Wednesday, 2 September 2015

2 September 2015

BILLIONAIRE




Baca: 1 Tes 3:7-12. Ayat 12: “Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh bermalas-malasan dalam bekerja, tetapi harus bekerja keras & smart. Mencari nafkah bagi keluarga & mempunyai cukup untuk menolong orang lain yang memerlukannya J. Kerajinan dalam bekerja adalah tanggung jawab kita, Tuhan memberi semangat kepada kita untuk bekerja karena bekerja adalah untuk memuliakan Tuhan & bekerja adalah pelayanan/ibadah. Sudahkah kita bekerja dengan rajin, smart & bertanggung jawab?? Percayalah Tuhan yang empunya langit & bumi sanggup memberikan hikmat, jalan keluar pintu yang terbuka untuk dapat bekerja, kita harus bekerja, tidak boleh malas. Amin.

Respon 1
Maz 71:8 – Mulutku penuh dengan puji-pujian kepada-MU, dengan penghormatan kepada-MU sepanjang hari! Kalau selama ini kita cuma minta-minta saja sama TUHAN. Ayo kita juga puji dan agungkan DIA. Terima kasih YESUSku! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
JANGAN TUKARKAN KEBAHAGIAANMU dengan HAL SEPELE. Untuk memperingati Ulang Tahun Pernikahan mereka, sepasang suami istri makan malam di sebuah restoran. Semua berjalan lancar, makanan enak, suasana romantis, mereka bicara hal-hal yang menyenangkan dan bernostalgia. Ketika hendak membayar tagihan, sang istri terkejut melihat ada kesalahan sebesar 10ribu rupiah. Ia menanyakan hal tersebut dan mendapat jawaban yang tidak memuaskan dari si pelayan. Sang suami memilih untuk mengajak istrinya pulang saja, tidak usah diperdebatkan. Namun..., di dalam mobil, sang istri tetap mengomel, termasuk kepada suaminya yang menurutnya tidak membela dirinya. Malam yang sedianya indah itu mendadak jadi tegang. Saat itulah, suaminya berkata, “Sayang..., sadarkah bahwa kamu sudah menukar sukacita & keindahan malam ini hanya dengan 10ribu rupiah?” Berapa banyak kita sering bersikap demikian? Sukacita dan kebahagiaan hanya kita “tukar” dengan ucapan seseorang. 10 tahun persahabatan dihapus hanya oleh 10 menit perselisihan. 10 tahun kerjasama yang baik hancur oleh masalah uang sekian juta. Hubungan persaudaraan hilang hanya karena hal sepele. Banyak hal besar dan penting tanpa sadar kita tukar begitu saja dengan hal-hal yang nilainya sebenarnya sama sekali tak sebanding. Akhirnya sering kita hanya bisa menyesal sesudahnya. Berapa banyak konflik pertengkaran yang seharusnya dapat dihindari? Berapa banyak kemarahan yang tidak seharusnya kita umbar begitu saja? Berapa banyak ucapan dan tindakan kita yang malah akhirnya menyakitkan kita sendiri, mendatangkan penyesalan dan kesedihan dalam hati sendiri? Mari belajar mengendalikan diri kita, belajar sabar, memahami, memaklumi dan memaafkan. Jangan tukar hidup yang berlimpah berkat dengan kesialan yang kita ciptakan sendiri. Jangan tukar sukacita dan kebahagiaan hidup dengan kesedihan tak bernilai. Tukarlah dengan yang lebih bernilai, yaitu kedamaian dan keharmonisan hidup. Selamat pagi. Selamat beraktivitas. SEMANGAT... .Jbu all. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 3
Hari ini renungannya pas banget Cie, hehe... Thanks ya. (Imelda Mandeli – PT. Solindo)

Respon 4
Shalom Siu. Ya TUHAN supaya kemalasan bukanlah makanan kami. Thank You LORD. Thank you Siu. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 5
SAAT TEDUH. Rabu, 2 September 2015. DEMI SATU ORANG. Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran (Markus 5:20). Gereja kami telah beberapa tahun melayani sebuah kelompok masyarakat non-Kristen, namun jumlah orang yang menjadi percaya belum dapat dibanggakan. Melihat itu beberapa jemaat, yang justru tidak terlibat dalam pelayanan ini, menggerutu. Mereka menyayangkan dana dan tenaga yang dialokasikan gereja untuk pelayanan itu. Amatilah kisah perjalanan Yesus dan murid-murid-Nya ke Gerasa. Setelah menempuh perjalanan berbahaya dengan menghadapi angin ribut (Mrk. 4:35-41), mereka hanya mendapatkan seorang yang dirasuk setan dan dikucilkan warga. Padahal, untuk itu, 2.000-an ekor babi harus mati sia-sia (ay. 13). Sepadankah pengorbanan dan perjuangan mereka dengan hasil yang diperoleh? Hitungan matematika manusia akan mengatakan, “Tidak!”. Namun, Yesus menunjukkan bahwa satu jiwa amatlah berharga. Walaupun mereka kemudian diusir dari Gerasa (ay. 17), di sana telah ada seorang saksi yang akan memberitakan kuasa-Nya. Ia menjadi bukti bahwa Kristus mampu melepaskannya dari ikatan roh jahat. Ia yang selama ini ditakuti semua orang telah memiliki kabar baik untuk dibagikan. Kristus telah mengubah hidupnya. Apakah Anda berkecil hati karena tidak dapat membanggakan buah pelayanan secara kuantitas? Atau, apakah penilaian Anda membuat orang lain yang melayani dengan setia menjadi tawar hati? Ingatlah, Tuhan tidak menuntut terlalu banyak dari kita. Dia hanya ingin kita setia dalam tugas yang dipercayakan-Nya bagi kita sekalipun itu hanya berdampak pada satu orang —HT. TIDAK ADA HARGA YANG TERLALU MAHAL UNTUK DIBAYAR DEMI MEMBAWA SESEORANG BERTEMU DENGAN KRISTUS. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 6
“Saat kita ragu-ragu akan jawaban doa, sebenarnya kita sedang meragukan Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 7
Amsal 6:10, ‘tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.’ Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Ayat Tuhan ini keras sekali, mengajarkan kalau kita harus bekerja. Sejak jaman Adam, Tuhan sudah menyuruh Adam untuk mengelola apa yang sudah diciptakan Tuhan di hari-hari sebelumnya. Lewat pekerjaan kitalah Tuhan memberkati kita dan kita bisa menjadi berkat buat orang lain. Bersyukur buat pekerjaan yang kita punyai saat ini, apapun itu. Dan tetap semangat dalam mengerjakannya. Bekerja seperti untuk Tuhan. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 8
Mungkin salah satu hal yang paling tidak terpikirkan dibenak manusia adalah penyesalan. Keangkuhan manusia telah membuatnya tidak mau mengakui kegagalannya & menyesali kesalahan-kesalahannya. Juga hilangnya kesempatan atau keuntungan-keuntungan yang dapat diraihnya. Namun di hati kecil setiap orang sesungguhnya selalu terbersit keinginan akan kesempatan yang kedua. Dalam kehidupan, menurut iman Kristen, tidak ada kesempatan kedua. Mereka diberikan kesempatan hidup sekali saja selama beberapa puluh tahun (bahkan bisa lebih singkat) untuk setelah itu masuk dalam kekekalan. Di sinilah penyesalan akan sangat terasa & setiap jiwa, bisa jadi, menangis demi kesempatan kedua. Bisa menginjakkan kaki di sorga sungguh suatu keajaiban & kasih karunia -namun Tuhan merindukan lebih dari itu. Sebagai contoh, hanya sedikit orang Kristen (khususnya di Indonesia) yang memandang masa hidupnya sebagai pengikut Kristus itu sebagai suatu pertandingan atau perlombaan. Padahal seperti itulah di pemandangan Tuhan (Ibr. 12:1; 1 Kor.9:24-25; 1 Tim. 6:12; 2 Tim. 2:5). Dan sama seperti setiap orang tua tidak akan puas & menerima anak-anaknya hanya sekedar lulus melainkan berharap mereka menjadi juara kelas, demikianlah Bapa di sorga merindukan kita meraih yang terbaik yang disediakan-Nya selama di bumi, lebih-lebih di sorga. Jika mau jujur, kita dengan mudah menemukan sikap yang tidak terlalu antusias & biasa-biasa saja akan perkara-perkara rohani di antara anak-anak Tuhan. Terhadap perebutan mahkota abadi -yang jauh melampaui mahkota daun salam Romawi maupun mahkota-mahkota bertahtakan permata yang akan sirna- masih banyak yang bersikap “menang syukur, tidak menang pun tidak akan apa-apa”. Jauh berbeda dengan pengejaran materi, keuntungan-keuntungan atau hal-hal tak kekal lainnya. Jika kita mengerti & menyadari kerinduan Tuhan ini, kita tidak akan bersikap biasa-biasa & ala kadarnya dalam hidup rohani kita. Kita tidak lagi cepat puas & berhenti pada satu tingkat kerohanian & berlambat-lambat di sana. Raih mahkota abadi itu. Penyesalan tidak akan jadi bagian Anda. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment