meskipun ia
mengetahui adanya persekongkolan. Meskipun penampilan Weaver di lapangan memang
mendukung pernyataannya itu, akan tetapi komisi bisbol Kenesaw Mountain Landis
membuat aturan bahwa siapa saja yang mengetahui skandal itu, namun tidak
mencegahnya, tetap akan dilarang bermain. Weaver tidak dihukum karena berbuat
salah, tetapi karena gagal berbuat benar. Dalam suratnya yang ditujukan kepada
jemaat gereja abad pertama, Yakobus menulis, “Jadi, jika seorang tahu bagaimana
ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yakobus
4:17). Di dunia yang dipenuhi oleh kejahatan dan kegelapan, para pengikut Kristus
memiliki kesempatan untuk memancarkan cahayanya. Kerap kali hal itu berarti
kita harus melawan dorongan untuk tetap berdiam diri. Ketika kita dihadapkan
pada pilihan untuk berbuat baik atau tidak berbuat apa-apa, kita harus selalu
memilih untuk melakukan sesuatu yang benar. SATU-SATUNYA YANG DAPAT MEMBUAT
KEJAHATAN MENANG ADALAH ORANG-ORANG BAIK YANG TAK BERBUAT APA PUN -Edmund
Burke. (Bp. Budi – PT. MPU)
Respon 3
Pesan renungan yang
saya baca hari ini: 1.) Semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan tetap
menjadi milik Tuhan. 2.) Kita harus memberikan 10 % dari penghasilan untuk
Tuhan. 3.) Kesenangan yang kita nikmati harus berupa selebrasi kebaikan Tuhan
di dalam hidup kita. Kata-kata dibawah ini yang sungguh memberkati saya:
Dikatakan penulis memiliki beberapa teman yang selalu memahami bahwa kekayaan
mereka adalah milik Tuhan sehingga mereka tidak berfoya-foya. Walaupun mereka
kaya akan tetapi mereka mengendarai mobil yang biasa-biasa saja, mereka
perpuluhan, mangadakan bakti sosial dll. Penulis juga mengendarai mobil yang
biasa-biasa saja dan tidak minder melihat orang lain bisa memiliki mobil yang
lebih mewah. Tuhan adalah sumber Sang Pemberi berkat, IA bisa memberi, IA bisa
mengambil. Ingatlah, semua kekayaan yang kita miliki berasal dari Tuhan dan
tetap menjadi milik Tuhan. AMIN. (Yohanes – CL 3)
Respon 4
“Kebenaran yang
ditolak tetap lebih baik ketimbang kesalahan yang diterima masyarakat luas.”
Xavier Quentin Pranata.
Respon 5
SAAT TEDUH. Kamis,
10 September 2015. Kolonialisme Baru. Sebab itu, hendaklah dosa jangan berkuasa
lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya
(Roma 6:12). Pada masa lalu, kolonialisme terkait dengan penguasaan atas negara
lain melalui kekuatan militer. Sekarang, kolonialisme muncul dalam bentuk baru
yang lebih terselubung. Dengan dukungan kekuatan global, negara yang kuat
menguasai dan mengatur negara lain, misalnya melalui perekonomian atau sistem
politiknya. Jadi, negara yang sudah merdeka dari kolonialisme lama masih dapat
terjajah oleh kekuatan asing dalam bentuk yang berbeda. Untuk itu, diperlukan
sistem dunia yang lebih adil. Dosa mirip dengan kolonialisme. Di dalam Kristus,
“manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang
kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (ay. 6). Kita
dimerdekakan dari kuasa dosa dan diberi kehidupan baru: diperlengkapi untuk
tidak lagi hidup sebagai hamba dosa, melainkan mampu mendayagunakan anggota
tubuh sebagai “senjata-senjata kebenaran” (ay. 13). Namun, Paulus juga
mengingatkan, dosa tidak bakal tinggal diam. Ia akan berusaha untuk berkuasa
lagi atas tubuh kita, dan menggoda kita untuk menuruti keinginannya (ay. 12).
Dosa ingin terus menjajah kita. Untuk menghadapi kuasa dosa, kita perlu
mengalami pembaruan pikiran. Kita berpegang teguh pada kebenaran bahwa di dalam
Kristus Yesus kita sudah mati bagi dosa, dan sekarang dipanggil untuk hidup
bagi Allah (ay. 11). Semakin kuat kesadaran kita akan kemerdekaan yang
dianugerahkan kepada kita, semakin kuat pula kemampuan kita untuk menolak
godaan dosa —ARS. KRISTUS YANG MEMERDEKAKAN KITA DARI KUASA DOSA, DIA PULA YANG
MEMAMPUKAN KITA HIDUP BERKEMENANGAN ATASNYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 6
Ada suatu ironi di
antara anak-anak manusia. Jika kita bertanya kepada setiap orang yang kita
temui dimanapun di belahan dunia ini, apakah mereka ingin berhasil mencapai
cita-cita mereka atau tidak, sudah pasti jawabannya adalah “ya”. Faktanya,
berapa banyak orang yang dapat dikatakan berhasil mewujudkannya. Sama sekali
tidak banyak. Dan, tanyakanlah kepada setiap bangsa di muka bumi ini, inginkan
mereka menjadi negara-negara yang maju & makmur, jawabannya pun telah
jelas. Kenyataannya, masih banyak negara-negara yang terus tinggal dalam ketertinggalan,
hampir-hampir tidak banyak kemajuan. Beberapa bangsa justru ketinggalan dari
negara-negara lain yang lebih muda! Alkitab berkata, “Hati si pemalas penuh
keinginan tapi sia-sia...” (Amsal 13:4). Itu berarti setiap orang dapat
menginginkan sesuatu, juga bahwa dia rindu mencapai ini & itu, punya
harapan akan meraih tingkatan yang tinggi, bermimpi akan masa depan yang lebih
baik. Perbedaannya ada pada karakter mereka. Mereka yang memiliki kerinduan
tapi tiada kemajuan diperolehnya disebut sebagai “orang malas” -orang-orang
yang mau melakukan apapun selain berkorban membayar harga pencapaian yang
diharapkannya itu. Para pemalas akan berceloteh, menyampaikan mimpi-mimpi &
cita-cita besar mereka, mengekspresikan dengan sangat baik betapa rindunya
mereka akan kemajuan dalam hidup -tapi hanya itu & sampai di situ saja.
Hidup mereka akhirnya tidak jauh berbeda. Hanya di situ-situ saja. Bagaimana
dengan kemalasan rohani? Tidak jauh berbeda. Ada banyak kerinduan akan
pertumbuhan rohani & pengenalan akan Tuhan, bahkan hidup dalam rencana
Tuhan. Tapi semua itu mustahil dicapai hanya dengan membicarakannya, memasang
status rohani di media sosial atau beberapa kali seminggu ikut acara-acara
ibadah. Diperlukan kerinduan PLUS TEKAD -suatu hasrat & gairah kudus yang menyala-nyala
untuk bertumbuh, mengalami kemajuan & berubah makin serupa Kristus.
Tanggalkan kemalasan. Sang penghalang itu. Ijinkan api kudus itu berkobar di
hati Anda. Bukankah Anda tidak ingin semuanya sia-sia? Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment